4

1803 Words
Faten tersenyum lembut, mendekati Taran dengan hati-hati. "Taran, ini aku, Faten. Suamimu," ucapnya pelan sambil menunjukkan foto-foto pernikahan mereka dan gambar rumah impian mereka. "Aku tahu ini sulit, tapi aku di sini untukmu. Aku tidak akan memaksamu." Faten menyodorkan es krim tiga rasa. "Aku tidak tahu rasa favoritmu, jadi kubawakan tiga rasa. Siapa tahu ada yang cocok." Taran menatap Faten dengan curiga. Otaknya penuh dengan teori konspirasi. "Gue nggak percaya gitu aja. Lo siapa sebenarnya? CEO? Mafia? Atau jangan-jangan... gue amnesia dan lo mau manfaatin gue?" Matanya kemudian tertuju pada kumis tipis Faten. "Tapi yang paling ganggu, itu kumis lo! Kayak belalang sembah. Tipis, kering, nggak guna! Kecuali wajah lo lumayan lah, tapi kumis itu ganggu penglihatan gue!" Faten terkejut, berusaha menahan tawa. "Kumis ini... memangnya kenapa?" "Ya, aneh aja. Cowok kok kumisnya kayak gitu. Mending lo cukur deh, sumpah," kata Taran dengan nada bicara yang blak-blakan. Perawat yang sedang mengganti perban Taran berusaha keras menahan tawa mendengar percakapan absurd itu. Ia menunduk, pura-pura fokus pada pekerjaannya, tapi bahunya terlihat bergetar. Faten menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke, oke. Nanti aku pikirkan soal kumis ini. Sekarang, coba makan es krimnya dulu." Taran masih menatap Faten dengan curiga, tapi ia mengambil salah satu es krim. "Awas aja lo macam-macam." Taran menikmati es krimnya sambil memperhatikan Faten yang sedang mengupas buah. "Oh ya, lo bilang gue bisa pulang sore ini? Terus, gue mau tanya... kita udah pernah 'itu' belum?" Pertanyaan Taran sontak membuat Faten tersedak. Wajahnya langsung memerah padam. Ia melirik ke sekeliling, menyadari bahwa pertanyaan lantang itu terdengar jelas di kamar yang juga diisi pasien lain. "Taran! Jangan bicara seperti itu di sini!" bisik Faten panik, berusaha mengalihkan topik. "Ini, makan buahnya saja. Ini apel Malang, enak sekali." Taran malah menyeringai. "Oh, jadi belum ya? Atau... jangan-jangan lo impoten?" Mendengar tuduhan itu, pisau buah yang dipegang Faten langsung terjatuh ke lantai. Ia tertegun, mulutnya sedikit terbuka. Pikirannya langsung kosong. Nyawanya serasa terbang ke tempat lain. Impoten? Apa yang ada di kepala istrinya ini? Dengan wajah merah padam, Faten berusaha mengelak. "Tentu saja sudah! Kita sudah melakukannya berkali-kali, Taran. Jangan bicara yang aneh-aneh." Taran mengangkat alisnya, menatap Faten dengan tatapan menantang. "Oh ya? Kalau gitu, mana buktinya? Ada video?" Seketika, otak Faten membeku. Lidahnya kelu, tak tahu harus menanggapinya seperti apa. Video? Dari mana ia bisa mendapatkan video seperti itu? Taran wanita pemalu sebelum ingatannya hilang. Taran kembali dengan teorinya yang absurd. "Tentu saja menikahi lelaki impoten dengan wajah tampan tidak masalah. Setidaknya, gue masih segel." Ucapan itu meluncur ringan dari mulut Taran, seolah itu adalah hal yang wajar untuk dikatakan. Faten hanya bisa melongo, menatap Taran dengan tatapan tak percaya. Apa yang baru saja ia dengar? Istrinya, yang kehilangan ingatan, baru saja menyebut dirinya impoten dan mengatakan bahwa dirinya masih "segel"? Tak terasa sore hari tiba. Taran digandeng Faten meninggalkan rumah sakit. Saat melewati lorong-lorong sebelum mencapai lobi, banyak perawat dan dokter yang menyapa Faten dengan ramah. Taran mengerutkan kening, bingung. "Kenapa banyak yang kenal lo? Lo siapa sih sebenarnya?" Faten tersenyum lembut. "Aku dokter, Taran. Aku bekerja di rumah sakit ini." Mendengar itu, langkah Taran langsung terhenti. Ia terkejut. "Dokter? Serius? Dengan spek gue yang dulu, gimana bisa nikah sama dokter? Nggak mungkin!" Taran langsung menatap Faten dengan tatapan curiga. "Jangan-jangan... ada kejadian kayak di drama-drama Cina pendek itu? Gue dibius, diperas, terus lo terpaksa nikahin gue?" Wajah Taran menunjukkan rasa penasaran yang besar. Faten menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. "Tidak ada drama-drama seperti itu, Taran. Kita menikah karena cinta. Dulu, sekarang, dan selamanya." Taran semakin curiga. Otaknya dipenuhi teori konspirasi. "Kayaknya gue dinikahi buat dijual organ dalamnya," gumamnya. Pikirannya langsung menghitung harga jual organ-organnya. "Mata berapa ya? Jantung? Usus? Lambung? Ginjal? Rambut? Bahkan tulang juga laku, kan?" Faten, yang selesai mengurus surat keluar, berjalan mendekati Taran di lobi. Tanpa pikir panjang, Taran langsung kabur. "Taran! Sayang, mau ke mana?!" teriak Faten sambil mengejar. Dr. Rina dan dua perawat, Siska dan Bayu, yang merupakan teman Faten, ikut mengejar. Taran berlari semakin kencang. "Gue nggak akan jadi korban jual organ!" pikirnya. Namun, baru berlari sejauh itu, ia sudah merasa lelah. Tak lama kemudian, Faten berhasil menyergap Taran. Di sana, Taran berteriak histeris, "Faten itu penjual organ manusia! Tolong!" Dr. Rina, Siska, dan Bayu yang baru sampai dan masih terengah-engah berusaha menahan tawa dengan menutup mulut mereka. "Taran, tenang! Aku nggak jual organ!" kata Faten berusaha menenangkan. Taran terus meronta. "Nggak! Lo pasti mau ambil ginjal gue! Atau jantung! Jangan mendekat!" Siska berbisik ke Bayu, "Ini lebih seru dari drama Korea." Bayu menjawab sambil terkekeh, "Iya, mana ada dokter jual organ. Ada-ada aja." Dr. Rina mendekati Faten dan berbisik, "Tenang, Faten. Biar gue bantu. Taran, kamu tenang dulu ya. Faten ini dokter, dia nggak mungkin melakukan hal seperti itu." Taran masih menatap Faten dengan tatapan curiga. "Dokter kok nikah sama orang kayak gue? Pasti ada udang di balik bakwan!" Gerutu Taran. Taran langsung menjambak rambut Dr. Rina sekuat tenaga. "Awas lo, komplotan!" teriaknya. Faten mencoba menenangkan Taran, dibantu oleh Siska dan Bayu. "Taran, jangan kasar! Mereka teman-temanku!" Namun, Taran dengan tenaga penuh juga menjambak rambut Faten. "Lo juga sama aja! Penipu!" Dengan semangat 47, ia menarik rambut suaminya. Siska dan Bayu terdiam sejenak, sampai teriakan kesakitan dari Dr. Rina membuat mereka bergerak cepat untuk melerai. "Aduh! Sakit, Taran! Lepasin!" teriak Dr. Rina. "Siska, Bayu, bantu saya!" seru Faten sambil berusaha melepaskan jambakan Taran. "Ampun, Taran! Rambut saya rontok semua nih!" keluh Dr. Rina. "Udah, Taran, jangan berantem! Malu diliatin orang!" kata Bayu sambil berusaha menarik Taran. "Nggak! Mereka mau jual organ gue!" balas Taran dengan nada histeris. Terjadilah pergumulan sengit di antara mereka berlima. Suasana lobi rumah sakit menjadi kacau balau. Sampai akhirnya, salah seorang warga yang merasa terganggu memanggil Satpol PP. Tak lama kemudian, petugas Satpol PP datang dan mengamankan kelima orang tersebut. Dengan penampilan berantakan, rambut acak-acakan, dan pakaian yang kusut, Taran, Faten, Dr. Rina, Siska, dan Bayu digelandang ke kantor Satpol PP. Siska berbisik ke Bayu, "Ini sih bukan drama Korea lagi, tapi sinetron azab." Bayu hanya bisa mengangguk pasrah. "Kayaknya kita salah tempat, deh." Di kantor Satpol PP, Taran melihat seorang petugas Satpol PP yang menatapnya dengan genit dan memberikan senyuman menggoda. Faten menghela napas panjang. "Taran, ingat, aku ini suamimu," kata Faten dengan nada lelah. "Ya ampun, Faten, santai dong. Nggak usah posesif gitu," balas Taran sambil membalas senyuman petugas Satpol PP itu. "Lagian, punya pacar pas udah punya suami itu keren dan gaul tahu!" Faten membelalakkan matanya. "Keren dari Hongkong! Itu namanya selingkuh, Taran! Kamu ini kenapa sih?" "Selingkuh itu kuno, Faten. Sekarang zamannya open relationship. Lagian, gue kan udah dewasa, jadi wajar dong kalau dapat nafkah 'e*e' dari pria dewasa juga," ucap Taran enteng. Mendengar itu, Faten merasa darahnya mendidih. "Taran! Jaga bicaramu! Aku ini suamimu, dan aku nggak impoten!" Petugas Satpol PP yang tadinya sedang mencatat, berhenti dan menoleh. Dr. Rina, Siska, dan Bayu yang juga berada di sana, ikut menghentikan aktivitas mereka dan fokus pada pertengkaran suami istri itu. Salah seorang petugas Satpol PP menyodorkan sepiring gorengan, dan mereka mulai menyantapnya sambil menonton drama di depan mata mereka. "Denger ya, Taran," lanjut Faten dengan suara bergetar, "aku ini suamimu, dan aku normal. Kita sudah menikah, dan kita saling mencintai. Nggak ada cerita kamu dapat nafkah dari pria lain!" Faten memijat pelipisnya. "Cinta? Halah, basi! Yang penting itu cuan!" balas Taran dengan nada meremehkan. Pertengkaran Taran dan Faten semakin memanas, memenuhi ruangan kantor Satpol PP yang sederhana itu. "Gue nggak peduli sama cinta-cintaan! Yang penting itu duit! Lo bisa kasih gue duit berapa hah?!" tantang Taran dengan nada tinggi. "Taran, jangan bicara seperti itu!" jawab Faten dengan nada frustrasi. "Gajiku sebulan, sekitar 30-50 juta sebagai dokter anestesi?" Taran terdiam sejenak, tampak berpikir. "Lumayan juga ya... 30-50 juta..." gumamnya sinis. Sementara itu, di sudut ruangan, Dr. Rina, Siska, dan Bayu terus menikmati gorengan sambil memberikan komentar-komentar kecil. "Ini sih lebih seru dari sinetron Indosiar," bisik Siska sambil mengunyah bakwan. "Iya, mana ada dokter anestesi diginiin. Padahal gaji udah gede," timpal Bayu sambil mengambil pisang goreng. Petugas Satpol PP yang dari tadi hanya diam menyimak, ikut nimbrung. "Gini nih kalau nikah sama orang yang nggak tahu diri. Udah dikasih hati, minta jantung." "Betul, Pak. Untung saya masih jomblo," sahut Dr. Rina sambil tertawa kecil. "Namanya juga cinta, Rin. Kadang bikin buta," balas Siska sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi kalau udah begini, bukan cinta lagi namanya. Ini mah udah cari penyakit," timpal Bayu sambil mengunyah tahu isi. Faten yang mendengar percakapan teman-temannya hanya bisa menghela napas panjang. Ia merasa malu dan frustrasi dengan kelakuan Taran. "Taran, cukup! Aku nggak mau berdebat lagi," ucap Faten dengan nada putus asa. "Selama ini semua gajiku kamu yang pegang. Aku kerja keras buat kamu, tapi kamu malah begini?!" Taran terdiam sejenak, menimbang-nimbang. "Oke, gaji dokter lumayan. Wajah ganteng, istri dokter, bisa buat flexing di sosmed. Tapi kalau impoten buat apa? Buat pajangan doang?!" Taran berteriak. "Taran, demi Tuhan, aku tidak impoten!" Faten menjelaskan dengan nada meninggi dan mata berkaca-kaca. Taran kembali meminta bukti video dengan nada mengejek. Faten, yang sudah sangat frustrasi, memejamkan mata dengan waktu yang lama, mencoba menenangkan diri agar tidak meledak. Tuduhan Taran tentang impotensi seperti pisau yang menusuk dalam, terutama di hadapan petugas dan rekan-rekannya yang masih mengintip dari sudut ruangan. Dr. Rina, Siska, dan Bayu berhenti mengunyah gorengan mereka, mata mereka membulat penuh antisipasi, sementara Pak Edi, petugas Satpol PP, hanya menggelengkan kepala dari balik mejanya. Faten frustrasi menghadapi istrinya Taran, yang kini tampak seperti orang asing penuh sindiran dan tuntutan yang tak ada habisnya. Dengan gerakan impulsif, Faten meraih tangan Taran dan meletakkannya di atas celananya, tepat di area resleting. Tangan Taran menyentuh tonjolan di sana, merasakan ukurannya yang menonjol, dan sontak mulutnya terbuka lebar. Ekspresinya berubah dari marah menjadi kaget bercampur. "Anjir... Gedanya? Lihat dong... gue... mau..." komentar Taran lantang, suaranya bergema di ruangan yang tiba-tiba hening. Faten langsung merah padam karena malu, wajah tegang memanas seperti terbakar. Tangannya buru-buru membungkam mulut Taran. Mata melebar penuh penyesalan atas tindakan impulsifnya. "Sayang, diam! Aku mohon ini di tempat rame!" bisiknya lembut, suaranya bergetar, sambil menarik Taran mundur ke kursi. Petugas Satpol PP, Pak Edi, dan tiga teman Faten Dr. Rina, Siska, dan Bayu yang sedari tadi mengamati pertengkaran mereka, tersedak secara bersamaan. Mulut mereka penuh gorengan bakwan, pisang goreng, dan tahu isi tiba-tiba tercekat di tenggorokan. Pak Edi batuk-batuk kecil, matanya membulat seperti melihat hantu, tangannya memukul d**a sambil berusaha menelan ludah. Dr. Rina menutup mulut dengan tangan, wajahnya memerah karena keterkejutan yang luar biasa. Gorengan setengah dikunyah tergantung di bibirnya. Siska tersedak parah, mata berair sambil mengipas mulut. "Astaga..." gumamnya pelan. Bayu paling hebat, batuknya menggema, wajahnya biru saking terkejut, sambil menepuk punggung sendiri. Suasana menjadi sangat canggung dan hening seketika, hanya terdengar suara batuk-batuk dan tatapan yang saling menghindar. Faten menarik napas dalam, melepaskan tangan dari mulut Taran, tapi pertengkaran itu kini berubah menjadi keheningan yang memalukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD