ALIAN HOTEL

1186 Words
“Akhirnya ... Kamu pulang juga,” Soraya menyambut Mahesa seperti biasanya, namun kali ini wanita itu sengaja menggunakan kain sutra tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. “Gimana sayang, apa wanita itu setuju?” Dalam kepalanya, Soraya sudah membayangkan bagaimana bahagianya mereka setelah bisa memperalat Kanaya. Soraya sudah merencanakan banyak hal, bahkan mengenai pernikahannya bersama Mahesa setelah Kanaya setuju membubuhkan tanda tangannya. “Dia bukan perempuan bodoh, Sora. Ternyata aku sudah salah menilainya.” Mahesa mendaratkan bokongnya di sofa, lalu melonggarkan dasi yang terasa mencekik. “Dia tidak menerima kontrak yang kita buat. Bahkan wanita itu juga menegaskan isi kontrak dibeberapa poin.” Mahesa menjelaskan semua keinginan Kanaya. “Jadi kamu mau menyerah begitu saja dengan hubungan kita dan memilih untuk bersama wanita itu?” Soraya melipat kedua tangannya di d**a dan menunjukkan kekecewaan serta kemarahannya. “Bukan seperti itu, tapi kita harus memiliki rencana yang lebih baik untuk membuat Kanaya kalah dan setuju atas hubungan kita.” Perkataannya begitu meyakinkan, namun hati Mahesa sendiri merasa ragu jika dia mampu melakukan itu pada Kanaya. Mengingat bagaimana caranya bersikap, Mahesa yakin jika tidak mudah untuk mencurangi Kanaya. ‘Aku harus bisa membuatmu bertekuk lutut padaku, Kanaya!’ batin Mahes. “Sayang~” Soraya bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya. “Kenapa kamu melamun? Jangan bilang kalau kamu sedang memikirkan wanita itu!” ketusnya. “Ya, kamu benar, Sora! Aku memang sedang memikirkan dia dan mencari cara untuk membuat dia kalah agar kita bisa menikah secepatya.” “Sudah! Lupakan dulu masalah penjanjian itu. Sekarang aku pijit kamu ya, biar lebih rileks,” goda Soraya. Mahesa mengecup leher Soraya. Tentu saja dibarengi dengan aksi tangan lainnya. Di saat pikirannya kacau, hanya Sorayalah yang bisa membuat Mahesa kembali santai. “Kamu memang selalu tahu bagaimana cara membuatku senang, Sora.” Mahesa berdiri dari tempatnya dan mulai berpindah pada ranjang. Kali ini dia bersikap pasrah dan membiarkan sang kekasih melakukan apa pun sepuasnya. “Jadi aku yang memimpin?” tanyanya nakal. “Ya! Kamu akan memimpin permainan kita hari ini.” Mahesa tersenyum tipis. “Baiklah ...” Soraya merangkak naik layaknya bayi di atas tubuh Mahesa. Jemari lentiknya pun mulai mengabsen satu-persatu kancing kemeja yang masih terpasang rapih. Soraya membuka perlahan semua kain yang menempel pada tubuh Mahesa, kemudian melemparnya ke sembarang arah. “Apa kamu menyukai wanita itu, sayang?” bisik Soraya dengan sensual, tentu saja dia ingin memancing hasrat kekasihnya agar permainan mereka semakin luar biasa. Mahesa menggeleng, “Kamu segalanya, honey ...” “Katakan! Hadiah apa yang akan kamu berikan jika hari ini aku membuatmu puas?” Begitulah Soraya, setiap kali memberikan pelayanan terbaiknya pada Mahesa, dia selalu meminta imbalan yang terkadang membuat pria manapun akan berpikir sebelum mendekatinya. “Apa pun yang kau mau, honey.” Mendengar jawaban itu, Soraya senang bukan main. Dia langsung menyerang keperkasaan milik Mahesa dan mengacaukan akal sehat pria itu menggunakan mulutnya. Soraya bermian dengan baik, memuaskan kekasihnya dengan begitu lincah, sesekali dia memberikan tekanan kuat agar Mahesa meracau mendapat serangan kenikmatan darinya. “s**t! Ini begitu nikmat, Sora ...” Tidak ada jawaban dari bawah sana, sekarang Soraya semakin sibuk melaksanakan tugasnya untuk memberikan service terbaik demi sebuah tas branded keluaran terbaru. Tanpa perlu merogoh koceknya, dia akan mendapatkan apa pun dari Mahesa, kekasihnya. Bosan bermain di sana, Soraya kembali ke atas dan meminta Mahesa menyentuh kedua bukit kembar miliknya. Tidak adil rasanya jika hanya Mahesa yang mendapat kenikmatan itu, nyatanya Soraya juga menginginkannya. “Ya ! Seperti itu, sayang ...” racau Soraya saat Mahesa memulai aksinya secara bergantian, meremas salah satunya dan terus berulang sampai dia puas. Kejantanan Mahesa sudah berdiri dengan begitu kokoh, dia siap bertempur. Bahkan sekarang ujung kejantanan miliknya mulai berkedut, tidak sabar untuk memasuki sarang kenikmatan milik Soraya. Dengan cepat dia membalik keadaan, membuat Soraya lemah di bawah kungkungannya. Tanpa meminta persetujuan, Mahesa melesakkan miliknya dan mulai mengatur ritme permainannya, pinggangnya terus bergerak secara konstan, namun sesekali dia menghentaknya dengan kuat, membuat Soraya menjerit nikmat dengan mata yang setengah terpejam. “Bersiaplah sayang ....” Mahesa mempercepat ritme permainannya, berusaha sebaik mungkin untuk bisa mendapatkan pelepasan secara bersama-sama. Namun kali ini Soraya kalah, dia lebih dulu mendapat kepuasannya, membuat Mahesa bekerja keras, hingga akhirnya tubuh kekar itu ambruk ke samping dengan napas yang masih memburu. Mahesa yang kelelahan akhirnya tertidur pulas, dia selalu saja lupa dengan pekerjaan jika sudah melakukan pertempuran bersama Soraya. Soraya bangun dan melambaikan tangannya di depan wajah Mahesa, diam-diam dia membuka file kontrak tersebut. Ia mengubahkan sesuai dengan yang Mahesa katakan. Namun Soraya tidak terima jika wanita itu banyak meminta, maka dia akan membuat rencana licik sampai membuat Kanaya menyesal dan malu. Soraya memainkan ponsel milik Mahesa, ia memikirkan rencananya agar semua berjalan dengan sempurna. Tidak boleh ada kesalahan yang bisa merugikannya. Ia tersenyum, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Tidak boleh ada yang merebut Mahesa dariku. Si tua bangka itu tidak boleh membuatku miskin dan kehilangan aset berhargaku. Jika dia tidak bisa menerimaku sebagai istri Mahesa, maka tidak ada yang boleh bersama Mahesa.” Panggilan itu berakhir, Soraya lantas meraih ponsel Mahesa dan membuka pesan Mahesa bersama Kanaya. Tidak ada yang aneh, apalagi sampai bertukar kata-kata mesra, paling tidak ini bisa membuat Soraya sedikit lega. “Jika kamu berpikir aku akan diam saja, kamu salah besar! Kau sudah berani masuk dalam kehidupan Mahesa dan mengusik kebahagiaan serta sumber uangku. Maka kau pantas mendapatkan ini.” *** Kanaya yang baru saja selesai makan siang bersama Mr. James mengerenyit bingung. Ia hanya bisa menggelengkan kepala atas kelakuan menyebalkan dari calon tunangannya. ‘Sebegitu cintanya kah dia pada si model tidak berbaju itu?’ Kanaya sibuk menggerutu dalam hati, ia kesal dengan kelakuan Mahesa. “Mr. James, saya permisi ke toilet sebentar.” “Ya, silahkan, Nona Kanaya.” Memasuki toilet, Kanaya mencuci tangannya, setelah itu ia mulai menghubungi salah satu bodyguardnya. Lima menit berlalu dan perbincangan itu berakhir. Kanaya masih harus melanjutkan pertemuannya dengan Mr. James. Pertemuannya dengan James selesai pukul empat sore, Kanaya merasa lelah dan ia harus pulang. Biarlah rapat dewan direksi di pimpin oleh sang kakek yang lebih mengenal mereka. Setibanya di rumah, Kanaya melepas semua kain yang menempel pada tubuhnya dan berendam. Ia melepas penatnya dan menikmati waktu sore hari selayaknya manusia normal. Namun di waktu santainya, bayangan pria sombong itu muncul begitu saja. Hingga ia kembali teringat pesan terakhir yang ia terima dari Mahesa membuatnya semakin tidak suka pada pria tersebut. ‘Besok malam, Alian Hotel jam 12.00.’ “Apa dia sudah gila?” Kanaya geleng kepala tidak habis pikir bagaimana cara kerja otak Mahesa. Dua puluh menit berlalu, Kanaya memutuskan untuk menyudahi berendamnya dan membasuh diri. Ia lantas bersiap untuk melakukan hal lainnya. Salah satunya mencari tahu siapa Mahesa dan bagaimana lingkungan ia bergaul. Bukan tanpa alasan Kanaya mencari tahu semua hal mengenai Mahesa dan Soraya. Dari tatapan mata pria itu Kanaya bisa merasakan jika dia adalah pria arogan yang rela melakukan apa pun demi kesenangannya sendiri. “Mahesa, Mahesa! Kamu ingin bermain-main. Baiklah, akan aku layani kamu sesuai dengan yang kamu inginkan.” Kanaya geleng kepala melihat rekam jejak Mahesa yang sering menghabiskan waktinya di kelab malam. “Tapi bersiaplah menerima konsekuensinya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD