Chapter 8

1075 Words
*** "Enggak, Yaya enggak percaya." Disertai gelengan kepala, jawaban tersebut keluar dari mulut Tanaya yang kini berdiri sambil memegangi telepak tangan Valeria. Masih jauh dari ramah, raut wajahnya saat memandang Asta terlihat tidak nyaman. Namun, meskipun begitu Asta tidak menyerah. Tanpa melunturkan senyum, dan dengan posisi yang masih berjongkok, mantan suami Valeria itu kembali bertanya, "Kenapa enggak percaya?" "Karena Papanya Yaya udah meninggal," jawab Tanaya—membuat raut wajah Asta berubah kaget. Sepersekian detik setelahnya, dia mendongak pada Valeria sebelum kembali pada sang putri. "Mima bilang waktu Yaya masih di perut Mima, Papap kecelakaan terus meninggal. Jadi sejak Yaya lahir, Papap udah enggak ada." "Dan Yaya percaya?" tanya Asta—membuat Tanaya mengangguk polos. "Percaya," jawabnya. "Om sebenarnya siapa? Kok tiba-tiba di sini dan ngaku sebagai Papapnya Yaya? Om orang jahat ya?" "Enggak," jawab Asta. "Om bukan orang jahat. Om ke sini bu—" "Mas Asta udah." Valeria yang sebelumnya menahan diri, kembali buka suara—membuat Sastra yang sempat diam dan memperhatikan dengan perasaan kaget, melanjutkan langkah dan mendekat. "Udah apa?" tanya Asta, sambil beranjak. "Kamu jahat ya. Orang masih hidup, tapi disebut meninggal. Mendahului Tuhan, kamu hah?" "Aku enggak jahat, Mas, tapi kamu yang jahat," kata Valeria. "Dari Yaya kecil, peran kamu enggak ada dan—" "Valeria," potong Sastra, sigap buka suara—membuat atensi Valeria yang semula tertuju pada Asta, beralih padanya. "Jangan di depan Yaya." Ditegur oleh sang kekasih, Valeria kaget sendiri dengan apa yang barusaja dia lakukan. Menunduk untuk memandang sang putri yang terlihat kebingungan, dia berkata, "Yaya, Mima mau ngobrol dulu sebentar sama Om ini. Yaya mau enggak duluan ke atas sama Om Sas? Nanti setelah selesai ngobrol, Mima nyusul." "Mima enggak apa-apa ditinggal sama Om ini?" tanya Tanaya, tanpa ragu menunjuk Asta. "Omnya kelihatan enggak baik, Mima. Yaya takut Mima diapa-apain." "Enggak kok, Sayang, Omnya enggak seperti yang Yaya pikir," kata Valeria, sambil tersenyum. "Omnya baik." "Iyakah?" "Iya," jawab Valeria. "Yaya ke atas ya. Barusan kan bilang capek. Jadi tunggu Mimanya di apartemen aja. Oke?" "Oke deh," kata Tanaya. Beralih pada Sastra, dia berkata, "Ayo, Om Sas." "Ayo." Setelah sebelumnya digenggam Valeria, telapak tangan kecil milik Yaya beralih pada genggaman Sastra. Tidak terus di lobi, gadis kecil itu melangkah menuju lift lalu tanpa dicegah oleh Asta, dia naik menuju lantai atas—meninggalkan sepasang mantan yang kembali saling menatap intens. "Maksud kamu apa bilang ke Yaya kalau Papanya udah meninggal?" tanya Asta, setelah beberapa detik saling diam. "Kamu boleh benci sama aku, Valeria, tapi tindakan kamu itu keterlaluan karena jangankan Ayah, kakek dan nenek aja Yaya masih punya. Tega banget kamu sembunyiin kamu dari Yaya. Pengen menguasai dia seorang diri kamu, hm?" "Kamu bilang aku tega, Mas? Terus apa kabar dengan kamu?" tanya Valeria tak mau kalah. "Sejak aku positif hamil sampai aku ngelahirin Yaya, pernah ada buat kita enggak, kamu hah? Pernah peduli sama aku ataupun Yaya apa enggak? Waktu aku ngidam, bahkan waktu aku kontraksi dan ngelahirin Yaya. Kamu ada enggak? Enggak, kan? Jadi wajar aja dong aku bilang ke dia kalau Papanya udah meninggal? Aku bilang masih hidup pun percuma, karena perannya enggak pernah ada sama sekali." "Iya, tap—" "Lebih baik Yaya enggak tahu tentang siapa Ayah dan keluarga ayahnya, Mas, daripada dia harus tahu kalau sejak dia hadir di rahim aku dan lahir ke dunia, kehadirannya enggak pernah diharapkan," ucap Valeria, tak memberi celah untuk Asta melawan. "Enggak amnesia, kan, kamu? Masih ingat, kan, kalau dulu sebelum kita pisah, kamu sering banget bilang enggak mau menerima kehadiran Yaya apalagi memperhatikan dia?" "Valeria, aku minta maaf," ucap Asta. "Dulu aku masih belum menerima semuanya, tapi aku sekarang sudah menerima. Jadi tolong jangan halangi aku bertemu ataupun akrab dengan Tanaya karena dia darah dagingku." "Enggak, Mas, enggak bisa," ucap Valeria, teguh pada pendiriannya. "Lima tahun lalu kamu udah buang aku dan Tanaya. Jadi sekarang jangan sok baik pengen dekat sama anakku karena dia enggak butuh kamu. Dia udah terbiasa tanpa kamu dan hidupnya bahagia. Jadi kalau memang kamu sayang dan peduli sama Tanaya, sana kembali ke Jakarta dan jangan ganggu kehidupanku sama Yaya di sini. Kami bahagia hidup berdua." Asta tidak menjawab sementara pikirannya sibuk mencari cara membujuk Valeria agar tak menghalangi pertemuannya dengan Tanaya, karena hanya sang putri yang bisa membuat namanya aman di daftar hak waris. "Kenapa diem, Mas?" tanya Valeria, setelah beberapa detik berlalu tanpa obrolan. "Silakan angkat kaki. Aku enggak mau lihat kamu ada di lingkungan apartemenku lagi, karena Yaya enggak bakalan suka." "Mama sama Papa pengen ketemu cucunya, Valeria, tolong jangan egois," kata Asta. "Lebih baik aku egois, daripada anakku harus tahu kalau waktu dia lahir, ayahnya enggak peduli sama sekali, Mas," ucap Valeria. "Kalau kamu mau anak, sana nikah lagi dan bikin anak sama perempuan lain. Jangan ambil Tanaya yang dulu udah kamu buang." "Aku enggak buang Tanaya, Valeria," ucap Asta. "Dulu aku cuman belum bisa menerima, bukan buang Tanaya. Kamu yang bawa dia pergi dan—" "Terserah kamu mau bilang apa, Mas, tapi yang jelas jangan ganggu hidup aku sama Tanaya," kata Valeria. "Silakan pake cara lain untuk mempertahankan warisan kamu. Jangan libatin anakku." "Ini bukan cuman soal warisan, Valeria, tap—" "Stop, Mas, stop," pinta Valeria, sebelum Asta bicara lebih panjang. "Aku enggak mau dengar alasan apa pun dari kamu, karena apa pun alasan kamu pengen ketemu apalagi ambil Yaya, aku enggak akan kasih izin. Yaya anakku, aku yang lahirin dia, dan kamu enggak punya peran apa pun. Jadi jangan ngerasa berhak, karena kamu enggak punya hak sama sekali. Paham?" Asta membisu, sementara dengan keberanian yang semakin bertambah, Valeria kembali mengusirnya. "Silakan pergi dan jangan pernah kembali ke sini, Mas. Mulai detik ini, enggak akan aku biarin kamu masuk ke gedung ini apalagi nemuin Yaya," kata Valeria. "Kamu enggak berhak atas dia. Camkan itu!" Tanpa menunggu jawaban, Valeria meninggalkan Asta lalu berjalan menuju lift. Namun, belum sampai dia di tempat tujuan, sang mantan suami lebih dulu buka suara—membuat langkah kakinya terhenti. "Tanaya satu-satunya keturunan yang aku punya, Valeria. Tolong berbelas kasihan karena alasan aku cari dan pengen ambil dia dari kamu, bukan cuman karena warisan." Valeria mengerutkan kening sebelum akhirnya berbalik dan bertanya, "Maksud kamu apa, Mas?" "Kecelakaan lima tahun lalu, berdampak besar ke hidup aku, Valeria, dan karena dampak itu, aku harus ambil Tanaya karena dengan siapa pun aku menikah, aku enggak akan bisa punya anak lagi." Tak langsung menimpali, Valeria mengerutkan kening. Coba mencerna ucapan Asta, selang beberapa detik dia bertanya, "Maksudnya, kecelakaan itu bikin kamu mandul, Mas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD