~Selamat membaca~
Sedangkan Elea seperti orang asing di tengah candaan keluarga Cemara tersebut. Iparnya bahkan tak menyapanya sama sekali. Elea seperti berada di tempat asing yang baru pertama kali dia datangi.
"Duduk kak, maaf atas ketidaknyamanan ini. Mama sama kak Salia memang suka julid," celetuk Abian menyudahi sesi pembulian yang dia alami. Melihat Elea yang seperti tamu di rumah orang tuanya membuat laki-laki itu tak enak hati.
"Makasih dek, kamu apa kabar? Arka sehat?" Elea mencoba mencari celah agar kehadirannya di lihat. Dia bersikap lembut dan ramah seperti biasanya sesuai dengan perintah sang suami.
"Aku baik kak, Arka juga sehat. Hanya sedikit demam tapi sudah di bawa berobat ke puskesmas tadi siang." Jawab Abian mengulas senyum.
Kedua mata Elea membelalak sempurna. Wanita itu tak menyangka jika sang mantan adik ipar membawa keponakan suaminya ke fasilitas kesehatan kecil seperti itu.
"Puskesmas?" Beo Elea cengo. Elea masih tak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Benar kak, Melisa kan bekerja di puskesmas sekarang." Jelas Abian lagi.
"Aku pikir Melisa masih bekerja di rumah sakit milik keluarga kita." Beo Elea sedikit terkejut. Dia pikir Melisa masih bekerja di rumah rumah sakit milik mertuanya. Nyatanya wanita yang selalu dia anggap sebagai saingannya itu dahulu, sudah tak lagi bekerja di sana. Sudut hatinya merasa sangat senang dan lega. Kini hanya dirinya lah menantu perempuan di keluarga Hamzah.
Apalagi dia adalah menantu sulung keluarga tersohor itu.
"Melisa cukup tau diri, karena memang dia bukan wanita serakah. Bekerja di rumah sakit keluarga juga karena di paksa sama papa, bukan kehendak Melisa sendiri." Sambung Salia menyela dengan nada penuh sindiran.
Riak wajah Elea langsung berubah masam. Wanita itu jelas tau jika Salia sedang menyindir dirinya. Namun reaksi acuh yang di perlihatkan oleh Kayram sangat bertolak belakang dengan sikap respek pria itu selama ini.
Kayram akan menjadi orang pertama yang menghentikan siapa saja yang menyudutkan istrinya. Namun kini Kayram bagai patung yang hanya menjadi pencerna tanpa berniat untuk memberikan istrinya pembelaan.
Sedangkan para penghuni meja makan tak ada yang bergeming. Semua seolah tak mendengar apapun yang terucap dari mulut pedas Salia.
Sampai suara deheman sang kepala keluarga menguar, dan membuat suasana seketika semakin mencekam.
Seusai makan malam dengan suasana yang menegangkan, kini seluruh keluarga duduk bersantai di ruang keluarga. Sudah merupakan suatu kebiasaan rutin bagi keluarga Hamzah, bila selesai menyantap makan malam keluarga.
"Dior, kemarin katanya ketemu sama tante baik. Siapa namanya sayang?" Selby membuka percakapan dengan mengajukan pertanyaan pada sang cucu sulung.
"Oh ya, Dior hampir saja lupa. Namanya tante.... tante...tante siapa ya, kok aku bisa lupa sih?" Anak itu terlihat gusar karena melupakan satu nama seorang wanita yang menurutnya sangat cantik dan berhati bak malaikat itu.
"Tante Emy," celetuk Salia menimpali. Dia ingat kemarin siang sang anak begitu antusias bercerita tentang wanita yang menolongnya, dari sebuah kecelakaan yang di sengaja oleh dua orang jambret di depan sekolahnya.
"Ah ya!" Seru Dior antusias, anak itu mulai mengingat. Ekspresinya sampai membuat semua orang menggelengkan kepala.
"Tante Emy oma," lanjut anak itu bersemangat.
"Orangnya cantik banget loh oma. Oma pasti langsung suka kalau sudah bertemu. Tantenya baik lagi, mau nolongin Dior dari jambret yang mau tarik tas sekolah Dior. Tapi kasihan tantenya," anak itu bercerita penuh semangat, namun tiba-tiba menyendu di akhir kalimatnya.
"Loh? Kasihan kenapa sayang?" Tanya sang oma penasaran.
"Tante baik itu luka siku sama lututnya gara-gara nolongin Dior," lanjut Dior berkisah dengan mata berkaca-kaca.
Semua orang saling melempar tatapan heran. Pasalnya Dior bukan tipe anak yang mudah tersentuh. Bahkan anak itu termasuk anak yang paling cuek di antara cucu kesayangan pasangan konglomerat tersebut.
Namun perkara seorang wanita asing yang pernah menolongnya, Dior sampai begitu terhanyut dalam keharuan.
"Tapi Dior tidak kenapa-kenapa kan sayang?" Tanya oma Selby terlihat cemas.
Anak itu menggeleng cepat.
"Dior di peluk sama Tante cantik itu oma, makanya Dior gak kenapa-kenapa." Jawab Dior lagi. Oma Selby mengangguk paham.
"Terus Tante cantiknya sudah di bawa berobat belum sayang?" Kepo oma Selby lagi.
Dengan lemah Dio menggeleng.
"Loh kenapa?" Tanya oma Selby penasaran lalu melempar tatapan penuh tanya pada sang anak.
"Tante cantiknya bilang lukanya hanya luka kecil saja, terus langsung pamit pulang waktu mama jemput." Anak itu kembali berkicau.
Entah mengapa Dior begitu antusias membahas wanita bernama Emy tersebut pada seluruh keluarganya.
"Kamu gak sempet ketemu sama orang yang nolongin Dior, Sal?" Tanya oma Selby menatap putri semata wayangnya.
"Gak ma, waktu aku turun dari mobil udah kaget aja liatin ada banyak orang yang berkerumun di depan sekolahnya Dior. Taunya malah anak sendiri yang hampir celaka," cerita wanita cantik itu mengusap lembut rambut tebal sang anak.
"Kamu itu loh, kok bisa jemput anaknya telat. Coba kalau Dio kenapa-kenapa, bagaimana? Ceroboh sekali," omel oma Selby tampak kesal pada putrinya.
"Aku ada meeting ma, jadi telat cuma setengah jam juga kok gak lama-lama amat." Dalih Salia. Dia tau sang ibu sangat menyayangi putranya. Sopir yang biasa mengantar jemput sang anak sedang cuti pulang kampung, dan dia belum sempat mencari sopir pengganti.
"Kok Dior bisa tau nama Tante cantik itu?" Semua mata merotasi ke arah Kayram. Pria yang sangat jarang menimbrung dalam hal-hal sepele, tampak begitu antusias melontarkan pertanyaan pada sang keponakan walau dengan nada datar.
"What?" Tanya Kayram dengan suara kembali datar saat mendapatkan tatapan aneh dari seluruh keluarganya. Apalagi sang istri menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Aneh aja, kakak biasanya kan cuek bebek." Celetuk Abian.
"Ck! Aku kan cuma nanya. Penasaran aja kenapa bisa Dior tau nama wanita itu," dalih Kayram memperlihatkan wajah tanpa ekspresi.
"Sebelum pergi aku sempat tanya om, namanya Emy. Cantik ya namanya, sama persis seperti orangnya. Om pasti pasti langsung suka kalau sudah ketemu," celoteh anak itu tanpa tau jika kata-katanya berpotensi untuk menciptakan badai dalam rumah tangga sang paman.
Riak wajah Elea langsung berubah masam seketika. Wanita itu melirik keponakan suaminya dengan tatapan tak suka.
"Wait..wait..hari ini aku juga ketemu sama perempuan bernama Emy juga. Dan wanita itu juga mengalami luka lecet cukup lebar di kedua lututnya, dan siku kirinya juga terlihat bekas luka goresan panjang yang sudah terlihat mengering tapi sepertinya baru saja kembali terkena benda kasar." Cerita Abian menimpali tak kalah antusias.
Jantung Kayram seketika berdebar kencang. Namun pria itu lekas menggeleng samar. Satu nama dari nama Emy yang coba dia jabarkan menjadi Emery. Tapi tak mungkin, di dunia ini banyak nama yang sama. Tak mungkin bila itu adalah mertuanya. Maka dia tak akan sanggup berhutang banyak pada wanita yang pernah d ia cerca dengan hina di masa lalu.
"Husshh! Gak baik bicara seperti itu. Om Kay kan sudah punya tante Elea," tegur sang oma sembari menatap tak enak pada menantunya.
"Maafkan Dior ya sayang, maklum anak kecil kalau sudah kagum sama seseorang biasanya suka blak-blakan." Ucap oma Selby mengusap lembut lengan Elea.
"Tak apa ma, aku mengerti. Dior anak yang baik, sekecil ini sudah bisa menghargai orang yang sudah menolongnya. Itu baik untuk anak seusia Dior yang biasanya hanya tau bermain saja." Balas Elea berusaha terlihat bijaksana.
Terlihat bibir Salia melebar penuh cebikan. Dia tau Elea pasti sangat kesal pada putranya, namun Elea tetap bersikap tenang demi mendapatkan empati keluarga suaminya.
Meninggalkan keluarga harmonis bertabur sedikit kedongkolan pada hati salah satu anggota keluarganya. Di tempat berbeda, seorang wanita tampak gelisah dan terlihat sedang menahan rasa sakit di tubuhnya.
Emery mengolesi salep luka di kedua lututnya yang terasa seperti terbakar. Sensasi nyeri dan nyut-nyutan berbaur menjadi kesatuan yang cukup membuat wanita itu tersiksa lahir batin.
Belum lagi luka di sikunya yang menampilkan luka lecet memanjang, yang membuat Emery kesulitan untuk melakukan aktivitas tangan.
"Ya Tuhan, kenapa bisa sesakit ini sih? Padahal sudah minum anti nyeri," gumam Emery menatap miris luka di tubuhnya.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Emery menatap malas pada layar ponselnya. Selain sudah ketinggalan jaman, layar LCD nya pun retak di beberapa bagian. Bahkan ada dua titik hitam yang menghiasi layar ponsel jadul tersebut.
"Mau ngapain sih ini orang nelpon malam-malam begini?" Gerutu Emery jengah.
Emery sangat kesal bila yang menghubunginya adalah pak RT tempat tinggalnya. Pria paruh baya itu selalu saja menebar rayuan gombal yang sama sekali tak mempan bagi Emery. Namun pria paruh baya itu tak pernah menyerah untuk mendapatkan perhatian wanita pujaannya itu.
Daripada meladeni panggilan iseng sang ketua RT, Emery lebih memilih untuk melanjutkan mengobati luka-lukanya.
"Hubungi saja saja sampai mampus!" Ketus Emery jengkel.
Kembali ke kediaman mewah keluarga Hamzah, Abian terlihat tak dapat tidur nyenyak.
Pria itu terus memutar balikkan tubuhnya dengan resah.
Tok tok tok
Abian mengernyit dahi heran. Laki-laki itu menatap benda persegi yang terpanjang di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas lewat.
Namun tak ingin di landa rasa penasaran, Abian memutuskan untuk beranjak turun dari ranjang lalu berjalan menghampiri pintu kamarnya.
TBC
Mohon dukungan untuk novel receh ini.
Salam sayang, author AQYa TRi