10

1269 Words

Dari lampu meja menyinari ruangan, menciptakan bayangan-bayangan lembut di dinding. Suasana hangat dan intim, Faten sudah berada di atas, tubuhnya menghimpit Taran dengan posisi pahanya menahan paha istrinya. Taran tergeletak di bawahnya, wajahnya yang polos mencerminkan kebingungan dan sedikit kepanikan. Matanya yang jernih terbuka lebar, tangan nya mendorong lembut bahu Faten. "Om... gue takut." Faten suara rendah dan terasa aneh. "Diam ya, Sayang. Aku mau periksa tubuh kamu dari ujung kepala sampai ujung kaki." Jarinya yang halus mulai menelusuri rahang Taran. "Sudah jadi kewajiban ku untuk memastikan kamu dalam keadaan sehat dan... ." Senyumnya semakin mengembang. "Lah, Om ini lagi-lagi pake mode dokter, ya? Gak usah! Gue fine-fine aja, sumpah! Pemeriksaan apaan sih tengah mala

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD