“Kau sudah pulang, Rick?”
Satu pertanyaan itu kudengar dari keremangan ruang keluarga. Mataku sekejap memicing dan tubuh itu seolah siluet halus yang keluar dari peraduannya. Kedua tangannya terangkat ke atas ketika ia mengikat rambut panjangnya. Ia mendekatiku dengan tersenyum.
Aku mengangguk sekilas. “Mengapa kau belum tidur? Atau kau memang lebih suka tidur di sofa ketimbang di kasur?”
Kiandra terkekeh pelan. “Tak ada orang yang suka tidur di sofa.” Ia mengangkat bahunya sekilas. “Termasuk aku. Tapi, kupikir aku harus melihatmu pulang malam ini.”
Dahiku berkerut. “Ada apa?” tanyaku seraya sedikit mengibaskan kemejaku yang terasa lengket.
Kiandra mengulurkan tangannya dengan kepala menengadah berusaha melihatku. Ia mengusap peluhku di dahi. “Kau terlihat beda hari ini. Terutama malam ini.”
Aku hanya diam mendengar ucapannya. Bodohnya aku, bahkan aku membiarkan jemarinya bermain di wajahku.
“Kau terlihat lelah dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.”
Wajahku mengeras. Begitukah wajahku terlihat saat ini?
Setelah aku tersadar dari beberapa detik itu, kutarik sedikit wajahku. Kiandra terkejut dengan tangan yang menggantung di udara. Detik selanjutnya kudengar ia menghela napas seraya menarik turun tangannya.
“A-a-apa kau bertemu dengan wanita di luar sana?”
Seketika wajah dan mataku kembali mengarah pada wanita itu. Aku sempat tak percaya dengan yang telingaku dengar, tapi kemudian ia mengulangi pertanyaannya kembali. Dan dapat kulihat jengah merah di kedua pipinya. Untuk kelakuannya yang seperti itu entah mengapa aku merasa ... lucu?
Dan tawa itu spontan meledak. Aku sampai memeluk perutku sendiri ketika rasa geli itu tak juga mau pergi.
Lantas, untuk tawaku itu maka kurasakan pukulan-pukulan di tubuhku. Tak keras dan tak berasa. Malah semakin membuat tawaku terdengar semakin lebih nyata.
“Enrick..., kau..., argh!”
Kiandra melengos membuang mukanya ketika tawaku tak juga berhenti. Dan itu justru membuat perutku bertambah geli.
Akhirnya, setelah beberapa saat tertawa, aku mampu mengendalikan diriku sendiri. Kulihat wajah Kiandra yang semakin memalu seraya meremas jubah tidurnya yang terlihat sangat halus.
Kunyalakan lampu ruang keluarga tersebut dan aku duduk di sofa. Sesekali kekehan geli yang tak mampu kutahan lolos berulang kali. Kiandra semakin memerah hingga ke telinga.
“Kau menertawai pertanyaanku,” lirih Kiandra pelan.
Aku mengusap wajahku yang semakin berpeluh. “Tentu saja! Kau pikirkan saja sendiri. Bagaimana bisa aku tidak menertawai pertanyaan..., ehm, pertanyaan bodoh atau lucu itu?” Aku menggeleng-geleng pelan. “Aku tak bertemu dengan wanita mana pun.”
Mata Kiandra membulat dengan binarnya. “Maafkan aku. Aku tak pernah melihat wajahmu yang bersinar seperti hari ini. Dan itu... membuatku,” ia tampak menghirup napas panjang hingga dapat kulihat perutnya yang mengempis, “takut.” Lantas, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Gelak tawaku sudah menghilang dan hanya meninggalkan seulas senyum lucu. Kubawa satu tanganku mengusap perut dan yang kudapat adalah gemuruh di dalam sana. Sontak saja Kiandra yang gantian tertawa.
Aku mendelik dan ia berusaha menutup mulutnya. Tapi, tawanya malah makin tersembur.
“Kau belum makan?”
Dan dengan berat hati aku menggeleng. Aku belum ada rencana untuk tidur sambil menahan lapar. Jadi, ketika Kiandra menawarkan untuk menyiapkan makan untukku maka aku langsung menerimanya.
Yang tak kutahu dari tadi sebenarnya adalah Kiandra memang menungguku pulang. Karena ketika aku duduk di ruang makan ternyata piring sudah tertata di sana. Ini perasaanku saja atau memang setiap malam ia selalu menyiapkan makan malam untukku walau aku tak pulang ke rumah?
Dan ketika aku menanyakan hal itu padanya hal yang kudapat adalah mata membulatnya dengan rona malu di pipi dan ia mengangguk.
“Aku hanya takut ketika kau pulang kau merasa lapar,” jelasnya seraya menghidangkan seporsi sop hangat untukku. “Kau mau meminum sesuatu? Badanmu tampak lelah. Air jahe mungkin?”
Aku menggeleng dan memulai makan malamku. “Mungkin teh mintmu saja.”
Jadi, malam itu ketika jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam aku baru saja selesai menyesap habis teh mintku. Aku tak tahu apa yang ia masukkan ke dalam teh tersebut, namun rasanya begitu menenangkan. Dan selesai dengan itu semua, kulihat Kiandra langsung merapikan bekas makanku. Aku tak menunggunya dan langsung naik ke kamar.
Tubuhku terasa kaku di beberapa tempat dan kupikir berendam sejenak dengan menikmati aroma-aroma terapi dapat membuat tubuhku rileks kembali. Maka langsung saja aku melepas pakaianku sembarang dan masuk ke kamar mandi.
Kunikmati sensasi air hangat yang terasa seolah memijat tubuhku. Kupejamkan mataku dan aku tersenyum. Papa terlihat lebih sehat dibandingkan dengan kali terakhir aku bertemu dengannya dan ia tampak lebih berisi. Yah, setidaknya itu hal baik yang sudah ditepati oleh Kakek.
Entah berapa lama waktu yang kuhabiskan dengan berendam hingga kurasakan aku hampir saja tertidur. Tanpa membuang waktu lagi aku segera bangkit dan meraih handuk. Kukeringkan air yang menetes di tubuhku seadanya dan tak lupa kuraih sehelai handuk kecil yang juga berwarna putih bersih untuk mengeringkan rambutku. Kemudian, aku segera melangkah keluar.
Pandanganku langsung membentur satu set piyama yang tersedia di satu meja di dalam kamarku. Kuputar pandanganku dan kudapati Kiandra yang sudah tertidur di kasur.
Piyamaku sudah ia siapkan dan pakaian kotorku sudah ia sisihkan. Aku tersenyum hambar. Sedikit merasa tak enak dengan semua pelayanannya terutama ketika aku ingat betapa buruknya perlakuanku padanya.
Kuraih piyamaku dan aku segera mengenakannya. Lantas aku pun membaringkan tubuhku di kasur setelah terlebih dahulu memadamkan lampu utama kamar. Kulirik sekilas punggung Kiandra yang tampak bergerak pelan dengan irama teratur dan aku kemudian justru menatap punggung itu untuk beberapa lama. Hingga detik selanjutnya kudapati ia setengah menggumam kecil, menggeliat, dan mengubah posisi tidurnya. Sekarang yang kulihat bukanlah punggungnya melainkan separoh dari wajah lembutnya.
Aku bergerak sendiri dan kubawa kepalaku untuk bertumpu pada sikuku. Kupandang wajahnya yang tertidur. Dadanya tampak naik turun seirama dengan hembusan napasnya yang terdengar pelan. Wajahnya tampak damai dan tenteram. Dan lagi-lagi, mendadak aku teringat malam di mana aku memperlakukannya dengan begitu buruk. Bahkan saat itu satu ciuman lembut pun tak kuberikan padanya. Yang aku lakukan hanyalah merendahkannya serendah mungkin.
Hatiku meringis teringat betapa takutnya ia seraya berusaha tak melihat wajahku kala itu. Dan walau kejadian itu sudah berlalu dalam waktu yang lumayan lama, ternyata aku masih begitu mengingat kejamnya perbuatanku.
Tubuhku bergerak lagi dan kali ini dengan posisi telungkup kupandangi ia dengan jarak yang lebih dekat. Kurasa jarak kami tak sampai dua jengkalku.
Dengan ragu-ragu, kuulurkan satu tanganku dan lantas jemariku menyentuh rambut halusnya di depan pipinya. Lama kupandangi ia tanpa tahu apa yang sebenarnya menjadi tujuan mataku. Tapi, kemudian tatapanku tertuju pada satu titik. Bibir merah mudanya yang malam itu menjerit menyiratkan luka. Lantas, apa yang sekarang aku pikirkan?
Pelan kuhela napas, tak ingin sampai ia merasakan deru napasku yang kurasa mulai sedikit berubah. Lalu, tanpa sempat aku berpikir dan demi menuntaskan rasa penasaranku, kutundukkan wajahku. Mataku seketika menutup perlahan dengan sendirinya ketika permukaan lembut yang telah dua kali menyentuh pipiku itu tertahan tanpa daya di bawah milikku. Kukecup pelan dua belah bibirnya untuk beberapa detik. Dan lalu dapat kurasakan bahwa malam itu aku mungkin tak bisa tidur.
&
Benar saja!
Apa yang sempat kupikirkan memang terjadi. Aku tak bisa tidur semalaman walaupun tubuhku sudah terlalu letih karena berkendara selama empat jam lebih. Dan esoknya aku bangun saat matahari sudah meninggi. Namun Kiandra tak mempersoalkan itu. Kurasa ia sudah terbiasa dengan jadwal bangun tidurku.
Seraya bersenandung pelan –yang tak kutahu entah lagu apa itu- Kiandra menyiapkan sarapanku. Aku memandangnya bingung. Aku memang tak pernah melihat ia murung, tapi aku juga belum pernah melihat ia seriang ini.
“Apa ada kabar gembira yang kau dapat hari ini?” tanyaku sambil memakan sarapanku.
Kiandra menggeleng dan mengambil posisi untuk mengamati acara sarapanku.
“Lantas? Kau tak biasanya bersenandung?” tanyaku lagi. Entah mengapa kali ini kurasa aku sedikit penasaran dengan tingkahnya.
Kiandra memegang kedua pipinya. “Kurasa malam tadi aku mimpi indah.”
Dan langsung saja makananku meluncur ke kerongkonganku tanpa komandoku terlebih dahulu. Membuat gerakan peristaltik di organ sana menjadi kacau dan hasilnya aku tersedak.
Kiandra langsung menyodorkan gelas minumku dan aku menyerobotnya seketika. Kunyahan itu akhirnya meluncur dengan lebih baik setelah aku tersiksa dengan beberapa kali batuk yang mengenaskan.
“Kau tak apa?” tanyanya.
Aku menggeleng dan menyerahkan gelas kosongku untuk kembali diisi. Kiandra segera melakukannya.
Ketika kurasa keadaanku sedikit membaik, akhirnya kuberanikan diriku untuk kembali bertanya padanya. “Mimpi indah apa?” tanyaku tanpa melihat matanya. Walaupun begitu dapat kutebak bahwa sekarang dua matanya itu tengah membulat.
Ia mendehem pelan. Jadi kubawa tatapanku ketika ia tak juga menjawab. Dan saat aku menatapnya, ia tak juga menjawab. Yang kudapat hanya rona merah di pipinya. Ia menggeleng.
“Bukan hal penting untuk kau tahu,” jawabnya seraya meraih piring dan gelasku yang sudah kosong.
Dan mendadak, perasaanku menjadi semakin tak enak.
&
bersambung ....