Bab 09. Sebuah Penawaran

1072 Words
Di dalam kamar mandi, Dilara terdiam di depan kaca diiringi isak tangisnya yang tak kunjung berhenti. Ia mencoba untuk tenang dan berpikir jernih. Mencoba meredamkan semua perasaan marah, sedih dan kecewa yang ia rasakan. Dilara mencuci wajahnya dengan air, lalu memolesi wajahnya dengan polesan make up tipis. Ia harus terlihat baik-baik saja karena akan menemui sang ibu, walau raut wajah dan hatinya tidak bisa bohong jika dia terluka. "Ini udah menjadi pilihanku. Aku harus melupakannya. Yeah, anggap saja semua gak terjadi. Yang penting Ibu sehat," gumam Dilara menyemangati dirinya sendiri. Dilara datang ke ruang inap ibunya. Di atas brankar, Rahmi terbaring lemas tak berdaya di sana. Kepalanya dililit oleh perban bekas operasi. Keadaannya masih lemas, sehingga dibutuhkan istirahat yang panjang. "Bu," panggil Dilara, mengepalkan tangan supaya tidak menangis di hadapan ibunya. Bibir pucat Rahmi tersenyum, ketika Dilara ada di sini. "Kamu ke mana aja, Sayang? Ibu menunggumu sesudah sadar," ucap Rahmi, suaranya terdengar lemas. Langkah Dilara begitu berat saat ingin menghampiri ibunya, ia masih merasa bersalah, tidak bisa menjaga apa yang ibunya amanatkan. Dilara duduk di sana, ia lekas memeluk ibunya dengan perasaan campur aduk. Ia lega, jika ibunya bisa diselamatkan. Dilara hampir putus asa, entah bagaimana nasib ibunya jika saja Dilara belum mengumpulkan biayanya. "Ma-maaf, Bu. Aku baru pulang kerja. Gimana keadaan Ibu?" tanya Dilara, menggenggam sebelah tangan ibunya begitu sayang. Rahmi bangga, jika Dilara yang membiayai operasinya. Dia tahu dari suster yang menjaga. "Tapi, Nak ... kamu kerja apa? Dapat dari mana uang sebanyak itu?" tanya Rahmi, dia penasaran saja apa yang dikerjakan putrinya sampai memiliki penghasilan besar. Padahal Rahmi tahu, gaji UMR di kota ini hanya sekitar 3,5 juta saja. Dan juga Dilara masih belum lulus SMA. Dilara menelan ludahnya kasar, bingung harus menjawab apa saat Rahmi bertanya padanya terkait biaya operasi. "Ada deh, udah jangan dipikirkan. Ibu harus fokus pada kesembuhan," kata Dilara berusaha memutaralihkan obrolan. Rahmi mengedarkan pandangan, mencari-cari keberadaan sang suami yang tidak ada di sini. Bahkan saat Rahmi sadar, hanya ada suster dan Dilara yang datang. "Ayah kamu ke mana, La? Kok nggak kelihatan dari tadi," tanya Rahmi, ia ingin sekali suaminya ada di sini. Turut serta menemani. Detik itu juga senyuman Dilara pudar. Mengingat perlakuan Aji sibuk dengan selingkuhannya, di kondisi ibunya sakit seperti ini, Aji tak ada ibanya sama sekali. Lelaki tua malah asik-asikan bermain api, lebih membela Adelia sampai Dilara harus terkena imbasnya. "Udahlah, Bu. Mulai sekarang jangan sebut-sebut nama Ayah," ujar Dilara kurang suka menyebut nama ayahnya. Bagaimana dia tak menaruh rasa dendam, jika Aji saja lepas dari tanggung jawab serta perannya sebagai seorang suami dan ayah. "Nggak tahu kenapa, Ibu lagi pengen ketemu Mas Aji. Apa Ayahmu masih bekerja, ya? Jadi belum sempet jenguk Ibu?" Rahmi terus menerka-nerka, seolah lupa perbuatan Aji. Dilara menahan sesak, ingin membawa Aji ke sini, tetapi takut pria itu berulah lagi. "Ibu harus istirahat," kata Dillara, sedikit menarik selimut sebatas d**a. "Aku akan temani Ibu di sini." Sayangnya Rahmi sulit memejamkan mata. Rasa ingin bertemu suaminya kian besar. Berharap Dilara mewujudkan. "Nak ... tolonglah panggil Ayahmu ke sini," pinta sedikit memohon. Lantaran tak tega melihat ibunya meminta, Dilara mengangguk, ia akan berusaha membujuk sang ayah agar mau datang menjenguk. Sepanjang hari Dilara menemani, sampai Rahmi tertidur pulas di brankar. Dilara akan mencari keberadaan Aji, sesuai kemauan Rahmi. Walaupun sebenarnya Dilara kurang yakin, Aji mau datang ke rumah sakit. Dia sudah bisa menebak, Aji akan menolak. Namun, Dilara harus mencobanya. Jika bukan karena ibunya, Dilara malas meminta bantuannya. "Dilara!" Tangan Dilara tertarik, gadis itu masuk ke dalam ruangan. "Tu-tuan?" pekik Dilara, mulutnya dibekap Mehandra. Sungguh mengejutkan. Ada kehadiran Mahendra di sini. Mahendra menaruh telunjuk di depan bibir, memberi kode agar Dilara tidak berisik. "Jangan kurang ajar, Tuan!" ketus Dilara, memundurkan langkah. "Anda mengikutiku?" Mahendra bersedekap d**a, sambil bersandar ke tembok. Rasanya gemas, ingin menemui gadis yang seharian ini memenuhi pikirannya. "Tidak, anak saya dirawat di sini. Memangnya kamu berharap saya mengejarmu?" tanya Mahendra, alis tebalnya terangkat satu. "Biarkan aku pergi, jangan pernah berurusan denganku lagi!" tegas Dilara. Cukup sudah malam tadi, Dilara enggan kejadian itu terulang lagi. Mahendra juga sulit mengendalikan diri, nalurinya bergerak membawa Dilara ke ruangan ini. "Kita lihat saja nanti, ucapanmu ini benar atau tidak. Jika kamu butuh, datangi saya, Dilara," bisiknya tepat di belakang tubuh Dilara, mengendus wanginya surai panjang Dilara yang dibiarkan tergerai. "Sekalipun butuh, nggak akan pernah aku datang padamu! Camkan baik-baik, Tuan!" Dilara mendorong pintu sekuat-kuatnya, lalu menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Mahendra terkekeh, ia memejamkan mata sambil memikirkan wajah paripurna Dilara ketika bersamanya. Cantik dan memesona, Mahendra menginginkannya. "Lihat saja, Dilara. Saya yakin kamu akan datang padaku," gumam Mahendra. *** Di tengah-tengah keramaian orang, Dilara terus mencari keberadaan Aji. Jika Mahendra bilang anaknya sedang dirawat, besar kemungkinan kalau ayahnya ada di sini, tapi di mana? Dilara berjalan menuju parkiran, mengitari mobil yang biasa Aji pakai. Mobil milik majikan, Aji hanya meminjam. "Ck, kalau bukan karena kemauan Ibu, aku nggak akan mau menemui ayah!" Kesalnya, ia hendak berbalik. Dari balik kaca mobil, Dilara melihat dengan mata kepalanya sendiri ada dua orang tengah b******u mesra di sepinya suasana parkir. Amarah Dilara meradang, mereka adalah Aji dan Adelia. "Ayah! Buka pintunya, Ayah!" Dilara menggebrak-gebrak pintu mobil. Menghentikan aktivitas panas Aji dan Adelia. Adelia memutar bola mata, di tengah menikmati selalu saja diganggu. "Dilara? Ngapain kamu ke sini?" tanya Aji, mengusap bibirnya dipenuhi lipstik bekas bibir Adelia. "Dasar tidak tahu malu, bukannya mengurus anakmu, kau malah enak-enakkan dengan Ayahku!" desis Dilara pada Adelia. "Diam kamu, Dilara! Jangan ikut campur urusanku. Memangnya apa yang kamu tahu tentang keluargaku?" protes Adelia tak terima. Malas berdebat, Dilara menatap Aji. "Ibu bilang ingin bertemu dengan Ayah. Aku mohon, kali ini saja turuti permintaan Ibu." "Nanti saja, Sayang. Kamu 'kan tahu Ayah lagi kerja, nanti juga ibumu bakalan sembuh, jangan manja," balas Aji, turun dari mobil menghampiri putrinya. "Tapi, Ayah ... kali ini saja. Jangan hanya memikirkan wanita sund*l itu!" "DILARA!" Aji membentak, Dilara bungkam seketika. "Nanti Ayah jenguk, tapi nggak sekarang." "Kapan?" tanya Dilara mendesak. Aji menggaruk tengkuknya. "Na-nanti malam saja, ya. Sekarang kamu kembali ke dalam, Ibumu pasti mencari." "Dasar istri menyusahkan! Pantas saja Mas Aji betah padaku, kalau Rahmi penyakitan kayak gitu," sahut Adelia dari dalam mobil, tersenyum mengejek pada Dilara. "Kurang ajar! Akan kubalas semua perbuatanmu itu, Adelia!" ketus Dilara bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Aji berusaha mengusir Dilara agar pergi. "Kalau kamu mau Ayah menjenguk Ibumu, kamu jangan mengganggu! Adelia bisa memberikan apa yang gak bisa Rahmi berikan. Wanita itu terus sakit-sakitan, menyusahkan! Pergi sana!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD