Hujan sore itu turun tanpa ampun, seolah ikut menertawakan keputusan Celine. Ia berdiri di balik tirai putih kamar pengantin, menatap kosong ke luar jendela. Jalanan basah, lampu-lampu kota berpendar samar, dan di kejauhan, samar-samar ia melihat bayangan orang-orang yang baru saja meninggalkan pesta sederhana yang baru saja usai.
Sederhana. Itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan semuanya.
Gaun pengantinnya bukan gaun impian, melainkan sewaan yang ia pilih terburu-buru. Cincin di jarinya bukan perhiasan berkilau, melainkan sebentuk cincin perak tanpa ornamen. Dan lelaki yang kini resmi menjadi suaminya? Ia bahkan tak tahu harus menyebutnya apa—suami, atau sekadar orang asing yang kebetulan terikat dalam akad yang sama?
Edward.
Nama itu terasa asing di lidahnya. Lelaki itu kini berada di ruang tamu, duduk di sofa tua dengan pakaian rapi yang sama sekali tak menggambarkan sosok pengusaha besar, dokter terkenal, atau siapa pun yang mengesankan. Tidak. Edward hanyalah… Edward. Pria yang hidupnya lurus-lurus saja, bekerja sebagai dosen paruh waktu di sebuah universitas swasta, dan tinggal di rumah yang bahkan tak punya pagar depan.
"Kenapa aku di sini?" Celine bergumam, hampir tak terdengar oleh telinganya sendiri.
Pernikahan ini bukan pilihan hatinya. Ia menikahi Edward karena keadaan—atau lebih tepatnya, karena keterpaksaan. Hutang keluarganya menumpuk, ibunya sakit-sakitan, dan ia kehabisan cara untuk menolak perjodohan yang tiba-tiba disodorkan oleh ayahnya. Dan Edward… entah apa yang membuat pria itu menerima. Mereka bahkan baru tiga kali bertemu sebelum hari ini.
Pintu kamar diketuk pelan.
"Celine." Suara Edward terdengar datar, tapi juga sopan. “Boleh kita bicara sebentar?”
Celine mendesah, menegakkan tubuh, lalu membuka pintu. Di hadapannya berdiri Edward—tinggi, berwajah tenang, dengan tatapan yang sulit ditebak. Bukan tatapan cinta, tapi juga bukan tatapan acuh. Hanya… datar.
“Aku tahu ini sulit untukmu,” kata Edward, tangannya menyelip di saku celana. “Kita berdua tidak mengenal satu sama lain. Tapi… kita sudah menikah. Kita bisa mulai perlahan. Tanpa paksaan.”
Celine mengangguk, meski tidak benar-benar mendengarkan. Ada jarak di antara mereka, jarak yang tak bisa dijembatani hanya dengan kata-kata baik.
Keheningan menggantung beberapa detik, sampai akhirnya Edward berkata, “Aku akan tidur di kamar sebelah. Kamu tenang saja.”
Celine menatap punggung Edward ketika pria itu berbalik. Sesuatu dalam sikapnya terasa… aneh. Pria itu terlalu tenang, terlalu terkontrol. Seolah ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
---
Dini hari, Celine terbangun karena suara samar di luar. Ia berjalan ke ruang tamu, dan mendapati Edward duduk di meja makan, menatap layar laptop dengan serius. Cahaya biru dari layar memantulkan wajahnya, menonjolkan garis rahang tegas dan sorot mata yang penuh konsentrasi.
Celine mendekat, pura-pura mengambil segelas air. Tapi sekilas, ia melihat deretan angka di layar laptop itu. Angka-angka besar.
Itu bukan laporan pekerjaan seorang dosen biasa.
Sebelum ia sempat bertanya, Edward menutup laptopnya dengan cepat. “Kamu belum tidur?” tanyanya, suaranya tetap datar, seolah tak terjadi apa-apa.
Celine menggeleng. “Haus saja.”
Edward hanya mengangguk, berdiri, dan melangkah ke kamarnya tanpa berkata apa-apa.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Celine merasa bahwa pria yang kini menjadi suaminya menyimpan sesuatu. Sesuatu yang besar.
Dan entah mengapa, perasaan itu membuat dadanya berdebar.
Mereka memulai pernikahan itu tanpa pelukan, tanpa kecupan, tanpa janji manis. Hanya ada dua orang asing yang berusaha hidup di bawah atap yang sama.
Tapi Celine tidak tahu—malam itu, ketika ia kembali ke kamarnya, Edward masih terjaga. Di balik pintu yang tertutup, pria itu menatap layar ponselnya, membaca puluhan pesan dari seseorang yang memanggilnya dengan sebutan "Tuan Muda."
Sementara di meja makan, dompet kulit Edward tertinggal. Di dalamnya, terselip sebuah kartu hitam eksklusif dengan nama lengkap,
Edward Alastair Sinclair.
Nama yang kelak akan mengguncang dunia Celine.