Pagi itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Matahari baru saja naik, menyinari dinding ruang tamu yang berwarna putih kusam. Celine terbangun bukan karena alarm atau suara Edward di dapur, tetapi karena keheningan yang terlalu aneh.
Biasanya, walau sesederhana apa pun, Edward selalu ada—entah membuat sarapan atau sekadar duduk membaca koran dengan secangkir kopi di tangan. Namun pagi ini, tak ada suara piring, tak ada aroma kopi, tak ada sosok Edward.
Celine berjalan ke ruang tamu. Sepatu Edward tak ada di rak. Jaket yang biasanya tergantung di dekat pintu juga hilang.
Ia mengerutkan kening. Pagi-pagi begini, ke mana dia?
Di meja makan, hanya ada selembar kertas kecil. Tulisan tangan Edward yang rapi:
“Ada urusan. Jangan keluar sendirian. – E.”
Celine menghela napas panjang. “Urusan? Urusan apa?”
Ia menatap catatan itu berulang-ulang, seolah dari goresan pena itu ia bisa menemukan jawaban. Namun kosong. Edward memang selalu begitu—mengatakan secukupnya, meninggalkan lebih banyak misteri daripada jawaban.
Siang menjelang, tapi Edward belum juga kembali.
Celine mencoba menghubungi ponselnya. Tidak aktif. Pesan yang ia kirimkan centang satu.
Rasa gelisah mulai merambat. Ia ingat kejadian kemarin, Emeril yang datang membawa amarah. Apa ini ada hubungannya? Apa Edward pergi menemuinya?
Ia menggigit bibir, mencoba mengusir pikiran buruk. Tapi semakin ia mencoba, semakin pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tak masuk akal:
Bagaimana kalau Edward terluka? Bagaimana kalau dia… sengaja pergi untuk tidak kembali?
Hatinya mencelos membayangkan itu.
Menjelang sore, ia tak tahan. Celine mengambil jaketnya dan memutuskan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Setidaknya, berada di dekat ibunya bisa membuat hatinya lebih tenang.
Namun di lorong rumah sakit, rasa gelisah itu justru semakin menjadi.
“Celine,” sapa perawat yang mengenalnya. “Suamimu tadi pagi sempat datang, lho. Dia ke ruang administrasi.”
Celine menghentikan langkahnya. “Edward? Jam berapa?”
“Sekitar jam tujuh. Dia nggak lama, cuma urus pembayaran perawatan ibumu.”
Celine membeku di tempat. Jadi Edward ke sini? Tapi kenapa dia tidak bilang? Dan… sejak kapan Edward bisa begitu cepat membayar tagihan yang bahkan pamannya bilang terlalu berat?
Ia berusaha menenangkan diri, menghabiskan waktu bersama ibunya di ruang rawat. Tapi bahkan saat sang ibu bercerita tentang mimpi-mimpi lamanya, pikiran Celine terus melayang.
Dari mana Edward mendapatkan uang sebanyak itu?
Malam datang. Rumah kembali sunyi. Edward belum juga pulang.
Celine duduk di ruang tamu, memeluk bantal, menatap pintu yang tak kunjung terbuka. Sekali-sekali ia mengirim pesan lagi—tetap centang satu.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika akhirnya ia mendengar suara pintu depan terbuka.
Edward masuk, masih mengenakan kemeja yang sama seperti kemarin, tapi kini lusuh dan sedikit basah karena hujan. Rambutnya berantakan, wajahnya lelah. Ia menutup pintu tanpa mengatakan apa pun.
“Ke mana aja kamu?” suara Celine pecah, setengah marah, setengah lega.
Edward menatapnya sekilas. “Ada urusan.”
“Urusan apa?!”
“Aku ke kampus!”
“Bohong! Bahkan, kamu masih cuti. Aku ingat betul kamu bilang sendiri sama paman aku waktu itu sebelum kita menikah, kamu mengajukan cuti selama sebulan, dan sudah mengajukan dosen pengganti sebentar.”
Edward terdiam, ia menghela nafasnya. “Aku pergi bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan.”
Celine berdiri, mendekatinya. “Kamu pergi seharian, nggak bisa dihubungi, nggak kasih kabar, dan kamu bilang aku nggak perlu khawatir? Kamu pikir aku nggak—”
“Celine,” potong Edward, suaranya tetap datar, tapi lebih tegas. “Aku nggak pergi untuk hal yang buruk. Aku cuma… menyelesaikan sesuatu.”
“Sesuatu apa?!”
Edward menatapnya lama. Ada banyak hal di matanya—kelelahan, amarah yang ditahan, dan sesuatu yang menyerupai luka. Tapi akhirnya ia hanya berkata pelan, “Percayalah. Aku akan jelasin… kalau waktunya sudah tepat.”
Celine menatapnya tak percaya. “Kamu selalu bilang ‘waktunya belum tepat.’ Kapan tepatnya? Apa aku cuma istri di atas kertas yang nggak berhak tahu apa-apa soal kamu?”
Edward terdiam.
Beberapa detik kemudian, ia berkata dengan suara rendah, “Kalau aku bisa… aku ingin kamu tetap melihatku seperti sekarang. Bukan… seperti apa aku sebenarnya.”
Kata-kata itu membuat Celine tertegun.
Sebelum ia bisa bertanya lebih jauh, Edward sudah berjalan melewatinya, masuk ke kamar kerjanya, dan menutup pintu dengan bunyi klik terkunci.
Meninggalkan Celine sendirian di ruang tamu, dengan seribu tanda tanya di kepalanya.
Malam itu, Celine tidak tidur. Ia duduk di sofa, memandangi pintu kamar kerja Edward.
Semakin lama, rasa takutnya bercampur dengan penasaran.
Siapa sebenarnya pria yang sekarang jadi suamiku?
Dan lebih menakutkan lagi—
Kenapa rasanya dia berusaha melindungiku… dari dirinya sendiri?
*
Hujan kembali turun sore itu, menampar jendela dengan suara ritmis yang menenangkan bagi sebagian orang—tapi tidak bagi Celine. Bagi Celine, hujan hari ini hanya menambah rasa gelisah yang sejak kemarin menekan dadanya.
Edward menghilang lagi pagi tadi. Pergi tanpa menjelaskan ke mana, hanya meninggalkan pesan singkat di meja makan seperti biasa: “Ada urusan. Jangan keluar sendirian.”
Kalimat itu yang justru membuatnya merasa seperti tahanan di rumahnya sendiri.
Celine melirik jam dinding. Hampir pukul lima sore. Ia memutuskan membuat teh untuk mengisi waktu, sekadar menghangatkan tubuhnya. Tapi sebelum ia sempat menyentuh teko, suara mobil berhenti di depan rumah.
Perasaannya langsung tak enak. Itu bukan suara mobil Edward.
Detik berikutnya, pintu rumah diketuk keras—tiga kali, seperti seseorang yang tidak sabar.
Dengan langkah waspada, Celine menghampiri pintu. Hujan membuat kaca jendela buram, tapi ia masih bisa mengenali siluet di luar. Tinggi, berjas, berdiri tegap.
Emeril.
Celine meremas kenop pintu, berharap ia salah. Tapi suara itu menghancurkan harapannya.
“Celine! Bukain pintunya. Kita perlu bicara.”
Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang sebelum membuka pintu.
Emeril berdiri di sana, basah kuyup. Jas hitamnya menempel di tubuh karena hujan, tapi ia sama sekali tidak terlihat terganggu. Wajahnya dingin, matanya penuh kemarahan yang ditahan-tahan.
“Kamu mau apa, Emeril?” Celine berusaha terdengar tegas, meski tangannya gemetar di belakang tubuh.
Emeril melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu dengan keras. “Kita perlu ngobrol.”
“Kalau soal kemarin, aku nggak mau bahas.”
“Ini bukan cuma soal kemarin.” Ia menatap Celine tajam, matanya menyapu rumah sederhana itu dengan pandangan meremehkan. “Kamu masih punya waktu buat nyelamatin hidupmu, Celine.”
Celine mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Emeril mendekat, jaraknya terlalu dekat hingga Celine harus mundur beberapa langkah. “Ceraikan dia.”
Kata-kata itu membuat Celine membeku. “Apa?”
“Ceraikan Edward. Hidup sama dia nggak akan bawa kamu ke mana-mana. Kamu cuma buang waktu. Kamu tahu dia siapa? Cuma orang miskin yang kebetulan bisa bayar biaya rumah sakit ibumu. Itu pun aku yakin… bukan dari uang dia sendiri.”
“Emeril—”
“Aku serius.” Suaranya menegang, semakin menekan. “Aku udah bilang. Kalau kamu terus sama dia, kamu nggak akan dapet apa-apa. Bahkan biaya rumah sakit ibumu nanti juga bakal dicabut. Kamu mau liat ibumu sengsara gara-gara keputusan bodohmu?”
Celine merasa darahnya mendidih. “Kamu keterlaluan!”
“Aku realistis,” potong Emeril cepat. “Kamu pikir pria itu bisa ngasih kamu masa depan? Kamu pikir dia bisa jaga kamu? Lihat aja kemarin. Kalau bukan karena aku, kamu udah hidup di jalanan. Kamu nggak tahu aja betapa gampangnya orang kayak dia hancur.”
Emeril mendekat lagi, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Celine. “Ceraikan dia. Nikah sama aku. Hanya itu cara kamu nyelamatin dirimu sendiri.”
Celine mundur, punggungnya membentur dinding. “Aku nggak akan ninggalin suamiku.”
Ekspresi Emeril berubah. Dari marah menjadi… gelap. “Kamu pikir dia pantas kamu bela? Kamu bahkan nggak tahu siapa dia sebenarnya, kan?”
Celine menggigit bibir, menahan diri untuk tidak bereaksi.
Emeril tersenyum miring. “Lihat? Kamu bahkan nggak bisa jawab. Dia penuh rahasia. Kamu kira itu kebetulan? Orang kayak dia cuma bisa bohong. Dan kalau kamu terus di sini… cepat atau lambat kamu yang akan kena imbasnya.”
Celine merasa tubuhnya bergetar. Emeril benar di satu sisi—ia memang tidak tahu siapa Edward sebenarnya. Tapi mendengar ancaman itu membuatnya ingin melindungi sesuatu… atau seseorang.
“Keluar dari rumahku,” bisik Celine.
Emeril mendengus. “Kalau kamu mau main keras, silakan. Tapi jangan salahin aku kalau semua ini berakhir buruk buatmu.”
Ia berjalan menuju pintu, tapi sebelum keluar ia menoleh. “Kamu pikir Edward bisa jagain kamu? Kalau iya… kita lihat seberapa lama dia bisa tahan.”
Lalu pintu tertutup keras, meninggalkan Celine dengan napas terengah dan hati yang terasa seperti diikat.
Celine terduduk di lantai, kepalanya berputar.
Ancaman Emeril menggema di telinganya. “Kamu bahkan nggak tahu siapa dia sebenarnya.”
Air mata menggenang di matanya. Ia merasa terjebak.
Siapa sebenarnya Edward?
Dan kenapa semua orang seolah tahu sesuatu yang ia tidak tahu?
Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Edward akhirnya pulang. Ia masuk seperti biasa, melepas jasnya tanpa bicara, seolah hari itu tidak terjadi apa-apa.
Celine berdiri di ruang tamu, menatapnya. “Kita perlu bicara.”
Edward menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Tentang apa?”
“Emeril datang ke sini.”
Sorot mata Edward langsung berubah. Ada kilatan berbahaya di sana, tapi cepat ia tutupi. “Dia bilang apa?”
Celine menggenggam tangannya erat. “Dia nyuruh aku ceraikan kamu.”
Keheningan.
Edward menutup mata sebentar, lalu berjalan mendekat. “Kamu nggak perlu dengerin dia.”
“Aku nggak butuh kamu bilang aku nggak perlu dengerin dia. Aku butuh tahu… siapa kamu sebenarnya, Edward.”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Untuk pertama kalinya, Edward tidak langsung menjawab. Ia menatap Celine lama, seolah menimbang sesuatu.
Lalu ia berkata pelan, “Kamu nggak akan suka jawabannya.”
Celine terdiam. Kata-kata itu bukan jawaban… tapi lebih menakutkan dari jawaban apa pun.