bab 4

1369 Words
Hujan turun deras sore itu, menampar atap rumah sederhana mereka dengan suara gemuruh. Celine duduk di ruang tamu, masih belum sepenuhnya bisa mengusir pikiran tentang kartu nama emas yang ia temukan kemarin. Setiap detik ia habiskan untuk memikirkan satu hal: Siapa sebenarnya Edward? Namun lamunannya buyar ketika suara deru mesin mobil berhenti tepat di depan rumah. Dari balik jendela, Celine melihat mobil SUV hitam yang sangat ia kenali—mobil pamannya. Dadanya langsung sesak. Kenapa dia datang? Pintu mobil terbuka, dan dari sana keluar seorang pria muda berjas rapi. Tinggi, berwajah tegas, dengan tatapan yang menusuk—Emeril. Anak pamannya. Pria yang selama ini terang-terangan menginginkan Celine, yang bahkan jadi alasan pernikahan mendadak ini terjadi. Kenapa harus sekarang? Emeril berjalan cepat menuju pintu, langkahnya mantap. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu rumah dan masuk, seolah tempat itu miliknya. “Celine,” suaranya dalam, dingin. “Kita perlu bicara.” Celine berdiri, menahan napas. “Emeril… kenapa kamu datang tanpa—” “Kenapa aku nggak boleh datang ke rumahmu?” potong Emeril sinis. “Rumahmu… dan suami barumu.” Nada meremehkannya membuat Celine ingin berteriak. Tapi ia tahu, menghadapi Emeril tidak bisa dengan emosi. Belum sempat ia menjawab, suara pintu belakang berderit. Edward muncul, mengenakan kemeja abu-abu yang lengannya digulung. Dia baru saja selesai menelpon dari halaman. Tatapannya langsung tertuju pada tamu tak diundang itu. “Siapa?” tanya Edward datar, meski sorot matanya penuh kewaspadaan. Emeril menyeringai. “Oh… jadi ini suami barumu? Pria miskin yang kamu pilih dibanding aku?” Kata-kata itu membuat darah Celine mendidih. “Emeril, cukup—” “Pria miskin?” Edward mengulang dengan nada tenang, tapi matanya sedikit menyipit. “Mulutmu tajam sekali untuk seseorang yang baru masuk ke rumah orang lain tanpa izin.” Emeril melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Edward. “Aku nggak ngomong sembarangan. Semua orang tahu kamu nggak punya apa-apa. Kamu pikir Celine pantas hidup di rumah seperti ini? Kamu pikir kamu layak untuk dia?” “Emeril!” suara Celine meninggi. “Ini rumah tanggaku, bukan urusanmu!” “Bukan urusanku?” Emeril tertawa getir. “Celine, kamu tahu nggak… semua biaya rumah sakit ibumu? Itu dari siapa? Dari pamanku. Dan kamu tahu apa syaratnya? Kamu menikah, iya, tapi bukan sama orang sembarangan kayak dia.” Edward berdiri tenang, tapi ada aura dingin yang mulai keluar dari tubuhnya. “Jadi kamu datang ke sini untuk menghina istriku dan menilai hidup orang dari uang?” Emeril mendekat lebih lagi, jaraknya hanya beberapa sentimeter dari Edward. “Aku datang ke sini untuk mengingatkan dia bahwa dia salah memilih. Dan kamu…” Ia menatap Edward dari atas ke bawah, meremehkan. “…kamu cuma pecundang yang kebetulan beruntung.” Celine merasa jantungnya mau pecah. Ia tahu persis sifat Emeril—dia tidak bisa menerima penolakan, apalagi jika harga dirinya diinjak. Dan benar saja. Tanpa aba-aba, Emeril mengayunkan tinjunya ke wajah Edward. Bugh! Pukulan keras mendarat di pipi Edward, membuat pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang. “Emeril!” Celine berteriak histeris. Edward menahan diri. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, lalu berdiri tegak lagi. “Selesai?” tanyanya, suaranya tetap tenang, tapi matanya kini menusuk tajam. “Belum,” geram Emeril, mengayunkan tinjunya lagi. Kali ini Edward menangkis. Dengan gerakan cepat yang sama sekali tidak Celine duga, Edward memutar pergelangan tangan Emeril, membuat pria itu mengerang kesakitan. “Lepas!” Emeril berteriak, berusaha melepaskan diri. Edward mendekatkan wajahnya, suaranya rendah tapi penuh ancaman. “Aku sudah diam karena aku menghormati Celine. Tapi kalau kamu sentuh aku lagi… atau bahkan menghinanya di rumah ini… aku pastikan kamu nggak akan keluar dari sini dalam keadaan utuh.” Sorot matanya bukan sorot pria biasa. Ada sesuatu di sana—dingin, terlatih, berbahaya. Emeril terdiam beberapa detik, lalu mendorong Edward dengan kasar untuk melepaskan diri. Ia menatap Celine, masih marah. “Kamu akan nyesel, Celine. Percaya sama aku. Hidup sama dia nggak akan bawa kamu ke mana-mana.” Tanpa menunggu jawaban, ia keluar dari rumah, membanting pintu di belakangnya. Keheningan menyelimuti ruangan. Celine berdiri mematung, masih terkejut melihat bagaimana Edward menahan diri—dan bagaimana dia bisa mengendalikan situasi begitu cepat. Edward mengambil tisu dari meja, mengusap sudut bibirnya yang berdarah, lalu berkata datar, “Kamu baik-baik saja?” “Baik-baik saja?” Celine hampir berteriak. “Kamu barusan dipukul di rumahmu sendiri! Dan kamu bahkan nggak melawan?” Edward menatapnya, tenang seperti biasa. “Kalau aku balas, itu hanya akan memperkeruh keadaan.” “Keadaan sudah keruh, Edward! Dia nggak akan berhenti!” Edward mendekat, menatap Celine lurus. “Tenang. Aku bisa atasi ini.” Ada keyakinan di suaranya. Tapi bagi Celine, keyakinan itu justru menimbulkan pertanyaan yang lebih besar: Siapa sebenarnya Edward? Kenapa dia bisa begitu tenang menghadapi pria seperti Emeril? Dan dari mana datangnya sorot mata dingin itu—sorot mata seseorang yang jelas bukan sekadar “dosen paruh waktu”? Malamnya, Celine duduk di tepi ranjang, memandangi Edward yang tengah membersihkan wajahnya di kamar mandi. Adegan siang tadi terus berulang di kepalanya. Bagaimana Emeril menghina mereka, bagaimana Edward menghadapi semua itu tanpa kehilangan kendali. Dan di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang menakutkan. Sesuatu yang membuat Celine sadar… pria ini menyimpan banyak sekali rahasia. Dan cepat atau lambat, ia akan mengetahuinya. * Malam turun, dan hujan yang sedari sore mengguyur belum juga reda. Celine duduk di ujung ranjangnya, masih dengan pakaian yang ia kenakan sejak siang. Ia memeluk lututnya, menatap kosong ke lantai. Pikirannya berputar tak henti: pukulan Emeril, ancamannya, dan cara Edward menghadapi semua itu—dingin, terkontrol, seperti seseorang yang terbiasa menghadapi situasi jauh lebih berbahaya dari sekadar perkelahian di ruang tamu. Edward. Pria itu seperti misteri berjalan. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. “Celine,” suara Edward dari luar, datar tapi jelas. Celine buru-buru menghapus sisa air matanya. “Kenapa?” tanyanya, berusaha terdengar normal. “Aku bawa obat.” Celine mengerutkan kening. “Obat?” “Untuk memar di tanganmu. Tadi Emeril sempat menarikmu.” Celine menatap tangannya. Memang ada bekas merah samar di pergelangan akibat cengkeraman Emeril tadi. Ia bahkan tak sadar Edward memperhatikannya. Pintu terbuka, dan Edward masuk dengan kotak P3K di tangan. Ia tidak banyak bicara. Ia duduk di kursi dekat ranjang, membuka kotak itu, dan mengeluarkan salep. “Kasih ke aku. Biar aku aja,” kata Celine cepat, merasa canggung. Edward mengangkat alis, menatapnya sebentar, lalu berkata datar, “Kamu nggak akan bisa olesin di posisi yang benar.” Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Celine dengan hati-hati. Sentuhannya ringan, tapi mantap, seolah ia terbiasa melakukan ini. Celine terdiam, tak mengerti kenapa jantungnya berdegup lebih cepat. Edward mengoleskan salep dengan gerakan perlahan, nyaris tak menyakiti. “Ini nggak parah. Tapi kalau besok bengkak, kita ke dokter.” Celine menatap wajahnya. Begitu dekat, ia bisa melihat rahang tegas pria itu, mata dinginnya yang selalu terasa seperti menahan banyak hal. Ia ingin bertanya—kenapa Edward bisa tetap tenang setelah semua kejadian hari ini? Kenapa dia bisa terlihat seolah-olah semua ini hal sepele? Namun lidahnya kelu. “Kenapa kamu nggak marah?” akhirnya Celine berbisik. Edward mengikat ulang perban kecil di pergelangan tangan itu. “Kalau aku marah, apa itu akan bantu kamu?” “Bukan soal itu.” Edward menghela napas, menatapnya lurus. “Marah itu mudah. Tapi kalau aku marah, kamu nggak akan dapat perlindungan yang sebenarnya. Yang kamu butuhkan bukan emosiku, tapi kepalaku tetap dingin.” Kalimat itu… menusuk. Ia selesai mengoleskan salep, lalu merapikan kembali semua peralatan ke kotak P3K. “Sudah. Besok cek lagi.” “Edward…” Celine akhirnya bersuara. “Kenapa kamu—” Edward berdiri. “Istirahat. Jangan banyak mikir. Kalau ada apa-apa, panggil aku.” Suaranya dingin, datar. Seolah perhatian yang tadi hanya refleks, bukan dari hati. Ia berjalan menuju pintu, hendak keluar. “Edward!” panggil Celine tiba-tiba. Pria itu menoleh. “Aku… terima kasih.” Tatapan Edward melembut sesaat, hanya sepersekian detik, sebelum kembali datar seperti biasa. “Tidur.” Lalu ia menutup pintu, meninggalkan Celine sendirian dengan hati yang semakin bingung. --- Celine merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit. Edward memperhatikannya sampai sedetail itu… tapi kenapa ia selalu menjaga jarak? Perhatian yang begitu kecil… tapi terasa besar. Perhatian yang membuat Celine mulai bertanya-tanya: Kalau ini cuma pernikahan karena keadaan… kenapa dia harus peduli?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD