Keheningan di antara mereka semakin pekat, hanya dipecahkan oleh suara hujan di luar jendela yang semakin deras.
Celine berdiri di tengah ruang tamu, tubuhnya tegang. Edward, dengan jas basah yang kini ia letakkan di kursi, tetap memandangnya tanpa ekspresi jelas. Namun dari matanya, Celine tahu ia sedang menahan banyak hal.
“Aku nggak akan suka jawabannya?” Celine mengulang pelan, mencoba mengurai nada yang tersembunyi di balik kata-kata itu. “Kamu pikir aku mau terus hidup sama orang yang aku nggak kenal? Setiap kali aku tanya, jawabannya selalu sama—‘waktunya belum tepat’—sampai kapan, Edward?”
Edward mengalihkan pandangan, berjalan menuju dapur. Tangannya meraih gelas, mengisinya dengan air, seolah ingin mengulur waktu. “Kalau aku cerita sekarang, kamu akan lihat aku… dengan cara yang beda. Dan itu hal terakhir yang aku mau.”
“Kalau kamu terus sembunyi di balik alasan itu, kamu pikir aku nggak bakal berubah ngeliat kamu?” suara Celine meninggi. “Diammu justru bikin aku mikir hal-hal yang mungkin lebih buruk dari kenyataannya.”
Edward berhenti minum, menatapnya lama. “Lebih buruk? Celine, ada hal-hal yang memang lebih aman kalau kamu nggak tahu.”
Celine tertawa kecut, matanya mulai panas. “Aman buat siapa? Buat aku… atau buat kamu?”
Tak ada jawaban. Hanya suara hujan yang makin deras, seakan mencoba menenggelamkan percakapan mereka.
Celine memeluk dirinya sendiri. “Emeril datang, Edward. Dia nggak cuma nyuruh aku cerai sama kamu… dia ngancem masa depan ibu.”
Edward membeku. “Dia bilang gitu?”
“Ya. Dia bilang biaya rumah sakit Ibu bisa dicabut kapan aja kalau aku nggak nurutin dia.” Air mata Celine menetes, tapi suaranya tetap bergetar menahan marah. “Dan kamu tahu apa yang bikin aku tambah takut? Dia ngomong kayak gitu dengan yakin. Seolah dia tahu kamu nggak akan bisa lawan dia.”
Edward mengembuskan napas panjang, menunduk, kedua tangannya menggenggam gelas begitu erat sampai buku jarinya memutih. “Aku bisa lawan dia.”
“Bisa? Atau cuma ngomong?” Celine mendekat, suaranya hampir berbisik namun penuh tekanan. “Karena yang aku lihat sekarang… kamu cuma pulang larut malam, basah kuyup, dan nyuruh aku percaya sama janji-janji yang nggak pernah kamu tepati.”
Edward menatapnya, dan kali ini tatapan itu menusuk. “Kamu nggak tahu apa yang aku lakukan hari ini. Atau kemarin. Atau sebelum-sebelumnya. Semua yang aku lakuin, Celine, bukan buat aku… tapi buat kamu. Buat ibu kamu.”
“Kalau gitu, kenapa nggak cerita?!”
“Karena kalau aku cerita…” Edward berhenti, rahangnya mengeras, “kamu mungkin akan ikut dalam masalah yang aku hadapi. Dan kalau itu terjadi, kamu nggak akan bisa keluar lagi.”
Celine terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya—seperti ancaman, tapi bukan untuknya; untuk orang-orang yang mungkin akan menyentuhnya jika ia tahu terlalu banyak.
Edward meletakkan gelas, lalu berjalan melewatinya. “Aku janji, aku akan jelasin… tapi bukan sekarang.”
Celine memutar badan, menatap punggungnya yang menjauh. “Kamu janji terus, tapi kapan kamu tepati? Sampai aku keburu nyerah?”
Langkah Edward terhenti. Ia tidak menoleh, tapi suaranya terdengar lebih berat. “Aku harap hari itu nggak pernah datang.”
Lalu ia masuk ke kamar, menutup pintu, meninggalkan Celine sendirian di ruang tamu.
Malam itu Celine tidak bisa tidur. Kata-kata Emeril dan Edward berputar-putar di kepalanya. Ancaman, rahasia, dan rasa takut bercampur jadi satu.
Pukul dua dini hari, ia duduk di ruang tamu sambil memandangi pintu kamar kerja Edward—yang terkunci rapat.
Ia tahu, jika ingin mendapatkan jawaban, ia tidak bisa hanya menunggu.
Tangannya perlahan bergerak mengambil ponsel. Ia menulis pesan singkat untuk sahabatnya, Rena,
“Ren, kamu masih ingat caranya nyari data orang dari nomor ponsel? Aku butuh bantuan.”
Keesokan paginya, Edward sudah pergi sebelum Celine bangun. Di meja makan, lagi-lagi ada catatan singkat:
“Ada urusan. Jangan keluar sendirian. – E.”
Catatan itu kali ini terasa seperti ejekan.
Pukul sembilan, ponsel Celine bergetar. Pesan dari Rena masuk,
“Nomor yang kamu kasih… nggak terdaftar atas nama Edward. Terdaftarnya atas nama orang lain. Dan, Cel… orang itu punya catatan kriminal.”
Jantung Celine berdetak keras. “Kriminal” adalah kata yang ia takuti tapi juga sudah ia curigai sejak lama.
Siapa sebenarnya Edward?
Dan kenapa rasanya, setelah ini, ia akan menemukan jawaban yang benar-benar… tidak ia suka?
*
Hujan rintik-rintik masih turun pagi itu, membuat udara lembap dan dingin. Celine duduk di kursi dekat jendela, menatap jalanan sepi sambil memutar-mutar catatan kecil yang Edward tinggalkan. Kata-kata Rena semalam masih bergema di kepalanya,
“Nomor yang kamu kasih… nggak terdaftar atas nama Edward. Terdaftarnya atas nama orang lain. Dan orang itu punya catatan kriminal.”
Catatan kriminal.
Dua kata itu cukup untuk membuat tidurnya nyaris nihil semalaman. Kini, ia tidak hanya gelisah—ia ingin tahu. Bukan sekadar ingin, tapi butuh. Karena rasa takutnya tidak akan pergi kalau ia hanya duduk diam menunggu jawaban yang “akan datang kalau waktunya tepat” seperti kata Edward.
Pukul sembilan lewat lima belas, suara mesin mobil terdengar dari luar. Celine melirik dari sela tirai. Benar, mobil hitam Edward keluar dari garasi. Ia mencatat nomor platnya di kepala.
Begitu mobil itu membelok di ujung jalan, Celine segera mengambil jaket tipis, tas, dan kunci mobilnya. Ia tahu risikonya—kalau Edward tahu ia mengikutinya, mungkin ia akan marah besar. Tapi sekarang, marahnya Edward bukan ancaman paling menakutkan.
Ia menyalakan mobil pelan, menjaga jarak cukup jauh. Setiap kali Edward berbelok, ia ikut, memastikan mobilnya tidak terlalu dekat tapi tetap terlihat.
Awalnya, ia mengira Edward akan menuju kampus atau rumah sakit, seperti dugaan-dugaannya selama ini. Tapi ternyata Edward melaju ke arah yang berlawanan—menuju kawasan industri tua di pinggir kota.
Jalanan makin sepi. Bangunan-bangunan tua dengan dinding bata memudar dan cat terkelupas mulai bermunculan. Celine menggenggam setir erat-erat, jantungnya mulai berpacu.
Edward akhirnya berhenti di depan sebuah gudang besar dengan pintu besi berkarat. Tidak ada papan nama, tidak ada tanda aktivitas resmi. Hanya beberapa pria berjaket kulit duduk merokok di dekat pintu, menatap sekitar dengan tatapan tajam.
Celine memarkir mobilnya agak jauh, di balik truk tua yang sudah tak terpakai. Dari celah kaca, ia melihat Edward keluar dari mobil.
Pria-pria di pintu langsung berdiri dan menyapanya—bukan dengan salam biasa, tapi dengan anggukan singkat seperti orang yang mengakui kedatangan seseorang yang punya otoritas. Edward berbicara sebentar dengan salah satu dari mereka, lalu pintu besi itu dibuka.
Celine melihat Edward masuk ke dalam, lalu pintu tertutup rapat.
Jantungnya berdegup semakin kencang. Apa ini? Gudang? Atau markas sesuatu?
Ia menunggu lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setiap menit yang lewat terasa seperti sejam. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Ia membuka pintu mobil, melangkah hati-hati mendekati sisi gudang, mencari celah.
Di sisi kiri, ada jendela kecil yang kaca buramnya sebagian retak. Celine mendekat, menahan napas, lalu mengintip.
Pemandangan di dalam membuatnya membeku.
Gudang itu penuh dengan meja panjang, dan di atasnya berserakan benda-benda yang jelas bukan untuk “bisnis biasa”—tumpukan uang yang diikat rapi, senjata api, dan kotak-kotak kayu besar yang diberi label asing. Beberapa pria bersenjata mondar-mandir, sementara di tengah ruangan, Edward berdiri berbicara dengan seorang pria tua berambut putih, tubuhnya kekar, wajahnya penuh bekas luka.
Pria itu menepuk bahu Edward, lalu menunjuk ke sebuah berkas di meja. Edward membuka berkas itu, membaca sebentar, dan mengangguk. Tatapannya dingin, wajahnya jauh dari sosok yang Celine kenal di rumah.
Lalu sesuatu terjadi—seolah naluri Edward menangkap sesuatu. Ia tiba-tiba menoleh ke arah jendela.
Celine tersentak, menunduk cepat-cepat. Nafasnya tercekat. Ia menunggu beberapa detik, lalu mengintip lagi. Edward sudah tidak melihat ke arah jendela, tapi hatinya tetap berdegup seperti genderang perang.
Setelah hampir setengah jam, Edward keluar dari gudang. Kali ini ia membawa tas hitam besar yang tampak berat. Ia bicara singkat dengan pria-pria di pintu, lalu masuk ke mobil dan pergi.
Celine menunggu sampai mobil Edward benar-benar menjauh sebelum ia kembali ke mobilnya sendiri. Tangannya gemetar saat memegang setir.
Itu… itu bukan pekerjaan dosen. Bukan pekerjaan legal sama sekali.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya penuh tanda tanya dan ketakutan. Semua ucapan Emeril kini terdengar berbeda—tidak sepenuhnya ancaman kosong.
Malamnya, Edward pulang seperti biasa, bahkan sempat tersenyum tipis saat melihat Celine. Tapi bagi Celine, senyum itu kini terasa asing.
Karena untuk pertama kalinya… ia merasa pria yang ada di depannya bukan suaminya.
Ia adalah seseorang yang sama sekali tidak ia kenal.