Part 2 Pria asing

1046 Words
~Selamat membaca~ Di tempat lain, seorang wanita baru saja pulang mengantar beberapa paket pakaian yang di laundry di tempatnya. Dia hanya memiliki satu orang karyawan yang membantunya mengelola usaha laundry yang dia rintis sejak 15 tahun lalu. Ckiitttt Brak Sebuah mobil Pajero sport tanpa sengaja menyerempet seorang wanita yang sedang berjalan di tepi jalan. Mobil tersebut memutar kemudi hingga menabrak sebuah pagar tembok sebuah ruko terbengkalai. "Auwh...Isshhhh" Lenguh si wanita saat berusaha untuk bangun. Tubuhnya terjerembab di aspal dalam posisi berlutut. Kedua lututnya terasa perih dan ngilu namun dia tetap berusaha untuk bangun. Dengan tertatih, wanita tersebut berjalan menuju mobil yang terlihat ringsek di bagian depan. Kap mobil terlihat terbuka setengah dan mengeluarkan sedikit asap. Tok tok tok Si wanita mengetuk kaca jendela mobil namun tak mendapatkan respon. Dia mulai khawatir. Wanita itu takut mobil tersebut akan meledak seperti yang sering dia tonton di film-film laga. "Neng Mery...." Sapa seorang pria bermotor yang sengaja menepi saat tak sengaja melihat Emery menggedor kaca jendela mobil seseorang. "Eh kang Joko, tolong kang. Ini saya gak tau siapa yang ada di dalam, kacanya gelap banget. Saya takut mobilnya meledak," ungkap Emery dengan nada cemas dan panik. "Gak atuh neng, mana ada seperti itu. Neng Mery kebanyakan nonton film ini, jadinya parnoan." Balas Joko terkekeh geli. Namun dengan cepat laki-laki itu membantu untuk membuka pintu mobil. Setelah usaha yang tak mudah, akhirnya Joko berhasil walau harus meninggalkan goresan akibat palang besi yang dia gunakan untuk mencongkel handle pintu mobil mahal tersebut. "Pingsan neng, mau di bawa ke mana ini?" Joko terlihat sedikit kelelahan. "Puskesmas aja kang, saya tidak punya uang kalau ke rumah sakit. Usaha laundry lagi seret banget belakangan ini," tandas Emery tanpa canggung menjelaskan kondisi keuangannya. Joko adalah satpam komplek tempat Emery tinggal. "Ya sudah, masnya ini nanti saya dudukkan di tengah saja. Tapi neng duduk belakang ya, buat bantu pengangin." Emery mengangguk cepat tanpa berpikir panjang. Keduanya mengeluarkan tubuh lemah pria asing itu dari dalam mobil. Wajah si pria tertutupi oleh noda darah, mungkin dari benturan keras hingga membuat kening laki-laki itu terluka. Emery bergidig ngeri, dia paling takut melihat darah meski hanya setetes namun situasi saat ini memaksanya harus berani. "Berat amat, kebanyakan dosanya ini masnya." Keluh Joko yang kewalahan karena kalah postur. Tubuhnya yang kurus membopong tubuh tinggi tegap berotot. Meski di bantu oleh Emery tetap saja mereka berdua kewalahan. "Hush! kang Joko ini ada-ada saja," tegur Emery melotot. Setelah berhasil mendudukkan si pria di posisi tengah, Joko naik perlahan. Kemudian di susul Emery duduk paling belakang sembari menopang si pria asing. Setiba di puskesmas, mereka langsung di bantu oleh perawat untuk memindahkan tubuh di pria ke atas brankar. "Neng Mery.." Emery menoleh ke arah Joko yang terlihat menggaruk tengkuknya dengan senyum cengengesan. "Ada apa kang Joko? Mau pulang duluan? Gak apa-apa saya tinggal di sini sambil nunggu pria tadi siuman. Terimakasih banyak ya kang atas bantuannya," ujar Emery tanpa tau bila laki-laki itu berniat untuk meminjam uang untuk membeli bahan bakar motornya yang juga sedang sekarat. "Anu neng...kang Joko gak punya uang buat beli isi motor." Akhirnya keluar juga kalimat yang sedari tadi mengganjal di kerongkongan Joko. Meski tak enak hati namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak meminjam pada wanita baik itu. "Oalah kang, ngomong dong dari tadi. Ini, semoga cukup ya. Sekalian buat beli sayur sama jajan buat anak-anak. Terimakasih banyak sekali lagi, tolong sampaikan sama teteh Ainun kalau tadi aku repotin akang buat antar kemari." Joko mengangguk tak enak hati. Emery memberikan pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu masing-masing satu lembar. Dan seperti biasanya, wanita itu tak akan mau di ganti. "Terimakasih banyak neng, akang jadi gak enak nih." Ucap Joko sembari menggaruk tengkuknya. Emery tersenyum simpul menanggapinya. "Seperti sama siapa aja kang. Akang sama teteh juga banyak bantu saya selama ini." Ujar Emery yang memang selalu berbuat baik kepada siapapun walau dirinya sendiri sering kekurangan. "Kalau begitu akang pulang duluan ya neng, mau jemput si Atun ke sekolah." Pamit Joko lalu meninggalkan Emery di pintu luar UGD puskesmas. "Mudahan cukup buat bayar biaya pria itu berobat," monolog Emery sedikit cemas. Dia memiliki simpanan tabungan, namun dia memiliki tujuan dengan uang tersebut. Emery mengumpulkan uang itu selama belasan tahun untuk putrinya. Walau tak lagi di butuhkan Emery tetap pada tangung jawabnya terhadap sang anak. Emery bekerja lalu menabung untuk dia tinggalkan bagi putri semata wayangnya kelak saat dirinya tiada. Emery di vonis gagal ginjal, selama ini dia tak pernah melakukan pengobatan karena tak ingin menggunakan uang yang dia peruntukan bagi Elea. Meski Elea membuangnya sejak 14 tahun silam, Emery tak pernah membenci putrinya itu. Wajar saja Elea remaja malu memiliki ibu seperti dirinya. Dia hanya buruh cuci di komplek tempat tinggalnya. Sedangkan usia Elea sudah memasuki usia 14 tahun. Elea malu melihat kondisi ibunya dan lebih memilih untuk tinggal di asrama. Dan sejak saat itu pula dia mulai intens berhubungan dengan sang ayah, yang memang sengaja dia cari tau melalui internet. Ayah yang meninggalkan dirinya dan sang ibu saat dirinya berusia dua tahun. Namun Akram mengatakan semua karena Emery lah yang menjadi penyebabnya, sehingga dia terpaksa pergi dari kehidupan Elea putrinya. Sejak saat itu pula, semua biaya hidup Elea di tanggung oleh sang ayah dan ibu tirinya. Elea perlahan mulai melupakan ibu kandungnya. Di mulai dari menolak kunjungan sang ibu ke asrama, sampai memblokir akses sang ibu untuk bisa bertemu dengan dirinya. Sampai sekarang, Emery hanya bisa melihat Elea dari televisi atau baliho yang terpampang gambar sang anak. "Permisi bu, suaminya sudah siuman. Silahkan masuk," Emery tersenyum kikuk namun dia tak menampik. Saat ini yang terpenting adalah kondisi pria asing itu. Dia tak sempat melihat wajah pria tadi dengan jelas, karena ada lelehan darah mengalir dari kening pria itu mengenai wajahnya. Lagi pula dirinya dalam keadaan ketakutan luar biasa. Klek Emery melangkah perlahan dengan mendorong handle pintu ruangan observasi. Saat pintu terbuka setengah, tubuh Emery membeku. Begitupun dengan pria yang berada di atas ranjang pasien tersebut. Wajah keduanya sama-sama menegang bagai melihat sosok mengerikan. Lidah Emery seketika kelu tanpa bisa mengeluarkan kata-kata, padahal tadi dia berniat melihat keadaan pria yang ia tolong lalu pamit pulang. Namun sepertinya tak perlu lagi, Emery akan tetap pergi meski laki-laki itu mencegahnya. TBC Semoga karya ini bisa menghibur semua pembaca, mohon dukungan, berikan saran di kolom komentar. Salam sayang, author AQYa TRi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD