Chap 86

2850 Words
Niko yang masih di kantor mendapatkan berita dari mata matanya bahwa. Baru saja Tasya di maki maki oleh mama ny sendiri. Mama nya meminta Tasya untuk menggurkan anaknya yang otomatis itu cucunya sendiri. Dengan penuh amarah. Ia mencari Mama nya sesegera mungkin. “Dimana mama?” Tanya nya pada salah satu pembantu nya “Di kamar tuan” “Hm, terimakasih bik” Niko langsung menuju kamar mama nya. Saat ia masuk terlihat mama nya sedang sibuk dengan menghis wajah nya. “Mama!!” Bentak nya “Iya? Ada apa sih ko kamu ngagetin mama aja terus” “Maksud mama apa sih!! Kenapa Tasya mama gituin ma!” “Mama hanya nggak suka di hamil cucu mama, karna itu mama minta di gugurin” “Linda Kami sudah gila ya ha!!” Ucap hartanto- ayah Niko sekaligus suami Linda-ibu Niko “Papa?” Lirih Niko “Jika aku dengar kau lakukan itu lagi, kau akan tau apa yang aku lakukan” ancamnya “Papa!! Jangan jangan papa sudah tau dia hamil iya?” Ucap mama Linda tak kalah keras “Tentu aku tau duluan, anak yang dia kandung cucuku jadi tak akan aku lepaskan” “Aku tak suka” ucap mama linda “Tak suka? Kau bisa keluar dari rumah ini” ancam pak Hartanto tak kalah kejam “Maksud papa!!” “Iya jika kau mau begitu kau bisa keluar dari rumah ku!!” “Kau tega ya pa !! Seperti ini kamu perlakukan aku sebagai istri iya?!” “Aku memperlakukan mu sebelum ini sangat bagus bahkan lebih. Tapi jika soal cucuku maaf aku tak bisa mengalah dengan mu” “Apa bagus nya anak dari rahim wanita itu!! Dak jelas gitu!!” “MAMA!!” Bentak Niko tak kalah kesal dengan sikap mama nya. “Mama tak peduli mama tetap tak suka dengan perempuan itu!!” Ucap mama Linda lalu pergi begitu saja. Pak hartanto yang sudah pusing dengan sikap istrinya itu, ia pun berulang kali mengelus d**a nya. Ia merasa bersalah dalam membimbing istrinya untuk menjadi lebih baik. “Maafin papa ya ko” ucap Pak Hartanto lembut sambil mengelus pundak anak semata wayangnya penuh kasih “Papa nggak salah kenapa minta maaf” “Papa salah, papa tidak becus membimbing mama mu menjadi lebih baik, kalau nanti kamu sudah menikah tolong papa minta bimbing istri menjadi lebik baik dari segala aspek, mau akhlak kecerdasan dan lainny ia harus lebih baik” “Iya pa tentu, papa tau Tasya hamil sejak kapan?” “Sebelum kamu” “Kenapa papa nggak bilang sama Niko?” “Untuk apa? Bukan mya kamu bahagia sama wanita itu dibanding, istri kamu” “Pa ...” “Sudahlah yang sudah biarkan berlalu, yang penting kamu jalankan saja apa yang sekrang terjadi” “Iya pa, makasih ya pa” “Hm” niko pamit ia berencana mau pulang ke apartemen nya namun ia urungkan saat dimana otaknya minta pulang tapi hatinya minta bertemu Tasya. Ia pun pebih memilih hatinya, dan menjalankan mobil nya ke arah rumah Tasya. Saat sampai ia melihat Tasya yang sedang menyiram bunga bunga nya. Niko ingin turun namun sudah kalah oleh Rega pria yang dicapnya sialan. Pria itu membawa bunga segar untuk Tasya, dan Tasya membalas senyuman itu tak kalah lebih manis. Jika saja Tasya istrinya makan Rega sudah habis ditangan nya. Sebab senyuman Tasya hanya boleh untuk ny. ***** Event yang ingin diadakan itu kembali di bahas, namun kali ini mereka memilih meeting di ruang Tasya. Sebab Tasya sudah sangat sulit untuk berjalan karena kehamilannya sudah masuk ke bulan ke 7. “Kapan akan kita adakan event ini?” “Sesuai jadwal akan diadakan tanggal 1 januari nona dan itu 3 bulan lagi” “Cepat juga” “Tema yang akan di angkat adalah tentang penyambutan tahun baru dengan serangkaian menu baru yang menambah minat para pembeli” “Boleh konsep menu ny di kirim ke saya” “Bukan nya sudah saya kirim ya nona, soalnya sebelum ini saya bekerja sama dengan koki nyonya tuan Reno dan team” “Benarkah mungkin aku lupa, kirim saja lagi ya” “Baik nona” **** Pak Hartanto berkunjung kerumah Tasya, ia akhir akhir ini khawatir dengan Tasya akibat pembicaraan nya dengan istrinya kalau istrinya tak akan pernah menerima Tasya dan anak nya. Saat berkunjung ternyata Tasya sedang di periksa. Jadinya Pak hartanto menunggu Tasya. Diruang tamu. Tak sampai 30 menit pemeriksaan selesai dokter,Tasya dan bik mirna keluar. Mereka bertiga sama sama terkejut karena sudah ada pak hartanto yang duduk di kursi ruang tamu Tasya. “Selamat siang pa...” Tasya memeluk Pak Hartanto lembut begitu pula dengan pak Hartanto. “Papa mau tanya?” “Mau tanya apa pa?” “Kamu kemarin bertemu mama?” “Papa tau dari mana?” “Tentang darimana nya itu sangat mudah bagi papa “Oh iya Tasya hampir saja lupa ... iya pa mama minggu lalu bertemu dengan Tasya” ”Maaf pa tapi Tasya tak bisa relain anak Tasya gitu aja, kalau mama Linda atau mas Niko nggak mau nerima anak Tasya, Tasya tak apa kok. Tasya bisa membesarkan mereka berdua sendiri” “Siapa bilang jika kami tak menerima anak anak mu siapa!! Biar papa pukul dia” “Papa kebiasaan ..” “Kalau mama nemuin kamu lagi, kamu bilang papa oke?” “Iya paa siapp” “Kamu mau makan apa? Oh iya apa nggak ada ngidam yang kamu ingin?” “Nggak kok pa semunya sudah bisa Tasya beli sendiri, untung anak anak Tasya ini tak rewel” “Iya dong cucu papa... kapan dia lahir sya?” “2 bulan lagi ya, tunggu aja ya papa,nanti kalau tasya sudah lahiran Tasya telpon papa” “Siap nona manis” Tasya dan pak hartanto makan bersama diatas meja makan, namun karna bisany bik Mirna dan pak Roni makan bersama dengan ku, namun kalau sudah lapar makan ‘mereka makan langsung. “Pak Roni bik mirna sudah sembuh?” “Alhamdulillah sudah pak” **** Setelah kepergin pak Hartanto Tasya rencana nya hari ini ingin mengahabiskan waktunya dengan nonton dan nonton. Tak lupa juga makan nya. “Nyonya” panggil bik Mirna “Iya bik?” “Bibik mau ke pasar, nyonya nggak papa tinggal sendiri?” “Ya ampun bibik, kan biasanya Tasya juga sering sendiri” “Itukan dulu sebelum nyonya hamil, sekarang kan beda” “Yaudah bibik hati hati ya, Tasya titip kue pancung nya ya bik 2” “Oke nyonya” Saat Tasya sedang sibuk nonton ia dikejutkan oleh kedatangan mama Linda. “Mama ? Ada ap- PLAK ... PLAK Tamparan demi tamparan mendarat di pipi mulus milik Tasya. Wanita hamil itu mengelus pipi nya yang ia tau sudah pasti merah. “Kenapa ma?” “Masih nanya kenapa ha!!! Setelah anak ku sekarang papa nya yang kau incar ha!! Dasar wanita nggak jelas!! Sekali p*****r kau tetap p*****r !! Hina!” Maki mama Linda “Stop ma!! Mama tidak berhak menghina Tasya seperti itu” “Kenapa?! Karna kau di bela oleh suami ku jadi aku tak baia menghina mau!! Ups sorry itu tak berlaku bagik- “Siapa bilang? Itu sangat berlaku bagi mu!! Ucapan ku yang kemarin benar adanya. Jika kau tak suka bisa kelur” Ucap pak Hartanto “Lihat!! Apa yang wanita ini beri padamu sampai sampai kau seperti ini ha!! Sudah berp Plak ... Tamparan ini beda, yang menamparnya adalah pak hartanto dengan korban Linda istrinya. “Papa menampar mama?!” “Selama ini papa sabar dengan sikap mama, tapi maaf kali ini papa tak bisa, sekali lagi papa ingatkan jika mama tak hisa menerima Tasya dan anaknya. mama bisa keluar dari rumah,dan ini terakhir ya ma.. beso kalau papa masih dapat berita mama nyakitin Tasya, maka mama akan papa usir sendiri” ucap Pak Hartanto dengan wajah dingin nya, sama persis dengan Niko. Mama Linda yang sudah kesal langsung pergi meninggalkan Tasya dan suaminya. “Maafin mama ya sya” ucap pak Hartanto “Iya pa” “Bik...” panggil pak Hartanto “Iya tuan?” “Tolong kompres pipi Tasya ya bik” “Baik tuan” “Sya papa pulang ya kamu kalau ada apa apa beritahu papa” “Untuk apa, Papa aja sudah nyuruh mata mata untuk ngawasi Tasya jadi untuk apa Tasya memberitahu papa kan” “Apa terlalu kentara, padahal papa membayarnya lebih biar dia tidak kamu kenali. Ternyata” “Papa lupa ya, aku orang yang paling cepat mengenal orang lain bahkan baru pertama kali bertemu” “Iya papa lupa maaf ya anak papa” “Iya pa nggak papa” “Sya papa pamit ya, ingat jangn takut oke” “Siap pa...” Tasya kembali menonton filnyanyngsempat tertinggal. Malam hari Tasya sedang bersiap untuk tidur tapi ia malah dikagetkan oleh Bil Mirna “Kenapa bik” “Ada tuan Niko nyonya” “Mau ngapain malam malam kesini” “Bibik juga nggak tau nya” Tasya turun dari kasurnya, ia memakai sendalnya lalu kelur menemui Niko. Saat Ia baru sampai di ruang tamu secepat itu pula ia bicara. “Kau kenapa luka? Kamu di pltampar Mama?” “Maaf mas tapi iya” “Maaf ya aku nggak becus menjaga mu” “Santai aja mas. Tasya baik baik aja’ **** Kandungan Tasya sudah bulan ke 8, ia sedang menunggu kelahiran nya. tubuh nya pun sudah sangat sulit untuk berjalan. Bahkan untuk ke kamar mandi saja ia kesusahan. Dan karna itu ia musti meminta batuan bik Mirna dulu. Dan karena itu Ia seperti nya sudah sangat ketergantungan dengan bik Mirna. “Nyonya mau kemana?” Tanya bik Mirna pada Tasya yang sedang kesulitan berjalan. “Kata buk dokter Tasya perlu jalan jalan, bik” “Mau bibik temani nya?” Tawar bik Mirna “Nggak bik, Tasya cuma keliling komplek aja bentar” “Yaudah hati hati ya nyah” “Oke bik, bibik hati hati ya dirumah” Setelah berpamitan Tasya berjalan keluar rumah dengan membawa payung yang kemarin sempat ia beli. beberapa ini ia sudah tak pernah melihat Niko, pria itu bak ditelan bumi. Namun ntah kenapa ia malah merindukan prianya. “Jangan nakal ya..” ucap Tasya sambil mengelus elus perut nya, ia duduk di kursi taman karna perutnya tiba tiba kram tak terkendali. “Aww... sakitt.. aww..” Tasya mengurut urut perut nya. “Sayang jangan ganggu mama dong.. mama janji kita akan bertemu bentar lagi tapi jangan gini dong ya.. sayang sayang mama” Tasya terus mengelus elus perut nya, namun rasa sakit nya malah tambah menjadi sakit nya. Ia menarik napas nya terus menurs agar ia menjadi tenang dan mereka bisa pulang. Karna sangat tak mungkin jika dia melahirkan disini. Mana kandungan nya masih 8 bulan, dan kata ibu ibu yang pernah ia temui katanya saat kandungan masuk bulan ke 8 bayi yang di dalam perut akan kembali menjadi umur umur kecil. Tasya pun merasa was was, bukan kah omongan orang tua itu baik baik untuk di dengarkan. 15 menit kemudian, perut Tasya sudah tak sakit lagi. Ia pun mengambil ancang ancang untuk pulang. Perlahan lahan ia berjalan walau sakit masih terus meredum perut nya. Saat sampai di rumah Tasya langsung masuk kerumah, bibik yang melihat nya kesusahan untuk berjalan langsung membantu Tasya. Ia di bimbing bibik ke kamarnya. “Nyonya tu kan , tadi kenapa nggak bibik temani aja” bibik mulai ngomel karena nyonya nya yang terkadang keras kepala. “Maaf bik, Tasya juga nggak tau kenapa bisa sesakit ini” “Bibik panggul dokter ya nyah?” “Iya bik boleh” “Oke” Bik Mirna segera keluar dari kamar Tasya, ia pun menelpon dokter Riska, dokter yang dari awal Tasya hamil selalu bersama nya saat meriksa kandungan. Bibik menelpon pakai telpon rumah. Lama telpon nya berdering dan saat dering terakhir untungnya di angkat oleh buk dokter Riska. “Hallo” ucap bik Mirna “Iya?” “Buk dokter Riska?” “Iya saya” “Dok ini bik mirna, pembantu nyonya Tasya” “Iya bik kenapa?” “Nyonya Tasya sepertinya sudah mau melahirkan deh dok, bisa kesini dok?” “Baik, saya segera kesana” “Oke dok di tunggu” ucap bik mirna lalu mematikan telpon nya. Ia kembali ke kamar Tasya. Tasya masih tetap sama ia terus mengelus perut nya. “Nyonya sabar ya dokter Riska bentar lagi datang” “Iya bik..” ucap nya susah payah “Nyonya bibik bantu ya” “Iya boleh bik” Bik Mirna mengelus elus pinggang Tasya, karna setau nya ibu ibu yang mau melahirkan selalu di elus pinggang nya. 15 menit kemudian Mereka masih tetap dalam kondisi yang sama. “Bik sakit ... sakit banget bik...” ucap Tasya, dan ia menangis sekarang. Mungkin sudah tak sanggup lagi menahannya. “Sabar ya nya, bentar lagi bentar lagi” “Bik...” “Iya nya...” bik Mirna yang melihat mya juga menjadi sedih. Dan untungnya dokter Riska datang, ia langsung mengambil alih Tasya. “Bik tolong bantu saya buka celana Nona Tasya ya, lalu tutup dengan selimut” “Baik dok” “Nona maaf ya celana nya harus dibuka dulu, saya mau periksa” jelas bik Mirna “I.. iya..” Tasya pasrah Buk dokter Riska pun melebarkan kaki Tasya, ia melihat ke dalam apakah Tasya sudah ada tanda tanda akan melahirkan. Saat sudah sampai ia berdiri dengan posisi di samping Tasya. “Sudah masuk bukaan 4” ucap Buk dokter “Ha? Jadi hari ini Tasya melahirkan dok?” “Iya, kalau bukaan nggak sampai 10 kita terpaksa melahirkan sesar , dan kamu harus dipindahin ke rumah sakit. “Baik dok” “Dok apa tidak apa nyonya melahirkan secara normal?” Ucap bik Mirna yang khawatir denga keadaan nyonya nya. “Tenang saja bik Sebelumnya saya dan Buk Tasya sudah mengobrolkan tentang ini, dan pelung tersebut syarat syaratnya sudah terpenuhi jadi pelung untuk melahirkan normal bisa dilakukan oleh Nona Tasya” “Baik dok, saya serahkan nona Tasya pada dokter ya” “Baik bik” Tasya memakan waktu sampai 10 jam untuk mengumpulkan sampai ke 10 seperti kakak ini Yangmembuatnya sedih karena tak ada yang membantu kita, bahkan setelah mengucap bohong hanya deng “Ayok nyonya ayok... semangat nya..” teriak Bik mirna “Bik Tasya sudah nggak tahan..” “Nyonya bibik tau nyonya itu orangnya kuat jadi tak mungkin nyonya nggak bisa ayo nya. Keluarkan nya” Akhirnya setelah ngedan beberapa kali ,anaknya punkeluar dan segera di bersihkan. Tasya pikir sudah ternyata ia salah sebab ia masih memiliki anak satunyalagi. “‘Maunmchllmmm... sakit..” “Ayoo buk ,,, eden terus ayokkk semangat setelah ini kita selesai jika ibuk lama akan berakibat buruk bagi anak ibuk”(jelas buk dokter Riska ***** Ditempat lain Niko sedang was was cemas sebab Tasya sedang melahirkan namun tak ada dia disampingnya. “Maaf sya tapi aku pastikan aku akan datang” Ia pun cepat cepat memanggil jet pribadinyd an meminta jet ny untuk datang dan menjemput dia.m secepat mungkin. Tak butuh waktu lama Jet Niko datang 1 jam perjalanan yang ia tempuh, sesampainya di kota ia langsung di jemput oleh sopirnya dan membawanya ke rumah Tasya, karena infonyang ia terima bahwa Tasya melahirkn di rumah nya. Niko dengan penuh akan semangat masuk kedalam rumah Tasya. Namun apanyang ia temukan ternyata kosong Tasya tak ada dirumah begitu pula bik Mirna dan pak Roni semua orang bak menghilang tanda tanda bekas melahirkan pun juga tak ada. Niko jadi panik, ia segera menelpon mata mata nya untuk datang. “Kemana Tasya? Kemana Tasya dan anak anakku pergu!!” Pekik Niko “Saya tidak tau tuan perasaan tadi nona Tasya dari tadi saya pantau tak ada tanda tanda yang pergi” jelas Rendi mata mata yang dibayar Niko untuk mengawasi Tasya. Niko melemas wanita yang ia cintai dan anak nya tak ada dirumahnya. Saat ini yang ia tau adalah pergi kerumah papanya karna hanya papanya yang tau kemana Tasya akan pergi. Niko mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak butuh waktu lama ia sampai dirumah mama papanya. Tanpa mengucap salam ia segera ke ruang keerja papa nya. “Pa..” teriak Niko “Ada apa?” “Kemana Tasya pa?” “Kenapa tanya ke papa, bukan nya kamu yang seharusnya tau” “Papa pasti yang memyembunyikan Tasya iya kan!! Tadi aja dia masih ada tapi kenapa pas Niko pulang dia sudah pergi pa kenapa.. Niko belum sempat untuk melihat anak anak Niko” “Kenapa kamu marah sama papa bukan nya yang salah kamu, kenapa kamu pergi dan meninggalkan dia selama itu” “Pa Niko kerja, Niko lagi ngembangkan perusahaan kita pa” “Papa nggak tau ko kemana Tasya pergi, kali ini papa nggak tau benar” jelas pak Hartanto namun Niko tetap tak percaya. “Papa pasti bohong sebab hanya papa yang bisa ngelakuin ini” “Terserah kamu, papa capek” ucap papanya lalu segera masuk ke kamarnya. “Niko akan cari Tasya dan Anak Niko bagaimanapun caranya” ucap Niko lalu segera meninggalkan rumah
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD