Caffee

1145 Words
desar desir angin semilir di terik nya cuaca siang di ibukota, Tasya yang dari tadi pagi mood nya terganggu oleh Alexi memilih untuk duduk di pinggiran kolam.  menikmati suasana pagi berganti siang ia terus terusan disana.  "Nyonya" panggil Bik Mirna  "iya bik" jawab Tasya "nyonya ngapain dari tadi disini?" "nggak ada bik, rasa nya disini lebih nyaman dari pada bertemu mereka" ucap Tasya yan dari tadi masih asik bermain kan kaki nya di dalam kolam  "Tapi tuan nyari nyonya" "kenapa dia nyari aku bik?" "nggak tau nya, kata tuan nyonya diminta ke ruangan nya" "malas ah bik" "tapi tuan minta, kata nya penting nya" "aisss, bentar lagi deh bik mau atur emosi dulu" ucap Tasya sembarang lalu ia mengambil napas dalam dalam sebelum berdiri dan pamit ke Bik Mirna Tasya berjalan menuju tempat yang di beritahu bik Mirna tadi yaitu ruang kerja Niko tentu nya tempat laki laki itu menghilangkan penat katanya, padahal kan kalau di tempat kerja malah tambah pusing. emang aneh aneh aja anak nya. cibir Tasya sebelum masuk tak lupa Tasya mengetuk pintu terlebih dulu. dari dalam ruangan Niko berteriak "masuk" Tasya langsung masuk kedalam ruangan Niko , diasan pria itu sedang duduk di kursi kebesaran nya dengan laptop yang sudah terbuka dan beberapa lembar kertas di atas meja nya.  "duduk" ucap Niko tanpa melihat ke arah Tasya Tasya yang mengerti langsung duduk di sofa dekat meja kerja Niko. selama duduk itu Tasya meling maling curi pandang ke arah Niko. "kalau lagi kerja gitu kan enak, tenang dan tambah ganteng lagi" ucap Tasya dalam hati.  "kenapa kamu lihat aku seperti itu?" ucap Niko yang membuat Tasya menjadi kaget, ia pikir Niko tak sadar jika di lihat nya. "Hm .. aku nggak lihat tuan saya lagi lihat lukisan di belakang tuan" elak Tasya "jangan berbohong kalau kamu nggak bisa"  "saya jujur kok""ya tereserah kamu" ucap Niko lalu ditutup nya Laptop milik nya dan berjalan ke arah Tasya. ia memilih duduk di depan Tasya. "ada apa tuan memanggil saya" "kemarin kamu bilang mau kerja?" "iya saya sedang cari tempat" "kamu bisa masak kan?" "bisa" "kalau aku buka kan restoran atau cafe kamu mau ngelola nya?" "tuan bercanda?" "tidak, sejak kapan saya bercanda" "baiklah saya mau tapi, saya nggak mau jika semua keuntungan untuk saya. saya mau keuntungan nya di bagi dua dan saya akan menyicil semua nya sampai lunas agar caffe itu jadi milik saya" jelas Tasya "saya berikan caffe itu gratis untuk mu" "kenapa?" "hadiah karena sudah menjadi istriku" "ahhh ini balasan nya" "hmm, bukan kah uang yang aku transfer nggak kamu gunain sama sekali" "iya soalnya juga saya nggak pernah keluar jadi untuk apa saya gunakan, kalau boleh tau sampai kapan caffe itu siap tuan?" "sedang dikerjakan" "boleh saya yang menata caffe saya" "boleh, siang nanti kamu ikut saya kesana" "benarkah?" "hmm siap siap lah" "nona Alexi?" "dia sedang keluar" "baiklah saya permisi" "hmm, nanti kalau sudah kamu panggil saya disini" "iya tuan" ucap Tasya lalu segera pergi meninggalkan ruangan Niko. Tasya buru buru ke kamar nya ia mengganti pakaian nya. "ahhh senang banget tuhan , oh iya kenapa jadi canggung gini ketemu dia .. mana sekarang ngomong nya formal banget lagi, nggak seperti yang dulu" ucap Tasya bermonolog  setelah berpakian ia langsung mengambil tas nya dan berjalan kembali ke ruangan Niko. sebelum ia mengetuk pintu , ointu itu sudah terbuka duluan dari dalam. dan nongol lah Niko di baliknya. pria itu sudah rapi denga pakaian kasual nya. celana pendek dengan baju kaos hitam yang membuatnya menjadi lebih tampan dari biasanya. "sudah siap?" Tanya Niko  "hmm i-iya" jawab Tasya gugup "kenapa?" "nggak tuan ,nggak ada kenapa kenapa" "yasudah ayok ke bawah" Tasya mengangguk lalu mengekor Niko dari belakang. sampai di garasi Niko langsung masuk kedalam mobil sport nya , mobil ini baru Tasya lihat sebab biasanya Niko pakai mobil sedan hitam. "wahhh gilak mobilnya keren banget tuhan.... baru kali ini lihat mobil sebagus ini" ucap Tasya dalam hati.  "kenapa diam ayok masuk" "iya tuan" Karena ini mobil sport jadi Tasya harus duduk di sebelah Niko, sebab mobilnya tidak ada bangku belakang. di perjalan menuju ke caffe, Tasya hanya diam tanpa berkata ia lebiih menikmati suasana jalanan luar dari kaca mobil dari pada mengajak berbicara dengan Niko. "Tasya" panggil Niko "iya tuan" "di sana jangan panggil saya tuan" "jadi?" "yang pokok nya jangan panggil saya tuan.karena mereka taunya kamu istri saya" "baiklah" Tasya diam berbikir mencari nama panggilan yang cocok untuk Niko, nggak mungkin juga jika ia panggil Niko.  "hmmm boleh saya panggil mas aja?" "oke" jawab Niko Tak lama mereka sampai di tempat tujuan, Niko langsung turun dari mobil dan di lanjutkan oleh Tasya. bangunan di depan nya sangat sangat bagus, bahkan belum di renov pun.  "belum di renov saya sudah bagus" ucap Tasya bermonog "tambah di renov tambah bagus, dan pengujung pun jadi ramai" ucap Niko menambahkan "iya tu- eh mas" "ayok masuk" ucap Niko sambil menggandeng tangan Tasya, Tasya yang diperlakukan begitu merasa gemetaran ia ini gandengan pertama mereka setelah menilkah.  Didalam caffe sudah ada beberapa orang yang sedang duduk di atas meja panjang dengan laptop mereka masing , dan satu papan tulis besar di bagian depan. Saat mereka masuk beberapa orang itu langsung berdiri memberi hormat kepada mereka berdua. "selamat datang tuan Niko dan istri" ucap salah datu dari mereka dan mengajak mereka untuk berjabat tangan lalu Niko menuntunTasya untuk duduk ditempat yang sudah di sediakan oleh mereka. dan dengan posisi Tasya duduk disebalah Niko. "baiklah tuan Niko dan nyonya Tasya perkenankan kami untuk mempresentasikan materi dari kami" ucap pria itu lagi yang merupakan pimpinan dari proyek Renovasi caffee milik Tasya. Niko mengangguk setuju lalu rapat itu pun dimulai dan menghasilkan kesepakatan yang Niko dan Tasya mau , didalam rapat itu Tasya ikut andil dalam perbaikan caffe nya ia memilih sendiri warna cat yang cocok untuk caffe nya beserta tema dari caffee nya. Niko hanya menambahkan sedikit masukan dari keputuasan milik Tasya.  "baiklah tuan Niko dan nyonya Tasya, besok pagi kami sudah memulai untuk bekerja. dan diperkirakan dalam kurun waktu dua minggu caffee milik nyonya akan selesai" "iya terimakasih" balas Tasya  "sama sama nyonya" "saya dan istri saya pamit, kami masih ada acara yang harus di datangi pokok nya semuanya saya serahkan pada kamu ya" ucap Niko kepada kepala pimpinan itu "baik tuan saya tidak akan mengecewakan tuan dan istri" "hmm"  Niko mengajak Tasya untuk berdiri dan mereka berpamitan dan kembali ke mobil.  di perjalanan  "terimakasih" ucap Niko "hm" sunyi "mau makan?" tanya Niko  "nona Alexi?" "jika kita berdua jangan bawa bawa orang lain" "saya hanya tak ingin dia tersinggung jika kita pergi berdua" "tidak akan, jadi mau makan?" "makan dirumah saja kasihan bik Mirna sudah masak" "aku ingin makan diluar" ucap Niko to the point "ya udah" "kalau mau ngajak nggak perlu nanya juga kali" ucap Tasya dalam hati  >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>> Bersambung  malam minggu hampir saja lupa update huhuhu maaf yak jangan lupa tinggalkan komentar di kolom komentar terimakasih 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD