Ketika Faten memasuki koridor menuju ruang operasi seperti biasa tengkuknya terasa dingin, koridor tempatnya berjalan sedikit lebih tegang dan menyeramkan bagi sebagian orang karena koridor itu bisa menjadi utusan hidup dan mati seorang pasien yang menunggu operasi di balik pintu Tapi Faten sudah terbiasa tak ada waktu untuk berjalan santai dengan langkah kaki cepat dan diiringi berlari ya harus cepat menuju ruang operasi, adrenalinnya terasa terpacu dan nafasnya seperti kuda berlari di pacuan Hingga tangan itu menyentuh ruangan bertuliskan operating Theater. Iya berhenti dan perjalanan ke arah wastafel stainless steel panjang, seperti rutinitas seorang dokter yang akan melakukan operasi begitu kakinya menyentuh pedal Pancuran air mengalir deras ditambah dengan aroma khas antiseptik yang

