Chapter 4

1047 Words
*** Lima tahun berlalu .... "Mima, Mima di mana? Aku dapat seratus hari ini!" Valeria yang barusaja keluar dari kamar mandi, berjalan dengan tergesa menuju pintu kamar. Membukanya sesegera mungkin, dia keluar lalu tersenyum setelah tak jauh dari pintu utama, Valeria mendapati seorang gadis kecil berdiri sambil melengkungkan senyuman. Bukan gadis asing, dia adalah Tanaya Nadeleinne—putri kandung Valeria yang tahun ini genap berusia lima tahun. Masih memakai seragam taman kanak-kanak, Tanaya memegang selembar kertas di tangannya—membuat Valeria lekas bertanya, "Tugas apa yang dapat seratus, Sayang? Mima buru-buru keluar lho setelah Yaya teriak." "Hehe, sorry, Mima," kekeh Tanaya. "Yaya enggak sabar soalnya pengen kasih tahu nilai Yaya ke Mima. Oh ya, yang dapat seratus ulangan matematika, Mima. Tadi kan Miss adain ulangan gitu, terus Yaya betul semua. Jadi nilainya seratus." "Matematika?" tanya Valeria terkejut. "Seriusan?" "Serius, Mima. Ini kertas ulangannya." Tak terus di depan pintu, Valeria mendekati Tanaya untuk mengambil alih kertas yang sang putri pegang. Tak ada kebohongan, sang putri benar-benar mendapatkan nilai seratus—membuat rasa bangga seketika menyelimuti. "Wah, Yaya keren banget, Sayang," ucap Valeria, sigap merendahkan posisinya agar sejajar dengan sang putri. "Ini kok bisa betul semua sih? Hebat banget anaknya Mima. Mantap." "Itu gampang tahu, Mima. Kan Yaya udah diajarin di tempat les. Jadi bisa." "Wah iya ya." Tak ada lagi penderitaan, hidup Valeria selama lima tahun terakhir diselimuti kebahagiaan. Tak ada duka ataupun tekanan, Valeria menikmati perannya sebagai ibu tunggal yang fokus membesarkan sang putri, Tanaya. Tak lagi menetap di Jakarta, Valeria sudah lima tahun tinggal di Bandung. Dibantu Rakta, dia berhasil menghilangkan jejak dari keluarga Asta, sehingga semenjak berpisah dengan Asta, tidak pernah sekali pun Valeria bertemu Mauren atau semacamnya. Valeria jahat karena menjauhkan Tanaya dari Oma dan Opanya? Mungkin iya, tapi Valeria menganggap hal tersebut adalah pembalasan untuk rasa sakit yang dia rasakan selama dua tahun menjadi istri Asta. "Gimana kalau buat rayain nilai seratusnya Tanaya, kita makan di restoran Om? Om deh yang masakin biar makin spesial." Dari Tanaya, atensi Valeria beralih pada pria jangkung si dekat sang putri. Bukan orang lain, dia adalah Sastra—pria yang selama enam bulan ini resmi menjadi kekasih Valeria. Berkenalan setahun lalu—tepat saat Valeria mengantar Tanaya untuk pertama kalinya sekolah, Sastra terus mendekati mantan istri Asta tersebut, sampai akhirnya enam bulan ke belakang, dia memberanikan diri menyatakan cinta, dan diterima oleh Valeria yang sudah lama melupakan Asta. Bukan seorang CEO seperti Asta, Sastra memiliki bisnis di bidang kuliner yaitu; dua buah restoran di kota Bandung. Tidak hanya itu, dia juga pemilik taman kanak-kanak sekaligus kepala sekolah di tempat Tanaya belajar, sehingga tak hanya dekat dengan Valeria, hubungannya dengan sang calon putri sambung juga sangatlah dekat. "Makan di luar?" tanya Valeria memastikan. "Iya," jawab Sastra. "Ah, apa kamu udah masak buat makan siangnya Yaya?" "Belum sih, baru mau," kata Valeria. "Cuman kamu enggak sibuk emangnya?" "Untuk kamu sama Yaya, enggak ada kata sibuk," ucap Sastra. "Aku siap kapan pun." "Om Sas baik deh, Yaya suka," puji Tanaya antusias. Beralih pada Valeria, dia berkata, "Ayo Mima, kita makan sama Om Sas. Yaya suka masakannya Om Sas. Enak." "Boleh deh." "Yeay!" Tak diam saja, Valeria memilih untuk bergegas mengganti baju. Tidak hanya dia, Tanaya pun tentunya berganti pakaian—membuat Sastra menunggu di ruang tengah. Meskipun belum resmi menjadi suami Valeria, Sastra sudah mengabdikan dirinya menjadi sang pengantar si calon anak, sehingga setiap siang, Valeria hanya tinggal menunggu di apartemen tanpa harus keluar untuk menjemput. Dulu—di tahun pertama pindah ke Bandung, Valeria sempat membuka usaha pakaian. Namun, karena tak mengalami kemajuan juga tak bisa fokus pada Tanaya, Valeria memutuskan untuk diam saja di apartemen tanpa membuka usaha apa pun. Perihal biaya hidup, Valeria tak panik karena aset yang dia miliki di perusahaan yang dikelola Rakta, masih sangat besar, sehingga setiap bulannya Valeria tinggal menerima transferan dari sang kepercayaan. "Om Sas, Yaya sudah siap!" Sepuluh menit berlalu, Sastra dibuat menoleh setelah seruan tersebut terdengar dari depan pintu kamar Valeria. Mendapati Tanaya dengan dressnya, dia berkata, "Wah, Yaya cantik sekali. Mimanya mana?" "Mima lagi cari tas dulu, Om Sas. Cari yang cantik katanya." "Oh, oke deh." Tak berselang lama, Valeria keluar dari kamar dengan penampilan yang rapi. Tak berlama-lama di apartemen, ketiganya bergegas menuju restoran milik Sastra. Layaknya keluarga kecil bahagia, Tanaya berjalan di tengah sambil menuntun Valeria dan Sastra di sisi kanan dan kirinya. Melangkah menyusuri koridor menuju lift, Tanaya sempat bertanya, "Mima sama Om Sas kapan nikahnya? Yaya enggak sabar pengen tinggal bareng Om Sas. Yaya juga pengen punya Papap kaya teman-teman Yaya yang lain." "Sabar ya, Yaya," kata Valeria menenangkan. "Nanti setelah waktunya tepat, Mima sama Om Sas akan menikah." "Betul itu," ucap Sastra, ikut buka suara. "Lagipula meskipun Om Sas nikah sama Mima, Yaya bisa lho anggap Om Sas Papap." "Emang iya?" "Iya dong." Ketika Valeria tengah menjalani kehidupan bahagianya di Bandung sana, jauh di Jakarta sana seorang pria justru sedang duduk serius di depan sebuah meja. Jenggala Astaguna Wirawan. Empat tahun mengalami koma, kemudian menjalani pemulihan selama satu tahun, pria itu kembali sembuh seperti semula. Namun, dia tidak bisa bersantai, karena sebuah ancaman kemiskinan menghantuinya setelah lima tahun lalu Valeria menceraikan dirinya. Tak pasrah, Asta mencoba melobi sang papa untuk tetap memberikan warisan pada dirinya. Tak gagal, usaha tersebut berhasil. Namun, dengan satu syarat yang belum disebutkan sampai sekarang. "Ini," kata Arga, sambil memberikan sebuah map pada Asta. Duduk berhadapan, saat ini dia membawa Asta ke ruangan kerjanya yang ada di rumah. "Apa ini?" "Buka saja dulu," kata Arga. "Kamu enggak akan tahu sebelum kamu buka mapnya." Meskipun dejavu usai mendengar perintah tersebut dari sang papa, Asta yang merasa penasaran terhadap map pemberian Arga, memutuskan untuk membukanya. Spontan mengerutkan kening, itulah dia usai mendapati sebuah foto gadis kecil yang dicetak besar di dalam maps, lengkap dengan nama yang tertulis di bagian bawah. "Tanaya Nadeleinne," ucap Asta yang kemudian mengangkat pandangan, lalu menatap sang papa penuh tanya. "Siapa gadis kecil ini, Pa? Dan hubungannya apa sama aku?" Tak menjawab, Arga justru mengukir senyuman miring—membuat Asta yang dilanda penasaran, sekaligus perasaan tak enak, kembali bicara. "Pa, kenapa diam?" tanyanya. "Siapa Tanaya Nadeleine? Dan hubungannya sama aku, apa? Bukannya Papa ke sini buat kasih aku persyaratan soal warisan? Kenapa sekarang malah kasih aku map yang isinya foto gadis kecil? Dia anak Papa dari perempuan lain?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD