***
Valeria pikir untuk saat ini dia bisa menghindar dulu dari Asta. Namun, ternyata dugaannya salah karena belum sempat pergi dari apartemen, sang mantan suami lebih dulu menghubunginya.
Tak basa-basi menodong masalah Tanaya, Asta berhasil membuat Valeria marah setelah dengan tak tahu dirinya meminta untuk bertemu sang putri kandung.
Valeria yang semula ketakutan, seketika dihampiri keberanian, sehingga menunda dulu niatnya pergi ke restoran Sastra, dia memilih untuk turun langsung dan menemui sang mantan suami.
"Aku enggak boleh kelihatan takut," ucap Valeria yang saat ini berada di lift. "Cukup tadi aja aku gugup, nanti pas ketemu jangan. Aku harus galak supaya Mas Asta sadar kalau dia tuh enggak pantas ketemu Yaya."
Sepanjang lift turun ke lantai bawah, Valeria sibuk mengumpulkan keberanian, hingga setelah beberapa menit berlalu, dia akhirnya sampai di lobi. Menarik napas panjang sebelum melangkah keluar, Valeria berjalan dengan pasti, hingga setibanya di dekat meja resepsionis, netranya tertuju pada sosok pria jangkung yang nampak duduk di sofa.
Tak ada yang berubah, sosok Asta masih sama seperti lima tahun lalu. Tubuh jangkung, rahang tegas, paras rupawan, semuanya masih sama karena yang berubah hanya perasaan Valeria pada pria itu.
Jika lima tahun ke belakang Valeria sangat mencintai Asta, maka saat ini tak ada sedikit pun perasaan cinta di hatinya untuk pria itu karena bersamaan dengan berakhirnya pernikahan mereka, maka berakhir pula rasa cinta Valeria pada pria yang sudah menggores banyak luka di hatinya tersebut.
"Oke, Val, kamu bisa."
Setelah memandangi Asta selama beberapa detik, Valeria kembali menarik napas panjang lalu buka suara.
"Mas Asta."
Tak perlu menunggu, yang dipanggil, menoleh, sehingga setelahnya Valeria dan Asta saling menatap satu sama lain. Jika dulu hati Valeria selalu berbunga-bunga saat beradu tatap dengan Asta, maka sekarang rasanya hambar dan biasa saja.
"Kamu," panggil Asta, sambil beranjak—membuat Valeria spontan mengepalkan kedua tangan, karena aura mendominasi yang dimiliki sang mantan suami, ternyata masih sama. "Apa kabar? Lima tahun enggak ketemu, banyak juga ternyata perubahan pada diri kamu. Rambut yang bahkan dulu selalu panjang, sekarang pendek."
"Lima tahun bukan waktu sebentar, Mas. Jadi wajar kalau aku banyak berubah," kata Valeria, coba bersikap berani agar Asta tak bisa mengintimidasinya. "Kamu enggak banyak berubah karena selama empat tahun, kamu cuman tidur. Beda sama aku yang lakuin banyak hal termasuk membesarkan Yaya."
Astaa tersenyum tipis, sementara sebelah tangannya masuk ke dalam saku. "Iya, kamu benar," ucapnya. "Lima tahun berlalu, pasti banyak banget yang kamu lakuin. Enggak cuman rawat Yaya, tapi cari pasangan baru. Iya, kan?"
"Sok tahu," celetuk Valeria, sambil mengukir senyum miring.
"Aku enggak asal menebak, Valeria. Aku punya bukti," ucap Asta. "Kamu pikir aku ke sini tanpa bawa apa-apa, hm? Kalau iya dugaan kamu seperti itu, kamu salah besar karena enggak cuman alamat apartemen, aku tahu banyak hal tentang kamu termasuk alamat sekolah Yaya, anak kita."
Tak bohong, ucapan Asta adalah fakta, karena memang sebelum pergi ke Bandung, dia dibekali banyak informasi oleh Agra yang selama setahun mencari tahu tentang Valeria dan Tanaya.
Katanya, Agra bisa saja menemui Valeria dan Tanaya. Namun, dia ingin Asta yang melakukan hal tersebut karena yang membuat Valeria dan Tanaya pergi adalah dirinya, sehingga jika ingin semua harta tetap jatuh ke tangan Asta, dia harus membawa sang putri pulang ke Jakarta.
Selain karena harta, Asta juga punya alasan lain yang mengharuskannya membawa Tanaya dan membesarkan sang putri.
"Aku juga tahu siapa pacar kamu, terus aku juga tahu beberapa informasi tentang kamu dan Tanaya. Jadi jangan main-main karena aku tahu semuanya."
Mendengar ucapan Asta, Valeria kaget. Di detik berikutnya, pikiran dia ke mana-mana. Namun, meskipun begitu sebisa mungkin dia tenang agar sang mantan suami tak merasa menang dan besar kepala.
"Untuk apa kamu cari tahu tentang aku dan Yaya?" tanya Valeria, tanpa bertanya tentang darimana Asta tahu informasi tentangnya dan sang putri. "Bukannya dulu kamu bilang kehadiran aku ataupun Yaya enggak pernah kamu harapkan sama sekali? Kenapa sekarang tiba-tiba cari bahkan mau nemuin? Ada misi tersembunyikah?"
"Lima tahun udah lama berlalu, Valeria, dan manusia bisa berubah," kata Asta. "Dulu kehadiran Yaya memang enggak pernah aku harapkan, tapi sekarang semuanya berbeda. Aku mau anakku dan aku pengen ketemu sama dia. Jadi jangan halangi aku ketemu sama Tanaya, karena seburuk apa pun aku, fakta bahwa aku ayah kandungnya Yaya enggak bisa dibuang begitu aja sekali pun di hidup kamu udah ada pria lain."
Valeria tersenyum miring. "Sayangnya aku enggak percaya sama kata BERUBAH yang kamu lontarin, Mas," ucapnya. "Meskipun udah lima tahun, semua sikap buruk kamu ke aku tuh masih tercetak jelas di memori aku, Mas, bahkan ketidakpedulian kamu sama anakku juga masih sangat aku ingat. Jadi daripada repot pengen ketemu sama Yaya, lebih baik kamu mulai hidup baru dengan perempuan lain dan punya anak sendiri. Kamu enggak ada, aku sama Yaya bahagia. Jadi tolong jangan kacaukan hidup aku dan anakku kalau emang kamu peduli sama dia."
Asta tidak memberi jawaban, sementara Valeria kembali memberikan serangan dengan berkata, "Kamu enggak akan semudah itu berubah tanpa sebuah alasan. Jadi jujur aja sama aku, apa yang buat kamu cari Yaya? Apa ada hubungannya sama warisan orang tua kamu yang enggak akan dikasih ke kamu kalau seandainya kamu enggak bisa bawa Yaya? Iya?"
"Valeria ...."
"Dulu kamu sejahat itu sama aku, Mas. Jadi cuman modal kalimat kamu udah berubah dan udah menyesali semuanya, enggak bikin aku percaya kamu tulus sama anakku," kata Valeria lagi. "Kamu enggak pernah sepeduli itu sama aku dan anakku. Jadi jangan bersandiwara, karena aku enggak percaya."
Asta tidak menjawab, sehingga selama beberapa detik dia dan Valeria saling menatap satu sama lain, hingga sebuah seruan yang tiba-tiba saja terdengar—membuat atensi keduanya kompak beralih.
"Mima!"
Di depan lobi, Valeria dan Asta mendapati seorang gadis kecil dengan pakaian olahraga yang membalut tubuh mungilnya. Tak datang sendiri, gadis kecil yang tidak lain adalah Tanaya, datang bersama Sastra.
Setia mengawal Tanaya, Sastra terlihat membawa ransel calon putri sambungnya, dan karena kehadiran mereka, Valeria mendesah dalam hati, sementara Asta terlihat speechles, karena meskipun sudah melihat foto Tanaya yang diberikan oleh kedua orang tuanya, dia tetap tak menyangka bisa bertemu langsung dengan sang putri kandung, yang bahkan ketika masih bayi tak pernah dia lihat.
"Sayang," panggil Valeria, berusaha tenang meskipun rasa panik menghampirinya.
"Mima lagi bicara sama siapa?" tanya Tanaya sambil mendekat. "Yaya capek nih, mau ganti baju dulu sebelum ke restorannya Om Sas. Tadi Om Sas udah ajak Yaya langsung ke restoran sih, tapi Yayanya enggak mau. Yaya mau ke Mima dulu."
Valeria tersenyum, sementara Asta tak berhenti memandangi sang putri, sebelum kemudian memberanikan diri buka suara.
"Halo, Yaya. Apa kabar?"
Dari Valeria, atensi Tanaya beralih pada Asta. Tidak seramah seperti memandang Valeria, gadis cilik itu menaikkan sebelah alisnya. Alih-alih menjawab pertanyaan, dia justru balik bertanya,
"Om siapa? Kok tahu Yaya?"
Asta tersenyum, lalu setelahnya merendahkan posisi. Berjongkok di depan Tanaya, tanpa ragu dia bertanya, "Kalau Om bilang, Om ini Papa kandungnya Yaya. Yaya percaya enggak?"