Malam itu, udara di dalam rumah Celine seperti membawa hawa dingin yang berbeda. Lampu ruang tamu menyala temaram, memantulkan bayangan meja makan yang masih rapi karena belum sempat ia gunakan. Celine duduk di sofa, kaki diselonjorkan, tapi matanya tak lepas dari jam dinding. Jarum panjang sudah berkali-kali melewati angka dua belas, namun Edward tak kunjung pulang.
Ponselnya sunyi, tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan. Bahkan nada dering yang biasanya membuatnya setengah kesal karena Edward sering menelepon sekadar menanyakan hal remeh—kini ia rindukan.
Ia meneguk teh yang sudah dingin. Rasanya hambar. Sama seperti perasaannya saat ini.
Hatinya mulai tak karuan. Ia bimbang antara kesal karena suaminya menghilang, atau khawatir karena Edward tidak memberi kabar sama sekali. Tapi di sela rasa khawatir itu, ada rasa bersalah yang diam-diam muncul… semua gara-gara pagi tadi, saat Emeril datang membawa segala macam barang dan kata-kata yang membuat hatinya goyah.
Celine menghela napas panjang, lalu berdiri. Ia melangkah ke teras, menatap gelapnya jalanan depan rumah. Mobil-mobil sesekali lewat di kejauhan, tapi tak satu pun mobil hitam Edward. Ia berbalik hendak masuk, namun suara khas mesin mobil sport terdengar mendekat.
Tak butuh waktu lama untuk melihat mobil hitam mewah itu berhenti tepat di depan pagar. Lampu depannya menyapu halaman, membuat Celine sedikit menyipitkan mata.
Edward keluar dari mobil dengan langkah cepat. Jas hitamnya rapi, meski dasinya sedikit longgar, tanda ia baru saja pulang dari suatu tempat yang formal. Namun yang membuat Celine tercekat bukan hanya kemunculannya yang tiba-tiba—melainkan tatapan matanya.
Tatapan itu dingin.
Edward membuka pagar sendiri, masuk tanpa sepatah kata pun. Sepatunya berdetak di lantai teras. “Kita perlu bicara.” Suaranya dalam, nyaris tanpa intonasi.
Celine mematung di ambang pintu. “Bicara soal apa?”
“Soal pagi tadi.” Edward melangkah melewatinya begitu saja, masuk ke ruang tamu. Ia meletakkan kunci mobil di meja, lalu membalikkan badan menatap istrinya. “Jadi… kamu sekarang terima barang dari laki-laki lain di depan rumah?”
Nada sinisnya membuat Celine mengernyit. “Kamu tahu?”
“Tentu saja aku tahu.” Edward menyandarkan kedua tangannya di saku celana, tatapannya menusuk. “Aku punya orang yang mengawasi rumah ini. Mereka melapor ke aku setiap ada yang datang. Dan pagi tadi… aku dapat laporan lengkap—siapa dia, apa yang dia bawa, bahkan ekspresi wajah kamu waktu menerimanya.”
Celine menahan napas. Jadi… selama ini Edward menempatkan mata-mata di sekitarnya?
“Kamu memata-matai aku?” suaranya meninggi.
Edward tersenyum tipis, tapi jelas itu bukan senyum ramah. “Aku melindungi kamu.”
“Melindungi? Atau mengontrol?” balas Celine cepat. “Edward, itu privasi aku. Kamu nggak bisa seenaknya—”
“Aku bisa,” potong Edward, suaranya tegas dan dingin. “Karena kamu istriku. Dan karena aku tidak akan membiarkan laki-laki lain masuk ke dalam hidupmu, apalagi mantan yang jelas-jelas masih menginginkan kamu.”
Celine menggenggam jemarinya erat. “Emeril cuma—”
“Cuma apa?” Edward melangkah maju, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Cuma bawa makanan? Cuma bilang rindu? Cuma memanfaatkan celah di hatimu yang aku tahu belum sepenuhnya tertutup?”
Kalimat terakhir membuat Celine terdiam. Ia ingin membantah, tapi kata-kata itu seperti peluru yang tepat sasaran.
Edward menghela napas, tapi matanya tetap menatap tajam. “Cel, aku tidak keberatan kamu punya masa lalu. Tapi aku keberatan kalau masa lalu itu datang ke depan rumah kita, membawa barang-barang manis, lalu kamu menerimanya begitu saja.”
“Aku nggak…” Celine menelan ludah. “Aku cuma nggak mau ribut di depan rumah. Makanya aku terima.”
“Dan kamu pikir aku akan percaya itu murni alasanmu?” Edward mendekat lagi, kini suaranya lebih rendah, tapi jauh lebih menekan. “Kamu pikir aku nggak bisa bedain tatapanmu waktu terima sesuatu dari tatapan basa-basi?”
Celine memalingkan wajah. “Kamu overthinking.”
Edward tertawa pendek—tawa yang tidak hangat sama sekali. “Overthinking?” Ia menggeleng pelan, lalu menatapnya lagi, kali ini dengan sorot yang lebih… menusuk. “Kamu bahkan belum tahu separuh dari siapa aku sebenarnya, Cel.”
Kening Celine berkerut. “Apa maksud kamu?”
Edward berbalik, berjalan ke arah meja makan, lalu mengambil ponselnya dari saku jas. Ia membuka layar, mengetik sesuatu, lalu meletakkan ponsel itu di meja hadapan Celine.
“Buka itu.”
Celine ragu, tapi akhirnya ia menarik ponsel itu. Layar menampilkan sebuah halaman berita keuangan ternama. Di sana, terpampang foto Edward—suaminya—dengan setelan jas rapi, berdiri di samping beberapa pria dan wanita berpengaruh. Judul artikelnya membuat jantung Celine berdegup keras.
"Edward Alistair Sinclair CEO Termuda Sinclair Group Perusahaan Multinasional Bernilai Triliunan Rupiah"
Celine menatap layar itu lama. Tangannya sedikit bergetar. “Kamu…” suaranya nyaris tak terdengar, “kamu miliarder?” Ia hampir saja pingsan saat mengetahui fakta ini.
Edward menatapnya tanpa ekspresi. “Apakah itu penting?”
“Penting?! Edward, selama ini kamu… kamu nggak pernah bilang apa-apa!” Celine melangkah mendekat, wajahnya campuran kaget dan marah. “Kamu biarin aku pikir kamu cuma pengusaha biasa yang sibuk kerja!”
“Aku memang pengusaha. Hanya saja… bukan ‘biasa’.” Edward memasukkan tangannya ke saku, sikapnya santai tapi matanya tetap tajam. “Aku tidak memberitahumu karena aku ingin tahu… apakah kamu menikahiku karena aku atau karena uangku.”
Celine merasa kepalanya panas. “Kamu pikir aku tipe perempuan yang cuma nikah demi uang?!”
“Aku tidak tahu,” Edward mengakui, “makanya aku mengujimu.”
“Dan menurutmu… menerima kotak kue dari Emeril adalah bukti kalau aku—”
“—masih menyisakan ruang untuknya di hatimu.” Edward memotong tanpa ragu. “Uang bukan masalah. Tapi kesetiaan adalah segalanya buatku.”
Celine mengatupkan rahang, rasa marahnya bercampur dengan rasa terhina. “Jadi semua ini, pernikahan kita, kamu awasi, kamu uji, kamu rencanakan… kayak aku ini proyek bisnis kamu?”
Edward tak menjawab langsung. Ia hanya menatapnya, lama. “Kalau aku bilang iya… apa kamu akan pergi?”
Pertanyaan itu membuat Celine terdiam. Napasnya tersengal. Ia ingin mengatakan “ya”, tapi ada sesuatu di tatapan Edward—entah apa—yang membuatnya tak sanggup.
Keheningan di antara mereka terasa menyesakkan.
Edward akhirnya berjalan ke arah pintu kamar. “Kita selesai bicara untuk malam ini. Tapi satu hal, Cel…” ia berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan yang menusuk dalam, “kalau besok aku lihat Emeril lagi muncul di depan rumah ini, aku akan pastikan dia nggak punya alasan untuk berdiri di sini lagi.”
Celine hanya berdiri membeku, menatap punggung Edward yang menghilang ke dalam kamar.
Suara pintu kamar tertutup terdengar keras di telinganya, seperti palu yang memaku perasaannya malam itu.
Ia berdiri di ruang tamu sendirian, memandang ke arah meja teras yang dari sini hanya tampak siluet kotak kue stroberi—yang kini terasa seperti simbol masalah yang jauh lebih besar dari sekadar manisnya gula.