Chapter 6

1075 Words
*** Tiba-tiba mendapat kejutan yang tak pernah dia duga sebelumnya, Valeria dihampiri kalut juga takut. Lima tahun hidup damai bersama Tanaya, hari ini—tanpa pernah dia bayangkan sebelumnya, Asta hadir kembali di kehidupannya. Entah darimana pria itu tahu tempat dirinya dan Tanaya tingggal, Valeria tidak tahu. Namun, yang jelas dirinya panik karena meskipun belum tahu tujuan Asta ingin bertemu dengannya, prasangka-prasangka buruk di dalam pikiran, berdatangan silih berganti. "Aku harus kasih tahu Mas Rakta soal ini," ucap Valeria, dengan perasaan yang masih diselimuti panik. "Aku harus tanya ke dia soal Mas Asta, karena siapa tahu Mas Rakta tahu." Valeria yang semula berdiri di dekat meja telepon, berjalan menuju sofa lalu menghubungi Rakta di sana. Menunggu dengan perasaan yang tak tenang, panggilan darinya dijawab, dan suara Rakta pun terdengar. "Halo, Valeria. Ada apa?" "Mas Rakta lagi apa?" tanya Valeria. "Sibuk enggak?" "Saya baru selesai meeting, Val. Kenapa?" "Mas Asta, Mas. Dia datang ke apartemen tempat aku dan Tanaya tinggal," ungkap Valeria tanpa basa-basi, disertai rengekan kecil. "Aku enggak tahu Mas Asta tahu darimana alamat apartemen aku, tapi yang jelas dia pengen ketemu sama aku. Entah apa tujuannya, tapi aku takut, Mas. Aku khawatir Mas Asta muncul lagi di hidup aku tuh buat ambil Yaya." "Ini serius Asta ke apartemen kamu?" tanya Rakta dengan suara yang terdengar kaget. "Serius, Mas," ucap Valeria. "Cuman enggak aku temuin dan aku tolak kehadirannya. Sekarang masih di bawah atau udah pergi, aku enggak tahu. Enggak berani soalnya buat ngecek." "Kenapa bisa secepat itu ya dia tahu keberadaan kamu?" tanya Rakta, kali ini terdengar heran. "Saya aja tahu dia udah sembuh, belum lama ini, tapi kok dia bisa bergerak secepat ini cari kamu sama Tanaya?" "Ya aku juga enggak tahu, Mas," kata Valeria, disertai desahan. "Kalau aku tahu, aku enggak akan telepon Mas sambil ngerengek gini." "Calm down, Valeria. Jangan panik," ucap Rakta. "Saya tahu ketemu sama Asta bukan sesuatu yang baik buat kamu, tapi tujuan dia temuin kamu belum tentu buruk, kan? Jadi kamu jangan terlalu cemas karena itu enggak baik buat kamu." "Gimana enggak panik, Mas. Ini Mas Asta tiba-tiba ada di apartemen aku lho setelah lima tahun," kata Valeria. "Terakhir aku berinteraksi sama Mas Asta tuh pas aku kasih surat gugatan, dan kita berantem waktu itu. Jadi ya aku takut." "Tarik napas dalam-dalam, terus embuskan pelan-pelan," pinta Rakta. "Sekarang juga saya bakalan datang ke rumah orang tuanya Asta buat tanya. Sementara saya lakuin itu, kamu jangan temuin dia karena kita belum tahu tujuannya. Oke?" "Oke," ucap Valeria. "Tolong tanyain dengan jelas tujuan Mas Asta nemuin aku ya, Mas, terus kalau bisa tanyain juga darimana Mas Asta tahu alamat apartemen aku. Siapa tahu Mama Mauren sama Papa Agra ada kaitannya." "Siap, Valeria. Kamu jangan panik," kata Rakta. "Tetap tenang, karena panik enggak ngatasin apa-apa." "Aku lagi berusaha, Mas," ucap Valeria. "Degdegan tahu tiba-tiba dengar Mas Asta ada di sekitar aku setelah sekian lama. Kalau dulu sikapnya ke aku baik, aku enggak akan setegang ini, tapi kan sikap Mas Asta sebaliknya. Jadi ya aku takut." "Saya paham," kata Rakta. Hening sejenak, pria itu bertanya, "Yaya di mana jam segini? Apa masih di sekolah?" "Yaya masih di sekolah, Mas. Setengah jam lagi dia pulang." "Biasa dianterin sama Sastra, kan?" "Iya." "Kalau gitu telepon Sastra terus minta dia bawa Yaya ke tempat lain dulu," pinta Rakta. "Jaga-jaga Asta masih ada di bawah, kamu cegah pertemuan dia sama Yaya. Jadi setidaknya sampai saya tahu tujuan Asta cari kamu, Yaya jangan sampai ketemu sama Papanya." "Ah iya," ucap Valeria. "Aku telepon Mas Sastra habis ini." "Oke. Intinya jangan panik, dan bersikaplah setenang mungkin," ucap Rakta. "Selagi ada saya, kamu dan Yaya enggak akan kenapa-kenapa, karena saya akan melindungi kalian." "Iya, Mas." Obrolan selesai, Valeria menyudahi panggilan dengan Rakta, lalu menghubungi Sastra. Tak langsung blak-blakkan tentang kedatangan Asta ke apartemen tempatnya tinggal, dia meminta agar pria itu mengajak Tanaya ke restoran miliknya dengan alasan; Valeria ingin makan siang lagi di sana. "Enggak apa-apa memangnya Yaya enggak ganti baju dulu?" tanya Sastra, tak langsung mengiakan permintaan Valeria. "Dia kan habis olahraga hari ini. Gerah kayanya kalau enggak ganti baju dulu." "Nanti aku bawa baju gantinya ke restoran kamu, Mas," kata Valeria, sambil berusaha menyembunyikan kepanikannya. "Aku lagi pengen banget ayam rica-rica di restoran kamu. Lama kalau nunggu Yaya dibawa ke sini. Keburu lapar." "Oh, ya udah kalau gitu nanti sekalian mandiin aja Yayanya ya di sana," kata Sastra. "Di ruangan kerja aku kebetulan ada kamar mandi. Kasihan soalnya kalau enggak mandi dulu. Takutnya jadi biang keringat." "Iya, Mas," ucap Valeria. "Maaf ya kalau aku ngerepotin kamu. Pengen banget makan ayam rica-rica soalnya. Udah di ujung lidah." "Enggak ngerepotin, Valeria," kata Sastra. "Senang malah aku kalau kamu sama Yaya sering makan di restoran aku. Cuman ya itu, Yaya habis olahraga hari ini. Dia keringetan." "Aku pasti bawa baju gantinya Yaya, Mas, sama perlengkapan mandinya juga," kata Valeria. "Makasih ya karena udah seperhatian itu sama anakku." "Yaya udah aku anggap anakku juga, Vale," kata Sastra. "Aku sayang sama dia." Di tengah khawatir, gelisah, bahkan takut, Valeria tersenyum haru usai mendengar ucapan Sastra. Tak berlama-lama mengobrol, selanjutnya dia menyudahi telepon lalu dengan sedikit tergesa-gesa, pergi ke kamar untuk mengambil baju ganti Tanaya. Tak langsung pergi, Valeria kembali duduk di sofa dengan perasaan yang bingung. Takut bertemu Asta yang mungkin masih berada di lobi apartemen, itulah dia, sehingga untuk beberapa saat, Valeria sibuk menimang keputusan apakah yang akan dia ambil. "Kenapa Mas Asta harus hadir lagi di hidup aku dan Tanaya sih?" tanya Valeria. "Untuk kesembuhan dia, aku ikut senang, tapi sungguh! Aku enggak siap kalau harus berurusan sama Mas Asta lagi, karena luka yang dia kasih dulu bahkan belum sepenuhnya sembuh." Valeria kembali bermonolog, hingga setelah duduk lama di sofa, dia memutuskan untuk menghubungi Irma menggunakan nomor pribadi. Namun, belum sempat Valeria merealisasikan niatnya, telepon rumah lebih dulu berdering. Sambil menelan ludah, Valeria beranjak lalu menghampiri telepon dan mengangkat bagian gagang. Sambungan telepon terhubung, dia buka suara sambil menebak-nebak." "Halo, Irma. Ini kamu?" "Bukan Valeria, ini aku Asta," ucap seorang pria dari telepon, yang sukses membuat kedua mata Valeria membulat sempurna. "Kenapa enggak mau temuin aku di lobi? Takut?" "M—Mas Asta," panggil Valeria gagap. "E—enggak, aku enggak takut. c*m—" "Aku mau ketemu anakku," ucap Asta, memotong ucapan Valeria. "Di mana dia sekarang?" Valeria tidak menjawab, sementara jemari tangan kirinya refleks meremas dress yang dia pakai, hingga tidak berselang lama, Asta kembali bicara. "Kenapa diam, Valeria? Aku tanya di mana Tanaya? Aku pengen ketemu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD