12

1636 Words
Satu ciuman yang kulakukan di malam itu membuat perasaanku semakin tak mengenak, terutama ketika Kiandra mengatakan betapa indah mimpi yang ia dapat malam itu. Sontak membuat seluruh bagian tubuhku bersiaga dalam keadaan penuh waspada. Akhirnya aku mulai menyadari bahwa sesuatu yang salah telah terjadi padaku. Dan aku tak mau tahu apa itu. Karena aku selalu ingat, terkadang kenyataan bisa hadir dengan begitu menyakitkan. Untuk satu alasan itulah maka aku kembali memutuskan untuk keluar dari rumah dan menikmati kehidupanku di luar sana. Namun entah mengapa terkadang aku merasa apa yang sudah kulakukan menjadi sangat tidak berguna. Ada kalanya seolah aku sedang melihatnya yang berjalan di keremangan penyinaran temaran dari lampu klub dan lantas setelah beberapa gelengan kuat yang kuhentak pada kepalaku, akhirnya sosok itu menghilang. Saat itu kupikir alkohol sudah terlalu jauh mengambil alih otakku, tapi aku tahu itu hanya alasan agar ketakutanku tidak semakin datang menggerogotiku. Dan karena itu, semakin aku tenggelam dalam asap rokok serta tetesan minuman keras. Kupikir merekalah satu-satunya yang bisa membuat aku untuk kembali waras. Aku tak tahu sudah botol ke berapa yang aku habiskan malam itu ketika kurasakan gelas terakhir begitu menyiksa. Rasanya kesadaranku seperti sedang ditarik paksa. Dan lantas memang tak ada yang mampu kulakukan. Kubiarkan tubuhku ambruk seketika. & Kepalaku masih menyisakan berat ketika akhirnya kesadaranku perlahan mulai datang kembali. Sinar terang yang berusaha menerobos tebalnya tirai dengan perlahan tapi pasti berhasil menarik kesadaranku untuk kembali ke permukaan. Kupandangi sekelilingku dengan perasaan heran. Bagaimana aku bisa sampai di hotel adalah pertanyaan pertama yang terbersit di benakku. Aku bangkit duduk dan memberikan kepalaku beberapa kali pukulan tanganku sendiri demi memulihkan kesadaranku sepenuhnya. Kupandang kamar itu sekeliling dan tak ada siapa pun selain aku. Apakah aku datang ke sini seorang diri? Ehm, dan itulah pertanyaan terakhir di benakku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menyegarkan tubuhku dengan guyuran air dingin shower. Setelah kurasa perutku cukup terisi dengan sarapan yang telah disediakan oleh pihak hotel, aku berencana untuk segera check out. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Aku tersenyum hambar merespon sapaan wanita itu dan mengangguk. “Kamar 506,” ucapku sambil menyodorkan card key di tanganku. Dan ia segera menyambutnya. “Kalau boleh saya tahu, pemesanan dan pembayaran atas nama siapa?” “Sebentar.” Dan aku hanya terdiam sambil melihatnya membuka beberapa buku. “Atas nama Ibu Sherryl Anastasya, Pak.” Seketika kalimat itu membuat semua bulu kudukku berdiri meremang. Sherryl? Dan tanpa sempat berpikir lagi, mulutku pun mengeluarkan pertanyaan lainnya. “Kapan dia pulang?” Resepsionis wanita itu memintaku untuk menunggu lagi ketika aku selesai dengan pertanyaanku. Ia bergegas menghampiri seorang rekan kerja prianya yang tampak sibuk di belakangnya. Tak lama kemudian, pria itu menghampiriku. Ia tersenyum ramah. “Apa dia juga turut menginap?” tanyaku khawatir. “Tidak, Pak. Tak lama dari mengantar Bapak ke atas Ibu Sherryl langsung pulang. Ibu Sherryl mungkin cuma sekitar setengah jam di kamar sebelum pulang.” jawabnya. “Saya ingat benar karena saya juga turut mengantar Bapak ke atas.” Aku mengangguk muram. Untunglah dia langsung pulang. Aku tak habis pikir seandainya ia turut menginap. Aku tak ingin terjadi kesalahpahaman antara aku dan Alex. Dan selain itu, berani sekali dia. Sembari menahan kesal karena kelancangan Sherryl akhirnya aku pun pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan dapat kurasakan perasaanku yang penuh emosi. Aku benar-benar tak ingin berdekatan dengan wanita itu. Seakan sensorku sudah bersiaga dan mengatakan bahwa ia bukanlah wanita yang pantas untuk didekati. “Kau kelihatan lelah, Rick.” Dan itulah kalimat pertama yang kudengar ketika aku sampai di rumah. Kiandra tampak tergopoh-gopoh mengikuti langkahku ke kamar. Aku hanya menghela napas panjang seraya melepas satu per satu kancing kemejaku dengan sebelah tangan, sedang tangan satu lagi kupakai untuk memijat pelipisku. “Aku hanya perlu mandi sebentar,” kataku. Kiandra menghampiriku. “Kupikir secangkir teh dan beberapa makanan bisa membantu.” Aku hanya mengangguk. “Terserah padamu.” Dan lantas aku segera beranjak ke kamar mandi. Entah apa yang terjadi padaku, namun kepalaku terasa semakin berat dengan tubuh yang terasa begitu lelah. Bahkan aku membutuhkan lebih dari sekali mandi untuk mengusir pusing di kepalaku saat ini. Beberapa saat kemudian setelah aku selesai mandi dan berpakaian, aku mendapati teh dan makananku telah siap di kamar. “Kau harus beristirahat, Rick,” lanjut Kiandra saat melihatku duduk dan mulai menyesap tehku. “Kau terlihat begitu kacau.” Aku tak menghiraukannya, namun aku tahu dia benar. Lagi pula aku tak peduli aku kacau atau tidak, tapi mendadak aku geli. Apalagi yang membuat aku geli selain tatapan cemas Kiandra? “Kau tak perlu khawatir seperti itu.” Aku berkata seraya meletakkan kembali cangkir tehku yang sudah kosong. Aku bangkit dan merebahkan tubuhku di kasur. “Aku hanya perlu tidur,” lanjutku sebelum akhirnya aku memejamkan mataku. Ketika aku bangun dari tidurku, hal yang pertama kali kurasakan adalah kepalaku yang masih pusing dengan tubuhku yang terasa sangat lemah. Kiandra yang mengetahui hal tersebut langsung terlihat panik. “Kita harus ke rumah sakit, Rick.” Aku menggeleng dengan senyum geli di bibirku. “Kau tertawa?” tanya Kiandra tak percaya. “Bagaimana bisa kau tertawa di saat kau sedang seperti ini?” Aku menatapnya seraya bersedekap. “Bagaimana bisa aku tak tertawa ketika melihat wajah panikmu yang seperti ini?” Mendapat pertanyaan balik dariku wajah Kiandra sontak langsung bersemu. Matanya membulat dengan binar malu di sana. Dan melihat itu aku langsung saja semakin geli. Ia tertunduk malu seraya duduk di sisi tempat tidur. “Ayolah, Rick,” lirihnya pelan tanpa melihatku. “Kita ke rumah sakit. Sebentar saja.” Ia menghela napas panjang. “Aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Mendadak senyumku menghilang. “Cukup ayahku yang sakit,” lanjutnya. “Dan aku tak ingin kau juga.” Maka, hanya disebabkan oleh satu perasaan tak enak akhirnya aku mengiyakan permintaan Kiandra. Dan betapa terkejutnya aku ketika dokter langsung memutuskan agar aku menginap beberapa hari di sana. “Terlalu banyak alkohol di darah Bapak,” terangnya. “Dan itulah yang menyebabkan pusing, badan lemah, dan beberapa keluhan Bapak yang lainnya.” Aku berusaha menolak untuk dirawat inap. Bagaimana bisa seorang Enrick menginap di rumah sakit? Tapi, lagi-lagi. Mata membulat Kiandra yang tampak berkaca-kaca berhasil membuatku mengalah. Akhirnya dengan berat hati kuterima keputusan itu. Oke, Enrick akan menjadi pasien rumah sakit kali ini. “Kau harus mengurangi minummu, Rick,” kata Kiandra seraya menyiapkan beberapa barang di nakas. Aku hanya mendehem pelan menaggapi perkataannya. “Berapa hari aku harus menginap di sini?” “Mungkin sekitar empat hari,” jawabnya. “Hanya sampai keadaanmu menjadi lebih baik.” Ia menoleh padaku. “Aku akan sering ke sini. Tenanglah, kau tak akan sendirian.” Aku tak akan sendirian katanya? Aku meringis di dalam hati mendengar perkataannya. Untuk apa aku takut sendirian? Nyatanya bahkan aku tak ingat kapan pertama kali aku sendirian. Itu sudah terjadi terlalu lama hingga aku rasa tak pernah aku menjalani waktu tanpa sendirian. Bahkan kalau boleh jujur, sedikit aneh ketika menyadari bahwa ada orang lain yang berusaha untuk menemaniku. Apa yang ia harapkan dari menghabiskan waktunya denganku? Aku mencari posisi yang nyaman di atas bantalku. Kulipat sepasang tanganku dan kuletakkan di bawah kepalaku agar posisi kepalaku semakin tinggi di atas bantal. “Mengapa kau mau menjadi istriku, Kian?” Dan pertanyaan itu meluncur saja dari mulutku. Ia menatapku bingung, maka dengan senang hati kujelaskan maksud dari pertanyaanku itu. “Semula kupikir kau menikah denganku dengan maksud menikmati harta Kakek,” lanjutku. “Semua orang tahu apa pun akan diberikan oleh Kakek kalau itu menyangkut aku, cucu satu-satunya.” Kuhela napas. Tentu saja Kakek tak punya banyak pilihan di sini. Anak semata wayangnya –Papaku- hanya memiliki aku sebagai putranya, yang otomatis menjadikanku cucu satu-satunya yang paling berharga untuk Kakek. Kiandra tampak terkejut sekilas mendengar perkataanku, namun aku tetap melanjutkan apa yang ada di benakku. “Tapi, tampaknya bukan itu yang membuatmu ingin menikah denganku. Selama kita bersama tak pernah sekali pun kulihat kau pergi berbelanja. Bahkan aku sedikit merasa bingung dengan penampilanmu. Kau tampak sederhana untuk dikatakan sebagai anak pengusaha.” Aku semakin lekat memandangnya. “Jadi, mengapa kau ingin menikah denganku?” Ia beranjak dan duduk di sisi ranjang perawatanku. “Sudah kubilang, bukan?” tanyanya lembut. Dan aku mengernyit. “Awalnya memang itu hanya tawaran Kakekmu, tapi ketika aku melihatmu aku langsung jatuh cinta padamu.” Mendengar jawaban itu entah mengapa membuat perutku rasanya sedang diaduk-aduk. Apa ia selalu serius dan jujur setiap ia mengatakan ia jatuh cinta padaku? “Hanya karena sekali pertemuan itu?” tanyaku tak percaya. “Saat itu bahkan kukira aku tak bersikap baik padamu.” Ia tersenyum dan mengangkat bahunya sekilas. “Aneh, ya?” Dan ia tertawa pelan. “Kadang kupikir memang sedikit aneh. Aku ragu, tapi ketika aku melihatmu aku malah langsung jatuh cinta padamu.” Sekarang aku dibuatnya tak mampu berkata apa-apa lagi. “Apa kau memang jatuh cinta semudah itu? Sesederhana itu?” “Ehm,” gumamnya pelan. “Kalau kau mau tahu, ehm, sebenarnya kau pria pertamaku.” Oh, rasanya perutku semakin kacau. Sekarang malah dapat kurasa mataku yang ingin meloncat dari rongganya. Ia tertawa malu. “Kau tahu seperti apa Kak Tommy? Ehm. Dia akan menghajar siapa saja yang berusaha mendekatiku. Aku mengatakan hal yang sejujurnya. Dia anak bela diri dan dia tahu benar bagaimana memanfaatkan kemampuannya itu.” Dan kali ini aku lagi-lagi salah menilainya. “Lagi pula, tak heran bila melihatku jatuh cinta padamu. Kau punya banyak alasan untuk membuat wanita jatuh cinta. Dan yang kau bilang benar. Sesederhana itu.” Kemudian ia tampak tersenyum dalam padaku hingga membuatku merasa salah karena menanyakan hal itu. “Enrick,” lanjutnya lagi, “Bukan cinta namanya kalau hadirnya dapat kau kira.” Aku terdiam mendengar jawabannya. Dan ia juga tampak menjadi kikuk padaku. “Ehm.” Kiandra bangkit dari duduknya. “Aku pulang sebentar untuk mengambil beberapa perlengkapan untukmu. Nanti sore aku akan ke sini lagi.” Aku hanya mengangguk. “Apa ada yang kau inginkan? Biar nanti kubawa.” Kuhela napas panjang. Kurasa tak ada, namun.... “Bagaimana kalau kau membawa stok tehmu?” Mata Kiandra membulat. “Teh?” “Ya,” jawabku singkat. “Tentu saja.” Kiandra meraih tasnya. “Kau istirahatlah.” Aku mengangguk. Dan kemudian, sama seperti dengan kejadian yang sudah-sudah, tanpa sempat aku menduga, apalagi mengelak, wajah Kiandra menunduk ke arahku. Detik selanjutnya, kurasakan bibir lembutnya mengecup satu pipiku. Lantas, ada satu hal yang kubenci ketika akhirnya sosok itu keluar dari kamarku. Entah sejak kapan, akhirnya aku menyadari satu hal hari itu. Ternyata jantungku dapat berdetak dengan sangat kencang. & bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD