Chap 43

1230 Words
Tasya yang sudah siap berpakaian keluar dari kamar mandi , saat ia keluar ternyata Niko sudah tak ada ia memutuskan untuk keluar kamar.  Saat ia membuka pintu dilihat nya  Niko yang sedang sibuk berbincang dengan sang asisten Yoga dan sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Tasya's POV "nyonya" panggil Bik Mirna  "eh bibik" lirih Tasya yang terkejut dengan kehadiran Bik Mirna tiba tiba "sini bentar nyonya" Bik Mirna menarik Tasya untuk menjauh  "ada apa bik?" tanya ku  "nyonya nggak papa kan?" tanya bibik dengan wajah penuh khawatir "aku nggak papa kok bik, emang kenapa ya bik?" "syukurlah ... bibik semalam nggak ada dirumah karena diminta tuan untuk kerumah nona Alexi" "nggak papa kok bik, Tasya baik baik aja dirumah"  tiba tiba mas Niko memanggil ku dari arah ruang tamu. "Tasya.... Tasya... Tasya" teriaknya "bik Tasya kesana ya seperti nya mas Niko mencariku" ucap ku sebelum pamit dari bibik "iya nya" aku berjalan perlahan lahan  ke arah ruang tamu  jujur bagian bawah ku masih nyeri dan setiba nya aku di ruang tamu benar saja ia sedang kelimbungan mencari ku, tampak dari wajah nya yang khawatir. "ada apa mas?" tanyaku  "kamu dari mana?" ucap nya sembari memeluk ku erat "aku dari belakang" "kenapa nggak bilang bilang" "untuk apa? kan aku masih dirumah ini" "Bos aku permisi" ucap asisten yoga yang tampak nya sudah gerah melihat ke mesraan kami. "hm" balas Mas Niko Mas Niko kembali melirik ke arah ku dan meraih tanganku untuk mengikutinya melangkah.  ia membawaku masuk ke dalam mobilnya, yang tak lupa ia membuka kan pintu untuk ku seperti pada film film di televisi yang pernah aku tonton. Mas Niko ikut masuk dan tak lama kemudian ia menyalakan dan menjalankan mobilnya. didalam mobil ia mulai membuka suara.  "apa masih sakit??" tanya nya sambil melirik ke arah bawah milik ku aku hanya menjawab dengan gumaman yang masih dapat di dengar olehnya.  "kita mau kemana?" aku bertanya padanya namun fokus ku tetap pada jendela yang ada disampingku.  "ke restoran" jawabnya  "tidak kerumah sakit?" tanyaku lagi "pulang makan kita sana dan tadi aku juga sudah dengar kondisi mama papa dari Yoga" ujarnya yang masih fokus dengan setirnya "syukurlah"  "hmmm , apa aku boleh tanya lagi?" ujar ku "dengan senang hati" jawab nya yang tak lupa ia melirik ku dengan senyuman nya yang membuat ku enek karena tingkah nya yang tak biasa hari ini. benar kata orang orang jika pria diberi yang ia mau maka sifat nya pun akan berubah dengan kita. mungkin itulah yang sedang di lakukan oleh mas Niko kepadaku. "semalam.. apa mas pakai pengaman?" tanya ku ragu ragu "untuk apa? lagian nggak salah kan jika kamu punya anak dari ku... apa kamu lupa jika kamu masih istriku Adara Tasyani Hartanto!" tunggu .. jika ia tidak memakai pengaman malam itu oh my god apa aku akan hamil ? ya tuhan gimana ini "kamu nggak senang jika kita punya anak?" gimana aku senang jika aku hamil anak nya sedangkan dalam hitungan 8 bulan lagi kami akan bercerai.   "kita akan cerai kurang lebih 8 bulan lagi terus untuk apa ada anak diantara kita mas" "siapa yang bilang akan ada cerai! aku tak akan melepaskanmu Tasya... " "aku sedang nggak bercanda mas... perjanjian ku malam itu tetap ada mau atau tanpa persetujuanmu aku akan minta cerai!!' kekeuh ku pada nya lalu membuang muka ku kearah jendela. Mas Niko menepikan mobilnya lalu memposisikan tubuhnya ke arahku. sambil menarik tubuh ku agar menghadap kepada nya.  "Tasya.." panggilnya sedangkan aku masih setia menundukkan wajahku karena enggan menatap wajahnya. "Tasya lihat aku...kamu benar mau kita cerai?" tanya nya lagi sesambari menatap dalam mataku aku bingung apakah pilihan ku ini benar, tapi dengan pasti aku mengangguk.  "baiklah 8 bulan lagi kita akan cerai... tapi kamu harus menepati janji mu, kamu harus melayani ku selama kamu masih menjadi istriku"  Aku menjawabnya dengan mengangguk. Mas Niko mengecup dahi ku kemudian yang membuat mataku membelalak sempurna. setelah mengecupku ia bersuara. "aku menyayangimu istriku" ucap nya lalu kembali ke posisinya dan melanjutkan menyetir mobilnya. Tak lama kemudian kami sampai di sebuah restoran yang tampilan dari luar sungguh mewah tapi aku tak tau rasanya gimana. kan nggak boleh menilai dari cover nya dulu. tapi setauku restoran yang dipili oleh mas Niko adalah salah satu restoran mahal terkenal di kota ini. yang makan disini hanya orang orang kalangan atas yang punya Black card mungkin ya... karena banyak desas desus bahwa makan disini bisa beli rumah tiper 36 beserta dengan perabotnya. "kita makan tempat lain aja ya mas" ucap ku sesaat mas Niko ingin membuka kan seat belt ku. "kenapa? kau tak suka?" tanya nya yang dimana wajah kami sangat dekat sekarang sebab tangan nya yang tadi nya sibuk membuka seat belt milikku terhenti karena ucapan ku barusan. "disini mahal" ucap ku pelan pelan sambil sedikit menjauhkan wajahku dari nya "kau lupa siapa suami mu ini?"  "aku tau kamu Niko Hartanto bukan? aku belum amnesia mas" ujarku yang sedikit kesal "terus kenapa kamu kau takut untuk makan di sini? tenang saja mau kamu pesan seluruh makanan di menu itu aku tak akan buat aku bangkrut" ucap nya dengan pede .. ya nggak salah si jika ia bicara begitu karena ia adalah Niko Hartanto anak tunggal sekaligus CEO dari Hartanto Group perusahaan terkenal yang sampai ke manca negaara mengakui perusahaan nya. Aku tak berani menjawab, ia pun kembali membuka seat belt milikku lalu setelah itu ia mengecup pipi ku.  "ayo turun" ajak nya Aku yang sudah siap ingin membuka pintu tiba tiba di tahan olehnya. "ada apa mas?" "Kamu diam saja disini biar aku yang buka" ucap nya lalu segera keluar dan berjalan melingkari mobil dan segera membuka pintu milikku tak lupa ia menjulurkan tangannya untukku. dan aku pun menyambut ulurannya sambil tersenyum. 'aku akan menjadi istrimu sekarang mas.. kita nikmati waktu yang singkat ini' ucap ku dalam hati Kami berdua berjalan sambil bergandengan masuk kedalam restoran mewah ini.  "masih sakit? kau ingin ku gendong?" tanya nya saat melihat aku yang sedikit meringis akibat rasa perih yang masih setia melekat di area itu. ini semua salah nya jika saja ia tak kasar malam itu pasti ini tak akan sesakit ini. aku menjawabnya dengan menggelengkan kepala ku kemudian berkata tidak perlu . lalu kami kembali berjalan masuk bersamaan. seorang pelayan dan manager restoran berjalan ke arah kami. "selamat datang tuan Niko dan - "istri" jawab mas Niko ketika pelayan dan manajer restoran itu bingung memanggil ku. "mari tuan dan nyonya kami antar ke tempat" ujar mereka sambil mengarahkan kami ke tempat yang sudah di sediakan oleh mereka.  dan wah tempat yang di sediakan sungguh indah dan romantis.. ada bunga mawar di atas meja nya serta lilin yang menyala.  Mas Niko menuntun ku kesana lalu menarikan kursi untukku. aku pun duduk di kursi nya dan kemudian mas Niko beberapa detik kemudian.  "kamu suka?" tanya nya "suka" jawab ku. "aku akan menjadikan kamu ratu selama kita bersama" "terimakasih mas" jawab ku lagi setelah menunggu beberapa menit kemudian makanan yang dipesan sudah di tata di depan kami. kami makan dengan tenang lalu 30 menit kemudian kami selesai makan. Mas Niko membayar Bill nya kemudian kami kembali kedalam mobil. aku masuk ketika ia membukakan pintu seperti biasanya. ia ikut masuk dan kemudian mulai menjalankan mobilnya ke rumah sakit dimana mama dan papa mertuaku di rawat.  >>>>>>>>>>>>>>>>>>> Bersambung ... Selamat membaca ya Author lagi rajin menulis ni.... dan ayoo lanjut ke chapter selanjutnya :)  salam dari author dari dunia halu buatan  By Pearl 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD