Mobil van yang digunakan Lev terasa sempit, berisi aroma kopi kental dan ketegangan yang tak terucapkan. Di kursi penumpang, seorang pria bertubuh besar dengan rambut merah pendek dan wajah penuh bintik-bintik matahari tersenyum lebar melihat Violet dengan tatapan penuh selidik.
"Jadi, ini 'Si Manis' yang harus kita jaga?" ucapnya, aksen Skotlandianya kental. "Dia kelihatannya seperti kue mangkok, rapuh dan manis."
Lev, yang duduk di kursi belakang dengan pandangan tetap mengawasi mobil sport mewah Violet yang mulai melaju, menjawab dengan suara datar, "Belum, Connor. Belum."
Connor MacTavish, mantan kopral SAS yang sekarang adalah "kontraktor keamanan" seperti Lev, hanya menghela napas. "Pesimis sekali kau, Volkov."
Violet menyetir dengan cukup patuh di awal. Mobil silver-nya berjalan dengan mulus mengikuti lalu lintas Mayfair. Tapi Lev mengenali pola itu. Terlalu patuh. Seperti hewan buruan yang sedang memancing.
"Jaga jarak tiga mobil," instruksi Lev pada Connor yang menyetir. Matanya tak lepas dari pantulan kaca spion Violet. Dia melihat bahu wanita itu yang tegang, dan bagaimana matanya sesekali melirik ke kaca spionnya sendiri.
"Kau pikir dia akan coba sesuatu?" tanya Connor.
"Sudah pasti," gumam Lev. "Dia bukan tipe yang menyerah."
Benar saja, setelah berbelok ke sebuah jalan yang relatif sepi di dekat Square, Violet tiba-tiba menepikan mobilnya dengan sempurna di depan sebuah bangunan bergaya Georgian yang megah. Plakat kecil di samping pintu bertuliskan "Winthrop & Associates, Solicitors".
Lev mengerutkan kening. Kantor pengacara. Masuk akal untuk dikunjungi, tapi terlalu mudah.
"Parkir di sudut sana," perintah Lev. "Aku akan mendekat."
Dia keluar dari van, menyamar sebagai pejalan kaki yang sedang bertelepon. Dari balik kaca etalase sebuah toko, dia mengawasi Violet. Gadis itu berjalan dengan langkah pasti, sepatu hak tingginya berbunyi tegas di trotoar. Dia memasuki gedung kantor pengacara itu tanpa menoleh sedikitpun.
Lev menunggu. Menghitung detik dalam hati. Lima menit. Tujuh menit. Instingnya berteriak bahwa ada yang tidak beres.
"Connor, cek pintu belakang bangunan itu, sekarang," suara Lev mendesak melalui komunikasi kecil di telinganya.
Beberapa detik kemudian, suara Connor terdengar, "Ada pintu pengiriman barang. Terbuka lebar. Dan ada taksi hitam yang baru saja melaju cepat dari sini."
Sudah. Lev mengutuk dalam hati. Gadis itu licin. Dia menggunakan kantor pengacara itu sebagai transit, keluar dari pintu lain, dan melarikan diri dengan taksi.
"Ke mana, Lev?" tanya Connor.
Lev berpikir cepat. Violet ingin bebas. Tapi dia juga cerdik. Dia tidak akan lari ke tempat yang mudah ditebak seperti klub atau rumah teman. Dia akan pergi ke tempat yang menurutnya akan membuat Lev dan ayahnya paling kesal: langsung ke sumber masalah.
"Ke Sterling Tower," kata Lev sambil sudah berlari menuju van. "Dia akan konfrontasi ayahnya."
Perjalanan menuju kota adalah kejar-kejaran dalam diam. Lev, dengan bantuan Connor yang mahir menyetir, memotong jalan dan memanfaatkan lalu lintas. Mereka sampai di depan Sterling Tower hampir bersamaan dengan taksi yang membawa Violet.
Lev melihat Violet melompat keluar dari taksi, wajahnya merah karena amarah dan perjuangan, lalu bergegas masuk ke lobi marmer yang megah.
"Tangani parkir," perintah Lev pada Connor sebelum melesat keluar dari van.
Lev bergerak seperti angin, menyusup di antara orang-orang yang sedang lalu-lalang. Dia tidak berlari, tetapi langkahnya panjang dan cepat, memotong jalur yang lebih efisien. Dia melihat Violet menuju bank elevator eksklusif yang membutuhkan kartu akses.
Violet membuka tasnya dengan tangan gemetar, mencari kartu. Dia melirik ke belakang, dan mata hijaunya yang liar bertemu dengan mata abu-abu Lev yang dingin dari seberang lobi. Dia terkekeh, penuh kemenangan, dan membalikkan badan.
Tapi Lev tidak berhenti. Dia malah berbelok ke arah tangga darurat. Beban pekerjaannya mungkin berat, tapi kondisi fisiknya masih prima seperti di masa Spetsnaz. Dia mengambil dua atau tiga anak tangga sekaligus, napasnya teratur, mendorong tubuhnya naik ke lantai 50, di mana kantor Alistair Sterling berada.
Sementara itu, di elevator, Violet menekan-nekan tombol lantai dengan penuh amarah. "Bodoh. Berani-beraninya ayah... dan pria bayangan sok cool itu..."
Pintu elevator terbuka. Violet melesat keluar, melewati sekretaris yang terkejut tanpa peduli. "Miss Sterling, ayah Anda sedang dalam—"
"Penting!" potong Violet, tangannya sudah mendorong daun pintu kayu mahoni yang besar menuju kantor ayahnya.
Tepat saat dia akan membanting pintu itu terbuka, sebuah bayangan besar muncul di sampingnya. Sebuah tangan—tangan yang kuat, dengan bekas luka dan kapalan di sekitar buku-bari—mencapai gagang pintu terlebih dahulu.
Lev, dengan napas yang sedikit berat tetapi tetap terkendali, membukakan pintu untuknya dengan gerakan yang halus namun tegas.
"Silakan, Miss Sterling," ucapnya, suaranya datar, seolah-olah dia hanyalah pelayan yang sopan.
Melihatnya berdiri di sana, sedikit berkeringat tetapi dengan ekspresi yang tak tergoyahkan, kemarahan Violet meledak menjadi amukan putih. Dia mendorong Lev (yang sama sekali tidak bergerak) dan menghujam masuk ke dalam kantor.
"KAU TIDAK BISA BEGINI PADAKU, AYAH!"
Pintu tertutup perlahan. Lev tidak mengikutinya. Dia berdiri di luar, punggung menempel ke dinding di samping pintu, menjadi penjaga sekaligus pendengar yang tak diundang. Connor muncul dari ujung koridor, mengangguk dengan kagum.
Dan dari balik pintu kayu tebal itu, kemarahan Violet mengalir deras, jelas terdengar.
"Aku bukan boneka! Aku bukan propertimu yang bisa kau pasungi pengawal tanpa izin!" teriaknya, suaranya bergetar. "Dan kau menyuruh... orang itu... untuk mengikutiku? Mengawasi setiap langkahku? Menentukan siapa yang boleh mendekatiku? Ini menjijikkan! Ini penjara!"
Ada suara rendah Alistair yang mencoba menenangkan, tapi Violet memotongnya.
"Tidak! Jangan kau bilang itu untuk keselamatanku! Ini tentang kendali! Selalu tentang kendali! Seperti yang kau lakukan pada Ibu! Kau mengurungnya sampai dia mati, dan sekarang kau mau melakukan hal yang sama padaku?" Suaranya pecah, campuran antara kemarahan dan kesedihan yang mendalam. "Dan dia... si 'Lev' atau apapun namanya... dia hanyalah anjing penjaga yang kau sewa! Matanya kosong! Dia tidak peduli! Dia hanya akan melakukan perintah kotormu, termasuk menembaki orang yang kau tidak sukai!"
Lev, di luar pintu, tak bergerak. Wajahnya adalah topeng batu. Hanya otot rahangnya yang berdetak sekali, sangat halus.
"Aku menolak! Aku akan terus melarikan diri! Kau dan bayangan beku milikmu bisa mencoba sekeras mungkin, tapi aku tidak akan pernah, PERNAH, membiarkan diriku dikurung seperti Ibu!"
Kemudian, terdengar suara bentakan yang lebih keras, mungkin Violet melempar sesuatu (mungkin vas kristal mahal), diikuti oleh hening yang tiba-tiba dan menegangkan.
Lev menutup matanya sesaat. Di dalam kegelapan itu, dia mendengar bukan teriakan Violet, tapi bisikan Anastasia di masa lalu: "Kau hanya tahu patuh, Lev. Apakah kau punya keinginan sendiri?"
Dia membuka matanya, kembali menjadi batu. Ini hanya pekerjaan. Violet Sterling hanyalah subjek yang harus diamankan. Emosinya, amarahnya, pemberontakannya—semuanya hanya variabel dalam misi.
Tapi, di suatu tempat yang sangat dalam, suara gadis berambut pirang yang menyebut matanya "kosong" itu meninggalkan bekas yang hangat dan perih, seperti luka bakar yang terlalu dekat dengan kulit.
Pintu kantor terbuka dengan hentakan. Violet keluar, wajahnya basah oleh air mata kemarahan yang tak keluar, pipinya merah. Dia menatap Lev, dan di mata hijau itu, Lev melihat sesuatu yang lebih dari sekadar amarah: sebuah luka, sebuah kesepian, dan tekad baja yang mirip seperti miliknya sendiri.
"Kau," desisnya, suaranya serak. "Kau menang hari ini. Tapi ini belum berakhir."
Lev mengangguk perlahan, sekali. "Saya tidak perlu menang, Miss Sterling. Saya hanya perlu memastikan kau tetap hidup."
Jawaban itu sepertinya membuat Violet semakin geram. Dia menghela napas panjang, lalu berjalan pergi dengan langkah goyah namun penuh martabat, meninggalkan Lev berdiri di koridor, masih menjaga pintu—dan sekarang juga menjaga rahasia amukan seorang putri yang terkekang, yang gema-gemanya terus berdengung di telinganya, mengaburkan batas antara subjek dan manusia.