PART 3

2039 Words
Canggung adalah ketika kau ingin mengetahui sesuatu dari seseorang tapi seseorang itu terlihat tidak ingin memberikan penjelasan apapun.  Hana duduk di samping Aaron. Mereka sedang menunggu seseorang dari agensi untuk mengatur jadwal Aaron. Dia benar-benar melakukannya. Meminta manager dari agensi untuk mengatur ulang jadwalnya. Mereka berjanji untuk bertemu di rumah yang akan dijadikan lokasi pemotretan untuk sebuah produk sepatu.  Hana menatap lurus ke depan. Beberapa kru pemotretan terlihat sibuk membenahi peralatan mereka untuk persiapan. Semua terlihat asyik dengan dunia mereka sendiri. Hana merasa seperti itu. Dia juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesekali dia menghela napas dan menatap Aaron yang terlihat tenang. Mungkin Aaron sedang berusaha menjiwai apa yang harus dia lakukan selama pemotretan nanti? Hana menghela napas lagi. Kali ini agak sedikit keras hingga membuat Aaron menoleh padanya. Lalu tiba-tiba saja tangan Aaron sudah berada di wajah Hana.  "Kau kenapa? Haaah..." "Hiiiissh... singkirkan tanganmu."   Aaron melakukannya. Tapi sebagai gantinya dia menatap lekat Hana. "Kenapa? Kau melamun dan menghela napas sejak tadi." "Tidak ada apa-apa." Aaron tidak bertanya lagi. Dia kembali pada posisinya semula. Menatap ke depan dengan wajah yang terlihat memikirkan sesuatu. Pemotretan itu pasti. Hana menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.  "Aku tidak terlalu dibutuhkan di sini." Hana bergumam membuat Aaron kembali menoleh. "Aku membutuhkanmu." "Eh." Suara Hana teredam oleh interupsi seorang pengarah gaya yang meminta Aaron untuk bersiap untuk melakukan pemotretan. Aaron mengacak rambut Hana keras sebelum berdiri dan melangkah bersama pengarah gayanya hari itu. Hana meniup anak rambutnya dan beranjak. Hana berjalan keluar dari rumah itu. Dia memutuskan untuk keluar dari halaman rumah untuk mencari satu cup kopi. Hana merasa dia membutuhkan itu karena dia bahkan melewatkan tidurnya. Dia tidak tidur dengan baik semalam dan paginya dia tergesa menuju rumah Aaron untuk menemaninya ke tempat itu.  Hana berjalan sambil memasukkan tangan ke saku bajunya. Hana menendang sebuah kerikil di trotoar sebelum dia mendongak dan segera menemukan sebuah kafe di sudut jalan. Hana menyeberang dan berjalan kembali dengan perlahan untuk menjangkau kafe itu. Dan Hana segera masuk ke dalam kafe. Hana keluar dengan cepat dengan satu cup kopi dan satu kotak kecil kue. Hana memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di depan kafe. Perlahan Hana menyesap kopinya dan menggigit kecil kue dengan toping stroberi yang dia ambil dari dalam kotak. Hana membuka ponselnya. Beberapa pesan dari ibunya muncul. Tentang makan malam yang harus Hana hadiri bersama keluarganya. Mereka akan membalas kunjungan keluarga pria itu. Hiro Watanabe. Calon suami yang dipilihkan oleh kedua orang tuanya. Hana sudah bertemu dengan Hiro saat kunjungan mereka ke rumah keluarganya. Pria itu nampak seperti masih sangat muda kalau dilihat secara fisik. Pria itu berumur 27 tahun. Sama seperti Aaron.  Hana menyesap lagi kopinya. Hari itu dia tak banyak bicara dengan Hiro. Hanya menyapa dengan bahasa yang sangat formal. Sebuah bagian dari tradisi keluarga. Bersikap se sopan mungkin pada seorang tamu penting. Mereka bercakap lagi sesaat sebelum mobil keluarga Watanabe meninggalkan rumah Hana.  Hana mendongak dan menatap ke arah rumah yang dijadikan lokasi pemotretan. Lalu lalang kru produksi masih terjadi. Hana menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah nyaris dua jam. Aaron belum dalam kondisi terbaiknya. Demamnya kemarin jelas masih menyisakan jejak. Aaron belum benar-benar pulih. Tapi tuntutan pekerjaan membuatnya bersikap profesional. Hana menunduk lagi menatap ponselnya. Dia mengubek berita-berita online. Hana nyaris tak memiliki teman karena memang dia tidak menyukai pergaulan di luar seperti sebuah klub. Hana menyapa beberapa teman kuliahnya tapi hanya sekedar itu. Tidak terjalin pertemanan yang kuat dan Hana merasa baik-baik saja selama ini. Hembusan napas lelah membuat Hana mendongak. Aaron melesakkan bokongnya di kursi tepat di depan Hana.  "Sudah selesai?" Aaron menggeleng. Tangannya menjangkau kopi milik Hana dan menyesapnya. Aaron juga menggigit kue ber toping stroberi yang baru saja digigit oleh Hana.  "Model wanitanya sedikit terlambat. Mungkin setengah jam lagi. Aaah..." Aaron mendongak. Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.  "Apa kau baik-baik saja?" Hana menjangkau dahi Aaron dan menggeleng. Aaron tidak mungkin pulang sekalipun kondisinya seperti itu. Dia akan menyalahi kontrak kerjanya kalau sampai melakukan hal itu. "Mampirlah ke rumah nanti." "Eh." "Kau ada acara?" Hana menunduk. Tidak mungkin menceritakan tentang makan malam itu pada Aaron. Dia tidak menemukan alasan apapun untuk melakukan hal itu. Akhirnya Hana menggeleng. "Aku akan mampir sebentar. Kita kembali?" Hana menunjuk ke tempat pemotretan dengan dagunya. Dan Aaron mengangguk. Mereka berjalan beriringan. Hana menatap tangannya yang di genggam oleh Aaron ketika mereka harus menyeberang. Aaah...wajar saja. Aaron adalah pria dengan etika yang bagus. Wajar kalau dia membantu Hana menyeberang.  "Kita duduk dulu? Mungkin agak sedikit lama." Aaron melepaskan pegangan tangannya dan terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan bahwa partner untuk pemotretan nya memang belum datang. Hana duduk dan mulai membuka lagi ponselnya. Lagi-lagi pesan dari ibunya. Keluarga Watanabe mengalihkan tempat makan malam ke sebuah restoran. Ibunya mengirimkan alamat. Hana tidak bereaksi. Dia hanya terdiam. Dan mendongak ketika seseorang memanggil Aaron dan mengatakan bahwa mereka akan memulai lagi sesi pemotretan. Hana menyilangkan kakinya. Menatap obyek foto di mana Aaron berada. Dia sedang berpose dengan seorang model perempuan yang sangat cantik. Mereka melakukannya dengan sangat luar biasa. Hana berpikir seperti itu. Semua nampak luar biasa untuknya yang bahkan tidak bisa ber swafoto dengan baik. Hana berdiri ketika Aaron menghampirinya satu setengah jam kemudian. Aaron menyambar tas selempang Hana dan memakainya.  "Kita pulang? Kau ingin makan sesuatu?" Hana mengikuti Aaron setelah menggeleng. Mereka masuk ke dalam mobi Aaron yang terparkir di halaman. Hana memilih berada dibalik kemudi karena dia tahu Aaron sangat lelah. Dan benar saja, Aaron tertidur saat mereka baru saja melaju setengah perjalanan pulang. Hana berulangkali memastikan posisi Aaron cukup nyaman.  Sampai kemudian Hana membangunkan Aaron begitu mereka sampai di rumahnya. Aaron berjalan gontai. Sore menjelang. Hana berulangkali menatap jam di pergelangan tangannya. Namun dia akhirnya berada di dapur dan membuatkan Aaron bubur karena Hana tahu Aaron bahkan belum bisa makan apapun selain itu. Aaron bahkan membuat janji temu dengan dokternya besok pagi. Hana mendorong se nampan bubur dengan toping yang sedikit lebih padat dibanding dengan kemarin ke arah Aaron yang baru saja selesai mandi. "Aku harus pergi. Ibuku memintaku pulang." Hana juga meletakkan segelas teh di depan Aaron. "Aku akan melihat lihat jadwal mu. Map-nya kubawa, oke?" Hana melanjutkan ucapannya.  "Terimakasih." Hana mengangguk-angguk dan menyambar tasnya. Dia ingin bergegas karena tiba-tiba ibunya memintanya untuk sesegera mungkin pulang.  Mungkin ada sesuatu yang penting. Hana melangkah keluar. Meninggalkan Aaron yang terus menatapnya hingga menghilang di balik pintu. Dan Aaron mengernyit. Perlahan dia menyuapkan bubur dan menyumpit topingnya. *** Hana menunduk dalam. Posisinya yang bersimpuh membuat dia menunduk semakin dalam. Dia tidak bisa mengatakan apapun. Dia baru saja menetap ayahnya yang terlihat menahan dirinya. Ayahnya kini sedang berbicara dengan ayah Hiro. Sedang Hiro terlihat melakukan hal yang sama dengan Hana. Pria itu menunduk dalam.  Hana melirik sekumpulan foto yang berserak dari dalam sebuah amplop di meja restoran. Sesuatu yang membuat pembicaraan ayahnya dengan ayah Hiro menjadi sangat serius.  Sepuluh menit kemudian, setelah pembicaraan itu, keluarga Watanabe meninggalkan restoran. Mereka bahkan belum makan apapun. Hana sadar dia tidak akan mendongak. Tangannya meraih foto di meja. Tatapan ayahnya begitu tajam. Pria itu kembali duduk di depannya. "Kau harus menjelaskan semua ini. Kau tidak pernah mengecewakan kami. Tapi kau melakukannya sekarang." "Hana." Hana menoleh ke arah ibunya. "Aaron Daniel adalah bos ku. Dia melakukan hal itu pada semua orang. Foto itu memang seperti yang terlihat tapi aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya." "Kau tidak perlu melakukan hal itu. Hubungan kalian terlihat terlalu dekat. Dan itu sangat mengganggu untuk calon suamimu." "Perlukah dia me mata-matai aku hingga sejauh ini?" Hana bergeming ketika ayahnya justru menggebrak meja.  "Jangan menguji kesabaran ku!" Hana menulikan telinganya ketika ayahnya mulai mengeluarkan kata-kata buruk. Suara pria itu sangat berat dan ditekan sedemikian rupa. Dia terlihat sangat marah. Dan Hana tidak akan heran kalau nanti ayahnya akan melakukan sesuatu padanya. Dan benar saja. Hana mengusap sudut bibirnya dan merasakan bahwa ada luka lebam akibat tamparan ayahnya sebelum ayahnya beranjak pergi. Hana melirik ke arah pintu geser dan menemukan ibunya yang hendak mengikuti ayahnya pergi, berdiri dan menatap Hana prihatin. "Ibu akan mengirimi mu pesan." Hana kembali menunduk ketika pintu geser ruang makan private itu tertutup. Mata Hana menabrak foto dirinya dan Aaron yang bergandengan dan menyeberang jalan. Foto tadi siang.  Juga beberapa foto lainnya. Bagaimana pun caranya, orang suruhan Hiro Watanabe sudah mengambil gambar terbaik yang mereka bisa. Termasuk ketika Hana berciuman dengan Aaron di sofa dekat dengan jendela.  Sesi latihan itu. Yang terngiang di benak Hana adalah perkataan ayahnya bahwa mulai sekarang dia harus menurut pada Hiro.  Hana menghela napas. Mereka juga membicarakan tentang kemungkinan Hana untuk keluar dari pekerjaannya. Tapi Hana bisa memberikan jawaban bahwa pelanggaran kontrak kerja akan membuat semua semakin rumit. Dan ayahnya terlihat memikirkan hal itu. Berurusan dengan hukum bukanlah pilihan yang baik. Hana membenahi foto di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas. Dia beranjak. Rasanya pulang ke rumah tidak akan dia lakukan. Hana keluar dari restoran dan menemukan Hiro yang berdiri di samping mobilnya dengan dua orang pengawalnya. Hana berpikir apakah benar rumor yang mengatakan bahwa Watanabe adalah bagian dari Yakuza?  Hana berdiri berhadapan dengan Hiro.  "Masuklah." Hiro menunjuk mobilnya. Seorang pengawalnya telah membuka pintu mobil itu. Hana merunduk dan masuk ke dalam mobil Hiro. Sepanjang perjalanan entah kemana, mereka saling berdiam diri. Kaca pembatas mobil bahkan sudah diturunkan, tapi Hana tidak mendengar sepatah katapun keluar dari mulut Hiro. Bahkan hingga mobil memasuki halaman sebuah klub malam. Hana turun dengan canggung. Dia berjalan mengikuti Hiro dengan terseok karena tiba-tiba pria mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat keras.  Hingar bingar klub malam. Musik. Minuman keras. s*x.  Hana duduk dengan perasaan tidak nyaman. Hana membisu. Dia menunduk. Kehidupan itu jelas bukan untuknya. Lain dengan Hiro yang terlihat duduk dengan santai. Pria itu bahkan merokok sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa. Hana bertanya dalam hati apa maksud pria itu mengajaknya ke tempat seperti itu? Hana beringsut menjauh ketika Hiro bergerak mendekati nya dan mulai melakukan sesuatu yang menurut Hana tidak benar. Hana beranjak. Muak dengan suara Hiro yang tertawa dan mengatainya jalang. Walaupun suara Hiro teredam oleh hingar bingar musik di klub itu, Hana dapat membaca gerak bibir pria itu. Hana bergerak. Mengambil seribu langkah keluar dari klub malam itu. Tubuhnya gemetar. Dia mendekap tasnya di depan d**a dengan erat. Kakinya goyah. Tangannya bergerak melambai ke arah taksi dan Hana masuk ke dalam taksi dengan cepat.  Pilihan yang baik dari orangtuanya? Apakah mereka tahu yang sebenarnya bagaimana pilihan mereka? Hana menarik napas dan meniupkan nya lewat mulut berulangkali. Hiruk pikuk jalanan masih terasa. Hana mengabaikan kenyataan bahwa hari sudah cukup malam. Bahkan untuk sekedar bertamu. Hana berdiri di depan pintu rumah Aaron. Menunggu. Berharap pria itu ada di rumah. Dan Hana menarik napas lega ketika melihat pria itu terpaku di depan pintu. Aaron bahkan belum tidur. Dia masih memakai kacamatanya. Pria itu entah membaca atau sibuk di ruang kerjanya. Yang Hana tahu, bahwa Aaron segera saja membawanya masuk ke dalam pelukannya dan menutup pintu.  Berakhir dengan tatapan Aaron yang tajam menelisik. Aaron bahkan memegang dagu Hana hingga Hana mendongak. Aaron tahu ada yang tidak beres bahkan sejak siang tadi. Dan perasaan tidak nyamannya terjawab dengan luka lebam di sudut bibir Hana. Tapi sekarang bukan waktunya bertanya. Hana bahkan terlihat gemetar. Aaron bisa merasakan tangan Hana yang dia genggam berkeringat dingin dan gadis itu gemetar. "Tetaplah duduk." Aaron melepaskan genggamannya. Dia beranjak dan meraih kotak obat. Lalu dengan telaten dia mengompres luka lebam di sudut bibir Hana dengan alkohol. Ini adalah kali pertama Aaron melihat Hana seperti itu. Ketakutan dan terluka. "Kau ingin kita bicara sekarang?" Aaron menatap Hana lekat. Dan Aaron bisa melihat Hana menggeleng.  "Oke. Kau mau tidur sekarang?" Dan Hana menggeleng. "Oke." Aaron kehabisan kata-kata nya. Kalau ada satu hal yang dia tidak bisa di dunia ini adalah menghadapi situasi seperti sekarang ini.  Aaron menatap Hana yang masih melamun. Tangan gadis itu bertaut gelisah. Helaan napasnya yang putus asa membuat Aaron yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dan Aaron berniat menunggu sampai Hana mengatakannya. "Aku seharusnya tidak kemari. Hidupku sepertinya dalam bahaya. Seharusnya aku tidak kemari atau kau akan terlibat." "Apa karena pria itu?" Hana mengangguk. "Kita akan memikirkan semua berdua. Mengerti?" Hana mendongak. "Tapi...kenapa?" "Karena mengkhawatirkan mu mulai menjadi bagian hari-hari ku sekarang. Ooh...ini sedikit membingungkan." Aaron meraih tubuh Hana dan memeluknya erat. Malam turun ke pertengahan. Hati yang belum menemukan titik temu. Dan rasa yang belum menemukan kepekaannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD