bab 9

908 Words
Celine masih berdiri di ruang tamu, tubuhnya kaku seperti patung. Jam dinding di atas televisi menunjukkan hampir tengah malam, tapi matanya tetap terarah pada pintu kamar yang baru saja ditutup Edward. Perutnya terasa mual. Bukan karena teh dingin yang tadi ia minum, tapi karena semua yang ia dengar barusan. Ucapan Edward berputar seperti gema di kepalanya. "Kamu bahkan belum tahu separuh dari siapa aku sebenarnya." Tangannya yang masih memegang ponsel Edward perlahan menurun. Ia menatap layar yang masih menyala, menampilkan foto suaminya bersama orang-orang yang ia tahu pasti berpengaruh. CEO termuda Sinclair Group. Perusahaan multinasional bernilai triliunan. Pria yang tidur di ranjang yang sama dengannya setiap malam itu… ternyata bukan hanya sekadar pengusaha biasa. Celine menelan ludah, mencoba berpikir jernih. Tapi pikirannya malah mengembara ke momen-momen kecil yang dulu ia anggap sepele. Cara Edward selalu menghindar ketika ia bertanya terlalu jauh soal bisnis. Telepon-telepon tengah malam yang kadang berbahasa asing. Perjalanan kerja mendadak yang ia tidak pernah tahu tujuannya. Dulu ia pikir itu semua bagian dari rutinitas pekerjaan. Tapi kini, semuanya terasa seperti potongan puzzle yang mulai membentuk gambaran baru—dan jauh lebih besar—tentang siapa Edward sebenarnya. Langkahnya goyah saat ia menuju sofa. Ia duduk, memeluk bantal, dan menatap kosong ke arah meja teras yang dari sini terlihat remang. Kotak kue itu masih ada di sana, seakan menjadi pengingat betapa rumitnya perasaan yang kini bercampur di dadanya. Edward salah satu orang terkaya di negeri ini. Dan ia baru tahu malam ini. Namun, alih-alih merasa istimewa, Celine justru merasa… kecil. Seperti pion dalam permainan yang aturannya ia tak pernah pahami. Dari dalam kamar, Edward berdiri di dekat jendela. Tirai tipis berkibar terkena angin malam yang masuk dari celah kaca. Ponselnya kini kembali di tangannya, dan layar menampilkan pesan dari seseorang bernama Kieran. Target diidentifikasi. Emeril tidak akan berani datang lagi. Edward menatap layar itu lama, lalu mengetik balasan singkat. Pastikan dia paham. Ia menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponsel di meja kerja kecil di sudut kamar. Tangannya meraih gelas kristal berisi sisa whisky, meneguknya perlahan sambil menatap keluar jendela. Ia tahu malam ini adalah titik awal. Cepat atau lambat, Celine akan mulai mengajukan lebih banyak pertanyaan. Dan ketika itu terjadi… Edward harus memutuskan, apakah ia akan membuka pintu untuknya masuk ke dunia yang selama ini ia tutupi, atau justru menjaga jarak agar Celine tetap aman. Aman dari siapa? Itu pertanyaan yang bahkan Celine belum tahu untuk ditanyakan. Suara ketukan pelan di pintu kamar memutuskan lamunannya. Edward tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pintu itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Masuk.” Pintu terbuka perlahan, menampakkan Celine yang kini sudah mengganti pakaiannya dengan kaus longgar dan celana pendek. Rambutnya ia biarkan terurai, wajahnya tanpa make-up, tapi sorot matanya tajam—meski jelas-jelas ia mencoba menyembunyikan kegugupan. “Aku mau tahu segalanya,” katanya tanpa basa-basi. Edward mengangkat alis. “Segalanya?” “Ya.” Celine melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. “Tentang kamu. Tentang perusahaan. Tentang kenapa kamu harus punya… mata-mata di sekitar rumah kita.” Edward meletakkan gelasnya di meja, lalu duduk di kursi. “Kamu pikir kamu siap untuk itu?” “Aku nggak peduli siap atau nggak,” Celine mendekat, berdiri di hadapannya. “Aku istrimu. Aku berhak tahu siapa sebenarnya suami yang aku nikahi.” Hening sejenak. Edward menatapnya lama, seakan mengukur keteguhan hatinya. Lalu ia tersenyum tipis—senyum yang entah kenapa membuat bulu kuduk Celine meremang. “Ada alasan kenapa aku nggak ceritakan semua dari awal, Cel,” ucapnya pelan. “Bukan hanya karena aku ingin tahu niatmu… tapi karena aku ingin melindungimu dari semua hal yang datang bersama nama Sinclair.” Celine mengernyit. “Melindungi dari apa?” Edward menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi. “Dari orang-orang yang akan melakukan apa saja untuk menjatuhkanku. Termasuk… menyakitimu.” Jantung Celine berdegup kencang. “Kamu bicara… seolah ini bukan cuma soal bisnis.” “Itu memang bukan cuma soal bisnis.” Kalimat itu membuat Celine mundur selangkah. “Jadi kamu… terlibat hal-hal ilegal?” Edward tertawa kecil, tapi tanpa humor. “Tidak. Tapi dunia tempat aku berdiri punya garis abu-abu yang kamu tidak akan temukan di buku hukum manapun. Kadang… untuk mempertahankan kekuasaan, kamu harus berurusan dengan orang-orang yang tidak peduli aturan.” Celine menatapnya tak percaya. “Dan kamu pikir aku akan terima semua itu begitu saja?” “Aku pikir…” Edward bangkit dari kursinya, mendekatinya, “kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu akan mencoba mengerti.” Celine merasa dadanya sesak. “Dan kalau aku nggak bisa mengerti?” Edward menatapnya lama, lalu mengangkat tangannya, mengusap pipinya pelan. “Maka aku akan memastikan kamu tetap aman… meski itu artinya aku harus menjauhkanmu dari semua ini.” Tangannya terasa hangat, tapi kata-katanya dingin seperti es. Malam itu, mereka tidak lagi berbicara soal Emeril. Tidak lagi berdebat tentang kue stroberi atau tatapan masa lalu. Yang tersisa hanyalah jarak—bukan fisik, tapi jarak yang terbentuk dari rahasia yang belum diungkap sepenuhnya. Celine berbaring di ranjang, membelakangi Edward, matanya menatap gelapnya kamar. Di balik kelopak matanya, bayangan Edward yang berdiri dengan jas hitam di foto berita tadi terus muncul. Ia tidak tahu apakah ia sedang menikah dengan pria yang ia cintai… atau sedang terjebak di dunia yang bisa mengubahnya selamanya. Satu hal yang pasti, kotak kue di meja teras akan ia buang besok pagi. Bukan karena ia takut pada ancaman Edward—tapi karena ia mulai mengerti bahwa dalam pernikahan mereka, manisnya gula tidak akan pernah cukup untuk menutupi pahitnya rahasia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD