*** "Berdiri." Singkat, padat, tapi berhasil membuat Sastra heran dan Riana tegang, itulah satu kata yang Tegar lontarkan setelah sebelumnya sang putra tiba-tiba saja bertanya tentang status. Tidak asal bunyi, sebelumnya Tegar sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan sebagai respon untuk ucapan Sastra, sehingga tidak hanya memerintah sang putra berdiri, dia juga ikut beranjak dari kursi yang didudukinya sejak beberapa waktu lalu. "Kamu mau apa, Mas?" tanya Riana dengan raut khawatir yang tercetak jelas di wajah cantiknya. "Sastra lagi kesal barusan, jangan diambil hati." Tegar tidak menanggapi ucapan Riana, dan hanya terus memandang Sastra—membuat sang putra yang masih duduk di kursinya, bertanya sambil menaikkan sebelah alis. "Mau apa Bapak minta aku berdiri?" "Berdiri aja dulu d

