DELAPAN BELAS

1447 Words
“Ini sudah hari sabtu, mana? Kenapa Bayu atau orang-orangnya tak mengantarkan wanita itu?!” Seru Pak Chandra marah. “Ma-maf Pak, tapi tidak ada obrolan apapun dari pihak sana, bahkan kalau memang batal pun mereka tidak bilang.” Jawab Pak Dani, berbohong. Padahal, baik Bayu ataupun Dimas sudah mengirimkan permohonan maaf resmi atas pembatalan perjanjian yang mereka buat. Bayu bahkan sudah mengirim uang senilai 5 miliyar ke rekening perusahaan pak Chandra Wiguna sebagai bentuk pinalti telah melanggar kesepakatan. “Gila juga mereka! Kamu udah bayar mereka belum? Sewa notaris untuk balik nama semua properti yang kita janjikan.” Ujar Pak Chandra. “Belum Pak, karena dari pihak sana gak ada kabar apa-apa, masa saya bayar sih?” “Hadeeeh! Kamu urus, bilang saya mau perempuan itu nanti malam sudah ada di villa ini!” Seru Pak Chandra dengan nada tinggi, lalu beliau meninggalkan ruangan, berjalan menuju ke luar, dekat kolam renang untuk menghirup udara segar. Ditinggal oleh Pak Chandra, Pak Dani agak sedikit gemetar, bingung harus berbuat apa karena tahu kalau Boss-nya itu benci dikecewakan. Apalagi ini, wanita yang sudah ia bayar mahal untuk disewa selama 2 malam. Membuka ponselnya, Pak Dani menghubungi nomor Dimas, mungkin berbicara antar sesama asisten dapat menimbulkan titik terang. Pada nada tunggu ke tiga, panggilan telepon tersebut diangkat.... “Hallo, Pak Dimas selamat siang!” Sapa Pak Dani lembut. “Iya ada apa yak Pak Dani?” Sahut Dimas, suaranya juga tenang dan lembut. “Ini Pak, saya mau tanya kapan Elizabeth bisa diantar ke villa boss saya?” “Loh Pak? Kan Pak Bayu sudah transfer 5M ke rekening perusahaan Pak Chandra Wiguna sebagai kompensasi pembatalan kontrak.” “Tapi kan kami gak mau kontraknya dibatalkan, Pak Dimas!” “Ya emang, makanya biar gak rugi Boss saya kirim uang. Dengan uang segitu, Pak Chandra Wiguna bisa bersama wanita mana saja yang ia mau.” Nada suara Dimas agak sedikit berubah kesal sekarang. “Tapi kan kita sudah sepakat, Pak Dimas. Bahwa Boss saya menang acara lelang tersebut, kami siap membayar semuanya sekarang.” Ujar Pak Dani lantang. “Pak, saya gak mau percakapan ini jadi sangat alot. Saya tekankan Pak, perjanjian tersebut batal, kami sudah membayar kewajiban kami karena membatalkan sepihak. Mohon pengertiannya, karena sadari awal, acara lelang Elizabeth sudah menjadi kesalahan. Sudah ya Pak, mohon jangan ganggu soal Elizabeth lagi. Tapi kalau Pak Dani mau dicarikan pengganti Elizabeth, dengan senah hati akan saya bantu, gratis.” Ujar Dimas panjang. Pak Dani terlihat diam sejenak, berpikir sebentar, apakah langsung memutuskan atau bertanya kepada Boss-nya terlebih dulu. Namun, jika bertanya, Pak Chandra Wiguna akan tahu kalau ia gagal mendapatkan Elizabeth. Tapi kalau langsung diiyakan, itu sama saja dengan membohongi Pak Chandra. “Hallo? Pak Dani? Bagaimana Pak?” Terdengar kembali suara Dimas di kejauhan sana. “Boleh Pak Dimas, kalau bisa, cari yang mirip Elizabeth ya?” Akhirnya Pak Dani menerima tawaran Dimas “Siap Pak, buat malem ini kan?”. “Ya, dua hari, nanti saya kirimkan alamatnya.” “Oke baik Pak Dani, ditunggu ya! Saya yakin Bapak atau Pak Chandra Wiguna tidak akan kecewa!” “Okeee, saya tunggu Pak Dimas!” Ucap Pak Dani, kemudian sambungan telepon pun terputus. Dimas, yang senang mendapat kerjaan baru di luar kesibukannya mengurus Elizabeth merasa kembali normal. Ya, Dimas senang terlibat di dalam bisnis ini, bisnis yang kata orang kelam, namun... Dimas nyaman dengan semua ini, apalagi jika Dimas sedang menjadi pendengar beberapa pekerjanya bercerita tentang kehidupan pribadinya, Dimas jadi dibuat mengerti bahwa di tempat yang kata orang 'gelap' ini masih ada keceriaan, kebahagiaan dan kepedihan tentu saja. Setelah menutup telepon dari Pak Dani, Dimas langsung keluar dari ruangannya, mencari Mamih Tini tentu saja, si mucikari yang punya ratusan manusia untuk dijual. Menemukan Mamih Tini, Dimas langsung mengutarakan maksudnya, juga detail yang diminta oleh Pak Dani, soal wanita ini harus mirip dengan Elizabeth. “Hemm, bisa sih kayaknya si Poppy, tapi.... Bukannya dia mau dilelang nanti Boss?” “Udah gak apa buat sekarang aja.” “Poppy dibayar berapa nih?” Tanya Mamih Tini. Ya, Mamih Tini bukan tipe mucikari yang mementingkan dirinya sendiri, ia sangat peduli pada kesejahteraan anak-anak asuhannya. “200 juta, nanti kamu 100, gimana Mih?” Ujar Dimas. “Yaudah boleh kalo gitu, kasian dia, masih pertama, masa udah harus sama om-om gituan?” “Kalo lelang hasilnya bisa lebih gila, Mih.” “Iyaa sih bener, yaudah nurut boss aja deh aku. Sebentar ya Boss, Poppy aku siapin dulu,” “Oke, kalo udah bilang ya? Nanti saya yang langsung anter ke sana. Soalnya itu privat villa, gak enak kalo yang anter orang sembarangan. Kasian safe house-nya Pak Chandra nanti terganggu.” Jelas Dimas. “Okee siap!” Setelah sepakat dengan Mamih Tini, Dimas kembali ke ruangannya, memantau Elizabeth yang masih ada di rumah Mamih Tini, hanya ditemani Wanda dan Madam Athena yang sedang memberikan kursus kepribadian padanya. Jujur, Dimas bisa dibilang rindu pada Elizabeth, namun perintah dari Boss Bayu yang mengatakan Elizabeth jangan dijenguk dulu membuat Dimas hanya bisa memandangi gadis itu lewat tampilan kamera pengawas. “Gosh! Aku tuh pengin bertanya banyak hal ke Liz, soal kehidupannya di sana. Karena bisa jadi, dia adalah kunci pengetahuan soal kehidupan Boss Bayu.” Ujar Dimas bicara sendiri. Ya, Bayu memang mendapat kilasan memori soal Elizabeth, tapi hanya seputar bahwa Elizabeth lari dari kejarannya. Bayu belum tahu, apa yang membuat ia mengejar Elizabeth dan menggegerkan Dusun Serbahese. Dan Dimas penasaran akan cerita selengkapnya. Apakah benar Boss Bayu di sana menjadi monster jahat yang mengerikan? Tanya Dimas dalam hati. “Ratusan, bahkan ribuan tahun keluargaku mengabdi pada Boss Bayu, apakah ini hal yang benar dilakukan? Apakah balas budi terhadap Bayu yang memberikan anak pada leluhurnya harus sampai sekarang?” Kepala Dimas benar-benar dipenuhi petanyaan-pertanyaan yang mungkin gak pernah ia lontarkan pada Bayu, karena pada dasarnya Dimas menyayangi Bayu. Bayu lah yang ada di sisinya ketika ia harus kehilangan kedua orang tuanya. Menit-menit berlalu, ketukan di pintu ruangan Dimas membuatnya tersentak, keluar dari lamunannya yang panjang. “Masuk!” Seru Dimas. Tak lama, pintunya terbuka dan masuklah seorang gadis kecil yang cantik. Dimas langsung tersenyum. Mamih Tini benar-benar ahli dalam mengambulkan keinginannya. “Poppy?” Ujarnya memastikan, karena wajah Poppy saat ini terlihat ayu, sederhana dengan polesan make-up tipis. “Iya Mas Dimas, tadi saya disuruh ke sini sama Mamih.” “Okee, yaudah yuk? Ikut saya!” Dimas berdiri dari kursinya. Dan tepat saat itu, masuk sebuah pesan singkat dari Pak Dani. Dani -asstChandra: Tolong bilang ke wanita itu kalau dia adalah Elizabeth, Oke? Dimas: Oke Pak! Dimas hanya membalas pesan tersebut seadanya. Itu artinya Pak Dani membohongi Pak Chandra Wiguna. Harusnya, Dimas atau Bayu tidak perlu membayar ganti rugi. “Ah udah lah, urusan dia sama Boss-nya, yang penting gue udah lakuin yang bener.” Oceh Dimas. “Kenapa Mas?” Poppy yang mendengar itu tampak bingung. “Gak apa-apa, ngomong sendiri. Yuk!” Lagi, Dimas mengajak Poppy keluar. Mereka turun bersamaan lalu berjalan menuju tempat mobil diparkir. Sepanjang perjalanan, Dimas melakukan briefing pada Poppy, tentang bagaimana ia harus bersikap, siapa namanya saat ia harus ada di sana. Dan yang penting, keteguhan hati, karena momen ini adalah momen pertama untuk Poppy. “Gak apa-apa Mas, aku siap kok. Malah dari dulu aku nunggu momen ini. Kata Mbak Wanda, the first time always be the worst time, makanya aku pengin ini cepet berlalu.” Ujar Poppy mantap. Dimas tersenyum, ia sedikit menggengam tangan Poppy, memberikannya semangat. “Kamu keren, kamu bisa jadi penerus Wanda kalau kaya gini. Santai, tenang, dan siap menghadapi semuanya.” Ucap Dimas tulus. “Sama kaya Mbak Wanda, Mas Dimas, I have nothing to lose, aku kerja ya buat diriku sendiri, gak ada keluarga yang aku bikin malu, gak ada pacar, ya udah, aku happy begini.” Jelas Poppy. Lagi-lagi, Dimas tersenyum. Akhirnya, mereka tiba di villa kepunyaan Pak Chandra Wiguna. Dimas membukakan pintu untuk Poppy dan dengan gentleman ia menggandeng tangan Poppy. Dimas tahu, meskipun Poppy siap, ia pasti merasakan sedikit nervous dan Dimas ingin Poppy tahu kalau Dimas ada di sampingnya. Pak Dani menyambut mereka berdua, dan ia tampak puas dengan wanita yang dibawa Dimas. “Jadi ini Elizabeth?” Pak Dani sepertinya sudah memulai sandiwaranya. "As your request, Sir.” Jawab Dimas. Lalu, gandengan tangan Poppy pun terlepas, Dimas mengulurkan tangan Poppy ke Pak Dani. “Lusa, jam segini, saya datang lagi buat jemput dia!” Seru Dimas. “Baik Pak Dimas, kami selalu tepat waktu.” Ujar Pak Dani. Dimas mengangguk, ia melirik Poppy yang sekarang wajahnya tampak tegang. Dimas tersenyum, berusaha memberi semangat pada gadis ini sebelum akhirnya Pak Dani membawa Poppy masuk ke dalam. You'll be fine, Pop! Bisik Dimas dalam hati. **** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD