Hana tercengang.
Pagi yang sangat cerah. Matahari menyelinap dari balik kaca jendela dan membentur tubuhnya. Hana yang duduk dengan canggung di sofa di dekat jendela. Fokus tatapan Hana sekarang adalah Aaron yang menatapnya dengan wajah biasa saja. Aaron dengan baju yang juga biasa saja.
"Apakah...harus seperti itu? Mengapa...adegan berciuman itu ada di awal cerita? Mengapa tidak di endingnya saja?"
"Karena cerita film ini memiliki alur mundur, Hana."
Hana mengangguk kecil. Ragu. Lalu tatapannya pada Aaron berubah menjadi tatapan horor. Tangan Hana terulur membentuk high five yang kaku ke arah wajah Aaron. Dan itu lebih terlihat seperti sebuah pertahanan diri.
"Tunggu dulu! Bukankah kau seharusnya berlatih dengan Miss Fanning untuk ini? Agar cemistry kalian terbangun dengan baik?"
"Aku akan melakukannya. Tapi kau tahu aku juga gugup."
"Aaaa..." Hana mengangguk-angguk. Mencoba mengerti bahwa aktor sekelas Aaron bisa juga menjadi gugup. "Jadi..."
"Kau harus membantuku berlatih."
Hana hanya terus mengangguk bingung. Dan berpikir bahwa bukan hanya di film itu Aaron melakukan adegan berciuman bukan? Beberapa filmnya juga menyertakan adegan seperti itu. Aaron juga pernah berkencan dengan beberapa wanita. Tidak mungkin dia dan pasangannya tidak melakukan apapun bukan? Lalu?
"Karena alurnya, Hana. Aku harus berlatih secepat aku bisa. Sandra dan aku tidak memiliki banyak waktu dan...kau pasti ingat film terakhirku adalah setahun lalu. Aku lupa bagaimana menjiwai adegan itu."
Kenapa penjelasannya harus membutuhkan waktu sebanyak itu?
"Baiklah." Hana tertawa sumbang. Mereka memang sudah seperti teman di waktu waktu tertentu. Tapi selama ini Hana berusaha sebaik mungkin menjaga pekerjaannya tetap profesional. "Jadi...aku harus...seperti apa? Bagaimana...?" Hana bertanya sambil menggerakkan tangannya. Lalu merubah posisi duduknya. "Apakah nanti aku harus membalas? Maksudku...oh...ini menggelikan sekali. Bisakah kulihat skripnya sekali lagi?"
Aaron menyerahkan skrip di tangannya ke tangan Hana. Hana meletakkan skrip itu di pahanya. Hana menggigit kukunya sambil ber komat kamit membaca skrip di depannya.
"Oh...jadi sang wanita tertegun. Mereka bertatapan. Lalu sang pria menciumnya. Sang wanita sedikit kaget sebelum akhirnya mereka saling berbalas ciuman. Huuum...baiklah. Oh...aku ingin ini cepat berakhir." Hana meletakkan skrip ke sofa dan menatap Aaron yang tertawa melihat tingkah Hana.
"Oke?" Aaron bertanya. Hana mengangguk ragu.
"Aku akan mengucapkan adegan itu. Kau hanya harus mengikuti karena part percakapan wanita di bagian itu tidak ada. Oke?"
Mereka terdiam. Lalu bergerak mencari posisi duduk yang nyaman. Tangan Aaron mulai menghitung.
"...1...2...3..."
"Kau tahu? Manik mataku sangat hitam. Sangat gelap. Kau ingin melihatnya dari dekat?" Suara Aaron mengalun mengucapkan dialognya. Tangan Aaron perlahan menyibak anak rambut Hana dan Hana berpikir itu adalah sebuah improvisasi yang dilakukan oleh seorang aktor. Dan pada kenyataanya, Aaron sekarang terlihat seperti bukan dirinya. Dia sepenuhnya menjiwai aktingnya. Dan Hana hanya harus melakukan bagiannya sesuai skrip. Menatap Aaron lekat setelah mendekatkan wajahnya pada pria itu. Manik mata Aaron memang sangat gelap. Sebuah kenyataan.
Dan mereka bertatapan sesaat. Sesaat yang terasa sangat lama.
Lalu tersentak. Hana melakukan itu. Tersentak ketika Aaron mencium bibirnya lembut. Bergerak sangat lembut dalam pejaman matanya. Hana berpikir. Bukankah dia harus membalas? Sesuai skrip itu? Hana terpaku ketika Aaron meraih lehernya. Bukankah sekarang waktunya membalas?
Bibir Hana bergerak pelan. Dan entah mengapa dia bisa merasakan Aaron sedikit terusik. Apakah itu ada dalam skrip? Aaron membuka sedikit matanya sebelum meneruskan mencium Hana. Ciuman yang intens dan terasa sangat hangat. Dan entah mengapa berubah menjadi sedikit liar saat tangan Aaron meraih pinggang Hana dan membawanya mendekat. Apakah itu ada dalam skrip? Hana terpaku. Lalu membuka mata dan menarik dirinya. Merasakan bahwa semua berjalan dengan durasi yang cukup. Hana menatap Aaron dengan canggung.
"Apa...seperti itu?"
Dan Aaron yang mengerjap membuat Hana mengingat sebuah adegan film yang dibintangi Aaron dua tahun lalu. Aaron yang mengerjap. Dan entah berapa kali Hana mengulang bagian itu. Hana menyukai kerjapan mata Aaron. Tapi...dia selalu berhasil membawa dirinya pada kesadaran bahwa dia tidak pernah sekalipun bermimpi yang tidak tidak. Bahwa dirinya sangat profesional. Dan tidak memiliki perasaan apapun pada Aaron selain bahwa pria itu adalah orang yang memberinya gaji.
"Iya. Seperti itu..." Suara Aaron memecah riuh rendah isi kepala Hana yang ber monolog. Hana mengangguk-angguk dan menghela napas lega.
"Baiklah. Sekarang...membaca skrip..."
Hana melihat Aaron mengangguk dan meraih skrip di sofa. Mereka duduk berdekatan dan mulai membaca skrip itu bersahutan sesuai bagian masing-masing.
Pagi setelah segelas jus dan sepotong sandwich. Dan rutinitas menggosok gigi di depan cermin. Dan adegan berciuman sesuai dengan skrip film terbaru yang akan Aaron bintangi.
Hana terlihat menguasai dirinya. Kembali pada sikapnya yang acuh. Hana beranjak dari sofa dan berjalan menuju ruang baju untuk membereskan beberapa baju yang semalam dikirim dari sebuah butik langganan untuk Aaron.
Meninggalkan Aaron yang menatap pintu penghubung ruang keluarga dengan ruang tidur. Ruang baju tepat ada di samping kamarnya. Gadis itu di sana. Dengan pintu tertutup. Aaron mengusap bibirnya. Aaron termenung. Rasanya sangat aneh. Pikirannya entah mengapa justru dilanda kebingungan? Apakah benar meminta Hana membantunya hingga sejauh itu? Apakah gadis itu baik-baik saja? Apakah dia perlu berbicara pada gadis itu?
Tidak?
Aaron menggeleng. Sikap Hana biasa saja setelah adegan itu. Hana membantunya dengan baik. Gadis itu tidak terlihat canggung.
Aaron menghela napas. Dia beranjak menuju ruang kerjanya. Mengeluarkan kotak cincin dan memulai pekerjaannya. Menghaluskan cincin yang sudah dia kerjakan jauh hari sebelumnya.
*
Bagaikan dikejar oleh waktu. Tidak ada waktu bersantai sejenak. Aaron melakukan syuting filmnya nyaris dua bulan penuh diselingi dengan berbagai acara. Menghadiri jamuan makan malam, acara penghargaan, reality show di televisi dan lain sebagainya.
Semua berlaku sama dengan Hana. Serapi apapun dia menyiapkan semua kebutuhan Aaron, dia merasa belum bisa melakukan yang terbaik. Kenyataan bahwa Aaron tidak pernah menemukan seseorang yang cocok dengannya sebagai asisten pribadi, membuatnya mengantungkan seluruh keperluannya pada Hana. Bahkan manager pun Aaron memilih seseorang dari agensinya. Aaron bisa menjadi sangat rewel ketika dia merasa tidak cocok dengan seseorang.
Premier film berlangsung dua hari berturut-turut. Setelah itu, kegiatan Aaron adalah menjumpai penggemarnya. Bersama dengan Sandra Fanning dan beberapa peran pembantu dalam film. Aaron selalu tampil memukau. Wajahnya memang nampak lelah, tapi dia selalu memberikan yang terbaik untuk penggemar yang sudah mendukungnya.
Sejak premier film-nya, Aaron menjadi dua kali lebih sibuk dengan permintaan pemotretan. Dan Hana menjadi dua kali lebih sibuk ketika harus mengikuti Aaron kemanapun dia pergi. Dan itu berlangsung tiga bulan lamanya. Dan Hana menyukai saat seperti itu. Saat pekerjaannya sangat dibutuhkan. Bagian terburuknya adalah ketika harus menyaksikan Aaron yang terlihat sangat letih.
Dan menemukan Aaron meringkuk di ranjangnya pagi hari saat libur pertama mereka setelah semua kegilaan kerja, membuat Hana segera menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?" Hana duduk di tepi ranjang. Aaron terlihat menyingkap selimutnya pelan dan menggeleng.
"Oooh...wajahmu merah sekali. Kau demam?" Hana menjangkau kening Aaron dan bergumam. "Tetaplah di sini."
Hana beranjak dan berjalan keluar dari kamar Aaron tanpa menutup pintu. Hana menjangkau kotak obat di ruang penyimpanan dan kembali ke kamar Aaron.
"Kau pikir aku anak kecil?" Aaron tertawa sumbang saat Hana merekatkan plester kompres demam ke dahinya.
"Aku tidak mungkin mengompres mu. Akan makan banyak waktu."
"Kau sudah makan?"
Hana menghela napas perlahan. Selalu pertanyaan itu yang Aaron ajukan padanya setiap mereka bertemu.
"Sudah. Kau?"
Aaron menggeleng.
"Kau harus memiliki asisten pribadi."
"Kau."
"Aku stylish."
"Come on. Aku tidak suka orang asing berada di sekelilingku."
Kali ini Hana menghela napas keras. Akan sangat percuma membicarakan hal itu pada Aaron.
"Baiklah. Tunggulah sebentar. Aku akan membuat sesuatu untukmu." Hana beranjak lagi setelah merunduk memastikan bahwa kompres demam di dahi Aaron merekat dengan sempurna. "Kau kenapa? Bernapas lah."
Hana berjalan keluar dari kamar Aaron. Kali ini dengan menutup pintu.
Aaron melepaskan napasnya cepat. Merutuk dalam hati. Dan tertawa tidak jelas. Dia bahkan berakhir dengan meringkuk lagi. Kali ini dia sangat kesal dengan perasaannya sendiri. Dia bahkan ingin keluar dan melihat apa yang Hana lakukan? Gadis itu bahkan tidak menungguinya dengan mengompres dahinya dengan air hangat seperti adegan film yang pernah dilakoninya.
Tiga puluh menit mem bolak balik badan dan mendongak cepat ketika pintu terbuka dan Hana masuk dengan membawa nampan.
"Ku bantu kau duduk. Ayolah." Hana meraih bahu Aaron setalah meletakkan nampan ke atas nakas dan membantunya duduk. "Boleh aku naik?"
Aaron menatap Hana lekat. Mulutnya terbuka.
"Aku harus menyuapi mu. Kau pikir apa? Hissh..." Hana menggerutu tidak jelas sambil naik ke ranjang Aaron. Tangannya lalu dengan terampil mengaduk bubur yang dibuatnya. Mulutnya terbuka memerintahkan Aaron untuk membuka mulut. Aaron mengernyit. Bubur itu terasa hambar. Bahkan mulutnya terasa pahit dan dia merasa benar-benar sakit.
"Mintalah pada agensi untuk sedikit memeriksa ulang jadwal mu. Sepertinya ada yang salah."
Aaron bergumam. Dia memang ingin melakukannya.
Dan pada suapan terakhir, ponsel Hana berbunyi. Sebuah pesan. Hana membacanya lalu membalas dengan wajah yang murung. Aaron mengamati perubahan wajah Hana. Lalu tatapannya beralih pada rambut Hana yang diikat ekor kuda. Terakhir kali Aaron mengatakan pada Hana untuk tidak perlu memotong rambutnya sekalipun dia bertanya. Dan rambut itu semakin panjang. Terlihat sangat lebat untuk ukuran kepala dan wajah Hana yang mungil.
"Ada apa?"
Hana mendongak. Lalu menggeleng.
"Kau bisa bercerita. Mungkin aku bisa membantu."
"Orangtuaku membuat sebuah perjodohan."
"Untukmu?"
Hana mengangguk. Lalu menghela napas pelan. Tangannya bergerak lagi untuk menyuapkan bubur ke mulut Aaron.
"Kau bagaimana?"
"Aku menerimanya." Hana mendongak ketika Aaron tiba-tiba mendesah sangat kuat dan menyugar rambutnya keras.
"Kau mengenal dengan baik laki-laki itu? Yang dijodohkan denganmu?"
Hana menggeleng. "Keluarga menilai dia baik. Aku bisa apa? Lagi pula, aku...tidak bisa memiliki siapapun selama ini. Yang bisa aku ajukan sebagai..."
Kata-kata Hana tertelan di kerongkongan nya. Dan gadis itu menggeleng. Mendung jelas bergelayut di wajahnya sekarang. Tangannya membenahi nampan dan dia meletakkan nampan itu di atas nakas di samping ranjang Aaron. Dia mengulurkan segelas air putih pada Aaron. Aaron menerimanya lalu menenggak nya sampai tandas. Hana mengembalikan gelas dari tangan Aaron ke atas nampan.
"Aku."
"Eh." Hana mendongak cepat saat mendengar Aaron mengatakan kata itu.
"Aku. Kenalkan aku pada keluargamu."
Hana menatap Aaron dengan tatapan horor. Tatapan yang selama ini dia lakukan ketika Aaron mengatakan atau melakukan sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal. Itu yang mereka lakukan satu sama lain sebenarnya.
"Untuk apa? Berpura-pura? Sama saja keluargaku akan terluka karena lambat laun mereka akan tahu. Sudahlah." Hana beranjak. Namun dia terduduk lagi saat Aaron memegang lengannya. Mereka saling menatap. Hana dengan pandangan penuh kebingungan. Dan Aaron? Entahlah.
Hana bergumam ketika rambutnya tiba-tiba terurai. Dengan Aaron yang menatapnya lekat. Hana berpikir apakah karet yang dia pake untuk mengikat rambutnya putus? Namun...
"Manik matamu memang sangat hitam..." Hana seperti tengah menghafal skrip film milik Aaron. Tapi suaranya segera saja tertelan bibir panas Aaron yang mencium bibirnya. Dan Hana tersentak saat Aaron meraih lehernya. Memperdalam ciumannya. Hana memejamkan matanya cepat. Dia berusaha mencerna semuanya dengan cepat. Namun bibir Aaron seakan menuntutnya. Hana bergerak ragu. Membalas sangat ragu ciuman Aaron. Dia bahkan tidak bisa memejamkan matanya. Terlena dengan wajah Aaron yang...dan plester kompres demamnya...
Tangan Aaron mengusap wajah Hana. Membuat mata Hana terpejam. Tahukah Aaron bahwa tangan Hana gemetar mencengkeram pinggang kemejanya? Tahukah Aaron bahwa Hana bingung?
Ciuman itu terlepas sebelum Hana menemukan jawaban apapun. Hana membuka mata sangat cepat hanya untuk menemukan Aaron dengan senyumnya yang khas. Senyum yang hanya Aaron yang punya. Mengapa pria itu tersenyum terus. Dan apakah sebuah ciuman akan sangat membingungkan seperti ini? Hana menarik tangannya dari pinggang kemeja Aaron. Dia beringsut. Dan terdiam.
"Itu bukan latihan skrip film."
"Eh." Hana menoleh ke arah Aaron.
"Jangan memotong rambutmu, oke?" Aaron beranjak dari ranjang dan melangkah meninggalkan Hana yang terpaku. Hana menoleh mengikuti kemana Aaron melangkah. Pria itu...selalu berjalan dengan memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Hana merasa dia menyukai gerakan itu.
Hana menyentuh bibirnya.
Lalu beranjak. Hana berjalan secepat dia bisa menyusul Aaron yang ternyata sedang berdiri di depan jendela. Pandangannya menatap ke halaman samping rumah.
Dan bunyi bugggh...suara mengaduh Aaron yang terkaget. Lalu tertawa kencang. Pria itu bahkan melemparkan tubuhnya ke arah sofa dan menatap Hana tanpa berniat berhenti tertawa.
"Sakit!" Aaron berteriak geli sambil mengusap tulang keringnya yang baru saja terkena tendangan Hana.
"Kau tidak boleh mencium ku sembarangan!"
"Oh." Mulut Aaron terbuka. Tangannya terulur menarik Hana untuk duduk. Hana menutup wajahnya.
"Penggemar akan mengajukan petisi kepada agensi agar aku mundur sebagai aktor kalau tahu semua ini, Hana."
Hana menurunkan tangannya.
"Lalu kenapa kau lakukan? Bodoh."
Aaron terdiam. Dia meraih tangan Hana dan menautkan nya ke tangannya sendiri.
"Karena kau lebih berharga dari sekedar pekerjaan sebagai aktor."
Aaron menatap Hana lembut. Hana yang masih kebingungan.
"Apa kau tidak merasakan apapun setelah dua tahun dekat denganku?"
Hana terdiam. Bahkan ketika Aaron meraih pinggangnya untuk mendekat padanya. Pertanyaan lain yang Aaron ajukan padanya selain "apa kau sudah makan?"
Tapi pertanyaan itu membuat Hana bingung.
**