Chap 66

1034 Words
Sesampainya di rumah sakit Pak Roni menggendong tubuh lemas sang nyonya dan bik Mirna yang berjalan di samping nya. “Pak tunggu” ucap Bik Mirna “Kenapa buk?” “Sebentar” bik Mirna kembali ke mobil dan mengambil sesuatu setelah itu kembali lagi ke tempat pak Roni dan Tasya “Pakai ini pak” bik Mirna memakai Masker ke Pak Roni dan tak lupa Tasya pun. “Untuk apa buk?” “Ibuk takut nanti ada yang kenal dengan kita, bapak kan tau siapa yang punya kuasa di rumah sakit ini” “Maksud ibuk?” “Nanti ibuk jelasin ayok kita bawak nyonya kedalam” Mereka berdua masuk melalui Lobby “Tolong ... majikan saya suster” ucap Bik Mirna pada suster yang lewat “Tunggu sebentar buk, saya ambil kan ranjang” perawat itu segera pergi dan tak lama kembali dengan ranjang kosong tak lupa ia membawa seseorang di samping nya yang memakai baju yang sama dengan sang suster Sesaat perawat dan perawat lain nya ingin mendorong ranjang Tasya, Bik Mirna menghentikan mereka. “Ibuk?” Pak Roni tak habis pikir dengan kelakuan aneh istri nya.. “Ada apa buk? Pasien harus segera di tolong” ucap perawat “Jangan bawa kesana” “Ha?” Mereka bertiga merasa aneh dengan kelakukan bik Mirna “Bawa ke dokter kandungan saja” “Ha? Maksud ibuk” “Bapak percaya aja dengan ibuk” Dua perawat itu saling tatap tatapan dengan alis yang berkerut “Nyonya saya sepertinya sedang mengandung, jadi bawa saja ke sana” “Baiklah” sebelum kesana Tasya di pindahkan terlebih dahulu ke kursi Roda karena jarak tempat kandungan dan lobby terbilang jauh. Tak lama mereka sudah sampai di ruang rawat kandungan. Tasya langsung di periksa oleh dokter yang menjaga. Dan benar apa yang di bilang oleh Bik Mirna, Tasya benar mengandung dan sekarang ia sudah menginjak kehamilan minggu ke 4. “Ibuk gimana bisa tau?” Tanya Pak Roni “Pak pak walaupun ibuk nggak pernah hamil, tapi ibuk tau kok ciri ciri orang hamil itu gimana” ujar Bik Mirna “Sekarang gimana ya buk, nasib nyonya Tasya” “Iya pak, ibuk juga bingung.” . . . Pak Hartanto sedang berada di depan ruaang inap menantu nya, siapa lagi kalau bukan Alexi. Namun ia tampak enggan untuk masuk, jadinya ia hanya duduk di luar di temani oleh asisten pribadi nya yang setia. “Pak ada yang mau saya bicarakan terkait yang bapak minta kemarin” ucap Asisten pribadi pak Hartanto “Hm ceritakan” “Yang bapak takuti ternyata benar” “Sudah kuduga”pak Hartanto menutup koran nya l, lalu menatap sang asisten seolah ia ingin tau lebih “Kau dapat bukti nya?” “Iya pak laki laki itu sekarang kami letak di basecamp” “Gimana penampilan nya?” “Babak belur” “Hm” “Lepaskan dia” tambah nya “Maksud bapak?” “Lepaskan pria itu, kita biarkan anak bodoh aku itu mencari tau sendiri” “Nyonya tuan?” “Istriku biar aku yang tangani” “Baik tuan” sesaat mereka sedang asik berbincang datang dari arah utara beberapa orang dengan pakaian medis dan pria wanita yang terbilang sudah cukup tua bersama seorang wanita yang berada di ranjang. Pak Hartanto sangat mengenali pria wanita tua itu dan wanita yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. mereka masuk ke dalam ruangan yang berada tepat di depan ruang tempat pak Hartanti duduk “Ada apa pak?” Tanya asisten pak Hartanto yang sedang kepo “Nggak” . . . “Kamu kasih nama siapa anak mu ko?” Tanya Mama Linda yang sekarang sudah menimang bayi mungil di tangan nya “Belum tau ma” ucap Niko “Kau sama Alexi belum memikirkan nama nya?” “Hm” dehem Niko “Niko !! Kamu sebenarnya niat nggak si jadi bapak !!” Bentak mama Linda namun ia egera menbgecilkan suaranya setelah ia ingat bahwa ada bayi mungil di lengan nya sekarang. “Nanti Niko pikirkan lagi ma sam Al” jawab Niko . . . 2 jam kemudian Tasya sudah terbangun dari pingsan nya, namun ia merasa asing dengan tempat dimana ia berada. “Bik” lirih Tasya “Kamu sudah sadar?” Tanya pria yang ada di samping nya “Dokter Rega??” “Hm” “Aku dimana? Ahh di rumah sakit tapi kenapa?” Tanya Tasya lagi setelah ia melihat ada jarum infus di tangan nya “Kamu sakit” “Tapi sakit apa? Aku rasa tadi pagi hanya sedikit pusing muntah muntah dan... “Pingsan” celetuk Rega “Pingsan?” Tanya Tasya “Iya” “Jadi setelah di periksa aku sakit apa?” “Hamill” “APA!!” Tasya kaget bukan main, bak disambar petir di siang bolong “Iya sya, kamu hamil dan sekarang sudah masuk minggu ke 4” jelas dokter Rega dengan wajah setenang mungkin “Tapi gimana...” Tasya menatap ke arah perut rata nya dan ia juga mengelus elus perut nya. “Apa benar ada jiwa lain disini” tambah Tasya yang masih tak percaya “Iya sya” Tasya diam ia tak bertanya lagi ia malah sibuk memperhatikan perut rata nya. “Kamu nggak papa?” Tanya Rega “Tentu, mau gimana pun ia adalah darah daging aku, aku sayang sama dia” ucap Tasya dan tak lupa senyum merekah di bibir nya. “Bibik sama Pak Roni mana?” Tanya Tasya “Pulang, mereka izin ambil baju kamu dan menitipi kamu dengan aku” “Ohhh” Mereka kembali diam , dan tak beberapa menit kemudian Handphone Rega berkali kalo berdering, namun pria itu tak mengangkat nya malah mematikkan nya. “Angkat saja, aku nggak papa kok” “Tapi... sya” “Aku serius kamu kan tau kalau aku wanita kuat, pergilah ada pasien lain yang lebih membutuhkan kamu” “Aku pergi bentar nanti aku balik lagi, kalau ada apa apa kamu telpon aku” “Iya pak dokter” ucap Tasya lalu Rega segera pergi. Dan tak lama pria itu pergi pintu ruangan Tasya kembali terbuka. “Kan aku bilang ngg- >>>>>>>> To be Continue guys
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD