Duduk bersimpuh setelah penerbangan 17 jam 35 menit adalah hal paling melegakan bagi Aaron. Duduk mengenang masa kecil dengan aroma rumah yang khas dan suasana yang sunyi. Angin bahkan sanggup mengirimkan suara gesekan pohon bambu yang ditanam mengelilingi kediaman Kodome, juga bunyi air yang terbelah oleh ikan yang berenang.
Teh hijau yang mengepul, harumnya membawa pikiran mengembara ke masa dimana semua masih sangat sederhana. Ketika masa kecil yang berjalan sangat mulus membentuk pribadi Aaron sekarang. Ketenangan, penuh pemikiran namun tidak pernah terduga. Aaron remaja, ber pembawaan sangat tenang dan briliant. Namun dia adalah pemuda yang bisa membuat seorang pria harus rela mengeluarkan darah dari tubuhnya karena Aaron menghajarnya hingga babak belur. Selalu ada alasan yang tidak bisa dibantah mengapa Aaron bisa melakukan hal seperti itu.
Suatu masa, itu terjadi ketika seorang pria menempatkan ibunya di kaki dan bukan di kepalanya. Semua orang tahu apa yang terjadi ketika Aaron melihat kesewenang-wenangan seperti itu terjadi di depan matanya. Maka masih beruntung seseorang itu ketika masih memiliki kesempatan untuk bernapas esok harinya dan memperbaiki kesalahannya.
Aaron bukan tidak memiliki kekurangan. Dia tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Semua dia pendam sendiri. Dia urus sendiri. Sampai kemudian Aaron memutuskan untuk mendalami dunia akting. Dan mulai menemukan dirinya yang sejati. Dia pria yang pandai mengekspresikan dirinya namun sedikit tidak mengasah kepekaannya.
Waktu yang tidak sebentar membawa Aaron pada dirinya yang sekarang.
Aaron tersenyum saat melihat kakeknya melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Mengibaskan tangan perlahan ke arah dalam agar uap teh sampai ke indera penciumannya dan mengirimkan hangat yang menenangkan. Aaron melakukan hal yang sama ketika dia menikmati tehnya. Sebuah cara sederhana untuk menstimulasi kinerja otak agar lebih tenang.
"Kau belum lama ini berkunjung, dan sekarang kau sudah datang lagi. Apakah ini tidak mengganggu pekerjaanmu?"
Aaron meletakkan cangkir teh yang terbuat dari gerabah dengan ukuran kecil.
"Tidak." Aaron merunduk hormat.
"Apakah ada yang penting?"
"Tentang Watanabe dan Matsuzaka."
"Tidak bisakah menghindarinya?"
"Ketika Watanabe melakukan kecurangan dengan berbisnis perjudian dan prostitusi, mungkin aku akan bisa mengatasinya tanpa harus merepotkan mu, kakek."
Aaron menatap kakeknya yang juga menatapnya tenang dengan mata teduhnya.
"Apakah sudah sampai pada masanya?"
Aaron terdiam. Tanpa memberi tahu kakeknya sekalipun, kakeknya akan segera tahu. Aaron mengangguk. Desas desus itu begitu membekas dan pada akhirnya melekat dalam pikiran seluruh klan dalam perkumpulan Yakuza modern.
"Bahkan pembunuhan itu sudah menemukan titik temunya. Tapi Watanabe selalu menolak kenyataan itu."
Flashback on
Musim semi di prefektur Osaka.
Bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan. Orang-orang bersemangat untuk berjalan-jalan di pagi dan sore hari. Begitu juga di pusat prefektur Osaka. Musim itu membawa kebahagian tersendiri untuk masyarakat di sana.
Hari yang lengang seringkali melingkupi bagian prefektur Osaka yang bernama jalan Kanagawa. Di sanalah nadi prefektur itu sebenarnya. Kaum Bakuto (penjudi) dan kaum Tekiya (pedagang) berdampingan dengan atmosfer yang saling mengacuhkan. Geliat kegiatan mereka berbeda. Kaum pedagang biasa pergi di pagi hari dan beristirahat di malam hari. Sedang kaum penjudi akan menggeliat pada malam hari dan tidur di pagi hingga sore hari. Mereka nyaris tidak pernah bersinggungan jika tidak ada lecutan yang berarti.
Klan terbesar dari dua perkumpulan itu adalah klan Watanabe (kaum Bakuto) dan klan Matzusaka (kaum Tekiya).
Selama bertahun-tahun bahkan dalam hitungan abad sejak nenek moyang mereka mendirikan prefektur itu, mereka tidak pernah bersinggungan dalam letupan yang besar. Pembicaraan tentang satu sama lain hanya sebatas bisik bisik yang tidak akan keluar dari dari wilayah masing-masing. Apalagi ketika hal yang dibahas adalah tentang keburukan.
Pada intinya, mereka akan saling melindungi. Hirarki kekuasaan benar nyata adanya. Keberadaan Oyabun (Boss atau Bapak) dan Kobun (bawahan/anak) dibatasi dengan benang merah yang sangat tebal dan nyata. Begitu juga juga dengan Senpai-Kohai (senior dan junior) mendarah daging dalam setiap anggota klan. Mereka membentuk persaudaraan yang sangat kuat. Saling melindungi agar semua anggota di dalamnya tidak terkena masalah. Memberikan pembelaan membabi buta hingga memicu pertumpahan darah antar prefektur di masa lalu. Dan di masa kini, keadaan reaktif lebih terkendali.
Sampai kemudian di pagi hari yang indah.
Musim semi di Osaka. Dengan bunga sakura yang sudah mekar sepenuhnya.
Dua sosok tergeletak di pinggir jalan. Penduduk dengan cepat membentuk kerumunan mengelilingi dua sosok itu. Semua mengidentifikasi sosok itu adalah Daichi Watanabe dan Aiko Matsuzaka. Masing-masing berumur 28 tahun dan 24 tahun. Desas desus mengatakan mereka saling menyukai dan sering mengadakan pertemuan rahasia karena kedua orang tua mereka tidak akan pernah memberi kan restu sampai kapanpun.
Penduduk hari itu juga mengurus keduanya. Dua klan saling diam sampai kemudian Daichi Watanabe tidak bisa bertahan dan meninggal setelah dua hari mendapatkan perawatan di rumah sakit. Kenyataan bahwa ditemukan unsur bunuh diri dengan meminum racun yang terbuat dari ramuan jamur yang berbahaya, tidak begitu saja melegakan keluarga Watanabe. Dan kenyataan bahwa Aiko Matsuzaka masih hidup setelah lima hari di rumah sakit, membuat keadaan memanas. Keluarga Watanabe entah mengapa mulai menimpakan kesalahan kepada keluarga Matsuzaka.
Klan Watanabe mulai membabi buta mengintervensi setiap gerak klan Matzusaka. Hingga kekejaman terjadi. Enam bulan setelah kejadian itu, Watanabe bersaudara mengambil Aiko untuk menjadi b***k s*x mereka. Lambat laun, setiap tahun selalu ada wanita dalam klan Matzusaka yang harus diserahkan kepada klan Watanabe. Matzusaka bukan tidak melakukan perlawanan. Namun mereka selalu menemui kekalahan dan terpojok karena kaum Bakuto memiliki backing yang sangat kuat dari mereka para Pachinko atau perkumpulan orang yang bergerak di bidang perdagangan obat-obatan terlarang yang berganti tahun bahkan mulai menyertakan amphetamine (termasuk ekstasi dan ice) dalam komoditi perdagangan terlarang itu. Mereka juga memiliki banyak bisnis prostitusi, pencucian uang, bahkan perdagangan senjata ilegal.
Kekalahan menjadi mutlak untuk pihak Matzusaka. Bahkan hingga masalah itu terdengar oleh pemimpin besar Kodame --yang segera melakukan penyelidikan besar-besaran---, dan menuai hasil bahwa bahkan sudah terjadi tindak pemerkosaan dilakukan oleh Daichi Watanabe kepada Aiko Matsuzaka sebelum kejadian itu. Dan penyelidikan menyeluruh menuai hasil bahwa Daichi Watanabe memaksakan ramuan racun untuk diminum oleh Aiko Matsuzaka. Dua pasal itu tidak mengubah sedikitpun pendirian Watanabe. Perjanjian tertulis dalam tinta hitam yang di simpul dengan benang berdarah. Berlaku sepanjang masa bahkan hingga Watanabe bersaudara dari jalan Kanagawa bermigrasi ke Amerika beberapa tahun setelah sebagian besar Matzusaka bersaudara mencoba peruntungan di negeri itu dan berharap dapat melepaskan diri dari perjanjian itu.
Sampai pada masa Mirea Hana. Yang bahkan tidak mengetahui bahwa ada hal yang mengancam keselamatan, mengintai bagai harimau yang menunggu mangsanya lengah.
Benang merah itu juga yang mempertemukan Aaron Daniel dengan Mirea Hana.
Flashback off
Teh yang dituang untuk kedua kali. Dan setelahnya adalah helaan napas Kenji Kodame.
"Nikmati hidupmu Aaron. Menertibkan Watanabe adalah urusan kami. Selama anak buah bisa mengatasi, kau tidak perlu melibatkan diri."
Aaron menekan kedua lututnya dengan kedua tangan. Dia tidak akan pernah melanggar ketentuan kakeknya.
"Apakah kau membawa gadis itu kemari?"
Aaron mendongak. Lalu mengangguk. Dia memang membawa Hana yang kebingungan bersamanya. Aaron merasa itulah satu-satunya jalan paling aman yang bisa dia lakukan untuk sementara waktu sampai dia mendapatkan kejelasan dari kakeknya, bagaimana seharusnya tindakan yang harus dia ambil.
"Bawalah dia kemari. Rumah ini adalah tempat paling aman."
Aaron tidak menjawab atau mengajukan pertanyaan. Titah kakeknya sekarang tak ubahnya titah Kenji Kodame sebagai pemimpin Yakuza. Bukan sebagai titah pria yang memiliki ikatan darah dengannya. Aaron hanya mengangguk dan berdiri lalu merunduk hormat ketika kakeknya sudah mengibaskan tangannya lembut menyuruhnya untuk segera pergi menjemput Hana.
***
"Kau sudah makan?"
Hana nyaris menggeram ketika mendengar pertanyaan itu dari Aaron. Mengapa ditengah kebingungan dan kekalutannya saat itu, Aaron harus mengajukan pertanyaan keramat itu? Mengapa Aaron tidak bertanya apakah dia baik-baik saja?
Tapi Hana mengangguk.
Hana menatap Aaron yang membenahi kopernya.
"Pakai sepatumu." Aaron berkata singkat sambil memakaikan Hana jaket tebal.
"Kita mau kemana?"
"Ke rumahku."
"Jelaskan ada apa?"
Aaron menatap Hana sambil membenahi kerah jaket yang dia pakaikan untuk Hana.
"Bukan seperti ini cara menjelaskan semua padamu. Kau harus tenang dulu. Dan di sini kau tidak bisa tenang."
"Di sini nyaman."
"Tapi tidak ada aku di sini." Aaron menepuk pipi Hana perlahan. Dia memberi kode pada Hana untuk mengikutinya keluar dari kamar hotel. Aaron menarik koper Hana. Koper itu sebenarnya milik Aaron dan Aaron mengisinya dengan baju-baju baru untuk Hana bawa bersamanya.
Hana mengikuti Aaron dan mencoba mensejajarkan langkahnya. Mereka memasuki lift saat Aaron merapatkan topi untuk menyamarkan dirinya. Mereka turun ke lobi. Aaron segera menyerahkan kartu kepada petugas penerima tamu di lobi. Hana mengikuti Aaron menuju sebuah mobil dengan seorang supir yang sudah menunggu di halaman hotel. Hana masuk ke dalam mobil begitu Aaron membukakannya pintu. Mobil melaju cepat meninggalkan hotel.
Hana terdiam sepanjang perjalanan. Sesekali dia menoleh pada Aaron. Dia ingin sekali menanyakan perihal kedua orangtuanya. Namun hal itu urung dia lakukan karena Hana melihat Aaron tengah sibuk dengan ponselnya. Hana hanya menghela napas. Namun Hana tidak bisa menahan diri lagi. Tangannya terulur melingkarkan diri ke lengan Aaron. Sejenak Aaron terlihat terusik. Namun pria itu diam saja. Menyimpan ponsel dalam saku jasnya dan dan menatap ke depan.
"Aku takut."
"Tenanglah. Aku tahu apa yang aku lakukan. Kau hanya harus percaya padaku."
Hana terdiam. Dia sangat lelah. Hana bahkan gelisah sepanjang siang karena Aaron tak kunjung kembali ke hotel. Dan sekarang Hana berpikir bahwa dia mengabaikan hatinya sendiri untuk tetap bisa menjaga jaraknya dengan Aaron dan bersikap layaknya pekerja dengan majikan. Hana benar-benar membutuhkan Aaron karena dia bahkan gemetar sejak menginjakan kaki di Osaka. Hana merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa? Dia bisa menanyakan pada Aaron nanti, apa yang harus dia lakukan? Tapi dia membutuhkan pria itu untuk menenangkan kepanikannya.
Meminjam lengannya sebentar saja sudah cukup.
Hana beringsut. Namun gerakannya terbantah tangan Aaron yang tertarik ke belakang tubuhnya dan menariknya untuk tetap mendekat padanya.
Hana mendongak dan menatap Aaron. Pernahkah ketika menatap bayangan nya dalam cermin Aaron menyadari bahwa dia punya jaw line yang menawan? Sepanjang hidupnya Hana hanya pernah melihat dua pria memiliki jaw line yang menawan. Seorang idol dari negeri ginseng bernama Kim Ji-won
memiliki garis rahang yang sangat kuat dan menawan. Kim Ji-won mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tampan, namun mata semua orang tidak akan pernah membantah bahwa dia memiliki garis rahang yang menawan.
Begitu juga dengan Aaron.
"Tidurlah sebentar. Nanti aku akan membangunkan mu begitu kita sampai."
Hana tidak menjawab. Dia memang benar-benar lelah dan bingung. Dan juga takut. Ketakutannya lah yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran nya.
Hana memejamkan matanya. Merangkai dalam pikirannya, sakura yang bermekaran yang tadi dia lihat. Juga menghidu aroma Aaron yang berubah menjadi wangi greentea yang menenangkan.
Hana terlelap dalam lelah.
***