~Selamat Membaca~
"Kayram.." Emery bergumam pelan. Jantung wanita itu tiba-tiba saja berdetak kencang saat melihat siapa pria yang telah dia tolong.
Dia amat sangat mengenali pria di hadapannya itu. Selain adalah suami dari putrinya, Kayram juga salah satu orang yang pernah mempermalukan juga menorehkan luka pada dirinya satu setengah tahun lalu.
Pria itu meminta beberapa orang untuk menyeretnya keluar dari gedung resepsi seperti seorang peminta-minta, saat dia hendak bergabung menghadiri pernikahan putrinya sendiri. Emery sadar tak pernah di undang, Namun nalurinya sebagai seorang ibu membuat dia bertekad datang dengan harapan hati putrinya akan melunak.
Sayang sekali, harapan Emery tak seindah ekspektasinya. Dengan kejam Elea menamparnya dengan di iringi kata-kata yang menyakitkan. Begitu pula Kayram yang saat itu masih terselimuti oleh kabut cinta buta. Pria itu mendorong tubuh mungil Emery hingga terjengkang di tengah-tengah ruangan pesta, hanya karena dia berusaha menggapai lengan putrinya.
Emery di seret dalam keadaan masih terduduk di lantai, hingga menyebabkan luka di paha kiri akibat tergores benda tajam yang entah apa. Dirinya di permalukan sedemikian rupa oleh anak dan menantunya sendiri di hadapan ribuan tamu undangan.
Emery masih ingat dengan jelas semua penghinaan dan rasa sakit yang di berikan oleh Kayram dan putrinya. Namun lagi-lagi nuraninya tak mampu berpaling untuk membenci darah dagingnya sendiri.
"Maaf, aku hanya ingin memastikan kondisimu. Kamu sudah terlihat baik-baik saja sekarang, aku pamit pergi." Emery kembali memutar langkah tanpa sempat menemui Kayram lebih dekat. Wanita itu bahkan pergi tanpa menunggu apa yang hendak Kayram ucapkan kepadanya. Dia yakin menantunya tak akan sudi bertutur kata dengannya apalagi berucap kata terimakasih. Emery pun tak pernah mengharapkannya sedikitpun. Dia cukup sadar diri siapa dirinya hanyalah orang tak punya dan rendah di mata Kayram yang seorang sultan.
Sesaat setelah dia menutup pintu, air matanya menetes tak terbendung. Seorang perawat terlihat keheranan. Pasalnya kondisi Kayram baik-baik saja.
"Permisi bu, apa suami ibu mengalami rasa sakit lain pasca kecelakaan tadi? saya akan memanggil dokter jaga di ruang poli." Tanya seorang perawat menyentuh bahu Emery. Lekas Emery menggeleng seraya mengusap air matanya.
"Tidak sus, dan ya, pria di dalam adalah menantu saya bukan suami." Balas Emery membuat sang perawat tercengang.
Wanita muda itu terlihat memindai penampilan Emery dengan begitu kentara. Membuat Emery sedikit salah tingkah.
"Ah masa, ibu terlihat masih muda kok. Masa sih, kok saya gak percaya ya..." Ujar si perawat nampak tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Emery hanya tersenyum samar.
"Saya menikah muda sus, 16 tahun saya sudah punya anak." Terang Emery tanpa menutupi kebenaran. Itu agar perawat tersebut tak lagi ngotot dan salah paham.
Si perawat mengangguk paham walau sulit untuk menerima kenyataan. Baginya penampakan Emery masih terlihat seperti wanita berusia 25 tahunan. Emery memang secantik itu. Bunga desa yang di lamar oleh seorang anak saudagar kaya di kampung halamannya. Namun hanya tiga tahun membina rumah tangga, ia di ceraikan dengan alasan tak pandai merawat diri.
Di ajak tinggal di kota entah berantah yang baru saja ia pijak beberapa bulan setelah mengikuti suaminya merantau ke ibu kota. Namun dia malah di tinggalkan begitu saja tanpa kalimat perpisahan.
"Saya titip menantu saya ya sus, nanti istrinya akan kemari untuk menjemput. Saya masih ada urusan lain, jadi tidak bisa menunggu." Perawat tersebut mengangguk paham namun fokusnya teralihkan pada kedua lutut Emery yang terlihat berdarah.
"Tapi ibu juga terluka," cegah si perawat saat Emery hendak melangkah pergi.
"Tak apa, hanya luka lecet kecil. Aku masih bisa mengobatinya dengan obat merah. Terimakasih sebelumnya sus," ucap Emery lalu melangkah lebar meski harus menahan rasa sakit di kedua kakinya.
Sedangkan di balik pintu, sejak tadi Kayram menguping pembicaraan sang mertua dengan seorang perawat. Laki-laki itu berniat untuk meminta penjelasan tentang keberadaannya di sana. Namun sepertinya kini dia mulai mengerti. Barangkali wanita yang tanpa sengaja telah dia tabrak tadi adalah mertuanya sendiri.
"Kasihan sekali, padahal kakinya juga terluka tapi malah di abaikan begitu saja. Ibu mertua yang baik, semoga kelak aku juga mendapatkan ibu mertua seperti ibu itu. Peduli pada anak menantunya sampai melupakan rasa sakit pada dirinya sendiri." Monolog si perawat yang lagi-lagi terdengar oleh Kayram.
Di perjalanan pulang, Emery berhenti di tepi jalan sepi. Rasa nyeri di kedua lututnya sudah seperti luka irisan yang tak lagi tertahankan.
"Astaga, kok sakit banget gini sih!" Keluh Emery meringis nyaris menangis. Dia hanya memiliki sisa uang 70rb setelah membayar biaya perawatan Kayram sebesar 350 ribu rupiah.
Tin tin
Sebuah mobil perlahan berhenti tepat di hadapan Emery yang sedang duduk di atas sebuah kursi bekas di tepi jalan. Tak lama keluar seorang pria berjas silver kemudian menghampiri Emery.
"Ada yang bisa saya bantu mbak, sepertinya mbak terluka. Mau saya antar ke rumah sakit, barangkali?" Tawar laki-laki tersebut menatap kedua lutut Emery bergantian dengan tatapan iba.
Emery menggeleng cepat. Dia baru saja meninggalkan fasilitas kesehatan dengan budget ringan untuk masyarakat sepertinya. Mendengar kata rumah sakit membuatnya langsung cemas dan mendadak sesak nafas.
"Saya baru pulang dari puskesmas, obatnya akan saya tebus di apotik dekat rumah saya tuan. Terimakasih sebelumnya tuan, saya baik-baik saja." Tolak Emery halus.
Si pria mengangguk paham.
"Kalau begitu bagaimana kalau saya antar pulang?" Tawar si pria lagi. Emery hendak menolak namun rasa sakit di kedua kakinya sungguh sangat luar biasa. Akhirnya dengan terpaksa dia menerima tawaran pria asing tersebut.
"Baiklah tuan, hmmmm… itu..obatnya nanti saja di tebus sama adik saya. Saya mau langsung istirahat saja di rumah," ucap Emery berdalih. Dia yakin wajahnya pasti memerah saat ini, dirinya tak terbiasa berbohong. Namun terpaksa karena kondisi keuangannya memang tak bisa di kompromikan.
"Oke, katakan saja alamat mbak kemana aku harus mengantar pulang." Balas si pria sambil membantu Emery berjalan menuju mobilnya.
Emery menyebutkan alamat rukonya yang merupakan tempat tinggalnya.
"Namaku Abian," Emery menoleh lalu menyambut uluran tangan si pria yang telah berbaik hati menolongnya.
"Emy," balas Emery yang entah kenapa dia lebih suka tak menyebut nama lengkapnya
Toh mereka tak akan lagi berjumpa setelah ini, begitulah pikirnya.
"Nama yang indah," puji si pria menoleh sekilas.
Emery hanya diam sembari tersenyum tipis tanpa menimpali.
Hampir 10 menit perjalanan hanya di isi oleh keheningan. Emery benar-benar menjaga mulutnya agar tetap terkunci rapat. Berdekatan dengan seorang pria menjadi sesuatu yang sangat dia hindari dalam hidupnya.
"Sampai di sini saja tuan Abi, terimakasih banyak atas bantuan tuan sudah berbaik hati mengantarkan saya pulang." Ucap Emery menunjukkan sebuah gang kecil di depan mereka.
Abian menghentikan mobilnya lalu melongokkan kepalanya ke kaca depan guna melihat situasi gang yang di tunjuk oleh Emery.
”Panggil aku Abi saja, tuan terlalu berlebihan. Lagi pula aku ini hanya seorang sopir pribadi, bukan sultan atau pengusaha. Jangan tertipu oleh jas ini. Bosku tak ingin sopir pribadinya berpenampilan memalukan dirinya jadi meminjamkan aku jas ini sebagai dinas kerja.” Ucap Abian panjang lebar.
Emery hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Mau aku bantu berjalan ke dalam gang?" Tawar Abian lagi yang tak yakin Emery dapat berjalan sendiri dengan luka di kedua lututnya.
"Tidak perlu, terimakasih. Hanya beberapa meter saja, lagipula ini hanya luka kecil." Tolak Emery cepat.
Terlihat Abian mengesah kecewa. Dia berniat untuk memberikannya pertolongan namun ia sadar jika Emery atau Emy tak nyaman dengan kebaikan orang asing. Akhirnya Abian mengalah.
"Baiklah, berhati-hatilah." Emery kembali mengangguk kemudian turun dari dalam mobil Abian. Dengan berpura-pura kuat, Tak lupa Emery kembali mengucapkan kata terimakasih pada pria baik itu. Emery berjalan tegak ke dalam gang menuju rumahnya.
Abian menggeleng pelan. Dia tau bahwasanya Emery sedang menahan rasa sakit di kedua lututnya, dengan berpura-pura kuat di hadapannya.
"Wanita yang unik dan tangguh, aku akan mendapatkanmu girl." Ucap Abian tersenyum penuh arti.
Laki-laki itu meninggalkan gang kediaman Emery dengan perasaan berbeda. Dia sengaja mengikuti Emery sejak melihat wanita itu berjalan keluar dari lobby IGD.
Dirinya yang sedang mengantar sang mantan istri serta putranya, tak sengaja melihat Emery berjalan tertatih menuju jalan raya. Dia pikir Emery akan menumpang taksi atau minimal ojek. Namun nyatanya wanita itu malah berjalan kaki dengan jarak yang tidaklah dekat.
Padahal tadi dia sempat berdebat dengan sang mantan istri perkara tempat tujuan mereka bukanlah rumah sakit. Sang mantan yang merupakan dokter umum kebetulan bekerja di puskesmas tempat Emery membawa sang menantu. Namun dia sepertinya harus mengucapkan terimakasih banyak pada sang mantan, karena sifat keras kepala wanita itu dia bisa melihat pencerahan yang tak terduga.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Abian melirik ponselnya kemudian laki-laki itu menepuk jidatnya seperti telah melupakan sesuatu.
"Mampus! Bisa kacau kalau Arka ngambek ini," monolog Abian yang begitu saja melupakan sang anak yang tadi dia tinggalkan di loket pendaftaran poliklinik.
"Ya Mel, sorry..aku kebelet boker jadi buru-buru nyari toilet umum." Ucap Abian dengan nada cepat.
"Toilet? Bukannya di puskesmas juga ada toilet?" Jawaban Melisa membuat Abian meringis malu. Untung saja wanita itu tak melihat ekspresinya saat ini.
"Sorry, namanya juga buru-buru mana ingat kalau di sana ada toilet juga. Ini aku udah otw ke sana, tunggu sebentar lagi aku sampai." Abian memutuskan panggilan sebelum Melisa melontarkan kalimat mutiara yang membuat telinganya kehilangan fungsi.
Di tempat berbeda Emery sedang mengobati lukanya dengan obat seadanya.
"Aku belikan salep antibiotik aja ya Em, bisa infeksi ini kalau cuma di kasih Betadine." Usul Berta yang khawatir melihat teman sekaligus bosnya yang begitu menyepelekan luka di kakinya.
"Tidak perlu Ta, ini udah mendingan abis aku kompres air hangat. Nanti juga bakal sembuh sendiri," tolak Emery keras kepala.
Dia tak enak hati, gaji Berta hanya mampu dia berikan setengah saja bulan ini. Karena usahanya sedang dalam fase kritis. Mesin cuci yang bisa di gunakan hanya ada dua, sedangkan dua lagi rusak total setelah bekerja rodi selama belasan tahun. Tak terhitung jumlah kalinya mesin cuci milik Emery di servis. Memang sudah masanya untuk pensiun.
"Ck, kamu selalu saja seperti ini kalau mau di bantu. Kamu anggap aku ini siapa Em? Kita sudah seperti saudara kamu masih saja suka sungkan aku tolong." Celotehan Berta yang di sertai isakan kecil membuat Emery menghela nafas panjang.
Dia tau betapa Berta sangat menyayanginya, namun memberatkan wanita itu dengan segala kekurangannya yang sedang tak mampu dalam hal ekonomi. Rasanya sangat tidak adil.
"Bukan seperti itu Ta, aku cuma merasa gak perlu aja. Tapi kalau kamu mau belikan, boleh sih. Yang murah saja, sepuluh ribuan ada tuh di apotik depan. Tanya aja salep antibiotik paling murah tapi bagus," ucap Emery akhirnya mengalahkan egonya di iringi candaan.
Ia tak ingin Berta mendiamkannya hanya perkara hal sepele seperti ini.
Senyum lebar terbit di bibir Berta, wanita itu bergegas pergi sebelum Emery berubah pikiran.
"Siap bu bos!" Ucap Berta kemudian meraih dompet kulit pemberian Emery dua tahun lalu sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Bisa banget bikin aku luluh," monolog Emery menggelengkan kepala. Berta selalu berhasil membuat dirinya luluh hanya karena butiran bening yang meluncur dari kedua mata sang sahabat.
TBC
Semoga terhibur, mohon dukungannya untuk novel ini.
Salam sayang, author AQYa TRi