Bab 07. Penawaran Mahendra

1017 Words
Kendatipun Adelia selalu mengiyakan, dia menurut pada permintaan Aji yang ingin dibelikan ini dan itu. Adelia juga tidak keberatan sama sekali. "Nantilah, aku belum minta uang ke Mas Mahen," ujar Adelia, mendorong d**a Aji yang terus saja nyosor padanya. Aji tersenyum sumringah. "Baguslah, Mas tunggu ya." "Mama? Pak Aji? Kalian ngapain di sini?" Dua orang itu menjauhkan badan, menjaga jarak di antara keduanya saat Regina datang untuk menyusul. Regina menatap Adelia dan Aji secara bersamaan, pada dua orang di hadapannya yang terlihat tegang jika diperhatikan. Adelia pun kikuk, semoga saja Regina tidak tahu kemesraannya tadi. "Kamu ngapain ke sini? Mama udah bilang jagain Nana," ujar Adelia. "Justru itu aku manggil Mama, badan Nana panas, Ma," ujar Regina, dengan raut kekhawatiran di wajahnya saat tahu Karina sedang sakit. "Apa? Gimana bisa, Nak?" pekik Adelia dengan terkejut. Padahal semalam putri bungsunya baik-baik saja. "Nana semalam rewel karena nungguin Mama dan Papa pulang, sebaiknya kita bawa Nana ke rumah sakit," kata Regina. Daripada orang tuanya, Regina yang sering mengurus Karina lantaran mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai lupa waktu. Karina juga selalu rewel, berakhir menolak makan jika belum bertemu ibu dan ayahnya. Adelia kini dilingkupi rasa cemas, dia bergegas untuk naik ke lantai atas menuju kamar anaknya. Perasaannya campur aduk sekarang, apalagi Karina berwajah pucat sambil menggigil. "Nana, Sayang. Kamu kenapa, Nak?" tanya Adelia dengan cepat, punggung tangannya mengecek tubuh Karina yang memang panas. "Mama ... Papa ...." Hanya kalimat tersebut yang Karina gumamkan sepanjang malam. Melihatnya membuat Adelia tak tega. Dia segera membopong tubuh kecil Karina untuk diperika ke rumah sakit. Takut terjadi apa-apa nantinya. Di saat kondisi seperti ini, Adelia benar-benar kesal pada Mahendra yang sampai kini belum juga kembali. Padahal sudah dihubungi, tidak ada respons apapun. "Gina! Coba hubungi Papa kamu!" *** Pagi hari pun menyapa. Pancaran cahaya mentari menembus masuk lewat ventilasi jendela kamar yang dibiarkan terbuka. Hari sudah semakin cerah, tetapi tak mengganggu tidurnya dua insan yang semalam berbagi kehangatan. Di atas ranjang, Mahendra dan Dilara masih tidur di selimut yang sama, menutupi tubuh polosnya tanpa busana. Mahendra menggeliat, saat cahaya matahari mengenai wajahnya. Saat ia bergerak, Mahendra sadar ada Dilara yang menjadikan tangannya sebagai bantalan. Pria itu tersenyum, masih teringat jelas memori indah yang mereka lakukan hingga pagi menjelang. "Apakah aku fedofil*a? Karena menyukai gadis muda seperti Dilara? Sepertinya tidak, pun dia sudah dewasa," gumam Mahendra, sambil menatap banyaknya noda kissma*k di kulit Dilara. Dilara masih terjaga, ia dibiarkan tidur usai memuaskan Mahendra. Ia melenguh, terganggu karena merasakan senasi geli yang menggerayangi punggungnya. Gadis itu lantas membuka mata, lalu menjauh begitu saja. "Jangan lakukan itu lagi, Tuan! Jangan!" teriak Dilara yang masih dilanda ketakutan. Ia memundurkan posisi tubuh, dengan tangan menahan selimut tebal agar tidak melorot ke bawah. Dilara masih takut, kalau Mahendra mengulangnya. "Sebagai bentuk perpisahan, bukan? Saya akan membayarmu mahal, Dilara," kata Mahendra, menyamping sambil menumpu pelipisnya dengan tangan. Terus memandangi Dilara yang sudah acak-acakan dan memperihatinkan. Andai saja Adelia tidak lalai pada tugasnya, Mahendra terpaksa harus menyewa wanita guna menemani malamnya. Dan sialnya, Mahendra justru ketagihan dan ingin terus bersama dengan Dilara. "AKU TIDAK SUDI LAGI DISENTUH OLEHMU!" ketus Dilara sambil meluap-luapkan emosinya. Marah dan benci ia rasakan, atas yang diperbuat Mahendra padanya. "Baiklah, Dilara ... hubungi saya jika kamu butuh sesuatu," ujar Mahendra, membuka dompet dan menyodorkan kartu nama miliknya. "Ini, kartu namaku." Jaga-jaga saja, siapa tahu Dilara berminat menemani malam selanjutnya. Dilara hanya menatapnya sendu, tak ada keinginan untuk menerimanya. Mahendra bangkit, ia menyibak selimut. Dilara membuang muka, Mahendra sudah keterlaluan berjalan tanpa helai benang saat akan pergi ke kamar mandi. Sepeninggal Mahendra, Dilara menutup wajahnya. Ia sangat sesak, bak dihantam palu godam yang merajam dadanya. Dilara mengedarkan pandangan, mengitari ruangan yang berantakan, pakaian mereka pun berserakan di atas lantai. Dilara meringis, merasakan sakit di bagian inti tubuhnya. Dengan susah payah Dilara turun, memakai kembali pakaiannya. "Aku ternoda! Aku gagal menjaga kehormatanku! Bu ... maafkan aku!" isak Dilara sembari menangis tersedu-sedu di samping ranjang. Samar-samar Mahendra mendengar suara tangisan, ia yang sedang membersihkan diri lantas menghampiri Dilara. "Berisik! Bukannya itu sudah menjadi pilihanmu? Untuk apa kamu sesali?" tanya Mahendra mendengus kesal. Telinga pengang harus dihadapkan Dilara yang menangis kencang. "Saya harus pergi pagi ini." Mahendra berkata lagi, pria tersebut buru-buru karena mendapat kabar kalau anaknya dibawa ke rumah sakit. Sebagai bentuk perpisahan, Dilara dipaksa untuk bercium*n walaupun dia enggan. "Ck, diamlah!" desis Mahendra, mengusap bibirnya yang berdarah akibat gigitan Dilara. "Pergi, Tuan! Pergi dari sini!" usir Dilara. *** Karina sudah dibawa ke ruangan inap usai diperiksa, dokter bilang jika Karina hanya mengalami demam biasa karena sedang musimnya. Adelia dan Regina bernapas lega, tidak ada sesuatu serius terjadi padanya. Adelia duduk di sebelah brankar, ia merasa bersalah mengabaikan anak-anaknya sejak dirinya selingkuh dengan Aji. "Gimana keadaan kamu, Sayang? Sakit, ya?" tanya Adelia, mengusap puncak kepala Karina. Bocah kecil itu mengangguk. "Sakit, Ma. Tangan Nana ditusuk jarum," katanya sambil melirik pada infusan. Regina hanya bisa diam, biarkan saja Adelia yang mengurus, toh sudah kewajiban ibunya juga. "Gak papa, Nak. Supaya Nana cepat sembuh," ujar Adelia. Menegarkan hatinya, sebagai seorang ibu dia terluka saat anaknya sakit. "Nana mau main bersama Mama dan Papa, Nana juga mau tidur sama kalian. Bosen tidur sendirian," pinta Karina dengan polos. Permintaan sederhana yang ia inginkan. Namun sayang, keinginannya tidak mudah tercapai. Mengingat kegiatan dan kesibukan orang tuanya, Karina harus mengubur harapannya itu. "Iya, Nak, nanti Mama sama Papa bakalan terus sama Nana. Nana cepat sembuh, ntar Mama ajak Nana main." Wajah Karina yang tadinya lesu, kini berubah sumringah. Obrolan dua wanita beda usia itu terjeda, saat kedatangan Mahendra yang tergesa-gesa memasuki ruangan inap anaknya. "Papa!" pekik Karina kegirangan, saat ada Mahendra datang. Regina pun senang ayahnya datang. "Nana nanyain Papa mulu tuh," katanya. Mahendra tersenyum, ia mendekati Karina yang senang ada kedua orang tuanya di sini. Beda dengan Adelia, tatapannya begitu mengintimidasi saat Mahendra tiba. "Papa ke mana aja? Nana nyariin Papa, iya 'kan, Kak Gina?" Karina bertanya pada sang kakak. Regina mengiyakan saja. "Maaf ya, Papa lagi ada urusan. Makanya gak pulang semalam," kata Mahendra, mengecup kening Karina. Mehendra menatap Adelia yang sedang menatapnya juga. "Habis ini kita bicara, Mas," pintanya dan diangguki Mahendra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD