"Gina, jagain adekmu dulu. Mama mau bicara dulu sama Papa," kata Adelia, meminta Regina untuk menjaga adiknya sementara.
Regina duduk di kursi samping brankar. Membiarkan kedua orang tuanya berjalan keluar dari ruangan.
Adelia menarik tangan sang suami, dia masih penasaran ke mana perginya Mahendra semalam. Agar obrolan leluasa, Adelia membawa suaminya ke tempat yang sepi.
Mahendra pasrah, mengikuti langkah sang istri membawanya pergi. Keduanya berhadapan, pria itu acuh tak acuh saja walau tahu Adelia terus mengintimidasinya.
"Kenapa kamu terus melihatku?" tanya Mahendra, menyampirkan helai rambut Adelia ke belakang telinga.
Ia lakukan agar kemarahan Adelia meredam. Karena Mahendra tahu, wanita akan luluh jika dipuja dan dimanja. Sama halnya Adelia, ia tertegun dengan sikap lembut suaminya.
"Kamu dari mana aja semalam, Mas? Sampai lupa waktu," gerutu Adelia tidak bisa menahan amarahnya.
Menghela napas pelan, niat Mahendra membujuk ia urungkan. Susah menghadapi wanita yang sedang kesal.
"Ada urusan di kantor, makanya nggak bisa pulang," alibi Mahendra, demi keberlangsungan rumah tangganya terpaksa harus berbohong.
Sayangnya Adelia tidak percaya begitu saja, dia melayangkan tatapan curiganya pada Mahendra yang terlihat segar pagi ini. Padahal semalam mereka terlibat perdebatan.
"Jangan bohong kamu, Mas! Jelas-jelas aku udah hubungi Ratna, dia bilang gak ada kamu di sana. Jawab jujur pertanyaanku, dari mana kamu? Jangan-jangan kamu punya wanita simpanan di luar sana!" tuding Adelia, menangkap gestur aneh dari sikap suaminya pagi ini.
Tebakan Adelia bak anak panas mengenai sasaran, Mahendra telak seketika. Dia diam sejenak, memikirkan alasan lain supaya Adelia percaya.
"Kenapa kamu menuduhku yang nggak-nggak? Apa ini bentuk peralihan saja, padahal kamu yang sebenarnya begitu?" timpal Mahendra yang lebih dulu mencurigai istrinya.
Bukan sekali dua kali Mahendra mengomeli Adelia jika dia pulang larut, Adelia sering seperti ini.
Mulut Adelia menganga tak percaya, kalau suaminya akan menuduhnya. Walaupun itu memang benar kenyataannya.
"Mas! Aku pulang larut karena arisan, bukan main api di luar. Aku bosan, karena kamu sibuk kerja mulu. Coba aja kamu gak gitu, aku bakalan tetap di rumah." Adelia membela dirinya.
Malas memperpanjang perdebatan, Mahendra memilih mengalah saja daripada tidak ada habisnya. Ini juga rumah sakit, takut ada orang yang mendengar.
Jangan sampai citranya tercoreng, dengan beredarnya kabar dari orang tak bertanggung jawab.
"Ya sudahlah, akan kuusahakan mengurangi kesibukan. Harusnya kamu juga bisa mengatur jadwalmu, urus anak, jangan arisan mulu yang kamu pikirkan," tegur Mahendra.
Beginilah hubungan rumah tangga mereka satu tahun ini, tidak ada keharmonisan di dalamnya.
Selama ini juga Mahendra sudah memberikan wejangan pada istrinya, apapun yang Adelia mau ia turuti. Akan tetapi hal itu seperti tak berarti sama sekali, Adelia malah terkesan acuh dan dingin sejak mereka menikah.
Keduanya menikah karena dijodohkan oleh orang tua, padahal dulu Adelia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria yang tak lain dak bukan adalah Aji.
"Oke, aku juga berusaha buat jadi istri dan ibu yang baik. Asal kamu kurangi kesibukanmu, Mas!" pinta Adelia. Lama-lama merasa bosan, hidup bersama pria yang gila kerja seperti Mahendra.
Kala Adelia berbalik badan, mata Mahendra memicing saat menemukan adanya tanda merah seperti tanda kissmark di tengkuk lehernya. Mahendra naik pitam, segera ia tarik tangan istrinya sebelum menghindar.
"Adelia!"
"Apa sih, Mas? Awhh ... sakit, Mas!"
"Sekarang kamu harus jujur padaku, Adelia. Semalam kamu dari mana? Kenapa tengkuk lehermu ada bekas kissmark, padahal kita tidak hubungan badan satu tahun ini. Kamu selingkuh dariku?!" bentak Mahendra.
Adelia merutuk, ia berusaha menghalangi tengkuk lehernya. "Kamu curiga lagi, Mas? Bukannya tadi aku bilang kalau aku aris---"
"Mana ada Arisan sampai malam! Jangan membohongiku kau!" Adelia memberontak, agar Mahendra melepaskan pergelangan tanganya.
"Gila kamu, Mas! Udah menuduhku yang nggak-nggak dari semalam! Ini gatal, bukan tanda kissmark yang kamu maksud!" sergah Adelia menyangkal.
Pertengkaran pasangan suami istri tersebut tak ayal dari perhartian Regina yang melihatnya. Gadis itu sudah berkaca-kaca harus menyaksikan perdebatan mereka.
"Mama! Papa! Cukup, ya!" bentak Regina.
Mereka langsung diam.
"Gina, masuk ke dalam!" titah Mahendra.
"Sampai kapan sih kalian terus kayak gini? Gak bosen setiap hari bertengkar terus? Gina cape, Ma, Pa ... harus menyaksikan pertengkaran kalian setiap hari!" ujar Regina dengan tersendat-sendat.
"Gina, Papa bilang masuk ke dalam. Kamu masih kecil, nggak bakala---"
"Kapan kalian berubah? Mama sama Papa egois! Cuma mikirin diri masing-masing. Apa pernah Papa sama Mama mikirin aku sama Nana? Nggak! Kalian selalu saja sibuk seolah kami ini nggak ada! Gina mau bebas, Ma ... harusnya Mama yang jaga Nana, aku mau bebas kayak anak remaja lainnya! Kalian emang egois! Gak pernah ngertiin perasaan kami! Kalau kalian udah gak mau ngurus aku sama Nana, aku ke rumah Oma aja!" papar Regina terus meluapkan keluh kesahnya pada mereka.
Adelia serta Mahendra terdiam, perkataan dari putri sulungnya sangat menampar.
"Nak, bukan begitu maksud Mama. Mama minta maaf, Sayang," kata Adelia.
Regina menepis tangannya menghindar. "Apa susahnya sih bagi kalian buat luangin waktu? Gina cuma mau keluarga kita kayak dulu. Itu yang Gina mau!"
***
Dengan perasaan hancur dan pikiran kosong, Dilara membawa langkahnya untuk menjenguk sang ibu. Ia harus berjalan perlahan, menahan nyeri yang menjalar di sekitar pangkal pahanya akibat semalam.
Ia juga belum sempat mandi, takut Mahendra kembali dan menggaulinya lagi. Di depan pintu ruangan, Dilara berpegangan pada handle pintu.
Kaki terasa lemas untuk menahan bobot tubuhnya, Dilara membekap mulut, menahan isak tangis saat akan bertemu ibunya.
"Apa yang harus aku katakan pada Ibu kalau dia bertanya padaku? Bu ... aku sangat malu berhadapan denganmu, Ibu pasti akan kecewa padaku andai tahu," gumam Dilara melirih pilu, hatinya tersayat sembilu mengingat malam kelam itu.
Malam yang menjadikan hal terburuk sepanjang hidup Dilara, di mana ia harus merelakan keperawanan demi uang.
"Mbak Dilara udah datang? Kebetulan Bu Rahmi ada di dalam, operasinya berjalan lancar," kata suster yang baru akan masuk ke ruangan. "Mbak baik-baik aja? Wajah Mbak pucat."
Dilara mengusap kasar air matanya sambil berdiri secara perlahan, ia menahan ringisan, saat bagian intinya masih terasa menyaktitkan.
"Ak-aku ke kamar mandi dulu, Sus. Kalau Ibu bertanya, bilang saja aku ada," kata Dilara. Suster itu mengangguk, lalu masuk ke dalam ruangan.
Sepanjang lorong rumah sakit Dilara menunduk, malu dan jijik dengan dirinya sendiri. Dilara terus berjalan, hingga Mahendra yang memang ada di rumah sakit melihat ada kehadiran Dilara.
"Shh ... kenapa rasa nyerinya masih terasa?" keluh Dilara.
"Apa aku bermain terlalu ganas? Sampai-sampai Dilara berjalan seperti itu?" gumamnya terus memperhatikan.