PART 8

1623 Words
Tarik dan ulur seperti seutas benang layang-layang. Meringkuk tak berdaya karena tidak ingin saling menyakiti. Aaron dan Hana bersandar di ranjang dengan duduk di lantai kayu yang hangat. Mereka saling pandang. Aaron menggeleng dan mengulurkan tangannya ke arah tengkuk Hana. "Sakit?" Aaron mengusap sisi leher Hana dan memperhatikan bagian itu dengan teliti. Lalu menatap Hana yang menggeleng. "Maaf." Aaron mengusap leher Hana lembut. Dia memang merasa sudah keterlaluan. Sedikit tidak sabaran dan merangsek begitu saja begitu melihat Hana. "Kau seperti banteng yang kelaparan." "Eh?" Hana mengangguk-angguk. Menatap Aaron geli. Seandainya saja tamu setiap bulan itu tidak datang sore tadi, maka mereka akan berakhir... "Maafkan aku." Hana menekuk kedua lutut dan menghadap ke arah Aaron. Tangan kiri Hana meraih kepala Aaron dan menyandarkan nya di bahunya. Aaron terlihat sangat menderita. "Aku selalu merasa berdebar ketika kau membantuku memilih dan mengepaskan bajuku. Selama ini." "Kau tidak terlihat seperti itu. Dua tahun lebih aku bekerja untukmu dan kau nampak baik-baik saja." "Kau lupa aku pandai berakting?" Hana tertawa pelan. Aaron memang seperti itu bukan? Dan kalau benar Aaron merasakan hal seperti itu, maka hal itu jelas terlewatkan oleh Hana. Aaron bersikap selayaknya bos bagi Hana. Sangat profesional. Walau terkadang mereka menjadi teman di waktu waktu tertentu. Selama dua tahun lebih. Dan itu bukan waktu yang sebentar. Terdengar helaan napas Aaron. "Sebaiknya aku keluar." "Seorang raja tidak akan mendekati selirnya ketika selirnya sedang mendapatkan halangan. Kenapa aku merasa seperti itu?" Hana berkata perlahan. Aaron urung beranjak. "Hmm...kau tidak ingin aku pergi?" "Tidak apa-apa kalau kau mau beristirahat. Kau pasti sangat lelah." "Aku tidak akan melakukan hal seperti raja itu. Aku akan berada di dekatmu apapun situasinya." Hana tertawa. Aaron menanggapi ucapannya dengan serius. Pria itu kembali duduk tenang dan menyandarkan kepala di bahunya. Kali ini Hana yang menghela napasnya. "Apakah Hiro Watanabe sudah sampai di sini?" "Hmm...itu jelas tidak terhindarkan." "Aku sangat khawatir." "Aku tidak akan memintamu membuang rasa khawatir mu. Semata hanya agar kau selalu waspada. Jangan melakukan apapun tanpa memberi tahu aku." "Mengapa harus membawa kedua orangtuaku kemari, Aaron?" "Paling tidak bersama kami keamanan kalian lebih terjaga. Satu hal paling mendasar dari semua ini adalah bahwa semua harus diselesaikan ditempat dimana akar permasalahan terjadi. Jepang. Kita harus menghargai bumi yang kita pijak. Mengadakan pertumpahan darah di Amerika jelas membuat kita menjadi tidak tahu diri. Bumi dan negara itu sudah bermurah hati menjadi tempat kita bernapas, mencari makan...kau mengerti maksudku?" Hana mengangguk. Bagaimanapun, semua masalah berakar dari Osaka. Dan klan manapun yang ada di luar Jepang, memiliki ikatan yang sangat kuat dengan tanah dimana klan itu berasal. Jepang. Berbagai jenis orang dalam ratusan klan yang tergabung dalam Yakuza, memiliki pendirian yang teguh. Bisnis mereka bukan saja bisnis yang baik. Banyak sekali bisnis haram yang dijalankan oleh puluhan klan. Banyak anggota Yakuza yang masuk ke dalam kancah politik dan menjadi backing kuat sebuah organisasi politik. Mengintimidasi dan memberi pengaruh kuat pada partai politik yang besar. Itu sama sekali tidak bisa dihindarkan. Selama ini klan Kodame berusaha mempertahankan persatuan antar klan agar tidak terjadi bentrokan dan pertumpahan darah diantara mereka. Pemimpin tertinggi Kodame dan orang-orangnya mengawasi mereka dan memiliki peranan penting yang tidak bisa diabaikan oleh klan manapun. Tentu saja menertibkan ribuan manusia dengan ribuan pemikiran tidaklah mudah. Tapi sampai detik ini, Kodame tetap bertahan dan disegani. Hana melirik Aaron yang terdiam. Dan pria itu sepertinya tertidur karena kelelahan. Hana berpikir apakah Aaron akan benar-benar melepaskan kehidupan Amerikanya untuk bisa meneruskan tradisi keluarganya? Tentu semua akan sama seperti dulu kalau peristiwa itu tidak terjadi. Tentang perjodohan dirinya dan Hiro Watanabe yang menjadi pemicunya. "Jangan terlalu lelah berpikir, Hana. Itu adalah tugasku. Kalau kau merasa bersalah dengan keadaan sekarang ini, maka hilangkan perasaan itu. Aku sudah bersiap sejak dua tahun lalu ketika aku memutuskan untuk menerimamu bekerja padaku." "Eh?" Hana menatap Aaron yang mendongak ke arahnya sambil melingkarkan tangan ke pinggangnya. Hana tertawa dalam hati, karena posisi mereka benar-benar aneh. Hana merasa seperti seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya. Hana terpaku. Dia menatap Aaron sedetik setelah dia menyadari ada sesuatu yang penting dari perkataan Aaron baru saja. "Kau..." Aaron mengangguk. "Setelah aku mempelajari CV mu. Dan menyelidiki mu. Setelah itu aku merasa aku harus melindungi mu. Aku membicarakan hal itu pada keluarga dan mereka mengatakan hal yang sama." "Dan kau tidak pernah bilang apapun padaku." "Apakah kau akan bersikap biasa saja seandainya aku menceritakan hal itu padamu dulu?" Hana terdiam. Apa yang dikatakan Aaron sepenuhnya benar. Dia adalah gadis pendiam yang mudah sekali terganggu oleh satu hal yang muncul ke permukaan. Hana selama ini berusaha mengelola pikirannya itu agar tidak menyulitkannya. Aaron menggeliat membuat Hana tertawa kecil. Tapi tawa itu terhenti ketika merasakan Aaron kembali bergerak. Pria itu menggigit sisi dagunya kecil. Hana menahan perasaannya dan berpikir bahwa Aaron suka sekali menggigitnya. Aaron menegakkan tubuhnya dan menatap Hana lekat. "Kau tahu sangat sulit menahan hal ini selama dua tahun. Kau tahu bagaimana perasaanku harus melihatmu setiap hari dan khawatir akan keselamatan mu di penghujung hari saat kau menyelesaikan pekerjaanmu dan pulang? Satu dua orang pengawal saja tidak akan bisa membuatku tenang." "Kau? Memberiku pengawalan?" Aaron mengangguk. Dia memang melakukannya sejak dia tahu Hana adalah gadis itu. Seseorang yang menjadi target selanjutnya dari Watanabe untuk sebuah perjanjian. Hana yang tidak mengetahui apapun. Juga bahaya yang mengintainya setiap hari. "Kau akan selalu memiliki kekhawatiran itu tapi kau punya aku sekarang. Mulai sekarang jangan menanyakan apa-apa lagi, okay? Karena aku yang akan mengurus semuanya. Boleh aku mencium mu?" Hana tersentak dan memundurkan kepalanya. Mereka sedang serius berbicara tentang hal penting dan Aaron mengatakan hal itu? Mulut Hana bergerak mengerucut membuat Aaron merasa gemas. Melakukannya pada Hana satu kali atau dua kali dalam sehari tidak akan pernah cukup untuk Aaron. Hana benar-benar sudah menjadi candunya. Namun tempat itu bukanlah sebuah tempat yang bisa membuat Aaron bergerak bebas. Dan dia menertawakan situasi itu. Benar-benar membuat penasaran dan adrenalin nya terpacu dengan sangat cepat. Dan bibir cantik itu sudah mulai pandai membalas. Lalu? Apakah kelak bibir itu juga akan semakin pandai menggoda? Bibir Aaron bergerak lembut. Sikap Hana yang seperti itu membuatnya kalap. Aaron melenguh tanpa sadar dan... "Sakit Hana..." Aaron tertawa saat merasakan sakit pada bibir atasnya. Hana bahkan menggigitnya demi menghentikan tindakannya. "Jangan seperti itu...kau seperti bukan dirimu." Hana membuang pandangannya malu. Aaron sangat berbeda dengan Aaron yang dia kenal yang terlihat sangat dingin. Mengapa dia harus menjadi hangat seperti itu? Dan...tunggu dulu...Aaron sangat...panas. Hana menggeleng tanpa sadar membuat Aaron kembali tertawa. "Apa yang ada di kepalamu? Sesuatu yang..." Hana mendelik ke arah Aaron. "Aku tidak seperti itu." "Pipimu memerah." Hana memegang kedua pipinya dan menggeleng. "Inilah yang dilakukan sepasang kekasih. Dan...hal lain..." Ketukan pintu mengurungkan Aaron yang hendak meraih Hana mendekat padanya. Aaron beranjak. Di depan pintu Hana melihat pria bernama Hito berdiri dengan kedua tangan mengepal. Hito berbisik pada Aaron dan Aaron segera menoleh pada Hana memberi isyarat bahwa dia harus pergi. Dan benar saja. Hana beranjak dari duduknya. Keluar dari kamar dan berjalan sepanjang selasar. Tak berapa lama dia melihat mobil Aaron keluar diikuti oleh dua mobil lainnya. Situasi sepertinya sangat serius. Hana menggeleng. Dia tidak akan pernah menyangka kalau hidupnya akan berada dalam ketegangan seperti sekarang ini. Sekali saja dia melakukan kebodohan maka dia akan membuat semua orang repot. Dan Hana merasa, dia bahkan takut keluar dari rumah itu. *** "Ada apa, Bu?" "Terjadi kebakaran di markas besar Kodame dan restoran keluarga." Mata Hana membesar. Ibunya baru saja membisikkan jawaban dari pertanyaannya. "Bersamaan?" Hana menatap ibunya yang mengangguk. "Sudahlah. Ibu baru tahu sedikit dari ayahmu. Nanti Aaron pasti akan bercerita ketika dia merasa dia memang perlu bercerita. Jangan bertanya apapun. Kau tidak akan sanggup bertanya kalau kau melihat wajah Aaron pagi ini. Dia terlihat sangat marah. Ooh...calon menantuku itu sangat mengerikan kalau sedang seperti itu." Nada kekaguman justru terdengar dari mulut ibu Hana dan itu membuat Hana terpaku. "Calon menantu?" Hana menatap ibunya yang terlihat acuh. Ibunya yang berpenampilan halus itu, bagaimanapun dia sangat Amerika. Terkadang perempuan itu sanggup mengeluarkan kata apapun. "Ooh...lalu? Apa dia tidak akan menikahi mu sementara kalian..." "Kami tidak melakukan apapun, Bu." "Berada di kamar yang sama...?" Hana merasa ibunya tidak yakin dengan ucapannya. Wanita itu melirik dengan wajah menyelidik. "Tidak terjadi apa-apa." "Baiklah..." Hana menatap ibunya yang berjalan menjauh dan masuk ke dalam kamarnya. Hana baru saja ingin turun dari selasar ketika seseorang mendorongnya untuk berjalan sepanjang selasar. Hana menoleh dan mendapati Aaron yang tersenyum seakan tidak terjadi apapun. "Seseorang akan membantumu mengganti baju." "Baju?" Aaron mengangguk. Lalu menggeleng memberi tanda agar Hana tak banyak bertanya. Mereka berjalan beriringan menuju sebuah ruangan di rumah yang terletak di samping rumah induk. Seorang wanita sudah menunggu dan Aaron keluar dari ruangan itu. Memilih berdiri dengan kedua tangan di belakang tubuhnya. Begitu saja hingga lima belas menit berlalu dan Hana keluar dari ruangan itu. Han yang berdiri canggung dengan baju kimono nya. Sangat manis. "Cantik sekali. Ayo kita berfoto." "Eh. Foto?" Hana mengikuti Aaron yang menariknya. Mereka berjalan melintas halaman luas dan menuju jalanan di atas ngarai. Dari sana mereka bisa melihat sungai mengalir membelah ngarai. "Kau menyukai tempat ini?" Hana mengangguk. Mereka berdiri bersisian dan menghirup udara segar pagi. Dari kejauhan, terlihat segerombolan orang yang berbondong menuju ngarai. Sepertinya serombongan wisatawan dalam jumlah yang banyak. Mereka berjalan sambil mengobrol. Kebanyakan dari mereka memakai baju tradisional dan berjalan dengan cepat. "Kita pulang?" Hana mengangguk dan menerima uluran tangan Aaron. Mereka berbalik dan mengikuti jalan pulang. Mengabaikan kenyataan bahwa dalam rombongan wisatawan itu terdapat empat orang pria yang mengamati mereka dan menatap sebuah foto di tangan salah satu pria itu. Para pria itu dengan samar mengamati Aaron dan Hana yang berjalan semakin menjauh dan masuk ke dalam properti Kodame. Empat pria itu berbisik-bisik sambil terus berjalan. Tujuan mereka adalah penginapan di samping properti Kodame. Wajah para pria itu terlihat puas sebelum mereka kembali berjalan bersama para wisatawan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD