Hana akan selamanya mengingat pagi itu. Ketika dia berkesempatan untuk sarapan bersama dengan Kenji Kodame, kakek Aaron. Hana merasakan sebuah wibawa yang tidak terbantah yang membuat nyalinya mengkerut tanpa dia sadari. Kenji Kodame jelas memiliki apa yang disebut aura mengintimidasi sekalipun pria itu tidak melakukan apapun. Hana masih bisa bersikap biasa bahkan ketika dia mengetahui bahwa kebanyakan pria dan wanita yang ada di lingkungan itu begitu tunduk pada pemimpin mereka. Hana masih bisa memahami sampai dia merasakan pengalamannya sendiri, berhadapan langsung dengan pemimpin klan Kodame. Pria itu, tidak terbantah.
Hana menarik napasnya panjang. Sekarang yang dia lakukan adalah membantu dua orang wanita yang tadi bertugas menyiapkan sarapan. Dia perlu melakukan apapun agar dia merasa tenang. Jantungnya bahkan berdetak gugup. Aliran darahnya seperti berdebur tiba-tiba. Bahkan Aaron memiliki aura kakeknya itu ketika dia berkumpul dengan anggota klan lainnya dalam sarapan besar pagi itu. Aaron yang hangat seakan berubah menjadi dingin dan mematikan.
"Jangan melamun."
Hana menoleh dan menatap ibunya yang berjalan keluar dari ruang makan. Lalu tatapan Hana kembali ke arah meja makan.
Hana menjangkau piring bekas makan dan menatanya di atas sebuah nampan. Dia bergegas keluar dan menuju dapur. Menyerahkan piring-piring kotor itu pada seorang wanita yang tersenyum ramah padanya. Hana berjalan di sepanjang selasar menuju kamarnya. Dia berakhir menutup pintu dan duduk di tepi ranjang.
Dalam lamunannya, Hana memikirkan tentang Aaron yang bahkan belum mengatakan apapun padanya terkait dengan masalah mereka sekarang. Hana sudah berbicara dengan ayahnya yang sepertinya memilih mengikuti apa yang menjadi rencana klan itu. Ayahnya bahkan berkata pada Hana untuk tetap diam. Karena perempuan dalam sebuah keluarga besar dimana pun di Jepang itu selalu ditempatkan dalam posisi diam apalagi ketika masalah yang datang adalah murni urusan para pria.
Hana menghabiskan waktunya dengan membuka laptop dan mengerjakan apa yang tertunda terkait dengan pekerjaannya sekalipun Aaron tidak memberitahu kapan mereka akan kembali ke Amerika dan Aaron kembali lagi pada pekerjaannya.
Hari diselingi dengan makan siang dan makan malam. Tanpa Aaron dan keluarga besarnya. Hana memilih berlama-lama di kamar mandi pada malam hari sebelum meringkuk di ranjangnya. Setelah sarapan dia bahkan tidak menemukan Aaron di manapun sepanjang hari. Pikiran Hana menjadi sibuk dengan menebak nebak segalanya.
Hingga pagi menjelang. Dan tiba waktu sarapan lagi.
Hana nyaris membuka mulutnya dan bertanya pada Aaron yang ada di ujung meja seandainya saja ibunya tidak menatapnya memberi peringatan. Pada akhirnya Hana hanya menatap Aaron yang terlihat diam seperti kemarin. Hana terus mengamati Aaron yang pagi itu terlihat memiliki banyak memar di wajahnya.
Semua makan dalam diam hingga sarapan itu selesai dan semua membubarkan diri. Hana, seperti hari kemarin, membantu membenahi meja lalu memilih masuk ke dalam kamarnya.
Hana terpaku di depan pintu yang sudah dia tutup karena mendapati Aaron yang merebahkan tubuh di ranjangnya. Aaron mengangkat kepalanya ketika dia mendengar pintu dibuka dan ditutup kembali.
"Kau tidak makan dengan benar."
Kali ini bukan sebuah pertanyaan apakah Hana sudah makan? Yang terdengar sekarang adalah Aaron yang mengajukan protes tentang Hana yang tidak makan dengan benar. Bagaimana bisa makan dengan benar kalau melihat Aaron seperti itu?
Hana mendekat ke arah Aaron dan duduk diam. Aaron beranjak duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Hana.
"Kau dari mana? Kenapa luka-luka seperti ini?"
"Aku sudah menghubungi agensi untuk rehat cukup lama." Aaron tidak menjawab pertanyaan Hana.
"Kau luka-luka..."
"Kau akan sering melihatku seperti ini."
"Eh."
"Aku sudah bersiap sejak lama. Akan tiba masa sekarang ini. Saat aku harus sedikit demi sedikit mengurus keluarga besar dan kewajiban mereka. Aku termasuk di dalamnya, jadi aku memenuhi kewajiban ku."
"Kewajiban?"
Hana menatap Aaron yang mengangguk.
"Apakah kewajiban itu akan membuatmu selalu pulang dalam keadaan seperti ini?"
"Mungkin."
"Kewajiban apa yang membuat seseorang harus terluka seperti ini?"
"Akan sangat panjang kalau aku menceritakan padamu, Hana. Tapi secara garis besar, kami bertanggung jawab untuk sebuah perkumpulan besar dengan bisnis yang sangat kompleks, penuh intrik licik, persaingan yang mengharuskan pertumpahan darah. Kami adalah orang-orang yang harus membuat semua anggota klan tertib."
"Yakuza?"
Hana tercekat ketika Aaron mengangguk. Hana pernah membaca di mesin pencarian tentang kelompok itu ketika suatu hari dia mendengar para sepupunya dengan bisik bisik membicarakan tentang kelompok itu. Dan Hana menarik benang merah, bahwa apapun yang berhubungan dengan perkumpulan itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya.
Hana menelan ludahnya. Dia sama sekali tidak menyangka dia akan berdampingan dengan seseorang yang berperan penting dalam perkumpulan itu!
"Kau takut?" Aaron menatap Hana lekat. Hana hanya sanggup mengangguk. Tangannya terulur mengusap sudut bibir Aaron yang membiru. Menyaksikan hal seperti itu dan tetap diam karena memang harus selalu diam, membuat Hana menggeleng. Melihat Aaron seperti ini membuat hatinya terasa sakit. Dan tidak bisa bertanya dengan segera atau membantu Aaron mengobati lukanya bukan sesuatu yang nyaman. Lalu Aaron mengatakan bahwa dia akan sering melihatnya dalam kondisi seperti sekarang ini? Ooh...Hana hanya sanggup mengeluh dalam hati.
"Aku akan menjaga diriku." Aaron mendekatkan wajahnya pada Hana. "Kita hidup dalam budaya modern, dan di tempat ini...aku bahkan harus menahan diri untuk tidak sering-sering mencium mu. Kau tahu, keluarga besar berisi orang-orang yang..." Aaron menaikkan satu alisnya. Dan Hana tersipu. Dia tahu keluarga besar berisi orang-orang yang sudah beranjak lanjut dan mereka sedikit kuno. Sebuah perpaduan yang sangat timpang bagi mereka anggota klan yang berada dalam umur yang sama dengan Aaron seperti pemuda bernama Kenjiro kemarin.
"Keluarlah. Mereka akan merasa aneh kau berada di sini."
"Ini kamarku."
"Eh?"
"Aku masuk ke kamarku sendiri. Tidak ada yang aneh."
Hana menahan napas. Wajah Aaron begitu dekat. Mata Hana bergerak mengamati. Luka membiru juga ada di pelipis Aaron. Terlihat sedikit membengkak. Dan Hana akan selalu saja tersentak ketika Aaron mencium bibirnya. Mereka sepasang kekasih sekarang, tapi Hana bahkan merasa dia tidak mempercayai hal itu.
Hana menyambar lengan kemeja Aaron ketika indera pendengarannya menangkap lenguhan dari mulut Aaron. Itu hal yang baru dan Hana merasakan seluruh permukaan kulitnya terasa meremang. Tangan Aaron bergerak meraih tengkuk Hana lalu meloloskan karet yang mengikat rambut Hana. Jelas sekali Aaron menyukainya. Melepas ikatan rambut Hana dan membiarkan rambut Hana yang terurai menampar wajahnya dengan lembut.
Lenguhan itu? Kembali lolos dari mulut Aaron yang terus mendecap. Hana selalu mengikuti nalurinya. Mengikuti gerakan bibir Aaron. Namun Hana tidak pernah bisa berhenti berpikir, untuk sesuatu yang baru yang selalu terjadi saat mereka berdekatan dengan intim seperti sekarang.
"Jangan seperti ini..." Hana berbisik lirih. Dan itu membuat Aaron tertawa pelan. Aaron melepaskan ciumannya.
"Kau tidak menyukainya?"
Hana menunduk. "Bukan seperti itu. Hanya saja...ini...sedikit menyulitkan aku..."
"Eh. Kenapa?"
"Aku...jangan bertanya apapun! Aaron...aaah..." Hana menutup wajahnya. Dia tidak mungkin membicarakan hal itu bukan? Bahwa tubuhnya bereaksi berlebihan pada apa yang mereka lakukan?
"Aku tidak akan melebihi batasan ku. Tapi kita akan membangun ikatan yang kuat sedikit demi sedikit..."
Aaron merangsek. Mendekat pada Hana dan menatapnya lekat membuat Hana tercekat.
"Sedikit demi sedikit...? Ituuu..."
"Seperti ini..." Aaron kembali mencium Hana dan dan mendorong Hana perlahan hingga rebah di ranjang. Hana membuang pandangannya. Dia merasakan tangan Aaron menyangga pundaknya. Aaron mencium Hana lembut dan menjaga beban tubuhnya agar tetap sedikit saja menjauh dari tubuh Hana.
Ciuman itu...
Bagaikan candu yang enggan untuk dilepaskan. Menjelajah sesuatu yang baru seperti kata Aaron. Sedikit demi sedikit. Hana berpikir bahwa dia akan menyetujui rencana itu. Tapi...
Tangan Aaron bahkan mulai menjelajah. Mengusap perut Hana perlahan. Dan Hana merasakan hal yang baru. Rasanya...seluruh pori-pori tubuh Hana terbuka. Dia mungkin saja gadis yang baru dalam hal seperti itu. Tapi...Aaron melakukan gerakan yang salah. Hana mungkin tipe gadis yang malu-malu. Tapi...Aaron melakukan sesuatu yang membangunkan sisi liar Hana dengan begitu cepat.
"Uuugh..." Aaron tersentak. Matanya membesar seketika. Tepat disaat Hana dengan tiba-tiba menggeram dan menarik dengan keras pinggang kemejanya. Beban tubuh yang dia jaga sedemikian rupa akhirnya runtuh membebani Hana sepenuhnya. Dan...geraman itu? Hana melakukan kesalahan besar! Kesalahan yang membuat Aaron menyambar bibirnya dan melumatnya kasar. Lalu seperti mengikuti naluri mereka...Aaron merangsek. Menjelajah leher Hana yang mendongak dan mencengkeram pundaknya. Lenguhan tertahan keluar dari mulut Hana. Membuat Aaron yakin, mereka seharusnya ada di California. Di rumahnya! Di tempat dimana Aaron bisa mendengar lenguhan itu lepas dengan mulus.
Keduanya lalu terpaku. Ketukan pintu membuat Aaron menghela napas dan tersenyum pada Hana yang terlihat terkejut.
"Istirahatlah." Aaron mencium kening Hana dalam dan beranjak.
"Apa kau akan pergi?" Hana menahan Aaron dengan tetap mencengkeram pundaknya. Bayangan tentang Aaron yang semakin babak belur membuat raut wajah Hana berubah seketika.
"Ada sedikit urusan di pusat kota. Aku akan pulang cepat." Aaron beranjak dan melangkah keluar. Sekilas Hana melihat pemuda bernama Kenjiro menunggu di depan pintu.
Hana beranjak dan duduk termenung.
"Dia bahkan tidak terlihat seperti itu saat kami berinteraksi di California. Mengapa dia mendadak...mesum seperti itu?"
Hana bergumam sendiri. Lalu menepuk kepalanya pelan. "Ada apa denganku ini? Seharusnya aku tidak bersikap seperti tadi bukan? Aku...terlihat murahan...oooh..." Hana berakhir dengan merebahkan tubuhnya kesal. Hana bahkan menggerakkan kakinya kesal. Dia ingin menjerit. Bayangan kegiatan mereka barusan bersliweran di kepalanya dan seketika dia merasa malu karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Apakah Aaron akan kehilangan rasanya? Apakah dia tidak menyukai Hana yang seperti itu?
Hana menjerit pelan dengan meredam jeritannya dengan membekap wajahnya dengan bantal. Hana tersentak lalu menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu. Aaron menempatkan dia di kamarnya. Ooh...dia malu sekali.
***
"Aku tidak suka berlele-tele. Kalian sudah terlalu jauh melangkah. Tetap pada pilihan pertama dan kalian akan tetap dalam perlindungan kami, atau kalian memilih melepaskan diri dan kami melepaskan semua jaminan kami terhadap kalian."
Suasana muram sebuah rumah minum di pusat Osaka menyamarkan enam orang pria yang sedang berbicara. Aaron Kodame dan seorang pria pemimpin klan Fujita bernama Inu Fujita.
"Rumah bordil. Apa yang bisa kami lakukan pada bisnis itu? Tapi kalian sudah menyeberangi batasan kalian dengan sangat jauh. Mempekerjakan anak dibawah umur jelas tingkatan paling menjijikkan untuk mengais uang!" Aaron meluap. Dia meminum sake dari cangkir keramik di depannya lalu meletakkan cangkir itu dengan keras di atas meja. Terdengar seperti gebrakan bagi Fujita dan dua anak buah yang berdiri di belakangnya.
"Kami...tentu akan mengurus semuanya segera Tuan. Mohon ampuni kami."
"Aku akan membuatnya mudah dibanding kalian harus menemui kakekku. Aku ingin mendengar semua selesai malam ini juga. Bebaskan semua gadis di bawah umur itu dan berikan buktinya padaku. Kau paham?" Aaron merunduk dan memberi Inu Fujita tatapan yang sangat tajam. "Enyah dari sini!"
Fujita dan dua anak buahnya beranjak cepat dan melangkah setengah berlari keluar dari rumah minum yang suram itu.
Aaron menggeliat dan meluruskan tangannya. Dia sudah membayangkan sebuah skenario baku hantam dengan Inu Fujita...atau minimal anak buahnya, tapi ternyata Fujita lebih mudah diajak bicara daripada beradu otot.
Aaron menautkan tangannya dan itu menghasilkan bunyi gemerutuk yang membuat Kenjiro dan Hito tertawa tertahan. Mereka berpikir bahwa Aaron sudah kehilangan minatnya pada sebuah acara baku hantam mengingat dia hidup di luar negeri dan menjalani pekerjaan sebagai aktor. Namun setelah beberapa hari Aaron ada di Osaka membuat dua pemuda itu menyadari, Aaron tetaplah Aaron yang dulu. Yang menyukai adrenalin menantang. Dan menikmati sebuah baku hantam untuk sebuah alasan yang bagus dan masuk akal.
Bertahun lalu, keluarga besar Kodame merasakan sebuah kesulitan besar ketika mendapati Aaron adalah seorang pemuda yang sedikit kesulitan mengelola emosinya. Apalagi ketika Aaron harus dihadapkan pada sebuah kesewenang-wenangan di depan matanya, pemuda itu mudah sekali meluap. Kedua orangtuanya melakukan berbagai cara untuk sedikit mengendalikan Aaron namun usaha apapun itu selalu gagal. Sampai kemudian Aaron memutuskan tinggal di kediaman induk keluarga Kodame. Berinteraksi dengan kakeknya begitu sering dan lambat laun menjadi pribadi yang sekarang terlihat. Aaron mengambil kelas akting. Sesuatu yang ternyata menjadi bakatnya yang luar biasa. Aaron adalah tipe pemuda yang selalu mencoba mengerjakan sendiri apa yang menjadi keinginannya. Baik itu sebuah barang atau yang lain. Dia akan mencoba hingga bisa dan mendapatkan apa yang dia mau sesuai dengan standar nya. Karena itu Aaron memiliki banyak keahlian. Termasuk menjahit custom sepatunya sendiri atau membuat perhiasan nya sendiri.
Aaron. Overall, pribadinya tidak seperti citra dirinya yang terlihat tampan seperti flower boy.
Aaron adalah pemuda dengan kekuatan pemikiran dan raga yang luar biasa. Sesuatu yang tersembunyi dibalik penampilannya yang terlihat lemah lembut. Aaron hidup mengikuti atmosfer di sekitarnya. Dia bisa menjadi sangat dingin dan mengerikan ketika sesuatu yang buruk mengusik hatinya.
Mereka bertiga keluar dari rumah minum. Memasuki sebuah mobil sedan hitam pekat dan melaju menuju kediaman Kodame.
Malam semakin larut ketika ketiga pemuda itu tiba di kediaman Kodame dan masuk ke rumah induk.
Hana menghela napas lega ketika dilihatnya Aaron masih dalam kondisi ketika dia pergi. Hana berbalik dan melangkah cepat menuju kamarnya. Dia tidak bisa berlama-lama di halaman dan mengamati Aaron seperti apa yang dia lakukan sekarang.
Karena melihat Aaron saja sudah sangat menyulitkan seperti sekarang. Hana berpikir dia mengambil pilihan yang tepat. Dia perlu menata hatinya yang terus menerus khawatir.
Berakhir di kamarnya dan merutuk karena pintu yang tidak memiliki kunci atau pengait apapun. Hana mengamati pintu itu lama dan bertanya dalam hati, mengapa mereka tidak membuat kunci?
Hana menegakkan tubuhnya ketika pintu itu bergeser lalu tertutup cepat.
"Aku...tidak bisa berhenti memikirkan mu. Kacau sekali."
Hana menahan napasnya. Menatap Aaron yang mengacau rambutnya sedemikian rupa dan terlihat bingung.
***