Bab 10. Koma

1019 Words
Dilara akan kembali ke kamar inap ibunya, tetapi dia terheran-heran pada pihak medis yang berlarian masuk ke dalam. Perasaan Dilara jadi kurang enak, dia lantas menghalang seorang suster yang akan lewat. "Sus! Apa yang terjadi?" Dilara mencecarnya dengan tanya. "Ibu Rahmi tak sadarkan diri, Mbak. Beliau dinyatakan koma karena kondisinya kritis tadi," papar suster, lalu bergegas masuk. Di depan kamar inap, Dilara terduduk lemas sambil menahan kesedihannya. Ia terpukul, mengertahui kondisi ibunya menurun dan dinyatakan koma. Dia pikir semuanya akan baik-baik saja. Namun ternyata sebaliknya. Dilara hanya mampu menguatkan diri kala masalah datang bertubi-tubi. "Bu, bertahanlah," isak Dilara, menekan dadanya yang terasa tersayat-sayat. Ia tidak diizinkan masuk. Selama berdiam, Dilara menunggu dokter keluar. Dilara ingin tahu, kondisi ibunya saat ini. Gadis muda itu bergerak ke sana kemari, ia diselimuti perasaan tak tenang selama pemeriksaan dilakukan. Pintu ruangan dibuka. Dokter dan suster sepertinya sudah selesai melaksanakan tugasnya. Dilara menghampiri. "Dok, bagaimana keadaan ibuku, Dok?" tanya Dilara terkesan tak sabaran. "Kondisi Bu Rahmi dinyatakan koma. Ini disebabkan karena penyakit yang Bu Rahmi alami sudah terlalu parah dan juga telatnya melakukan operasi," papar dokter menjelaskan sesuai pengamatan. Ulu hati Dilara bagai diremas, ia bingung harus bereaksi apa sekarang. Kabar komanya sang ibu, membuat Dilara jadi kehilangan harapan. Hanya Bu Rahmi, orang yang Dilara punya di dunia ini. Punya seorang ayah juga tidak bisa menjalankan perannya, dia malah sibuk dengan selingkuhannya. Benar-benar keterlaluan, bukan? Di kondisi genting ini, Dilara hanya ingin punya teman sebagai penguatnya. Aji sama sekali tidak mengerti, apa yang dirasakan Dilara dan Rahmi. "Kapan Ibuku sadar?" Lagi, Dilara mencecar. Dokter menggeleng. Kondisi Rahmi memang terlalu lemah, sehingga kesehatannya tidak stabil. "Kami tidak bisa memprediksi kapan Bu Rahmi sadar, kami berharap semoga secepatnya. Saya dan suster akan memantau kondisi ibu Anda, Nona." "Beritahu aku jika ada sesuatu, Dok." Dokter mengangguk, kemudian berlalu untuk memeriksa pasien lainnya. Di atas tempat kursi, Dilara duduk termenung memikirkan biaya pengobatan yang pastinya dalam jumlah besar. Dari mana lagi ia akan mendapatkan uang? Ia sudah enggan untuk menjalankan bisnis malam, entahlah ... Dilara benar-benar dilema memikirkan ini semua. "Apa aku harus datang pada Tuan Mahendra? Ck, jangan bodoh, Dilara. Masih banyak cara," makinya pada diri sendiri, sudah hilang akal sampai berpikir untuk menerima tawaran Mahendra. Di satu sisi, ia juga geram atas sikap ayah dan selingkuhannya yang semakin keterlaluan. Sekian lama menimbang-nimbang, Dilara tertarik dengan tawaran. Sekalipun harus dijadikan simpanan. Biarkan saja, mungkin ini cara satu-satunya bagi Dilara untuk membalaskan dendam. Dilara menyunggingkan senyum. 'Akan kurebut suamimu, Adelia. Sebagaimana kamu telah merebut ayah dariku dan ibuku,' batin Dilara. *** Di ruangan lain, Regina tampak jengkel karena Karina rewel sedari tadi. Dia menolak makan, karena ingin ditemani oleh ayah dan ibunya. "Nggak mau! Nana mau ditemenin Mama sama Papa makannya, Kak Gina!" "Na, jangan rewel dong. Kakak pusing loh jagain kamu mulu. Dikira nggak cape apa?" Ditambah sekarang Regina ada acara bersama teman-temannya. Acara yang menurutnya sangat penting. Regina diundang, ke acara ulang tahun pria yang ia suka. Akan tetapi dia susah pergi, harus menjaga Karina yang menangis sejak tadi. Regina berdecak, menyimpan mangkok sedikit kasar. "Bisa nggak sih, Na, kali ini kamu jangan bikin kesel Kakak! Percuma manggil Mama sama Papa, mereka nggak bakalan peduli! Nurut sama Kakak, Na!" cerocos Regina yang sudah terbawa emosi. Masa remaja yang harusnya ia habiskan bersama teman-teman, malah selalu ditugaskan menjaga adiknya. Terlebih lagi Karina memang tidak mau dijaga oleh orang, membuat Regina tak tahu kapan terakhir ia keluar untuk bersenang-senang. "Kak Gina jahat! Kak Gina marahin Nana!" Mendapatkan bentakan dari sang kakak, bukannya diam, tangisan Karina malah semakin menjadi-jadi. Regina jadi bertambah jengel, ia mengacak rambutnya frustasi. "Diam, Na!" Regina menggebrak meja, sambil menatap Karina dengan mata berkaca-kaca. "Sekarang terserah kamu mau makan atau nggak! Kakak mau pergi!" Regina langsung menyambar tas miliknya, ia nekat meninggalkan Karina sendirian karena ada urusan. Ia menulikan pendengaran, walau suara Karina terdengar kencang. Sesampainya di depan rumah sakit, Regina merogoh ponselnya yang berdering, menandakan ada telpon masuk. "Halo, Angel?" sapa Regina pada temannya. "Astaga, Regina! Kamu di mana sih? Jadi ke pesta ulang tahun si Daren nggak?" gerutu Angel di seberang sana. "Jadi kok, ini aku lagi siap-siap. Bentar, ya," sahutnya, telpon pun dimatikan secara sepihak. *** Sore harinya, Dilara datang ke ruang administrasi. Mengurus biaya ibunya selama dirawat di sini, Dilara tercengang, bahwa biaya yang dibutuhkan terbilang besar. Di lorong rumah sakit, Dilara berjalan dengan memandang kosong ke depan. Ia membuka pintu ruang, dia kira itu adalah ruangan ibunya, tapi ternyata Dilara mendengar ada anak kecil menangis sendirian di ruangan. "Papa! Mama!" isak gadis kecil itu sambil tersedu-sedu, mengucek matanya yang basah oleh linangan air mata. Karena tidak tega, Dilara pun menghampirinya. "Tenang, Dek. Kakak bukan orang jahat kok," kata Dilara. Paham kalau tatapan anak kecil itu tampak waspada dengan kedatangannya. "Ka-kakak siapa? Mama sama Papa mana?" tanyanya, wajahnya begitu merah akibat lama menangis. Dilara meringis, harus menjawab apa, sementara dirinya saja tidak kenal. "Papa sama Mama, ya?" kata Dilara menerawang, mencari jawaban yang pas. "Oh, pasti Mama sama Papa lagi beliin balon dan boneka yang banyak buat kamu, supaya kamu cepat sembuh. Kamu suka boneka?" tanya Dilara, berusaha mendekatkan diri. Gadis kecil tersebut mengangguk cepat, dia tidak setegang tadi. "Suka, Nana suka boneka doraemon, Kakak," katanya. 'Oh namanya Nana, duh, apa harus SKSD aja gitu?' batin Dilara. "Wah, Nana suka doraemon, ya? Nana tunggu Mama sama Papanya Nana pulang, pasti mereka datang bawakan mainan kesukaan Nana," kata Dilara. Karina kegirangan, mainan adalah hal yang disukainya. Setiap hari libur, Karina pasti minta dibelikan mainan baru. Keduanya terus mengobrol, sampai Karina yang tadinya menangis jadi tertawa. Tanpa Dilara sadari, Mahendra yang baru masuk ke ruangannya terkejut melihat putrinya bersama dengan wanita asing. "Karina! Kamu bersama siapa, Nak?" pekik Mahendra buru-buru mendekati. Dilara dan Mahendra sama-sama terkejut, menyadari jika mereka dipertemukan di sini. Usai bertatapan, Dilara menundukkan pandangan, menatap ke arah lantai. "Dilara? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mahendra, memeluk Karina. "Papa jangan marahin Kak Dila, dia udah memenin Nana loh," kata Karina. Mahendra menunduk. "Nemenin? Terus Kakak kamu ke mana, Nak?" Karina menggelengkan kepala. "Kak Gina ninggalin Nana, terus Nana nangis. Eh ada Kakak baik yang nemenin Nana di sini," katanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD