~Selamat membaca~
Elea tampak terburu-buru memakai pakaiannya setelah dia selesai membersihkan diri dari peluh dosa yang baru saja dia lakukan.
"Kenapa harus secepat ini baby, aku masih merindukanmu." Suara protes sang ayah gula membuat Elea tak enak hati. Dia baru saja mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan kosmetik terbesar dari Prancis, namun kini dia malah meninggalkan pria paruh baya itu dalam ketidakpuasan.
"Sorry Dad, besok aku akan meluangkan waktuku seharian penuh. Aku janji," rayu Elea yang memang selalu pandai membuat hati laki-laki itu luluh.
"Baiklah, tapi jangan sampai ingkar. Aku akan membawamu ke villa agar tak ada yang menganggu aktivitas cinta kita." Elea mengangguk kemudian memberikan kecupan manja di bibir tebal berkumis si ayah gula.
Laki-laki itu adalah orang pertama yang menyentuhnya. Itulah kenapa Elea tak bisa lepas begitu saja dari sang pemilik agensi tempatnya bernaung. Dia tak hanya menggunakan has_rat duniawi namun juga hati.
Sentuhan sang ayah gula begitu dia gilai, karena Elea belum pernah di sentuh oleh pria manapun. Jadilah Elea bergantung pada sentuhan sang ayah gula saat tubuhnya membutuhkan belaian hangat. Jeff nama pria tersebut, selalu mampu membuat Elea tergila-gila pada belaiannya.
Di tempat lain, Kayram terlihat gelisah. Seharusnya Elea sudah tiba setengah jam yang lalu namun wanita itu bahkan tak bisa di hubungi.
"Mau apa sebenarnya kamu El? Apa kurangnya aku selama ini telah bersabar menghadapi keegoisanmu." Monolog Kayram yang terlihat mulai frustasi. Laki-laki itu terus menatap layar ponselnya dengan tatapan tak terbaca.
Namun tak lama terdengar suara deruman mesin mobil Elea. Hati Kayram sedikit lega walau dia masih menyimpan kekesalan.
Elea berjalan sembari berlari kecil menghampiri sang suami.
"Sorry sayang, aku baru saja selesai pemotretan dan langsung kemari. Ayo berangkat," namun Kayram masih bergeming. Laki-laki itu menatap rambut lembab Elea dengan tatapan tak terbaca.
"Loh? Ayo Kay, tar mama kira kita gak jadi datang loh." Desak Elea yang tak sadar bila saat ini Kayram sedang memperhatikan rambutnya yang sedikit lembab.
"Kamu langsung kemari apa mandi dulu?" Pertanyaan Kayram nyaris membuat Elea limbung.
Dengan jawaban pasti, Elea menutupi kegugupannya.
"Aku mandi bentar lah, masa mau ke rumah mertua akunya kumal kaya lap bibik Ratmi di dapur." Dalih Elea terkekeh dengan begitu meyakinkan.
"Ya sudah, yuk sayang." Elea menggandeng lengan kekar suaminya seperti tak pernah merasakan kecemasan apapun dalam hatinya. Padahal jantungnya sedang berdegup kencang saat ini. Berdebar bagai suara genderang perang karena nyaris saja ketahuan berbohong oleh suaminya.
Kayram pun hanya diam saja, dia tak ingin memancing perdebatan. Meski Elea tak pernah dia sentuh, namun wanita itu masih mau menuntaskan hasratnya dengan cara lain. Itu sudah cukup baginya selama ini, namun entah mengapa kini hatinya merasakan kehampaan. Dan merasa itu tidaklah lagi cukup. Kayram mulai mengharapkan sentuhan lebih dan menantang adrenalin kelakiannya.
Tiga puluh menit perjalanan menuju rumah orangtuanya. Kayram tak berbicara apapun. Apalagi berbicara mengenai sang mertua yang tanpa sengaja dia temui hari ini, atau lebih tepatnya tia tabrak tanpa sengaja tadi siang.
"Tar kalau mama bahas masalah momongan lagi, bagaimana?" Tiba-tiba suara Elea menguar sebelum Kayram membuka pintu mobil. Nada penuh kecemasan terdengar jelas dari suara wanita itu.
Kayram berbalik kemudian menatap istrinya dengan tatapan entah.
"Cukup jawab seperti biasanya saja. Belum waktunya di kasih, sesederhana itu." Setelah mengucapkan kalimat yang biasa istrinya ucapkan kepada sang ibu, Kayram keluar lebih dulu tanpa menunggu respon istrinya.
Elea mengesah kesal melihat sikap dingin suaminya yang sama persis seperti saat sebelum mereka memiliki hubungan. Laki-laki itu bahkan tak pernah lagi membukakan pintu mobil untuk dirinya.
"Apa Kay sudah tau hubungan aku sama daddy Jeff, ya?" Batin Elea mulai bergejolak penuh kecemasan. " Ah, mana mungkin lah. Bisa-bisa Kay bakal buat perusahaan daddy bangkrut kalau sampai tau. Mungkin Kay sedang banyak masalah saja di kantor," kembali Elea mencoba menghibur hatinya.
dia pun keluar untuk menyusul langkah lebar suaminya yang sudah mencapai teras.
"Kay, tungguin dong. Jalannya cepet amat kaya di kejar maling," omel Elea yang kesulitan berjalan cepat dengan sepatu 7 centimeternya.
Lagi-lagi Kayram tak menanggapi namun laki-laki itu tetap menghentikan langkahnya agar sang istri tak perlu memburunya seperti rentenir.
"Kamu kenapa sih sayang? Cuek banget sama aku," protes Elea yang merasakan perubahan sikap Kayram yang mulai membuatnya khawatir.
"Aku tidak kenapa-kenapa, perasaan kamu saja yang terlalu over thinking. Hanya banyak pekerjaan kantor saja. Bersikaplah seperti istri yang selalu berbakti pada suami, atau mama akan menambah daftar panjang Omelannya pada kita." Pesan Kayram penuh peringatan. Bukan ibunya yang laki-laki itu khawatirkan namun adik perempuannya.
Elea terdiam mendengar kalimat nyelekit dari mulut suaminya. Namun dia tak membantah. Elea bahkan tak pernah tau apa makanan kesukaan Kayram meski beberapa kali laki-laki itu memberitahu kepadanya. Elea begitu mudah melupakan apa yang menjadi kesukaan Kayram bila sudah melewati hangatnya dosa bersama sang ayah gula.
"Anak mama kenapa baru datang hmmm?" Sambutan hangat Selby membuat Kayram terpaksa harus melebarkan senyum palsu. Hatinya sedang sangat tak bersahabat saat ini namun dan dia tak tau bagaimana cara menolak permintaan ibunya.
"Maaf ma, aku ada meeting dan baru pulang. Padahal menantu mama ini sudah menunggu sampai satu jam lebih." Elea merasa tersentil. Namun wanita itu tetap mengangguk pelan agar kalimat penuh kebohongan suaminya berjalan sempurna. Tak lupa senyum semanis caramel dia tampilkan untuk menyempurnakan sandiwara sebagai istri idaman.
"Kamu ini memang kebiasaan banget, bagaimana mau cepat di kasih momongan kalau kamu sibuk melulu sama pekerjaan. Kasihan istri kamu kesepian sering kamu tinggalkan demi pekerjaan." Cerocos Selby merenggut kesal. Lagi-lagi Kayram lah yang di salahkan dalam hal ini. Namun laki-laki itu sama sekali tak pernah melayangkan protes.
"Tak apa ma, mungkin memang Tuhan belum mengijinkan kami memiliki anak tahun ini. Semoga tahun depan ada kabar baik buat mama sama papa ya," timpal Elea menyela. Selby mengangguk paham mendengar kalimat manis dari mulut sang menantu.
Walau sudut hatinya sedikit kecewa. Namun dia tak bisa memaksa kehendaknya, bila sang kuasa belum memberkahi rahim sang menantu dengan kehadiran bayi mungil yang sangat dia impikan.
Maklum, Kayram adalah anak sulung. Usia sang anak pun sudah mencapai kepala tiga. Usia Kayram kini sudah menduduki angka 33 tahun. Selby khawatir bila putranya bermasalah, namun dia tetap menghargai usaha yang di lakukan oleh menantu serta putranya.
"Menantunya mbok ya di ajak duduk dulu lah. Mama kebiasaan," suara teguran Regan menguar dari balik punggung Selby. Kayram mengukir senyum pada sang ayah. Pria yang sangat dia hormati itu berjalan dengan langkah tegas menyongsong putra sulungnya.
"Maaf baru bisa berkunjung, aku lagi sibuk dengan proyek baru di Bandung." Tukas Kayram saat melepaskan pelukan hangat dengan ayahnya.
"Tak apa, asal kalian baik-baik saja papa dan mama bisa memakluminya. Ayo, ajak istrimu ke ruang makan. Adik-adikmu sudah menunggu sejak tadi," suara tegas sang ayah mertua membuat nyali Elea ciut. Wanita itu bahkan tak berani menyapa Regan. Elea sadar sejak awal pernikahannya, pria paruh baya itu tak menampakkan penerimaan sepenuh hati padanya. Namun Regan tetap menyambut hangat kehadirannya di tengah-tengah keluarga itu.
Namun dia cukup beruntung, karena sang ayah kandung merupakan rekan bisnis dari keluarga adikuasa tersebut. Meski perusahaan serta pamor sang ayah tak mampu menyamai kedudukan keluarga Hamzah, paling tidak dengan bernaung di balik nama Akram ayahnya, Elea ikut di hormati sebagai putri seorang pengusaha yang lumayan di kenal di kalangan para pengusaha kelas menengah.
"Lama banget sih kak, udah kelaparan tau!" Sambutan Salia benar-benar membuat Elea semakin tak enak hati. Salia salah satu orang yang tak pernah menatapnya sebagai anggota keluarga Hamzah. Bisa di katakan sang adik ipar adalah salah satu batu sandungan dalam keluarga Hamzah.
"Maaf, pekerjaannya kakak sedang sangat banyak hari ini." Balas Kayram sembari memberikan pelukan hangat pada sang adik perempuan. Salia adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga mereka.
"Aku gak di peluk juga kak?" Protes si bungsu lima menit setelah Salia. Pria berusia 29 tahun itu terlihat menekuk wajahnya berpura-pura kesal.
"Sorry, kakak kira kamu gak ada di sana." Seloroh Kayram lalu menghampiri sang adik.
"Kamu terlihat berbeda, apa ada yang kakak lewatkan?" Kayram terlihat memindai mimik wajah sang adik yang terlihat lebih cerah. Biasanya Abian akan terlihat muram karena akan menjadi bulan-bulanan sang kakak perempuan juga ibunya. Abian merupakan seorang duda, membuat Abian menjadi sasaran empuk kedua wanita kesayangannya itu.
"Paling juga baru dapat mangsa baru," celetuk Salia dari arah belakang. Abian mendelik sinis mendengar ucapan ngawur sang kakak.
"Enak saja!" Sergah Abian tak terima.
"Yang kali ini udah mentok nyentuh dasar hati paling dalam. Pokoknya harus aku dapatkan terus jadiin mama sambung buat Arkano." Pamer Abian pada keluarganya.
"Alah! Paling seperti yang sudah-sudah juga. Mama sudah hapal kebiasaan buruk kamu itu yang suka gonta-ganti pacar seperti ganti sendal jepit." Sambar Selby mematahkan argumen sang anak.
Inilah bagian yang membuat Abian sering mangkir dalam acara makan malam keluarga. Laki-laki itu tak sanggup menghadapi mulut pedas ibu juga kakaknya.
"Benar tuh ma, Abian kan duda terkutuk." Sambung Salia kemudian tertawa renyah bersama ibunya.
Lipatan di wajah Abian semakin tak berbentuk. Ekspresi kesal namun tak bisa dia lampiaskan, karena kedua orang yang sedang meledeknya habis-habisan adalah dua wanita yang paling dia cintai.
TBC
Semoga terhibur, mohon dukungan kritik dan saran.
Salam sayang, author AQYa TRi