*** "Selamat pagi menjelang siang." Asta yang semula fokus pada ponsel, spontan mengangkat pandangan setelah sapaan tersebut didapatkannya. Tak lagi di luar gerbang, sejak beberapa menit lalu dia duduk di depan post satpam, karena memang setelah mengutarakan niatnya, Asta diminta untuk menunggu di sana. "Anda," panggil Asta dengan raut wajah kaget setelah sosok yang tidak asing untuknya, berdiri di depannya bersama satpam yang melayani dia beberapa waktu lalu. "Satpam saya bilang, anda mau bertemu dengan Tanaya. Apa itu benar?" tanya pria di depan Asta yang tidak lain adalah Sastra—si calon ayah sambung Tanaya, sekaligus kepala sekolah di tempat putri kesayangan Valeria itu menuntut ilmu. "Iya," jawab Asta. Melirik satpam di samping Sastra dengan raut wajah sinis, dia beralih lagi pa

