Semilir angin berembus di malam hari tak membuat seorang wanita yang setia memeluk dirinya sendiri beranjak dari tempatnya, guna terhindar dari rasa dingin yang menusuk seluruh permukaan kulitnya. Wanita tersebut menduduki ayunan yang menjadi tempat favoritnya dengan pikiran jauh menerawang, seolah bisa menembus gelapnya langit malam yang tanpa disertai cahaya dari bulan dan bintang. Cairan bening terus saja mengaliri pipi mulusnya dengan tak tahu malu. Aura wajah yang biasanya selalu bersemangat dan ceria, kini berubah menjadi datar. Sorot mata yang biasa memancarkan kehidupan dan kelembutan, kini terganti oleh tatapan kosong sekaligus sarat luka yang sangat menyayat. Kehangatan yang biasanya selalu dia tawarkan kepada putri kecilnya, kini telah menghilang dan tergantikan oleh sikap apati

