bab 2

1393 Words
Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis kamar itu, menciptakan bayangan samar di lantai yang dingin. Celine terbangun dengan tubuh kaku, punggungnya sedikit pegal karena semalam ia tertidur dalam posisi yang sama—miring menghadap dinding, seolah jarak fisik itu bisa menjadi benteng dari kenyataan. Kenyataan bahwa ia kini adalah seorang istri. Ia menatap cincin di jarinya. Cincin perak itu tampak terlalu polos, terlalu biasa untuk melambangkan ikatan sebesar pernikahan. Rasanya seperti aksesori yang dipaksa melekat di tubuhnya, bukan lambang kasih sayang. Kepalanya terasa berat. Ia bangkit perlahan, menyibak tirai, lalu menatap ke luar. Udara pagi masih dingin, dan jalanan kecil di depan rumah sepi. Tidak ada pagar tinggi, tidak ada halaman luas seperti yang biasa ia lihat di perumahan elit. Rumah ini… begitu sederhana. Dinding cat putih yang mulai menguning di beberapa sisi, lantai keramik dingin, perabotan kayu yang terlihat sudah lama tak diganti. Edward memang tidak berbohong soal gaya hidupnya. Sederhana. Sangat sederhana. Celine mengambil napas panjang dan keluar dari kamar. Dari dapur, ia mendengar suara piring beradu pelan. Edward sedang membuat sarapan. Pria itu berdiri di sana, mengenakan kaus putih polos dan celana kain. Ia tampak tenang, gerakannya teratur. Ia menggoreng telur dan menyiapkan roti bakar, lalu menuangkan dua cangkir kopi hitam. Aroma kopi mengisi ruangan, membuat perut Celine yang kosong sejak semalam sedikit berontak. Tanpa menoleh, Edward berkata, “Pagi.” “Pagi.” Jawaban Celine singkat. Ia berjalan menuju meja makan dan duduk tanpa suara. Edward meletakkan piring di hadapannya—dua potong roti bakar, telur dadar, dan sedikit selai stroberi di piring kecil. “Aku nggak tahu kamu suka apa,” ujar Edward sambil duduk di seberang. “Untuk sementara, ini saja dulu.” Celine hanya mengangguk. Ia memakan roti itu perlahan, menghindari kontak mata. Suasana meja makan itu terasa seperti dua orang asing yang kebetulan berada di ruang yang sama. Edward memecah keheningan. “Hari ini kamu ada rencana ke mana?” Celine berhenti mengunyah. “Ke rumah sakit. Ibu.” Edward menatapnya sebentar. “Aku ikut.” “Tidak perlu.” Celine langsung menolak, bahkan sebelum ia sempat berpikir. “Kamu butuh teman.” “Aku sudah biasa.” Edward menghela napas, tapi tidak memaksa. “Baiklah. Tapi kalau kamu berubah pikiran, bilang saja.” Jam menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Celine berdiri di depan cermin, menata sedikit rambutnya. Ia mengenakan blouse sederhana berwarna krem dan celana panjang hitam. Tidak ada riasan. Tidak ada perhiasan lain selain cincin pernikahan yang bahkan ia pertimbangkan untuk dilepas sebelum ke rumah sakit. Ia tidak ingin menjelaskan apa pun pada ibunya. Karena nyatanya, ibunya memang menginginkan Celine untuk segera menikah. Ia tidak punya pilihan lain, dan beruntung atau tidak ia bertemu dengan Edward. Pria yang tiba-tiba mau menikah dengannya. Pikirannya melayang pada kejadian seminggu lalu, saat ia baru saja keluar dari rumah sakit sambil menangis. Ibunya terus mendesak Celine agar segera menikah. Pamannya bahkan yang dari Bandung juga begitu, pria itu bahkan tidak akan membayar sepeserpun biaya rumah sakit kalau Celine tidak mau menikah segera. Alasan sederhana, karena sang paman tidak mau anaknya yang memang menyukai Celine sudah lama kembali menaruh harapan pada gadis itu. Pamannya bahkan tidak mau sampai anaknya nekad dan berakhir menculik Celine untuk di jadikan miliknya. Pamannya terpaksa mengancam, dan berakhir Celine akhirnya bertemu dengan Edward yang pada saat itu ada di rumah sakit. "Menikah?" Edward terkejut, ia menatap gadis di depannya dengan tatapan cengo. Ia bahkan tidak tau nama gadis itu, namun tiba-tiba gadis itu mengajaknya menikah. Celine menghela nafasnya. Ia bahkan tidak tau seperti apa sifat pria itu, namun ia sudah frustasi sekali, ia harus segera menikah agar sang ibu tetap bisa di rawat di rumah sakit itu. "Ya. Aku minta kamu menikah dengan aku," Saat Edward ingin menyangkal, Celine pada waktu itu malah segera menghubungi pamannya, dan berakhir mereka harus menikah. Celine menghela nafasnya kasar, ia memejamkan matanya, ini gila. Aneh dan terasa sangat asing sekali, namun ia harus menjalaninya. Ketika ia keluar dari kamar, Edward sudah siap di ruang tamu. Ia mengenakan kemeja biru muda, celana hitam, dan membawa kunci mobil di tangan. “Aku sudah bilang aku bisa sendiri,” kata Celine datar. Edward menoleh. “Aku tahu. Tapi aku tetap ikut.” “Aku tidak mau terlihat… seperti pasangan bahagia. Aku nggak bisa berpura-pura.” Edward mendekat sedikit. “Aku nggak minta kamu berpura-pura. Aku hanya mau menemani. Itu saja.” Celine ingin membantah, tapi akhirnya hanya mendengus dan melangkah menuju pintu. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. --- Mobil sedan hitam milik Edward melaju pelan di jalanan Jakarta yang mulai padat. Di dalam mobil, keheningan menggantung. Hanya terdengar suara radio yang mengalun pelan dan deru mesin. Celine bersandar pada jendela, menatap keluar. Ia tidak berniat membuka percakapan. Setiap detik bersama Edward terasa seperti pengingat bahwa ia kini terikat pada seseorang yang bahkan tidak ia kenal. “Sejak kapan ibumu sakit?” Edward memecah keheningan. “Lama.” “Jenis kanker apa?” “Leukemia.” Edward mengangguk. “Stadium?” “Dokter bilang… sudah masuk tahap sulit.” Edward meliriknya sebentar, lalu kembali fokus pada jalan. Ia tidak menanyakan lebih banyak, mungkin karena tahu Celine tidak ingin membicarakannya. Namun Celine sempat menangkap sorot mata Edward dari pantulan kaca spion—sorot yang bukan sekadar basa-basi. Ia seperti benar-benar mendengarkan. Tapi Celine buru-buru memalingkan wajah, menolak mencari arti dari tatapan itu. Rumah sakit itu beraroma khas—campuran obat, antiseptik, dan udara dingin dari pendingin ruangan. Lorong panjang dengan dinding putih itu terasa asing sekaligus menyesakkan. Celine berjalan cepat menuju kamar rawat ibunya. Edward mengikuti di belakang, tenang seperti bayangan. Di kamar itu, ibunya terbaring dengan tubuh yang semakin kurus. Wajahnya pucat, namun ketika melihat Celine, bibirnya berusaha membentuk senyuman. “Celine…,” suara ibunya serak, nyaris berbisik. Celine mendekat, menggenggam tangan ibunya dengan erat. “Bu, aku di sini.” Air mata menumpuk di sudut matanya, tapi ia menahan. Ia tidak mau terlihat rapuh di hadapan ibunya. Edward berdiri di dekat pintu, menjaga jarak. Ia tidak ingin mengganggu momen itu. Namun matanya mengamati semuanya—cara Celine menggenggam tangan ibunya, cara wanita itu mencoba tersenyum meski jelas sedang menahan sakit. “Ini siapa?” tanya sang ibu, matanya bergerak ke arah Edward. Celine menoleh sekilas. “Suamiku.” Suami. Kata itu terasa aneh di lidahnya. Edward mendekat, membungkuk sedikit. “Selamat siang, Bu. Saya Edward.” Senyum kecil muncul di bibir sang ibu. “Terima kasih… sudah mau menikahi anak saya.” Edward mengangguk pelan. “Saya yang berterima kasih, Bu. Saya akan menjaga Celine.” Kalimat itu membuat Celine tertegun. Edward mengucapkannya dengan tenang, tapi ada ketulusan yang membuat dadanya sesak. Ia tidak tahu apakah kata-kata itu hanya basa-basi sopan di depan orang tua, atau… ia benar-benar bermaksud begitu. Mereka menghabiskan waktu di kamar itu selama hampir dua jam. Edward sesekali keluar membeli minuman atau mengurus administrasi kecil yang diperlukan, tanpa diminta. Celine memperhatikan dari jauh—pria itu begitu tenang, terorganisir, dan… berbeda dari pria kebanyakan yang ia kenal. Namun ia menolak memikirkannya lebih jauh. Menjelang siang, mereka keluar dari rumah sakit. Udara panas Jakarta langsung menyambut. Celine berjalan cepat menuju mobil, ingin segera pulang. Edward membuka pintu untuknya. “Kita makan dulu, ya?” “Aku nggak lapar.” “Kamu belum makan apa pun sejak pagi.” Celine menghela napas panjang. “Kenapa kamu repot-repot mengaturku?” Edward menatapnya lama. “Karena kamu sekarang tanggung jawabku.” Kalimat itu membuat d**a Celine terasa aneh. Ia ingin marah karena Edward bicara seolah mereka benar-benar suami-istri dalam arti yang sesungguhnya. Tapi di sisi lain, ada bagian kecil dari dirinya yang… merasa aman. Ia mengalihkan pandangan. “Bawa aku pulang saja.” Edward tidak memaksa. Ia hanya mengangguk dan menyalakan mesin mobil. Namun sepanjang perjalanan pulang, Celine tidak bisa berhenti berpikir tentang kata-kata itu. Tentang bagaimana Edward—meski terasa asing—selalu ada di sisinya, bahkan ketika ia tidak memintanya. Malamnya, ketika Edward sudah masuk ke kamarnya sendiri, Celine duduk di ruang tamu. Ia membuka ponselnya, menatap pesan-pesan lama dari teman-temannya—teman-teman yang kini menjauh setelah tahu ia menikah karena perjodohan. Perlahan, air matanya mengalir. Ia merasa seperti terperangkap dalam hidup yang bukan pilihannya. Namun di sela-sela tangis itu, pikirannya kembali pada Edward. Pada tatapan seriusnya saat di rumah sakit. Pada kalimatnya yang sederhana, namun begitu menancap di hati, "Karena kamu sekarang tanggung jawabku." Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, Celine bertanya-tanya… siapa sebenarnya Edward?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD