Dilara terperanjat, saat ada sebuah tangan besar langsung mencengkram kuat dua bahunya dan mendorong ke tembok.
"Akh!" Dilara meringis, saat bagian punggungnya membentur tembok begitu keras akibat dorongan kasar yang dilakukan Mahendra.
Netra Mahendra merah menyala, dengan d**a naik turun akibat terlalu lama menunggu Dilara di dalam sana.
"Apa yang kamu lakukan di dalam sana sampai selama itu, Dilara?! Kamu sengaja mengulur saya?!" Mehandera berujar kesal, terus menekan tubuh mungil Dilara agar dia tak bisa ke mana-mana.
Raut wajah Dilara menampilkan kesakitan, bahwa cengkraman di lengannya sungguh menyakitkan.
"Sa-sakit, Tuan ... maafkan aku," ucap Dilara dengan melasnya, agar Mahendra segera melepaskan.
Bukannya melepas, Mahendra justru memangkas jarak sehingga semakin dekat. Tenggorkan Dilara tercekat, di posisi sedekat ini ia bisa merasakan hangatnya hembusan napas Mahendra menerpa wajahnya.
Bulu kuduk Dilara meremang, apalagi telunjuk Mahendra sudah mengusap dari atas sampai bawah, menciptakan gelenyar aneh yang baru ia rasakan.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?" pekik Dilara, suaranya tertahan karena tidak terima dirinya diperlakukan demikian.
Dilara hendak menghindar, lagi dan lagi pergerakannya ditahan. Sejurus kemudian badan Dilara terasa melayang karena Mahendra mengangkatnya ala bridal.
"Tentu saja mencicipmu. Kamu saya beli untuk memuaskanku malam ini," ujar Mahendra diringi seringai nakal di bibirnya.
Dilara memberontak, memukul d**a bidang Mahendra sebagai perlawanan. Dilara terhempas ke ranjang, ketika Mahendra membantingnya ke sana sambil terlentang.
Tatkala Dilara akan bangkit, keduanya bahunya didorong paksa sampai kepalanya membentur headbord ranjang.
"Awwh----hmppp!" Keluhan Dilara terhenti, ia membulatkan mata melihat aksi Mahendra yang membungkamnya dengan cium*n intens.
Cium*n itu semakin lama semakin menuntun. Mahendra yang memang sudah lama tak merasakan peraduan ranjang, seketika nafs*nya semakin menggelora. Menggilai tubuh gadis muda yang kini berada di bawah tubuhnya.
Sekian menit asik mencumb*i Dilara, bibir Mahendra merambat ke bawah untuk menjelejah ke setiap inci tubuh Dilara, tanpa ia lewatkan sejengkal pun.
Di bawah kuasa pria tua di atasnya, Dilara berusaha melepaskan diri. Ia sudah diruda paksa oleh Mahendra. Lantunan suara merdu Dilara semakin mengobarkan rasa panas yang begitu menggelora, menciptakan rasa nikm*t yang sudah lama tak ia dapatkan.
"Jangan, Tuan! Jangan lakukan itu!" Dilara beringsut mundur, namun naasnya ada tembok yang menghalangi.
Mahendra membuka handuk yang ia pakai, tatapannya terus menatap lapar pada Dilara yang sudah membangkitkan gelora di jiwanya.
"Mau lari ke mana kamu, gadis kecil? Kamu tidak akan bisa dariku jika sudah berurusan denganku," kata Mahendra berhasil menguasai Dilara dan berhasil mendapatkan manisnya seorang mahkota gadis muda.
Suasana kamar yang tadinya sepi kini ramai dengan suara lenguhan Dilara yang terus bersahutan memenuhi ruangan. Dengan perasaan hancur, Dilara tak segan mengeluarkan tangisan, karena memang dia tidak menikmati selama peraduan.
Mahendra tersenyum puas, sambil mengecup bibir Dilara sekilas.
"Begini rasanya daun muda, ternyata menyengkan juga. Apa kamu berminat untuk bermalam bersamaku di malam-malam selanjutnya, Dilara?"
Sayang seribu sayang, gadis di sampingnya terus menumpahkan tangisan. Dilara sudah ternoda, mahkota yang ia jaga terenggut paksa malam ini juga.
Bukan rasa nikmat yang ia rasakan, malah rasa sakit di sekujur tubuh begitu menyakitian, terlebih pada bagian intinya.
"Maaf, Tuan ... aku nggak bisa, aku terpaksa melakukannya, bukan karena aku suka," tolak Dinara, suaranya terdengar parau. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
Mendapatkan penolakan barusan, Mahendra tampak tersinggung. Baru kali ini dia ditolak mentah-mentah di saat dirinya sedang berubah pikiran.
"Kalau begitu ganti uangku jika kamu tidak mau!" ancam Mahendra, dia yakin jika Dilara akan luluh mendapatkan ancaman.
Benar saja, Dilara yang tadinya membelakangi jadi mengubah posisinya.
"Apa maksudmu, Tuan? Bukankah uang itu sesuai kesepakatan?" tanya Dilara.
Mahendra menatap wajah sayu Dilara di sampingnya. Keinginan untuk melanjutkan aktivitas mereka masih ada, Mahendra mencoba menahannya.
Bibir Mahendra menerbitkan senyum smirk. "Hei, sadar dirilah. Harga untuk wanita malam sepertimu tidak semahal itu! Jika bukan karena aku, kamu tidak akan mendapatkan biaya untuk pengobatan ibumu."
"Bukannya Anda sendiri yang ingin membayarnya? Bukan karena aku meminta," protes Dilara, merasa dipermainkan oleh Mahendra.
"Saya sudah katakan, saya membantumu bukan secara cuma-cuma, ada syaratnya." Jawaban Mahendra membuat Dilara jadi kalah telak.
Gadis yang masih terpukul itu termenung, bulir air matanya kembali berjatuhan.
"Biarkan aku pergi, Tuan ...." Dilara meminta, dia masih ada ibunya yang harus dijaga.
Mahendra mengusap dagunya yang ditumbuhi jambang tipis.
"Baiklah, puaskan aku sampai pagi," katanya sembari mengulang kegiatan tadi.
***
Di kediaman Adelia tengah kelimpungan menantikan kehadiran Mahendra pulang. Ia sudah lama menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda Mahendra pulang sekarang.
Ia sudah mencoba menghubungi beberapa kali. Namun sayang, ponsel suaminya sulit dihubungi. Adelia jadi takut, jika suaminya bersama wanita lain di luar sana.
"Mama?" panggil Regina, masuk ke kamar orang tuanya.
Adelia berhenti mondar-mandir, perempuan itu berbalik saat anaknya datang. "Iy-iya, Sayang? Kamu udah bangun?" sahut Adelia.
Regina melirik pada ranjang kosong di sampingnya. Tumben sekali ayahnya bangun pagi-pagi, pikirnya.
"Tumben Papa udah bangun pagi, biasanya Papa bangun siang," ujar Regina. Menyusul sang mama untuk mengajak sarapan.
Adelia memaksakan senyum. "Papa kamu belum pulang dari malem, Mama nggak tahu Papa kamu pergi ke mana."
Regina membeo, bagaimana bisa Mahendra tidak ada, sementara semalam ayahnya ada.
"Apa? Bukannya Papa nungguin Mama semalem. Kok bisa sih nggak pulang? Kalian bertengkar?" Regina mencecar ibunya dengan berbagai tanya.
Ia memang sering menyaksikan ayah dan ibunya beradu mulut, karena memikirkan ego masing-masing. Jadi hal biasa, Regina tahu itu semua.
Adelia mengangkat bahu. "Ya gitulah, Papa kamu salah paham. Sebaiknya kamu bangunkan Karina, Mama mau tanya ke penjaga dulu."
Wanita berusia tiga puluh enam tahun tersebut keluar dari kamar, dia berjalan menuju lantai bawah guna menanyakan Mahendra kepada para pegawai.
"Eh! Eh!" Adelia kaget, ada tangan menyergap perutnya. "Mas Aji!" pekiknya kesal.
Aji menyengir tanpa dosa, mereka berdua memang selalu mencari kesempatan bilamana Mahendra tidak ada di rumah.
"Nyari apa sih kamu? Buru-buru banget," tanya Aji pada majikan sekaligus kekasih gelapnya.
Dan Adelia pun senang-senang saja, selagi hanya mereka di garasi. "Kamu lihat suamiku nggak sih, Mas? Mas Mahen nggak pulang dari malam."
"Mana Mas tahu, Sayang. Bukannya bagus kalau dia nggak ada? Artinya kita bisa bebas berduaan," kekeh Aji sembari mengecup pipi Adelia.
Takut kemesraan mereka diketahui, Adelia menjauhkan diri. "Bukannya bantuin cari, malah nyari kesempatan. Mau gimana pun juga aku masih cinta sama Mas Mahen."
Aji memutar bola mata malas. Selama menjalin hubungan, Aji memang memanfaatkan Adelia sebagai ATM berjalan.
"Ponsel Mas udah rusak, Sayang. Nanti siang beliin yang baru, ya. Yang bagus merknya, supaya bisa jelas lihat wajah kamu pas VC-an."