Chapter 5

1094 Words
*** "Gimana, Yaya? Makanannya enak?" Di tengah kegiatan makan, pertanyaan tersebut diberikan Sastra pada gadis kecil kesayangannya, yang nampak lahap menyantap makanan di piring. Menepati janji, siang ini—setelah mengajak Valeria dan Tanaya ke restoran miliknya, Sastra turun langsung ke dapur untuk membuatkan makanan. Ingin memberikan hadiah spesial untuk Tanaya, Sastra membuatkan menu kesukaan gadis kecil itu yang tidak lain adalah; steak salmon. "Enak banget, Om Sas, Yaya suka," jawab Tanaya dengan wajah cerianya. "Makasih ya karena udah kasih Yaya hadiah. Yaya senang." "Sama-sama, Cantik," ucap Sastra. "Habisin ya steaknya. Nanti Om Sas kasih hadiah lain untuk Yaya." "Hadiah apa?" "Kejutan dong," kata Sastra, sambil tersenyum. "Nanti Yaya bakalan tahu setelah selesai makan. Oke?" "Ah, Om Sas. Yaya jadi penasaran deh." "Ayo habisin dulu makanannya kalau mau tahu," ucap Sastra, menyemangati. "Lucu lho hadiahnya." Tanaya merajuk—membuat Sastra sigap menenangkan dan menyemangati. Berinteraksi dengan sangat manis, keduanya persis seperti seorang ayah dan anak gadisnya yang selalu dekat di momen apa pun. Tak ada jarak, siapa pun yang melihat Sastra dan Tanaya pasti akan mengira keduanya ayah juga anak kandung, dan hal tersebut membuat Valeria bahagia. Empat tahun membesarkan sang putri sendirian, Valeria senang karena Tanaya akhirnya mendapatkan peran ayah meskipun bukan dari papa biologisnya. "Udah habis, Om Sas. Mana hadiah Yaya." Beberapa menit berlalu pasca kembali menyantap steak, permintaan tersebut Tanaya lontarkan sambil mengulurkan telapak tangan. "Ini yang pengen hadiah, agak ngotot ya," kata Valeria. "Padahal, Yaya bisa minta ke Mima lho. Kenapa jadi nodong Om Sas?" "Kan Om Sas janji mau kasih hadiah buat Yaya, Mima. Jadi Yaya nagih," ucap Tanaya yang kemudian beralih pada Sastra. "Iya, kan, Om Sas?" "Iya dong," jawab Sastra dengan wajah tulusnya seperti biasa. "Sebentar ya, Om Sas ambil dulu hadiahnya." "Oke, Om Sas!" Sambil beranjak, Sastra berpamitan pada Valeria dan Tanaya. Tak ada pria itu di meja, Valeria menyempatkan diri untuk mengobrol dengan sang putri. Bertanya tentang perasaan Tanaya dekat dengan Sastra, sekiranya itulah yang Valeria lakukan, dan jawaban putrinya itu membuat dia tersentuh sekaligus ingin menangis. "Yaya senang banget kenal sama Om Sas, Mima. Om Sas baik banget sama Yaya, dan karena Om Sas, Yaya jadi ngerasa punya Papap. Yaya enggak iri lagi lihat orang lain sama Papapnya, karena Yaya sekarang punya Om Sas." Itulah yang Tanaya lontarkan—membuat sedikit rasa bersalah di hati Valeria muncul, karena dia yang memisahkan Tanaya dari sang mantan suami alias ayah kandung putrinya itu. Namun, jika seandainya dia tak membawa Tanaya pergi, putrinya juga belum tentu mendapatkan kasih sayang dari Asta, karena kelahiran Tanaya tak pernah diharapkan oleh mantan suaminya itu. "Mima kapan nikah sama Om Sas?" tanya Tanaya, setelah Valeria tidak memberikan respon untuk jawabannya. "Yaya pengen dekat terus sama Om Sas. Pengen tinggal juga sama Om Sas." "Yaya sabar dulu ya, Sayang. Nanti setelah waktunya tepat, Mima nikah kok sama Om Sas." Tanaya tidak menjawab, hingga kedatangan Sastra membuat atensinya beralih. Datang sambil membawa buket boneka juga satu buah boneka berukuran besar, Sastra berhasil membuat Tanaya berseru kegirangan. Langsung mengambil hadiah yang diberikan Sastra, lalu tanpa ragu memeluk sang calon papa, selanjutnya itulah yang Tanaya lakukan—membuat Valeria tersenyum. Berniat untuk memberikan tanggapan, sebuah panggilan tiba-tiba masuk, sehingga mau tak mau Valeria meminta izin untuk menepi. "Mas Rakta." Mendapati nama Rakta, Valeria menjawab telepon lalu menyapa, "Halo, Mas. Kenapa?" "Vale, kamu sedang apa?" tanya Rakta dari sebrang sana. "Saya mau kasih tahu kamu sesuatu, dan ini cukup penting." "Apa, Mas?" "Asta ternyata sudah bangun dari komanya setahun lalu," kata Rakta—membuat raut wajah Valeria berubah. "Dan kemungkinan besar dia sudah sembuh sekarang." Jika boleh jujur, Valeria kaget mendengar kabar tersebut. Namun, karena rasa bencinya pada Asta, sebuah respon yang cukup angkuh diberikannya. "Terus urusannya sama aku apa, Mas? Aku enggak peduli lagi sama Mas Asta. Mau dia bangun, atau tidur selamanya. Aku enggak peduli," kata Valeria. "Dia udah lama aku anggap mati." "Mas ngerti, tapi apa kamu enggak takut Asta cari Tanaya?" tanya Rakta. "Gimana pun juga Tanaya anak kandungnya." "Mas Asta nyari Yaya buat apa, Mas?" tanya Valeria. "Seperti yang Mas tahu, dulu pas Yaya lahir, dia enggak peduli—bahkan sekali pun enggak pernah lihat Yaya. Jadi kalau pun sekarang dia sembuh, aku yakin dia enggak akan punya niat buat cari Yaya. Ingat punya anak aja kayanya enggak." "Iya sih, tapi siapa tahu disuruh orang tuanya, Val," kata Rakta. "Tante Mauren dan Om Agra kan sayang sama kamu dan—" "Kalau mereka ada niat cari Yaya, harusnya dari dulu, Mas," kata Valeria. "Buktinya enggak ada, kan? Jadi udahlah. Mas Asta sama keluarganya enggak ada yang peduli sama aku ataupun Yaya." Rakta menghembuskan napas kasar, membuat Valeria memilih untuk menyudahi panggilan. Moodnya sedikit memburuk, setelahnya—sebelum kembali pada Sastra dan Tanaya, Valeria merutuki Asta dulu untuk melampiaskan perasaan benci dan kecewanya pada pria itu. Perasaan membaik, Valeria kembali menghampiri sang putri yang masih asyik dengan Sastra. Kembali bergabung tanpa menceritakan obrolannya dengan Rakta, Valeria bersikap seperti biasa, hingga setelah cukup lama menetap di restoran sang kekasih, dia dan Tanaya diantar pulang. "Makasih ya, Mas, untuk hari ini," kata Valeria, yang saat ini sedang di perjalanan pulang. "Yaya senang banget sama semua yang kamu lakuin dan kasih. Aku jadi terharu." "Sama-sama," kata Sastra. Menoleh pada Tanaya yang terlelap dengan damai di jok belakang, dia berkata, "Aku sayang sama Yaya. Jadi aku akan mengusahakan yang terbaik buat dia." "Makasih, Mas." Sampai di apartemen pukul dua siang, Valeria diantar sampai ke unitnya oleh Sastra yang sigap menggendong Tanaya sampai ke kamar. Hari berlalu, aktivitas Valeria masih sama seperti biasa, yaitu; mengantar Tanaya sekolah, lalu pulang untuk mengurus apartemennya. Tak perlu repot menjemput, Valeria hanya tinggal menunggu sang putri diantar oleh Sastra. "Hari ini ngajak Mas Sastra makan siang enak kali ya," kata Valeria. "Kemarin kan dia yang ajak makan, sekarang giliran aku." Tak hanya berucap, Valeria yang sejak setengah jam lalu bersantai, beranjak dari sofanya. Namun, belum sempat dia pergi ke dapur, telepon rumah lebih dulu berdering—membuat Valeria dengan segera menjawab panggilan. "Halo." "Halo, Mbak Vale, selamat siang. Ini Irma," kata sang resepsionis apartemen. "Halo, Irma. Ada apa?" "Ini Mbak Vale, di bawah ada tamu untuk Mbak Vale," kata Irma. "Katanya ada keperluan. Mau dijemput atau langsung Irma minta ke unitnya Mbak Vale." "Tamu?" tanya Valeria, sambil mengerutkan kening. "Siapa, Irma? Laki-laki apa perempuan?" "Laki-laki, Mbak Vale. Namanya Pak Jenggala Astaguna Wirawan. Mbak Vale kenal?" Deg! Di detik berikutnya, raut wajah Valeria berubah serius. Tak tahu harus menimpali apa ucapan Irma, dia membisu dengan tubuh menegang, hingga selang beberapa detik berlalu, Irma kembali buka suara. "Mbak Vale? Mbak masih di sana?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD