Chap 77

1058 Words
Tasya yang sekarang sedang berada di perusahaan “H” dimana perusahaan ini yang ia tau adalah anak perusahaan dari Hartanto group dimana CEO disana adalah NIKO mantan suami nya. Ia menunggu di lobby ruangan, setelah lama menunggu datang dua orang wanita yang bermake up tebal duduk di lobby ruangan. Tasya berjalan ke sana. “Permisi kak” ucap Tasya “Hm” ucap salah satu dari mereka. Lalu kembali sibuk dengan kaca. “Ada buk lidya?” “Belum datang” ucap mereka ketus “Kiranya mereka datang jam berapa?” “Tidak tau” “Duduk aja disana kalau sudah datang di panggil” ketus salah satu dari mereka. “Baiklah, maaf menganggu” Tasya mangkir dari hadapan dua tmba mba menor itu lalu duduk di salah kursi tunggu di sudut. *** “Yoga masih belum datang?” Tanya Niko pada Rini sekretaris nya selain Yoga. “Belum bos” “Sudah di hubungi?” “Sudah bos, tapi tidak diangkat” “Dia dimana?” “Di apartemen nya bos” “Apa agenda kita pagi ni?” “Sedang kosong bos” Niko tampak berpikir. “Telpon Lidya” “Buat apa bos?” “Tanya agenda dia pagi ini” “He?” “Cepat” “Baik bos” Rini mengambil ponsel nya di saku rok pendek nya, lalu memencet nomor Lidya. Lama panggilan ny berdering. Dan akhirny panggilan nya diangkat. “Pagi buk lidya, bos tanya Agenda mu hari ini apa?” “.........” “Baiklah, maaf mengganggu selamat pagi” Rini mematikan telpon nya “Gimana” “Sing ini buk lidya ada meeting dengan perusahaan ditama, jam 4 sore makan sore dengan pak rian, jam 7 mal- “PAGI INI?” “Pagi ini seperti nya kos- eh katanya tadi ada yang menunggu nya” “Siapa?” “Yang punya caffee tapi saya lupa nama ny bos, tadi katanya hanya caffee” “Baiklah.. kita siap siap kesana” “Kemana bos?” “Tempat buk lidya” “Ohh baik baik bos” Rini segera keluar dan siap siap dengan barang barang nya, dan dari itu Niko kelur. Ia segera mengikuti Niko dari belakang. Niko yang seperti biasa ia membawa mobil nya sendiri. Rini karena tak enak dan ini pertama kali nya ia semobil dengan Niko ia bingung akan duduk dimana? Di sebelah Niko atau di belakang. “Belakang aja ya?” Ucap nya dalam hati “Masuk” perintah Niko “Baik bos” Rini membuka pinru belakang “Depan!! kamu pikir saya sopir kamu” “Maaf maaf bos bukan gitu” Rini segera masuk dan duduk di samping Niko. **** Niko POV Aku dengan semangat menjalankan mobil ku menuju kantor dimana yang aku tau di sana ada Tasya. Tak butuh lama mobil yang aku kendarai sudah sampai di depan gedung anak perusahaan ku. Aku segera memakirkan mobil ku dan lalu diikuti oleh Rini asisten ku. Saat aku masuk aku memandarkan pandangan ku ke kiri dan kanan. Pandangan ku tertuju pada wanita muda dengan perut nya sudah buncit namun pancaran kecantikan nya tak pernah luput dari wajah ny. Iya dia Tasya ku Dia tak sadar dengan kedatangan ku. Aku melewati nya begitu saja dan masuk ke dalam ruangan Lidya. Manager dari anak perusahaan ku. Ia tampak nya sedang panik karena kedatangan ku yang tiba tiba, tampak dari wajah ny yang seperti ny sedang keringat dingin. “Baru datang?” Ucap ku dingin “Tidak bos, sudah dari tadi” Aku berdehem lalu berlenggang masuk tanpa di minta dan duduk di sofa ruangan. Samar samar aku dengar Lidya dan Rini sedang berbincang di belakang. “Bos kenapa kesini?” Tanya Lidya “Nggak tau” Aku menginterupsi “Agenda mu pagi ini” ucap ku sambil membuka koran di depan meja “Kosong tuan” “Kosong? Bukan nya kau bilang ada pertemuan dengan caffee” Lidya tampak bingung lalu ia segera menjawab “Iya benar tuan, maaf saya lupa” “Kapan kalian akan bertemu” “Nanti saja tuan” “KAU MEMBUAT CLIENT KITA MENUNGGU !!” “Bukan bukan gitu pak” ucap Lidya “Suruh dia masuk” “Baik pak” Lidya keluar sebentar lalu meminta karyawan nya yang duduk di lobby untuk memanggil Tasya. *** Tasya’s POV Aku duduk di pojok ruangan, dan saat sibuk menunggu orang orang dari dalam ruangan pada heboh keluar dari di ruangan masing masing. Saut saut aku mendengar dari kehebohan itu bahwa atasan mereka akan datang. “Atasan? Apa Mas Niko yang datang? Tapi kenapa harus datang hari ini sih” aku mendumel. Dan benar saja dari arah luar sudah tampak mas Niko masuk bersama dengan wanita cantik, baru pertama kali ini aku melihat wanita itu. Ia melewati ku begitu saja. Tak lama salah satu dari mba mba menor itu datang ke tempat ku. “Kamu di panggil buk Lidya” ucap ny “Saya?” “Iya kamu, cepat buk Lidya nungguin tu” “Iya terimakasih” aku melewati nya dan masuk keruangan yang ditunjuk. Saat masuk aku melihat mas Niko yang sedang duduk di salah satu sofa rungan dengan koran di tangan nya. Terasa sesak di d**a ku apalagi perut ku. “Kenapa harus ketemu dia lagi?” Ucap ku dalam hati “Silahkan duduk nona Tasya” ucap buk Lidya menganggetkan ki dari termenung “Iya buk” jawab ku cepat, lalu duduk jauh dari tempat mas Niko. Buk lidya pun ikut duduk di depan ku, ia membawa beberapa lembar kertas dan memberikan ke aku mas Niko dan wanita di sebelah nya. Aku membaca kertas itu ternyata itu proposal tentang proyek kerjasama perusahaan H dengan Caffee ku. Aku membaca dengan teliti, saat lagi sibuk membaca mas Niko menyeletuk. “Keuntungan apa yang mereka dapat?” Ucap nya Aku terkejut dengan pertanyaan nya, kenapa dia tanya tentang keuntungan yang caffee aku dapat seharusnya dia tanya keuntungan mereka bukan? ‘Ah sudahlah dia emang aneh’ Buk Lidya menjawab “mereka mendapat keuntungan 40% dari event yang mau kita adakan” “Hah, hanya 40%?” Ucap mas Niko, sahrusnya kan aku yang jawab tapi kenapa tampak di yng kesal. Sama buk Lidya dan wanita di sebelahnya juga tampak bingung dengan pertayaan dari mas Niko. “Maksudnya pak?” “Kita harus adil dengan keuntungan” ucap Niko >>>>>>>> To be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD