"Hoh..." Hana menoleh cepat ke arah Aaron. Mereka lalu menatap jendela rumah yang terlihat mengenaskan. Kaca berserakan di lantai. Bercampur dengan batu yang sepertinya sengaja dilemparkan dari luar. Hana menoleh pada Aaron yang terlihat sangat tenang. Aaron meraih ponsel di saku celananya dan sepertinya menuliskan pesan penting pada seseorang. Mereka mendekat ke arah jendela dan mundur lagi karena pecahan kaca entah mengapa kembali berderak.
"Aku harus pergi dari sini. Ini...tidak baik untukmu. Wartawan akan..."
Aaron meraih bahu Hana dan mengajaknya berjalan ke arah ruang kerjanya. Aaron mendudukkan Hana di sebuah sofa dan menatapnya. "Kita akan memikirkan ini berdua bukan? Tenanglah. Media adalah urusanku."
Hana tercenung.
"Lagipula belum tentu semua ini ulah...pria itu." Aaron melanjutkan kata-katanya sambil membenahi rambut Hana. Hana terdiam sesaat. Seseorang akan merasa besar rasa kalau Aaron melakukan hal seperti itu. Dia seharusnya tidak begitu. Akan ada salah faham...
"Apa cuma aku yang yakin? Oh! Aku bahkan tidak mengerti sama sekali pikiran ayahku. Dan...kau memang seharusnya tidak terlibat. Aku..." Hana terbangun dari lamunannya tentang sikap Aaron yang terlihat sangat perhatian.
Aaron merunduk membuat Hana otomatis memundurkan tubuhnya. Apakah selama ini dia benar-benar yakin tahu berapa tinggi badan Aaron?
"Hana. Aku akan menyelidiki semua ini. Aku berjanji.
Aaron membiarkan Hana turun dari kursi dan mendorongnya untuk duduk. Perlahan Hana memeriksa kepalanya.
"Eh. Kenapa?"
"Diam lah dulu. Aku takut ada pecahan kaca...di kepalamu..." Hana berkata pelan sambil terus memeriksa kepala Aaron dengan teliti. Aaron memejamkan mata. Dia berpikir bahwa dia tidak pernah berinteraksi sedekat ini dengan siapapun...kecuali untuk kebutuhan peran.
"Kau mengantuk?" Hana menatap Aaron lekat. Aaron membuka mata dan mengerjap membuat Hana merutuk dalam hati. Dia...menyukai Aaron saat seperti itu. Dengan mulut yang sedikit terbuka dan pandangan bertanya. Sama persis dalam adegan film dua tahun lalu.
"Eh. Tidak."
Hana mengangguk dan beringsut dari depan Aaron. "Kau sudah membaik. Kau makan apa?"
Aaron menggeleng. "Aku menunggu dokter. Manager juga akan kemari."
"Apa aku perlu pergi?" Hana menoleh menatap ke arah luar ruang kerja.
"Tidak." Aaron melangkah sambil mengacak rambut Hana. Pria itu berjalan keluar. Hana menatap sekelilingnya. Dia tidak mungkin berada di rumah Aaron terlalu lama. Rumah itulah yang paling orang tuanya tahu. Orangtuanya tidak akan memikirkan tempat lain selain rumah Aaron yang juga menjadi tempat dia bekerja. Jadi...Hana berpikir dia harus pergi agar Aaron tidak semakin terlibat.
"Jangan berpikir untuk pergi."
Hana mendongak. Menatap Aaron yang masuk lagi ke ruang kerja sambil membawa dua mug teh. Aaron mengulurkan mug itu pada Hana. Hana menerima mug sambil melongok ke depan.
"Siapa yang datang?"
"Dua orang dari konstruksi. Mereka akan membenahi jendela."
"Oh. Selain dokter, apa ada jadwal lain?"
Aaron menggeliat meregangkan tubuhnya. Dan itu membuat Hana menaikkan satu alisnya.
"Aku tidak berlatih beberapa hari ini."
Hana mengangguk-angguk. Dia duduk di dekat meja kerja Aaron saat Aaron mulai sibuk. Dia mengeluarkan kotak cincin. Hana mengamati. Cincin itu terlihat lebih indah. Aaron mendongak.
"Bagaimana?"
"Huuum...aku belum bisa menilai."
"Tidak apa-apa. Aku ingin kamu melihat prosesnya." Aaron mengedipkan matanya. Hana menaikkan satu alisnya jengah. Melihat prosesnya? Lalu melihat Aaron menyerahkan cincin itu kepada seseorang?
Akan jadi momen besar tentunya. Hana mengamati Aaron yang menunduk. Pria itu...mengenalnya dua tahun lebih sedikit. Tapi Hana bahkan sudah membayangkan masa depan Aaron. Pria itu akan menjadi bintang yang bersinar. Memiliki kehidupan yang baik seperti sekarang ini. Dia akan tetap ramah. Dan akan menikahi seseorang kelak. Seseorang yang beruntung memiliki Aaron yang bisa segalanya.
Hana menghela napas. Tetap di sisi Aaron dan mengamati Aaron berkerja dengan telaten dengan cincin nya.
***
Aaron berdiri tegak. Dia merapatkan jaketnya sebelum akhirnya melangkah memasuki sebuah kafe di sebuah hotel di pusat kota.
Aaron langsung menuju sudut kafe dimana seorang pria sudah menunggu. Sambil menautkan tangannya, di kafe yang sangat private itu, Aaron mendengarkan dengan seksama pria di depannya berbicara. Tidak ada anggukan kepala atau pertanyaan keluar dari mulut Aaron. Wajahnya tak menyiratkan apapun. Sesekali mulutnya bergerak seakan menggambarkan apa isi kepalanya sekarang.
Tiga puluh menit kemudian pria di depan Aaron berdiri dan mengangguk hormat sebelum pergi. Aaron membalas anggukan pria itu. Lalu tatapannya tertuju pada sebuah map hitam di meja. Map yang baru saja ditutup oleh pria tadi.
Aaron membuka map itu. Penjelasan pria tadi seperti yang terlihat dalam map itu. Sangat detil dan sistematis. Sangat lengkap tanpa meninggalkan celah apapun dalam sebuah penyelidikan.
Tentang Mirea Hana Matsuzaka.
Wanita yang mengisi sisi kekhawatiran Aaron sekarang. Aaron bahkan sudah merasakan ada sesuatu yang besar ada dibalik masalah Hana yang terlihat hanya sebagai masalah perjodohan yang sepele.
Tapi, tidak ketika itu melibatkan klan Watanabe.
Aaron mengamati kertas kedua yang berisi informasi tentang klan itu. Hiro Watanabe jelas bukan pria main-main. Juga keluarganya. Mereka memiliki koneksi yang kuat dengan semua lini di kota itu. Berurusan dengan seseorang dari klan itu kan membuat seseorang menyisakan nama yang segera saja menjadi sebuah kenangan yang lambat laun akan terlupakan.
Aaron tersenyum sinis.
Apapun yang dilakukan oleh Watanabe pada Hana, itu adalah hal yang bisa pria itu lakukan. Tidak akan lebih dari itu. Dan perjodohan itu. Selama Hana tidak menginginkannya, maka hal itu tidak akan terjadi. Dan rumor yang disebarkan bahkan hingga keturunan ke lima tentang klan Matsuzaka, Aaron akan memupuskan sampai pada saat ini saja. Tidak akan ada kelanjutan yang membuat semua orang dalam klan itu di dera rasa cemas.
Ingatan Aaron melayang saat dua tahun lalu Hana menunggu untuk wawancara dengan duduk tenang di sofa ruang tamu rumahnya. Gadis itu mengirimkan CV bersamaan dengan beberapa orang lain. Dan Aaron sudah mempelajarinya. Aaron menerima Hana karena karena gadis itu berdedikasi tinggi pada pekerjaan yang dia tekuni sebelumnya.
Dan sebuah alasan khusus.
Sampai kemudian masa itu datang. Masa dimana apa yang Aaron dengar selama hidup dewasanya, menjadi kenyataan. Tentang klan Matsuzaka dan Watanabe yang terikat dengan simpul mati yang dihias dengan pita berdarah.
Aaron menutup map beranjak. Dia berbalik dan melangkah keluar dari kafe sambil membawa map itu bersamanya.
***
Rumah yang sunyi. Kesunyian yang ditingkahi oleh denting pedang yang beradu. Dan gerakan kaki tegas yang nyata nya sangat ringan hingga memperdengarkan desir angin yang sangat halus.
Aaron membenahi lipatan kimono nya dengan menegakkan bahu. Dia berdiri dengan tenang. Menunggu. Dia tidak sendiri di halaman rumah itu. Ada beberapa pria yang mengenakan kimono berdiri bersamanya dengan sikap hikmat.
Situasi itu sudah berlangsung selama sepuluh menit lebih. Namun tidak ada yang berubah. Semua pria itu masih berdiri dengan sikap hormat dan kepatuhan. Mereka--para pria di samping dan belakang Aaron -- sedang mendampingi Aaron yang baru saja tiba di tempat itu--, untuk bertemu Tuan rumah yang sedang berlatih pedang.
Kenji Kodame adalah generasi ke tiga marga Kodame. Dia adalah cucu pertama dari anak laki-laki Yosio Kodame.
Orang Jepang tidak akan pernah berani menanyakan siapa itu Yosio Kodame. Nama itu adalah keramat yang harus diucapkan dengan kehati-hatian dan dengan kepatuhan yang sebenarnya.
Yosio Kodame adalah seorang Admiral Muda pada masanya ketika dia berhasil menjadi pria yang berkharisma pada usia yang relatif muda yaitu 38 tahun. Dialah pria yang berhasil mempersatukan dua klan Yakuza terbesar di Jepang pada saat itu. Klan Yamaguchi--gumi yang dipimpin oleh Kazuo Taoka dan klan Tosei--Kai yang dipimpin oleh Hiyasuki Machii yang pada saat itu tengah bertikai hebat hingga terjadi pertumpahan darah dimana mana, berakhir dalam kendali Yosio Kodame. Dengan keringat dan darah, Yosio Kodame mempersatukan lebih dari 184.000 anggota Yakuza di seluruh Jepang pada periode 1958-1963.
Hingga pria itu meninggal sebutan sebagai Godfather Yakuza melekat padanya sebagai bentuk penghargaan dan pengabdian generasi setelahnya yang sekarang dipimpin oleh Kenji Kodame.
Angin bertiup semilir ketika Aaron merunduk patuh ke arah pria itu. Pria tua dengan tatapan membunuh sekaligus teduh. Kenji Kodame.
Suara berat segera terdengar.
"Aaron Daniel Kodame."
"Kakek." Rundukan Aaron semakin dalam ketika hatinya merasakan betapa dia menyukai kakeknya memanggil dengan secara utuh namanya.
"Masuklah."
***