Langit siang perlahan berubah menjadi warna biru pucat, awan tipis berarak pelan di luar jendela rumah sakit. Lalu lintas di halaman parkir terlihat dari celah tirai—ambulans yang datang dan pergi, orang-orang dengan langkah tergesa, dan beberapa kerabat pasien yang duduk menunggu di bangku panjang sambil menunduk menatap ponsel. Ruangan tempat Bu Ratna dirawat terasa lebih hangat setelah sinar matahari mulai menembus masuk. Celine duduk di kursi, mencoba meluruskan punggung yang pegal. Rambutnya masih tergerai, sebagian menutupi wajah, dan ia mengusap pelipisnya pelan. Meski sudah sempat tertidur sebentar, tubuhnya tetap terasa berat. Edward baru saja kembali dari luar. Di tangannya ada kantong plastik putih berlogo minimarket. “Aku keluar sebentar,” ucapnya sambil menaruh kantong itu d

