Hesa Kafe And Resto
Sudah sepuluh menit Kanaya berada di kafe tersebut, namun Mahesa tak juga menunjukkan batang hidungnya, membuat Kanaya hanya bisa mendengus kasar dan sedikit mencibirnya.
“Tidak bisa menghargai waktu! Benar-benar tidak sopan, sudah sombong, angkuh dan jam karet.” Gadis itu menggerutu saat melihat arloji di pergelangan tangannya.
“Siapa yang anda sebut sombong, angkuh dan jam karet?” Mahesa yang baru saja datang terkejut saat mendengar cibiran Kanaya.
“Siapa saja yang merasa demikian.” Kanaya mengangkat dagunya, menunjukkan sisi apik yang ia miliki.
“Sebelas menit lebih dua puluh lima detik!” Kanaya menatap Mahesa. “Anda terlambat sebanyak itu, Tuan Mahesa. Jika ini meeting bersama inverstor, maka sudah dapat dipastikan jika investor akan pergi tanpa mau mengucurkan dananya untuk perusahaan anda. Sungguh menyedihkan.”
Mahesa terbelalak mendengar wanita di hadapannya berbeda dengan yang semalam ia temui. Bagaimana bisa gadis itu bicara begitu banyak, sedangkan Mahesa hanya bertanya sendikit. Oh, sungguh tidak cocok jika mereka harus menikah, batin Mahesa.
Tanpa ba-bi-bu, Mahesa duduk tepat di depan Kanaya, memanggil waiters dan memesan minuman dingin. Paling tidak ada sesuatu yang bisa mendinginkan suasana dan pikirannya.
“Jus mangga satu.”
“Baik, Pak, mohon di tunggu sebentar.”
Kanaya sekarang sedang menyibukan diri dengan membalas beberapa chat dari sekretarisnya, tentu saja membahas beberapa pertemuan yang harus mundur.
Diam-diam, Mahesa terus memperhatikan Kanaya yang terlihat berbeda. Jika semalam gadis itu hanya menggunakan dress sederhana dengan rambut yang sengaja di gerai dan dihiasi mutiara kecil di kepalanya, sekarang pakaiannya pun berkelas, dengan rambut gaya baru dan sedikit berwarna.
‘Ternyata dia cukup cantik. Tapi tidak! Soraya ku tetap yang paling cantik,’ batin Mahesa.
“Jangan menatap saya seperti itu, Tuan Mahesa! Saya khawatir anda jatuh cinta terlalu cepat.” Mahesa terkejut, bagaimana bisa gadis itu tahu jika Mahesa sedang menatapnya.
“Jangan terlalu percaya diri, itu tidak baik.” Balas Mahesa, namun Kanaya justru terawa pelan.
Jus yang dia pesan akhirnya datang, setelah itu dia menyeruput minumannya sendikit dan langsung mengeluarkan sebuah map dari dalam jas mahalnya.
Kening Kanaya seketika berkerut melihat kelakuan Mahesa yang dia anggap sedikit aneh. ‘Astaga! Sungguh, sikap dan kemampuannya jauh berbeda.’
“Waktu saya tidak banyak, mari kita bicara sekarang!” Mahesa tidak akan basa-basi lagi, ia jelas menolak.
Mahesa menyodorkan map tersebut dan membukanya, hingga terlihat tulisan bagian paling atas ‘KONTRAK’ yang cukup membuat Kanaya merasa geli.
“Tandatangani kontrak ini! Jika dalam 1 tahun saya tidak jatuh cinta pada anda, maka anda harus bisa membiarkan saya menikahi Soraya!” tegas Mahesa.
“Hanya itu?” Mahesa mengangguk cepat.
“Baik! Kita lihat, siapa yang akan menang. Saya atau anda?” Tidak ada keraguan sama sekali di wajah Kanaya. “Jika dalam kurun waktu kurang dari satu tahun anda kalah, maka bersiaplah untuk melupakannya!”
“Jangan sombong, Nona Kanaya! Anda sama sekali tidak sepadan dengan kekasih saya.” Mahesa menunjukkan tatapan yang begitu merendahkan.
“Oh, tentu saja.” Kanaya tersenyum manis.
“Tuan Mahesa yang terhormat! Saya memang bukan model, tapi saya bisa lebih baik dari ‘kekasih’ anda yang selalu memakai pakain kurang bahan itu.” Kanaya menunjukkan taringnya, dia benar-benar tidak suka dianggap remeh oleh pria manapun, termasuk Mahesa.
Rahang Mahesa mengeras, ia tidak suka di Sorayanya di remehkan dalam hal apapun. Cinta memang sudah membutakan Mahesa yang selalu melihat jika hanya Soraya yang terbaik.
Setelah pertemuan mereka tadi malam, Kanaya langsung mencari tahu tentang Mahesa dan ternyata halaman depan yang muncul adalah kisah asmaranya dengan sang model bernama Soraya.
Tanpa ragu, Keningnya membaca isi kontrak tersebut. Beberapa kali kening gadis cantik itu berkerut, wajahnya pun ikut menujukkan ekspresi tidak suka.
“Saya tidak setuju dengan poin 3, 5 dan 8! Itu benar-benar merugikan saya dan hanya menguntungkan anda.”
“Tidak bisa seperti itu!” Mahesa meninggikan suaranya, membuat dirinya menjadi pusat perhatian, dengan cepat ia mengangguk sopan pada orang-orang itu sambil berdeham.
Kanaya tersenyu begitu manis hingga mampu membuat Mahesa terpana untuk beberapa saat. Kanaya adalah gadis yang cerdas, dia lulusan terbaik di London, jadi Mahesa salah besar jika berpikir bisa membodohi gadis itu.
“Semua terserah pada anda, Tuan Mahesa. Tapi saya tidak akan sudi untuk menandatangani kontrak ini!” katanya dengan santai.
“Oke, oke! Malam ini saya akan mengubah segalanya, sesuai dengan keinginan anda.” Mahesa terpaksa mengikuti kemauan Kanaya. Apapun akan Mahesa lakukan hanya untuk bisa bersama sang kekasih.
“Poin 3! Tidak ada pembatasan dalam bergaul, saya benci di kekang, bahkan kakek pun tidak bisa menahan saya untuk bergaul dengan siapa saja.”
“Pont 5! Anda tidak boleh menyebar luaskan hubungan dengan wanita lain. Hanya saya yang boleh terlihat oleh publik. Jadi belajarlah lebih baik agar tidak ada satu orang pun yang melihat keberadaan Soraya.”
“Poin 8! Di depan publik kita harus terlihat mesra dan saling mencintai. Tapi tetap jaga batasan anda, Tuan Mahesa. Karena sekali saja anda berani berbuat hal tidak senonoh, detik itu juga anda akan kehilangan satu tangan untuk selamanya.” Ancaman Kanaya tidak main-main.
Mahesa terlihat sangat marah, untuk pertama kalinya ia terpaksa harus mengikuti semua keinginan orang lain, yang lebih membuatnya kesal, orang itu perempuan muda bernama Kanaya.
Jari Mahesa terus saja bergerak seirama saat mengetuk meja, terlihat jelas jika pria itu sedang berpikir keras. Permintaan Kanaya sangat berbanding terbalik dengan yang keinginan Soraya. Meskipun ia setuju, namun ia harus memikirkan cara untuk bisa membuat Soraya tenang dan yakin dengan cintanya.
“Ingat! Saya tidak akan pernah mau mencoretkan tinta pada perjanjian itu jika isinya tetap sama.” Kanaya berdiri dan meraih handbag nya dengan anggun.
“Satu lagi! Jika anda melakukan kecurangan dalam perjanjian ini dan merugikan saya, bersiaplah untuk kehilangan segalanya.” Kanaya tersenyum manis dan mengerlingkan sebelah matanya dengan nakal. Ia bertekad untuk meruntuhkan menara kesombongan Mahesa yang begitu tinggi, serta menunjukkan jika ia wanita yang tidak suka diremehkan.
“Akan saya pastikan jika anda kalah, Tuan Mahesa!”
***
Kanaya menginjak pedal gas lebih dalam, ia ingin segera sampai di kantor dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena pria bernama Mahesa. Setibanya, Naya langsung menuju lantai tertinggi dari gedung tersebut.
“Semua baik-baik saja?” tanya Naya. Ia meneguk semua air mineral dalam botol dan menyandarkan punggungnya senyaman mungkin. Sungguh kehadiran Mahesa dalam hidupnya hanya menambah beban baru.
“Baik, Bu, untuk beberapa pertemuan sudah saya jadwalkan ulang.” Jelas sang sekretaris.
“Apa jadwalku sekarang, Ta?”
“Bu Naya hanya perlu datang ke resto jam 01.00 siang untuk meeting bersama Mr. James, setelah itu kembali ke kantor untuk rapat bersama dewan direksi.”
Helaan napas berat terdengar dari Naya, ia merasa enggan setiap kali mendengar rapat bersama dewan direksi. Rasanya sesak setiap kali ada di ruangan bersama orang-orang yang ingin menusuknya dari belakang.
“Apa kakek tidak bisa menghadiri rapat dewan direski?” Citra terdiam, ia memang belum mengabari Alvaro. “Hubungi kakek, kalau dia tidak bisa aku terpaksa akan hadir.”
“Baik, Bu, kalau begitu saya permisi.”
Dengan malas, Naya mulai membuka berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Sesekali ia menoleh pada jam dinding, masih cukup banyak waktu sebelum ia bertemu dengan Mr. James.
“Ke ruangan saya sekarang!” Naya memanggil kembali sekretarisnya.
“Permisi Bu, ada yang bisa saya bantu?” Citra datang sedikit tergesa.
“Bagaimana mengenai rapat? Apa kakek bersedia hadir?” Kanaya bertanya dengan mata yang tetap fokus pada layar komputer yang menyala.
“Beliau bersedia hadir, Bu.”
Kanaya hanya mengangguk. “Oh iya, aku mau makan batagor kuah dengan ekstra sambal dan ekstra jeruk. Tolong beliin ya, Ta.”
“Hah? Batagor kuah, Bu?”
“Iya, batagor kuah!” Ulang Kanaya. “Ada yang salah dengan perkataan saya?” Sekretarisnya menggeleng cepat. Mungkin untuk kaum sepertinya tidak aneh jika menyukai makanan berminyak, gurih dan renyah itu. Tapi ia tidak menyangka jika seorang Kanaya juga menyukai jajanan berminyak dan gurih itu.
“Ibu yakin? Itu berminyak loh, Bu.”
“Aku tahu, tapi makanan itu cukup enak. Aku menginginkan itu dimeja sebelum meeting bersama Mr. James.”
“Biasanya kalau CEO itu yang dimintanya makanan jepang, korea atau kalau enggak makanan mahal dari resto ternama. Lah, Ibu, malah minta batagor kuah.” Beo sang sekretaris.
“Jadi kamu nggak mau beliin aku batagor kuah?” Kanaya memicingkan matanya. “Siap-siap! Potong gajih!”
“Sa-saya pergi sekarang, Bu. Tadi cuman bersyandaaa ...”
Kanaya geleng kepala, sekretarisnya itu selalu diluar prediksi dan random, namun hal itu menjadi salah satu alasan kenapa Kanaya mempertahannya hingga detik ini. Alasan lainnya adalah karena kinerjanya yang baik dan teliti.
Baru saja akan kembali melajutkan pekerjaannya, tiba-tiba saja Kanaya teringat akan Soraya. Jika dilihat dari sisi manapun, tentu saja Kanaya yang akan menang karena Soraya tidaklah sehebat itu. Namun demi mengalahkan Mahesa, Kein akan mencari kelemahan Soraya dan membuatnya diam.
“Hallo! Aku ingin info detail mengenai model bernama Soraya Kamanila.”
“Semuanya! Termasuk kasus dan hal-hal kecil sekalipun!”
Kanaya tidak akan tinggal diam, ia benar-benar serius dengan tujuan untuk membuat Mahesa berubah. Manusia sombong sepertinya akan jatuh, namun belum tentu ia akan sadar dan hal itu tidak boleh terjadi.
“Bersiaplah untuk bermain-main Mahesa!”