“Apa yang sebenarnya terjadi saat kau meninggalkan rumah?” Cindy bertanya tanpa menghentikan tangannya membuka perban yang menutupi luka Jonathan. “Ceritanya panjang. Kapan-kapan aku akan menceritakannya secara rinci padamu. Itu pun jika kau masih mau mendengarnya,” jawab Jonathan yang masih setia menatap dengan serius wajah Cindy di hadapannya. “Maafkan kesalahanku,” pinta Jonathan lirih saat keheningan tercipta beberapa menit. “Minta maaflah kepada anakmu dan Bryan. Gara-gara kepergianmu yang tidak ada kabar, Tere menjadi sakit dan setiap hari bertanya padaku mengenai keberadaanmu. Untuk Bryan, kau sangat salah karena telah memukul orang secara membabi buta yang ingin mencegahmu termakan jebakan saudari tirinya,” jelas Cindy yang kini telah membersihkan luka Jonathan. “Pasti. Secepat

