PART 6

2576 Words
Membuka jendela kamar dengan desain geser khas Jepang dan menemukan rumpun bambu yang tertiup angin pagi hari yang sedikit dingin, membuat Hana menutup mata sejenak. Sinar matahari menerobos rimbun daun bambu seakan berlomba mengalahkan sisa-sisa kabut yang turun dini hari tadi. Hana mendongak sejenak. Matahari perlahan mengusir selimut pekat bernama malam hari dan menggantinya dengan sinar terangnya. Mengatakan pada bumi dan seisinya, bahwa dia yang akan menjadi penguasa hari itu. Hana menghirup udara kuat-kuat lalu menghembuskan nya perlahan. Dia bisa merasakan aroma daun bambu yang menyegarkan. Hana menajamkan pendengarannya. Dia termenung dan bisa mendengar suara gemericik air sekalipun tidak terlihat sebuah kolam di dekatnya. Dan wangi sakura. Hana berbalik dan berjalan menuju sebuah wastafel. Perlahan dia mencuci wajah dan menggosok giginya. Sejenak dia melirik kopernya yang ada di lantai di sudut ranjang. Yang Hana ingat terakhir kali adalah dia tidur dalam perjalanan ke rumah itu. Dan bangun pagi itu dengan perasaan yang lebih tenang. Hana menggeram perlahan. Dia pasti sangat merepotkan Aaron. Hana mengeringkan wajahnya lalu berjalan perlahan menjangkau pintu. Menggesernya dan keluar. Yang Hana lihat adalah selasar rumah yang terbuat dari kayu yang begitu halus dan mengkilap. Hana berjalan pelan dan nyaris menjerit ketika seseorang menariknya. "Bu! Bagaimana bisa kau di sini?" Suara Hana mencapai nada terendah dengan cepat begitu melihat ibunya yang meletakkan jari telunjuk ke bibirnya. Ibunya menarik Hana dan mereka sampai ke sebuah kamar yang sedikit jauh dari kamar Hana. Kamar dengan nuansa sama dengan kamar yang Hana tempati. "Mengapa kau tidak pernah sekalipun bercerita bahwa bos mu adalah seorang Kodame, Hana." Hana mengikuti ibunya untuk duduk bersimpuh. Mereka berhadapan di depan sebuah meja kecil dengan teh yang menguarkan harum daun hijau yang sangat pekat seperti sebuah aroma terapi. "Aku tidak pernah tahu sampai hari ini, saat ini. Dan siapa...Kodame?" Hana menatap ibunya yang menuangkan teh dalam dua cangkir keramik. Ibunya itu menggeleng memperingatkan agar Hana mengecilkan suaranya. Perlahan ibunya mulai bercerita. Sebuah cerita yang membuat Hana meletakkan kedua tangan di d**a demi menenangkan degup jantungnya yang secara bertahap semakin cepat. Hana tidak pernah menyangka apalagi memikirkan--sekalipun dalam hidupnya--, bahwa kedua orangtuanya menyimpan masalah se pelik itu. Dan...semua pada akhirnya bermuara pada Hana sebagai keturunan wanita satu-satunya dalam keluarga Matsuzaka. Hana mulai mengingat semua saudara nya dalam satu garis keturunan, dan hanya dirinyalah keturunan wanita dalam garis keturunan itu. Anak paman dan bibinya yang tinggal di Virginia dan Atlanta semua adalah pria... "Anak buah Aaron membawa ibu dan ayahmu ke rumah ini, Hana. Kami bahkan bingung mencari mu. Tapi Aaron menghubungi ayahmu untuk tidak perlu khawatir. Kami tiba semalam. Ibu tidak tahan ingin melihatmu, tapi Aaron bilang kau sudah tidur dan sangat lelah." "Huuum..." Hana mengangguk. "Apakah lukamu sudah membaik?" Hana menatap ibunya yang mengamatinya dengan teliti. Dan lagi-lagi Hana mengangguk. "Aku baik-baik saja." "Kenapa kau murung seperti itu?" "Bu...tidak bisakah jangan merepotkan Aaron dalam masalah ini? Apakah bicara lagi dengan keluarga Watanabe tidak mungkin lagi? Hana menatap ibunya yang terlihat menerawang. "Kau akan tahu masalah ini bukan sekedar masalah perjanjian keramat itu, Hana. Ada banyak masalah para pria di dalamnya yang tidak akan kita mengerti. Kita harus menunggu ayahmu." "Dimana ayah?" "Aaron mengajaknya melihat latihan pedang." Mulut Hana membentuk huruf o dan dia mengangguk dengan wajah heran. "Ada apa denganmu dan Aaron?" Hana yang memperhatikan pintu keluar menoleh pada ibunya cepat. Dan Hana menggeleng. "Kami? Tidak ada apa-apa." "Aaron tidak akan sebegitu perduli kalau tidak ada apa-apa Hana." "Aaron pria yang baik pada siapapun. Bukan hanya padaku, Bu." Hana menatap ibunya yang terdiam dan menyesap tehnya. Hana sangat tahu bahwa ibunya menyimpan banyak tanya di matanya. Namun Hana merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada ibunya. Karena memang tidak ada apa-apa antara dirinya dan Aaron. Satu hal yang pasti, Aaron terlibat semua itu karena Watanabe sudah mengusiknya dengan melakukan kebrutalan di kediamannya. Dan semua itu akan selamanya membuat Hana merasa bersalah. Sudah seharusnya dia berbicara ada Aaron agar masalah itu tidak berlarut larut. Hana menyesap tehnya. "Aku akan mencari Aaron." Hana beranjak. "Bertanyalah hal yang perlu saja Hana. Tidak membantahnya jelas hal paling baik sekarang. Aku bahkan melihat semua filmnya. Tapi aku tidak menyangka Aaron yang kulihat semalam sangat berbeda. Aku bahkan masih shock mengetahui bahwa dia adalah pewaris klan Kodame." Hana berjalan keluar dari kamar ibunya dan berpikir bahwa dia merasakan hal yang sama dengan ibunya. Aaron terlihat sangat berbeda. Aaron yang sekarang jelas terlihat sebagai seseorang yang memiliki kendali penuh pada apa yang ada di sekitarnya. Hana merasakan aura kuat yang membuatnya merinding. Hana melangkah dan turun dari selasar lalu memakai sepasang sandal tradisional Jepang yang ada di dekat undakan. Dia berjalan perlahan mengikuti jalanan setapak dari kayu dengan pohon bambu di kanan dan kirinya. Jalanan itu terlihat sangat panjang. Sesekali Hana berhenti dan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apakah Aaron ada di sekitar tempat itu. Namun sampai di ujung jalan Hana tidak melihat pria itu. Hana menapak rerumputan dan kembali berjalan perlahan. Dia menajamkan pendengaran dan mendengar suara desing pedang yang menebas udara. Hana menoleh ke sisi kirinya. Menemukan tanah lapang yang cukup luas. Dua orang pria dengan baju tradisional kimono tengah melakukan gerakan yang sangat indah dengan pedangnya. Hana berdiri mematung menunggu dua pria itu selesai. Dan lima menit kemudian, dua pria saling merunduk. Salah satu pria itu lalu pergi menjauh dengan membawa pedang Aaron bersamanya. Aaron menoleh pada Hana dan menghampirinya. Pria itu berdiri di depannya. Tampak menjulang sekalipun Hana bukan gadis yang pendek untuk ukuran wanita seumurannya. "Kau sudah makan?" Pertanyaan keramat dari mulut Aaron membuat Hana mendongak. Lalu menggeleng. Hana bahkan tidak merasakan lapar karena dia terlalu bingung dan pada akhirnya penasaran. "Kau ingin jalan-jalan sebentar?" Aaron menoleh dan Hana mengikuti pendangan mata Aaron. Menapak rerumputan tidak terlalu buruk untuk mengusir rasa gelisah. Sisa-sisa embun pagi pasti masih banyak karena matahari belum meninggi. Hana mengikuti langkah Aaron. Mereka berjalan dalam diam. Hana sedikit menjauh dan menggeser langkahnya ketika dia merasa tangannya bersentuhan dengan tangan Aaron. Hana menoleh sesekali pada Aaron dan melihat Aaron begitu nyaman memakai baju tradisionalnya. Hana tersenyum kecil. Mereka berhenti di sebuah kursi kayu di tengah tanah lapang berumput. Hana mengikuti Aaron yang duduk dan meluruskan kakinya. Hana terdiam. Suasana tempat itu sangat sunyi walaupun tidak terlalu jauh dari rumah induk. "Di ujung sana..." Aaron menunjuk kejauhan. "...ada perkampungan penduduk. Sangat tradisional, tapi sudah banyak wisatawan yang datang jadi sedikit agak ramai." Hana mendengarkan perkataan Aaron sambil merasai kesunyian tempat itu. Klan Kodame jelas orang-orang yang memiliki uang yang berlebih hingga memiliki properti seluas itu. Mereka terdiam. Sampai kemudian Hana merasakan Aaron menoleh dan menatapnya lekat. "Kau ingin bertanya sesuatu?" "Ibuku sudah menceritakan semua secara garis besar. Dan...kami merepotkan mu." "Kau adalah bagian kecil pemicu semua ini terjadi Hana. Hanya bagian kecilnya. Ada masalah yang lebih besar dari sekedar perjanjian konyol itu. Kami memang sedang mengurus hal-hal penting dan berbahaya terkait dengan keluarga besar Watanabe. Jangan merasa bersalah. Terjadi atau tidaknya apa yang terjadi padamu, kami tetap akan sampai pada masa sekarang ini. Watanabe adalah klan yang sangat sulit ditertibkan. Kami tidak bisa berdiam diri lebih lama." "Aku mengerti." "Jangan mengendurkan kewaspadaan. Kau harus tetap menjaga dirimu selama di sini. Aku sudah meminta seseorang untuk menemanimu kalau kau ingin keluar sejenak. Atau kau bisa memintaku." Hana menunduk. Lalu menoleh dan pandangannya bertemu dengan Aaron yang masih menatapnya. "Kita ini...apa? Bukankah seharusnya aku tidak merepotkan seperti ini?" Hana seketika menutup mulut dengan kedua tangannya karena merasa dirinya sangat lancang. Apalagi ketika dilihatnya raut wajah Aaron yang tidak berubah sama sekali. Rasanya Hana ingin berdiri dan berlari sejauh mungkin dari tempat itu. Namun yang dilakukannya sekarang adalah dia terdiam dan menyesali semua perkataannya dalam sekejap mata. Sampai Hana merasakan tangan Aaron menyentuh tengkuknya dan ikatan rambutnya terlepas. Rambut Hana ter urai. Hana meluruhkan tangannya lalu membiarkan kedua tangannya bertaut gelisah. Udara hangat dan aroma pria yang sangat pekat menerpa wajah dan indera penciuman Hana saat Aaron mendekatkan wajahnya dengan mata terlihat menyelidik. Mata dengan manik hitam itu terlihat bersinar seakan tersenyum. Hana baru saja ingin memundurkan kepala ketika Aaron berbisik sambil menarik tengkuknya untuk mendekat padanya. Sungguh sisa jarak satu telunjuk itu tiba-tiba sangat menyiksa Hana. Bukankah mereka tidak ada janji apapun untuk berlatih adegan sesuai skrip? "Apa kau memikirkan aku dengan sangat banyak?" "Eh?" "Apa aku menyakitimu dengan sangat banyak, Hana?" "Kau? Tidak?" Hana menjawab lirih. Dia tersentak kecil dengan suaranya sendiri. Mengapa suaranya bahkan terdengar sangat aneh? "Apa aku harus mengatakan dengan gamblang tentang apa kita?" Hana mengangguk tanpa sadar. "Apa ini tidak cukup...?" Hana tersentak ketika bibir hangat Aaron menyambar bibirnya dan melumatnya lembut. Hana merasakan napasnya terhenti saat itu juga sampai Aaron menggigit bibirnya kecil. Bibir itu mengajak menari sesaat setelah Hana menghirup napas. Hana memejamkan mata dalam bingungnya. Bibirnya mengikuti hasratnya. Menyambut bibir Aaron dengan gerakan lembut. Decapan bibir mereka berpadu dengan sunyi dan gesekan dedaunan. Sebuah harmoni sederhana yang membuat Hana melayang. Sampai Aaron menarik dirinya dan menatap Hana dengan tatapan lembut. Hana mengatur napasnya. Namun semua sia-sia ketika Aaron kembali menciumnya. Kali ini dengan sedikit keras dan membuat Hana tersentak lebih lagi. Bibir itu...terlihat sama sekali tidak sopan. Mencium dengan sedikit memaksa dan Hana merutuk dalam hati karena dia sangat menyukainya. Itu bahkan lebih indah dari adegan film manapun. Hana bahkan merasa dirinya harus memegang pinggang kimono Aaron untuk memastikan dirinya tidak jatuh. Atau melakukan hal yang memalukan seperti...pingsan tiba-tiba. Dan Aaron yang mengumpat perlahan sambil tertawa kecil. Dia menarik dirinya dan menatap Hana lekat. "Kau sangat menggemaskan!" "Eh." Aaron mengangguk. "Aku bukan anak kecil..." Mulut Hana mengerucut. "Aku tahu. Apa kau masih akan bertanya kita ini apa?" Hana terdiam dan menarik tangannya dari pinggang kimono Aaron. "Kau menyukaiku." Hana mengucapkan kata yang terlintas di kepalanya. Dia menatap Aaron lekat. "Huum..." Aaron mengusap dagunya. "Jangan meledekku!" Hana berdiri saat Aaron justru tertawa pelan. Apakah Aaron menganggap semua itu sebuah lelucon? Aaron ikut berdiri dan menarik tangan Hana yang tengah kesal. Mereka melangkah hingga ke ujung tanah lapang. Hana menahan napas tak percaya. Mereka ternyata berada di dataran tinggi. Dari tempat mereka berdiri, Hana bisa melihat sebuah ngarai luas dengan perkampungan penduduk yang Aaron katakan tadi. Sangat indah seperti sebuah lukisan. Hana bisa melihat sawah dengan padi yang menguning. Juga deretan rumah kaca para petani sayuran dan buah. Hana menoleh saat Aaron meremas tangannya dan menarik tubuhnya untuk menghadap ke arahnya. Mereka berdiri berhadapan. Hana mendongak dengan wajah penuh tanya. "Aku mencintaimu. Maukah kelak menikah dan hidup di tempat ini sampai kita menua bersama?" Hana terpaku. Bibirnya yang tersenyum karena mengagumi pemandangan ngarai  di bawah sana seketika membeku. Senyumnya hilang perlahan karena dia begitu terkejut. Hana mengamati wajah Aaron lekat. Mengenal Aaron selama dua tahun lebih jelas membuat Hana tahu Aaron begitu banyak. Dia adalah mimpi banyak wanita di dunia ini. Dan Aaron menjatuhkan cintanya...padanya? "Apa aku harus mencium mu sampai..." Hana menggeleng. Tangannya bergerak memeluk pinggang Aaron. Membawa dirinya begitu rapat pada pria itu. Aaron tidak perlu melakukan apapun untuk membuktikan semua ucapannya. Hana bahkan hanya ingin menangis. Menangisi semuanya. Menangisi kesadarannya sendiri. Bahwa selama ini dia begitu sakit hati karena berusaha sangat kuat untuk mengingkari perasaannya pada Aaron dan berpikir perasaanya adalah rasa kagum pada Aaron yang akan hilang seiring dia yang semakin terbiasa berada di dekat Aaron. Hana melakukan itu. Menekan perasaanya. Hanya karena dia seorang wanita yang sudah sepatutnya diam dan mengubur perasaannya sebagai sebuah ketidakpantasan. Itulah yang selama ini dia pikirkan. Dia hanya seseorang yang beruntung bisa bekerja dengan Aaron. Pekerjaan yang mungkin membuat iri semua wanita. Dan untuk hari ini. Hana hanya berpikir tentang sebuah rasa bersyukur. "Jangan menangis." "Aku menangisi berapa puluh kali lagi kau akan melakukan adegan berciuman dengan lawan main mu." Aaron tertawa keras. "Kau sakit hati melihatnya, huuh? Selama ini?" Hana terdiam. Dia tidak memungkiri itu. Dia bahkan membuat skip yang panjang setiap dia menonton film Aaron dan sampai pada adegan mesra Aaron dengan lawan mainnya. "Aku melakukannya di depan banyak kru. Banyak sekali orang." Aaron berusaha memberi penjelasan. Dan Hana tetap menggeleng. Sepertinya hubungan mereka akan sedikit sulit karena kecemburuan yang sedikit berlebihan. "Baiklah. Kau harus makan." Hana membuang pandangannya. Menghindari tatapan Aaron yang menatapnya tanpa berkedip. "Aku lebih menyukai memakan mu." "Aaron lepas!" Hana mencoba berkelit namun Aaron memeluknya erat. Pria itu bahkan mulai menyusur leher Hana dan memberi tanda kepemilikan di sana. "Aaron!" Aaron menatap Hana lembut. Pria itu tersenyum kecil. Mengusap leher Hana perlahan dan membawa Hana ke dalam pelukannya sekali lagi. Dan Hana bergerak menjauh ketika dia melihat dua orang pria dengan kimono menghampiri mereka. Mereka membungkuk hormat ketika tiba di depan Aaron dan Hana. Pria dengan kimono warna abu-abu berbisik pada Aaron dan Aaron segera mengangguk. "Temui lah ibumu dan segera makan. Kita kembali ke rumah sekarang." "Apa ada yang serius?" "Kita bicara lagi nanti. Kenjiro akan mengantarmu ke rumah induk. Aku harus menemui kakekku." Pria dengan kimono hitam yang bernama Kenjiro mempersilahkan Hana mengikutinya. Hana berjalan mengikuti pria itu dan sesekali menoleh ke arah Aaron yang masih berbicara dengan pria yang memakai kimono berwarna abu-abu. Sesuatu yang serius? *** Dalam bilik-bilik kokoh yang terlihat seperti kamar yang berderet. Dalam setiap bilik di lantai dua sebuah rumah megah di pinggiran Osaka. Wanita-wanita muda terlihat terkapar menunggu tamu selanjutnya. Tamu yang datang demi melepaskan hasrat mereka. Para pria. Tua dan muda. Dari kalangan dengan kantong yang sangat tebal. Dari berbagai lini pekerjaan. Praktisi hukum. Pendidikan. Dan para pengusaha. Terjebak atau menyerahkan diri dengan sukarela ke tempat itu adalah pilihan yang pada akhirnya terlihat sama. Menjadi p*****r dengan bayaran tinggi. Membuka kaki untuk paling tidak  enam pria dalam sehari. Membiarkan benih-benih para pria itu lebur dalam rahim mereka. Lalu akan luruh dengan sendirinya karena para p*****r itu telah diberikan obat agar mereka tidak sampai hamil. Hampir bisa dipastikan, tempat itu selalu ramai oleh pengunjung. Mereka yang sudah membuat janji atau mereka yang sekedar minum dan berjudi di lantai bawah. Namun yang pasti adalah tempat itu adalah tempat mengumbar maksiat. Dalam sebuah bilik di deretan paling ujung. Kamar itu adalah yang termewah. Di sana lah di tempatkan p*****r yang menjadi bunga tempat itu. Dengan bayaran paling mahal karena dialah yang paling di sukai oleh pelanggan. Lenguhan yang sama sekali tidak ditahan. Keluar dengan liar dalam bilik itu. Kegiatan panas yang membuat tempat itu semakin membara. Seorang wanita dalam ketelanjangannya. Menutup mulutnya karena nikmat yang tak tertahankan. Seorang pria menggagahinya dengan bersemangat sambil menatap p******a wanita itu yang bergoyang seiring hentakan yang dia lakukan di bawah sana. Pria itu melenguh. Menghentak begitu kuat. Wanita itu menjerit. Jeritan yang terdengar lebih sebagai sebuah kesenangan. Wanita itu mendesah hebat ketika sang pria membalik posisi mereka. Wanita itu dengan liar menunggangi sang pria dan membiarkan pria itu menyesap nikmat payudaranya. Wajah sang pria terlihat memerah ketika wanita itu menghentak dengan liar. Berguncang hebat dengan pria itu memegang pinggulnya dan meremas bokongnya keras. Kegiatan itu bahkan sudah berlangsung selama tiga puluh menit. Dan wanita itu tahu, pria itu akan segera mendapatkan pelepasannya. Wanita itu bergerak semakin liar. Menghentak. Mencengkeram. Menghisap kuat kejantanan pria itu di dalamnya. Hingga pria itu membalik posisi mereka lagi. Menggagahinya dengan keliaran yang hampir mencapai ujungnya. "Aaaargh....aaargh..." Bunyi kecipak pergumulan itu terdengar dan terserap sempurna dalam neuron otak pria itu. Pria itu mulai meracau. Mulutnya bergerak seiring kejantanan nya yang semakin mengeras. Dan lolongan terdengar... Ketika keduanya sampai pada tujuannya. Sebuah kenikmatan dunia. Pria itu bergerak. Keluar dari wanita itu dan berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan sang wanita yang menatap punggung pria bertato naga itu. Selamanya...percintaan itu akan menjadi bagian terbaik dari hidup sang wanita. Karena dia adalah kesayangan pria itu. Sang pemilik rumah bordil paling megah di pinggiran Osaka. Hiro Watanabe. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD