Pagi itu suasana di restoran hotel cukup ramai dengan beberapa tamu yang mengambil breakfast lalu terdengar alunan instrumen lembut yang cukup menenangkan. Taran menyandarkan tubuhnya di kursi dan di atas meja penuh dengan roti tawar, croissant, muffin, donat, dengan selai, mentega, madu, serta buah dan yogurt. Wajah Taran ceria dengan pipi menggembung menyantap satu per satu hidangan. Faten datang membawa dua cangkir teh hangat untuk dibawa ke kamar. “Minum dulu sayang, pelan-pelan nanti tersedak.” Setelah meletakkan teh, Faten duduk; ia menyentuh pipi Taran yang belepotan selai. Taran menerima teh hangat, tapi tatapannya heran. “Eh, lo kok santai banget sih hari ini? Bukannya kerja? Jam kerja lo ‘kan biasanya pagi.” "Aku… nggak kerja hari ini," jawabnya pelan. Taran mengernyit. “Ma

