Bab 05. Gadis Bayaran

1020 Words
Baru saja Dilara akan bernapas lega, dia kira Madam Lauren akan menolongnya, tapi ternyata malah memberikannya pada pria. Hidup Dilara sedang berada di ujung tanduk, harus pasrah hanya demi mendapatkan uang untuk biaya operasi. Dilara terduduk lemas di lantai sambil menangis terisak-isak. Andai dia berpikir matang, mungkin dia tidak akan terjebak dalam kehidupan dunia malam yang menurutnya mengerikan. Namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, Dilara harus menerima asalkan dia mendapatkan uangnya. "Lepaskan dia!" ketus seorang pria, mengalihkan pandangan Dilara pada sosok pria berusia matang yang sedang berjalan. Dilara menengadahkan kepala, sejurus kemudian Dilara kaget mengetahui jika orang yang membeli dirinya adalah Mahendra, suami Adelia. "Te-terima kasih, Tuan," ujar Dilara. Ia mengira jika Mahendra juga membantunya. Bibir Mahendra menyeringai. "Jangan pernah berharap aku membantumu secara cuma-cuma. Sebagai gantinya kau harus membayarnya dengan tubuhmu." Dada Dilara bergemuruh hebat, pupus sudah harapannya untuk bisa keluar dari sini dengan cuma-cuma. Ternyata pria itu juga tak merasa iba. Terbesit sebuah ide di pikiran Dilara. Tentang sakit hatinya karena ayahnya berselingkuh dengan Adelia, dia berpikir, untuk membalas dengan cara yang sama yang ia inginkan kepada dua orang itu. 'Apakah ini kabar baik atau justru kabar buruk? Karena Ayah dan Adelialah Ibu jadi dibawa ke rumah sakit,' batinnya. Makanya Dilara pikir, ada kesempatan baginya supaya bisa membalas Adelia dengan mendekati suaminya. Ia ingin, dia mendapatkan balasan setimpal karena sudah menyakitinya dan juga ibunya. "Tunggu apalagi Dilara, berdiri!" titah Madam Lauren, selaku pemilik club malam, dia mendapatkan untung lebih besar sejak Dilara datang. Dengan susah payah Dilara bangkit berdiri, dia terus menatap lantai, belum sanggup diperjual belikan layaknya barang. "Apakah aku bisa mengambil uangnya besok, Madam?" Dilara bertanya ragu-ragu. Dia ingin uang itu ada besok, agar bisa segera melakukan operasi sang ibu. Madam Lauren mengangguk, meyakinkan. "Tentu saja. Kamu bisa membawa uangmu sekarang juga, asal kamu patuh saja dengan Tuan Mahendra." Dilara mengangguk pelan, tidak bisa bohong kalau hatinya hancur berkeping-keping. Harus bermalam dengan pria yang umurnya lebih tua darinya. Mahendra juga tidak tahu, kenapa ia bisa tiba-tiba melakukan itu. Dilihat dari penampilan saja tak membuatnya selera, hanya menang pada wajah saja. "Aku akan membawamu malam ini, dandani dia, aku tidak selera melihat penampilannya yang dekil seperti ini," titah Mahendra. Menatap penampilan Dilara dari atas sampai bawah. Baju pendek itu mengekspos kulit putih dan mulusnya, hanya saja tubuhnya tidak terlalu sintal. Mahendra juga belum tahu, Dilara akan diapakan nantinya. "Tu-tuan ...." Dilara memanggil takut-takut, begitu mereka ada di mobil milik Mahendra. Mahendra menoleh sekilas, lalu berdehem. "Ada apa?" Dilara mencengkram sabuk pengaman, karena sekujur tubuhnya gemetar tak karuan. "Bo-bolehkah aku ke rumah sakit dulu, Tuan?" tanya Dilara. Ada kerutan tipis di dahi Mahendra mendengar permintaan gadis di sampingnya. "Untuk apa? Jangan mengulur waktu. Malam terus berjalan." "Aku akan datang kapanpun jika Tuan memperbolehkanku ke rumah sakit sekarang. Aku mohon, Tuan. Ibuku harus dioperasi dan membutuhkan biaya ini." Dilara mengatupkan tangan di depan d**a. Mahendra pun berpikir keras. 'Oh, ternyata dia terpaksa bekerja seperti itu karena membantu ibunya,' batin Mahendra. Hatinya tersentil, merasakan sedikit rasa iba pada Dilara. "Saya akan mengantarmu, jika sudah membayar, kamu harus ikut denganku," tegas Mahendra, lekas diangguki Dilara. Di dalam perjalanan, hanya ada kesunyian yang mengiringi. Dilara terus memanjatkan doa agar ibunya baik-baik saja. *** Selang beberapa menit menempuh perjalanan ke rumah sakit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah salah satu rumah sakit besar di ibu kota. Dengan mengenakan pakaian seadanya, Dilara berusaha menurunkan gaun terbuka itu. Melihatnya, Mahendra mendengus pelan, menurutnya sikap Dilara barusan sangat kampungan. Sadar jika Mahendra tidak suka, Dilara menghentikan tangannya. "Di mana ibumu dirawat?" tanya Mahendra, ia jadi ingin membantu gadis malang ini. "Di ruang Anggrek nomor 113, Tuan," balas Dilara. Mereka berjalan menuju ruang adminitrasi, melakulan persetujuan dan pembayaran dulu. "Pasien atas nama?" tanya suster sambil menatap ke arah layar. "Rahmi Pratiwi, Sus," kata Dilara. "Berapa biaya operasinya? Biar saya yang bayar," tanya Mahendra, dia menyodorkan kartu debit pada suster. Dilara melirik ke arah Mahendra, dia ada sisi baiknya, sudah mau menolong meskipun ada persyaratannya. Pembayaran selesai, Dilara senang ibunya akan segera melalakukan tindakan operasi. "Terima kasi---" "Sudahlah, jangan banyak bicara, kamu harus ikut dengan saya," ajak Mahendra, menarik paksa pergelangan tangan Dilara yang begitu lembut saat Mahendra pegang. Langkah Dilara tertarik paksa, harus menyeimbangkan langkah lebar Mahendra yang membawanya keluar. "Kita mau ke mana, Tuan?" Degup jantung Dilara mulai berpacu cepat, dia takut malam ini dia akan kehilangan mahkota berharganya. "Ke hotel, saya sudah booking tempat di sana." Susah payah Dilara menelan ludah, ia jadi bersalah, mengambil jalur ini demi uang pengobatan. Mahendra membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, mengajak Dilara ke sebuah hotel bintang lima untuk dijadikan tempat bermalam mereka. Dilara terus bertekad, mendekati Mahendra supaya bisa balasa dendam pada Adelia. 'Kamu akan merasakan hal yang sama, Adelia. Karena kamu sudah menyakiti Ibuku,' batin Dilara. *** Sampai di parkiran hotel, tubuh Dilara terasa terguncang. Gadis itu meremas dressnya dengan kuat, berusaha menguatkan dirinya. Dilara tersentak, saat tangan Mahendra melingkar di pinggang rampingnya. Atmosfer berubah begitu saja, keringat panas dingin membasahi kening Dilara saat Mahendra sudah membawanya ke tempat tujuan mereka. Sebuah hotel mewah, yang sudah disediakan Mahendra. "Masuklah!" titah Mahendra, sembari membuka jas yang melekat pada tubuhnya. Pria itu berbalik sejenak, menyadari bahwa Dilara tengah ketakutan. Namun apa pedulinya? "Mandi! Bersihkan dirimu di kamar mandi!" Hening. Dilara diam dengan kebisuan. "Kamu tidak dengar apa yang saya katakan?" Mahendra sedikit meninggikan nada bicara. Dilara pun menurut, dalam hati dia terpaksa. "Kukumu tidak panjang, bukan?" "Nggak, Tuan. Aku hanya memakai kuku palsu saja." "Buang, saya tidak mau kukumu menyakitiku!" Gadis malang itu segera berjalan ke arah kamar mandi. Dia tidak langsung membersihkan diri, melainkan menangisi nasib yang sedang terjadi. Ia membekap mulut, supaya suara tangisannya tak terdengar keluar. "Ya Tuhan ... maafkan aku, aku terpaksa melakukan itu," isaknya, napasnya tersendat-sendat, tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam. Di depan pintu kamar mandi, Mahendra sudah siap hanya mengenakan handuk sepinggang, dia menggedor-gedor pintu dengan tak sabaran. "Dilara! Kamu bisa cepat tidak sih? Buka pintunya!" teriak Mahendra, medesak Dilara di dalam sana. Mendengar bunyi bising di pintu, Dilara mencuci wajahnya, menghapus jejak air mata. "Ibu ... maafkan aku," ucap Dilara begitu lirih, sebelum membuka pintu kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD