"Lebih baik Nana tidur aja, udah makan belum?" tanya Mahendra pada putri bungsunya.
"Belum, Nana makannya mau disuapi Kak Dila aja. Boleh gak, Pa?" tanyanya.
Matanya melirik pada semangkuk bubur yang masih utuh di atas meja, ia yakin kalau Karina belum makan.
Sesekali Mahendra mencuri pandang pada Dilara yang diam membisu. Mahendra ragu, menuruti keinginan anaknya.
Demi menjalankan balas dendamnya, Dilara mengulas senyum tipis. "Nggak papa, Om. Biar aku saja yang suapi," katanya. Sengaja mengubah nama panggilan, supaya Karina tidak bingung.
Dilara meraih mangkuk, menyuapkan sesuap demi sesuap bubur ke mulut Karina. Bocah kecil itu tersenyum, sudah memakan habis buburnya.
"Yeayy! Udah selesai," kata Dilara dan disoraki Karina.
"Pinternya anak Papa," puji Mahendra, mencium puncak kepalanya.
Melihat sikap Mahendra barusan, ada rasa kagum yang Dilara rasakan. Meskipun dia kejam, tetapi dia tipikal ayah yang pengertian.
Usai meminum obat, Karina berbaring sambil ditemani dua orang dewasa di hadapannya. Sampai suara dengkuran halus terdengar, Karina sudah berada di alam mimpinya.
"Terima kasih sudah menenangkan, Nana. Saya tidak tahu ibu dan kakaknya pergi ke mana," ucap Mahendra, membenarkan letak selimut anaknya.
Dilara mengangguk. Sepertinya dia harus segera pergi, karena tidak ada urusan di sini.
"Bagaimana keadaan ibumu?" Mahendra bertanya, menahan Dilara yang hendak pergi meninggalkannya.
Selagi tidak ada anak dan istrinya, Mahendra ingin mencari kesempatan untuk mengobrol dengan gadis muda di depannya ini.
"Ibuku koma," balas Dilara dengan suara paraunya, tidak sanggup jika membahas ibunya.
Mahendra membulatkan mulutnya. Suara langkah kaki terdengar, Mahendra berjalan menyusul ke arah Dilara.
"Bagimana dengan tawaranku? Masih berlaku jika kamu mau, Dilara," ujar Mahendra, dengan menerbitkan seringai nakalnya. Seolah dia tahu kalau Dilara memang butuh tawaran itu.
Dilara membalikkan setengah badannya, lalu mengangguk. "Karena aku butuh uang, aku menerima tawaran," balasnya. Mampu membuat Mahendra puas, benar praduganya kalau Dilara akan membutuhkannya.
"Benarkah?" Mahendra memastikan.
Lagi, Dilara mengangguk walau dalam hati ingin memaki-maki pria tua itu.
"Apa yang aku dapat kalau aku menerima tawaran itu?" tanya Dilara, sedikit materialistis demi uang pengobatan. Jangan sampai ia dirugikan.
"Apapun yang kamu mau, akan saya berikan."
"Termasuk uang dalam jumlah besar, Tuan?"
Dengan rasa semangat Mahendra mengangguk cepat. Pun dia mempunyai uang banyak, apalagi memiliki usaha besar di mana-mana, tidak masalah jika memberikan uang yang dimintai.
"Itu hal mudah, berapa pun, saya akan memberikannya asalkan kamu mau dijadikan simpanan saya, Dilara."
Dilara mengepalkan dua tangannya, dadanya terhimpit, ia butuh pasokan udara sebanyak-banyaknya saking sesaknya. Wanita muda itu berhadapan, lalu berjabat tangan menyetujui kesepakatan.
"Oke, deal," ucap Dilara tersenyum mempesona, membuat Mahendra terpesona akan kecantikannya. "Aku ingin mengajukan syarat padamu, Tuan."
Kening Mahendra mengerut, penasaran syarat apa yang Dilara ajukan. "Silakan, apa yang kamu inginkan?"
Sebenarnya Dilara ragu mengatakan hal itu, tetapi sepertinya memang harus. "Nikahi aku jika Anda ingin menikmati tubuhku. Karena aku enggan memberikan tubuhku pada pria asing sepertimu. Itupun jika Anda setuju, kalau nggak ya nggak masalah."
Tentu saja Mahendra keberatan. Di posisinya yang sudah punya anak dan istri, sulit harus menikah lagi. Mahendra telak, berpikir sejenak.
"Akan kurahasiakan pernikahan ini jika Anda mau," lanjutnya terus meyakinkan.
Alhasil Mahendra sedikit tertarik dengan tawaran itu, tanpa ragu dia mengiyakan. "Temui aku besok, ini alamatnya," kata Mahendra, memberikan alamat pada Dilara.
Dilara dengan berat hati menerimanya, ia pun keluar dari ruangan.
Di depan pintu, Dilara menekan dadanya bagai tertikam belati tajam. "Bodoh! Semoga aku bisa membalaskan dendam," makinya.
***
Regina pulang sembari bersiap-siap untuk mendatangi pesta ulang tahun teman kuliahnya. Dia diundang untuk datang. Karena ini adalah hari spesial bagi orang yang Regina sukai, tidak mungkin jika dia tidak datang, meskipun nekat meninggalkan Karina sendirian di rumah sakit.
Dengan diantar sopir rumah, Regina menuju lokasi acara dengan balutan gaun berwarna hitamnya. Setelah sekian lama, akhirnya Regina bisa keluar juga.
"Berhenti di mana, Non?" tanya pak sopir.
"Di depan aja, Pak. Bapak bisa pulang, nanti aku kabari kalau aku pulang," ujar Regina, ia keluar dari mobil miliknya.
Acara ulang tahun diselenggarakan di rumah. Suasana begitu ramai dan juga indah dengan hiasan pesta pada umumnya.
Regina menjadi bahan tontonan orang-orang. Pasalnya dia termasuk jajaran cewek terkenal di kampus, karena baru terlihat lagi.
"Eh, Regina. Udah selesai simulasi jadi ibunya, ya?"
"Kenapa adiknya nggak dibawa, Regina? Nanti nggak ada yang jaga loh."
"Padahal bawa Karina, 'kan biasanya juga sama dia ke mana-mana."
Ada begitu banyak ejekan dan cibiran yang mereka berikan pada Regina. Dia sakit hati? Tentu saja, dia merasa kesal dipermalukan.
"Diem deh kalian!" ketus Regina, buru-buru masuk ke dalam.
Dia mancari-cari keberadaan dua temannya, Nessa dan Angel. Di mana mereka berdua berada.
"Heh, Gina! Sini!" teriak Nessa yang bergabung dengan teman sebayanya.
Regina membawa ke sana, dia bersemangat karena ada Darendra yang tampil tampan dengan jas melekat di tubuh kekarnya.
"Astaga, Gina. IRT ke mana aja, sibuk ngasuh adik kamu?" ujar Nessa.
"Sorry ya, Gin, aku duluan. Habisnya kamu sih ngaret. Pasti lagi jagain Karina," tebak Angel.
Mereka berdua adalah teman Regina semenjak awal masuk, hubungan pertemanan mereka masih terjalin baik.
"Nggak kok, aku cuma agak lupa tadi. Kirain acaranya bukan hari ini," alibi Regina agar dirinya tidak diejek.
"Aishh, saking sibuknya ngurusin adik sampai lupa hari ini ultah cowok yang kamu suka," sela Nessa memelankan nada bicara.
Menanggapinya Regina hanya dengan senyuman, malas menghiraukan perkataan orang-orang padanya.
Ia menghadap pada Darendra. Salah satu pria yang dijuluki the most wanted di kampusnya. Tak hanya tampan, semasa sekolah dia juga berprestasi dalam bidang akademik maupun non akademik.
Tidak heran jika Darendra disukai oleh para wanita di kampusnya, termasuk Regina.
"Hai, Daren. Happy brithday," ucap Regina sambil berjabat jangan dengan pria itu.
Darendra tersenyum hangat. Sosoknya yang ramah dan baik membuat Regina semakin suka, sudah lama ia rasakan perasaan suka itu pada pandangan pertama.
"Hai, Gin. Thank you udah datang," kata Darendra membalas jabatan tangannya.
'Daren ganteng banget,' batin Regina memuji dalam hatinya.
Nessa dan Angel membawa Regina untuk bergabung bersama teman-teman lainnya.
"Nyari siapa sih, Daren? Dari tadi celingak-celinguk mulu," tanya Devano pada temannya.
Darendra terperanjat, mendapatkan tepukan di bahunya. "Biasa," balasnya singkat.
Menjadi sahabat lama Darendra, Devano paham siapa yang dicari pria itu malam ini. Dari banyaknya wanita yang datang, Darendra malah mencari yang tidak ada.
"Kayaknya nggak datang deh, udahlah sama si Regina aja. Dia cantik banget, Cuy," kata Devano, melirik kagum pada Regina yang begitu menawan dan elegan.
Danendra menolak, ia terus menatikan kedatangan seseorang. "Tetep aja nggak ada yang bisa nyaingin Dilara, cuma dia cewek yang aku suka."